
Yudi menanyakan masalah undangan yang dikirim Bagas kepada Rini. Tentu Yudi ingin tahu bagaimana respon teman-temannya yang diundang dalam acara pernikahannya.
"Bagas ..., apa sudah ada balasan WA dari Ibu Rini?" tanya Yudi kepada Bagas.
"Sudah, Mas Yudi .... Malah Ibu Rini tadi sudah menelepon saya, menyampaikan kalau teman-teman SMA Mas Yudi akan pada datang. Hanya tadi Ibu Rini bilang ada teman Mas Yudi yang belum bisa memastikan, mungkin tidak bisa datang." kata Bagas menjawab pertanyaan Yudi.
"Siapa yang tidak bisa datang ...?" tanya Yudi pada Bagas, tentu ingin memastikan.
"Waduh ..., saya lupa, Mas Yudi .... Siapa ya tadi ...?!" kata Bagas yang lupa dan tentu bingung untuk mengingat.
"Lho ..., piye, to ...." sahut Yudi.
"Lhah, tadi waktu Ibu Rini telepon, saya masih sibuk bersama Pak Lurah nyewa deklit, kok ...." sahut Bagas beralasan.
Bagas yang lupa dan bingung, langsung mengambil HP, mencari kontak WA Ibu Rini. Bagas langsung memencet panggilan WA.
"Halo, Mas Bagas ...." jawaban Rini dalam panggilan Bagas.
"Halo Ibu Rini .... Ini, Mas Yudi mau bicara ...." jawab Bagas, yang langsung menyerahkan HP-nya kepada Yudi.
"Lho, piye to ...? Kok malah dilempar ning aku ...." kata Yudi, namun tetap menerima HP yang diberikan Bagas.
"Halo ...." suara Rini dalam HP yang menyapa.
"Halo, Rini .... Ini saya ..., Yudi ...." Yudi menjawab sapaan Rini
"Hai ..., Yudi .... Bagaimana kabarmu ...? Sudah sehat, kan?!" kata Rini menyambut Yudi.
"Syukur sudah sehat, pulih seperti dahulu .... Rini sehat, kan ...?!" Yudi bertanya balik.
"Iya, Yudi .... Syukurlah ...." jawab Rini.
"Eh, Iya ..., Rin ..., saya kemarin meminta Bagas untuk menyampaikan undangan .... Bagaimana, apa sudah disampaikan ke teman-teman?" tanya Yudi yang tentu ingin tahu undangannya.
"Sudah beres .... Sudah diposting di grup WA alumni. Banyak yang respon, pada ingin datang. Malah ada yang bilang, acara di tempat Yudi nanti akan dijadikan reuni untuk teman-teman." kata Rini menjelaskan.
"Rini datang, kan ...?" tanya Yudi memancing.
__ADS_1
"Pasti lah, Yud .... Mosok tega nggak datang .... Paling-paling nangis .... Hehe ...." kata Rini.
"Memang ngapain ...?!" tanya Yudi yang masih memancing-mancing.
"Ya sedih, lah .... Tapi bahagia, kok .... Aku senang akhirnya dirimu mau menikah .... Walau ...." kata Rini.
"Walau apa ...?" tanya Yudi penasaran.
"Ya ..., begitu deh ...." jawab Rini yang tentu dirahasiakan perasaannya.
"Alex datang, nggak ...?" tanya Yudi.
"Alex sudah saya telepon, siap datang. Besok rencana berangkat beriringan, terus aku suruh menginap di tempatku." jawab Rini.
"Syukurlah ...." kata Yudi.
"Eh, iya .... Dokter Handoyo kemungkinan tidak bisa berangkat. Dia ada tugas ke Manila." kata Rini yang mengijinkan dokter Handoyo.
"Waah ..., kecewa saya ...." kata Yudi yang tentu kecewa, karena sahabat karibnya tidak datang.
"Mungkin istrinya yang berangkat. Kemarin saya juga sudah tawarkan agar istrinya nanti menginap bersama saya dan Alex." jelas Rini yang sudah berembuk dengan dokter Handoyo.
"Sama-sama, Yudi .... Semoga nanti acaranya sukses." sahut Rini.
*******
Di Jakarta, di rumah Rini. Suami istri itu belum bisa berdamai.
"Iya, kan .... Kalau teleponan dengan Yudi, selalu mesra ...." Hamdan menyindir istrinya, mendengar Rini bertelepon dengan Yudi.
"Ya iya, lah .... Memang yang bisa mesra-mesraan cuman Papah sama wanita pelakor itu ...!" Rini membalas dengan sindiran.
"Lhoh, Mamah kok menuduh Papah seperti itu ...?!" kata Hamdan yang mencoba mengelak tuduhan istrinya.
"Masih tidak mengaku ...?! Chatingan Papah dengan wanita pelakor di WA yang menjijikkan seperti itu, masih selak ...?! Video-video mesum Papah sama Pelakor yang ada dalam HP itu masih tidak diakui ...?! Papah itu yang pikirannya kotor, otaknya ngeres .... Pantas dipecat dari perusahaan. Itu hukuman yang setimpal ...!!" kata Rini yang terusik saat ditegur suaminya.
Hamdan diam. Istrinya sudah menyita HP miliknya. Yang tentu semua bukti ada dalam HP itu, sudah menjadi kartu as bagi istrinya untuk menjatuhkan dirinya. Apalagi sangsi perusahaan yang sampai memecat dirinya, walau akhirnya pensiunnya diajukan, itu sudah sebagai hukuman yang sangat berat. Dua bulan Hamdan kehilangan gaji, dan tidak diberi uang pesangon. Hanya menerima dana pensiun jaminan hari tua, yang tentu besarnya tidak seberapa. Kalau mau didepositokan, bunganya juga terlalu kecil, untuk makan saja tidak cukup. Kalau mau dibuat modal usaha, di Jakarta uang lima ratus juta tidak ada artinya.
__ADS_1
Kini, Hamdan sudah tidak punya jabatan. Hamdan sudah bukan pegawai lagi. Hamdan sudah tidak punya pekerjaan. Hamdan sudah menjadi orang pengangguran tanpa bayaran. Tentu Hamdan stres.
"Papah itu mestinya bersyukur punya istri saya yang tidak macam-macam. Bedak saja, saya jarang pakai. Apalagi lipstik, hampir tidak pernah pakai. Papah itu beruntung istrinya sederhana, nerima apa adanya, tidak pernah menuntut. Tapi kalau sampai Papah selingkuh, Papah main gila dengan perempuan tukang penggoda itu, Papah main belakang dengan wanita lain ..., Mamah gak bisa terima, Pah .... Bahkan anak-anakmu juga tidak mau menyaksikan itu semua ...! Harusnya kami yang marah sama Papah ...!! Bukan Papah yang marah-marah! Papah itu salah, harusnya nerima, harusnya minta maaf, harusnya insaf, harusnya sadar ...!" Rini mulai jengkel dengan suaminya yang tidak pernah sadar dengan kesalahan.
"Mah ..., saya itu melakukan ini gara-gara Mamah dekat dengan Yudi! Saya tidak rela ...!" balas suaminya.
"Papah cemburu ...! Cemburumu itu tidak beralasan ...! Papah ngawur ...! Menuduh orang sembarangan!" sergah Rini.
"Papah tidak menuduh ..., itu fakta ...!" Hamdan membantah.
"Mana faktanya ...?!" tuntut Rini.
"Mamah telepon dengan mesra itu saja sudah bukti .... Apalagi setiap kali ke Jogja, pasti yang ditemui Yudi .... Belum lagi dahulu, waktu SMA ..., Mamah pacaran sama Yudi, kan ...?! Terus Mamah selalu mengajak Yudi ke rumah, padahal rumahnya kosong, tidak ada orang sama sekali, hanya Mamah sama Yudi berduaan, terus ngapain kalau tidak begituan ...?!" Hamdan menuduh istrinya lagi, tentu berselingkuh dengan Yudi.
"Papah ...!!!! Huk .., huk ..., huk ...." Rini berteriak, lantas menangis. Ia berlari ke kamar, menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Tentu tidak mau melihat suaminya lagi.
Hamdan terdiam. Ia duduk sendiri di ruang keluarga. Matanya menerawang jauh. Melamunkan hal-hal yang mungkin akan terjadi. Pikirannya jauh melayang, mengingat kembali masa-masa lalu bersama Rini, saat ia pertama kali mengenal gadis cantik yang mengenakan seragam abu-abu putih. Lantas meminang gadis itu untuk dijadikan istrinya. Hamdan ingat betul dengan gadis berambut panjang yang sering ia tunggu di depan sekolah. Dan Hamdan tahu persis, gadis rambut panjang itu selalu keluar bersama tiga cowok. Salah satu cowok itu adalah Yudi. Tapi benarkah Yudi berpacaran dengan Rini?
Selanjutnya, bayang-bayang Lina, gadis staf di kantornya, yang sudah memberikan kemesraan, memberikan kasih sayang, memberikan kenikmatan pada dirinya, sudah menaklukkan istrinya yang selama ini mengatur rumah tangganya. Dari segi usia, Lina lebih muda. Dari bodinya, Lina tentu lebih bahenol. Dandanannya pun, Lina lebih modis. Apalagi mengingat yang lainnya, gadis bahenol itu memberi kenikmatan lebih. Tentu sangat berat bagi Hamdan untuk meninggalkan perempuan itu pada masa gairah senjanya, gairah laki-laki tua yang digoda wanita muda.
Ada pergumulan batin pada pikiran Hamdan. Lina sudah membiuskan racun asmara dalam diri Hamdan, yang tentu membuat Hamdan kelepek-kelepek, tidak sanggup untuk menolak permainannya. Tetapi di sisi lain, Hamdan dituntut menikah oleh perempuan yang sudah memberikan kenikmatan kepadanya. Tentu saja, karena Lina adalah jomblo tua, dan yang penting lagi bagi Lina, tentu karena Hamdan adalah direktur yang punya kuasa dan punya uang banyak.
Tetapi, Hamdan tetap bersikeras, menganggap istrinya sudah berselingkuh dengan Yudi. Setidaknya, Yudi adalah pacar istrinya saat SMA. Dan saat reuni, Rini berada dalam kamar hotel sendirian, tanpa ada suami, pasti Yudi tidur bersama istrinya.
Bahkan, dugaan Hamdan ini diperkuat oleh kata-kata Lina, yang selalu mengingatkan kepada Hamdan, "Hati-hati, Pak Hamdan .... CLBK itu lebih seru dari pada cinta pertama ...."
Termasuk saat Hamdan berada di Jerman, dan kebetulan menelepon Rini yang sedang berada di rumahnya Yudi, itu menjadi bukti besar, bahwa Rini tidak patuh terhadap perintah suaminya. Rini sudah berani meninggalkan rumah, Rini sudah menelikung suaminya sendiri, senang-senang di rumah Yudi. Apa arti semuanya ini, kalau Rini tidak ada apa-apa dengan Yudi?
Tentu hati Hamdan terbakar. Emosi dan marah-marah.
Namun setiap kali Hamdan mulai ingin marah, perempuan itu selalu mengatakan, "Jangan marah, tidak usah cemburu .... Ayo kita makan ...." Begitu kata perempuan yang mulai menggoda. Dan saat mereka makan, tentu Hamdan curhat kepada Lina. Lantas Lina yang ada di sisinya, menyuapkan makanan kepada Hamdan yang terus bercurhat.
Termasuk saat di Jerman, Hamdan yang marah-marah karena Rini berada di rumah Yudi, perempuan itu justru menyeret Hamdan masuk ke kamar, lantas kata wanitu itu, "tidak usah marah pada istri, tidak baik dilihat orang .... Ayo, lampiaskan saja kemarahanmu itu dengan saya ...."
Hari berganti minggu. Minggu pun sudah menjadi bulan. Hamdan semakin dekat dengan Lina. Lina semakin mesra kapada Hamdan. Akhirnya, kedekatan itu dimanfaatkan oleh Lina. Bukan sekadar dapat makan gratis, tetapi juga sering diajak bepergian. Dan puncaknya, tentu ikut ke Jerman dengan status sebagai sekretaris pribadi.
Kini, saat Hamdan sedang tergila-gila dengan Lina, saat Hamdan ingin selalu berdekatan dengan perempuan yang memanjakan dirinya, saat Hamdan merasakan kemesraan di usia senjanya, justru permasalahan itu datang. Perusahaan sudah memecatnya. HP sudah disita istrinya. Dan dirinya, sudah tidak bisa berdekatan lagi dengan Lina.
__ADS_1
Ingin rasanya Hamdan lari dari rumah, lantas pergi ke tempat jauh, hanya berdua dengan perempuan yang selalu memanjakan dirinya, dan selalu memberikan kemesraan. Yaitu Lina, yang oleh istri dan anaknya dituduh sebagai wanita pelakor.