KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 26: PERSAINGAN DUA WANITA


__ADS_3

    Yuna, gadis cantik arsitek desain eksterior dari Jepang, teman Yudi yang akan membuat rancangan Taman Awang-awang, menyelesaikan survei lapangannya di puncak bukit kawasan Pantai Parang, dekat dengan kawasan Gua Jepang di sisi timur laut Pantai Parang Tritis. Tempat yang mengasyikkan untuk melihat keindahan alam ciptaan Tuhan. Menyaksikan deburan ombak Laut Selatan dari puncak bukit. Sangat cantik dan menawan. Tempat yang pernah dijadikan benteng alam pada masa Perang Dunia ke dua, oleh tentara Jepang saat menghalau serangan-serangan dari tentara Sekutu.


    Tentu, mendengar sejarah kawasan tersebut, terutama di daerah Gua Jepang, Yuna yang orang Jepang asli, menjadi terkesima, takjub sekaligus merinding, manakala mengingat pelajaran sejarah di masa sekolahnya, mengenai kekalahan Jepang dari Sekutu, hancurnya Kota Nagasaki dan Hirosima. Apalagi setelah Yuna mencoba masuk ke dalam gua itu, yang disebut oleh masyarakat Bantul sebagai Gua Jepang, gua yang mempunyai kekuatan magis, Yuna seakan mendengar suara-suaraderap kaki tentara yang sedang berperang, Yuna seakan melihat ada bayangan-bayangan tentara Jepang yang menjerit dan merintih kesakitan, tentara-tentara yang mengalami kekalahan. Darah Yuna langsung naik ke kepala, menaikkan tensinya. Yah, itu adalah harga diri sebuah bangsa, harga diri pemimpin, harga diri kaisar. Dan kini, setelah Indonesia merdeka, setelah perang itu usai, yang tertinggal hanyalah cerita-cerita buruk tentang dampak peperangan, janda-janda yang ditinggal mati suaminya, anak-anak yang kehilangan orang tua, serta veteran-veteran yang cacat sebagai korban perang. Semoga saja dunia ini damai selamanya. Begitu yang terbayang dalam benak gadis cantik asal Jepang tersebut.


    Setelah selesai melakukan survei dan pengambilan data awal, Yuna memberesi peralatannya, ada theodolite digital, automatic level waterpass dan laser waterpass, GPS geodetic, kompas serta berbagai peralatan pendukung lainnya. Dari hasil survei dan pengambilan data, selanjutnya akan dilakukan pengolahan data. Pengolahan data tidak harus dilaksanakan di lapangan, tetapi bisa dilakukan di rumah atau di kantor, dengan menggunakan komputer yang memiliki aplikasi khusus. Orang-orang seperti Yuna dan Yudi, komputernya tentu sudah dipasang software sesuai yang dibutuhkan dalam mendukung pekerjaannya, seperti untuk desain grafis maupun desain-desain bangun tata ruang.


    Setelah sepekan tidur di atas bukit tempat akan dibangunnya Taman Awang-awang, kini Yuna akan mengerjakan pengolahan data di rumah Yudi, tentu sekalian berdiskusi untuk karakteristik serta desain yang diinginkan si pemesan proyek, yaitu Yudi. Setelah selesai mengemas semua peralatannya, Yuna yang dibantu oleh Bagas, orang kepercayaan Yudi, meluncur dari puncak bukit menuju persinggahan di rumah Yudi. Bagas yang sudah hafal medan, tidak mengalami kesulitan meski harus menyetir kendaraannya di jalan terjal berliku. Tak lama, dua orang yang berboncengan itu sudah sampai di rumah Yudi.


    "Hi, hello, Yudi ...." sapa Yuna pada Yudi yang berada di meja tempat belajar anak-anak, di gasebo belakang, dekat dengan pintu masuk dari garasi. Maka saat Yuna masuk, langsung melihat Yudi yang ada di situ. Ada Rini juga.


    "Hello, Yuna .... How are you?" sapa Yudi pada Yuna dengan bahasa Inggris juga. Maklum, Yuna hanya bisa bahasa Indonesia sedikit saja, belum banyak kosa kata yang dikuasai.


    "I'm fine. And how are you?" balas Yuna.


    "So do I. Fine, thank you, Yuna .... Bagaimana hasil survei Yuna?" tanya Yudi sambil menyisipkan bahasa Indonesia. Tentu sambil mengajari Yuna berbahasa Indonesia.


    "Sudah selesai .... Betul kataku?" Yuna menjawab dengan bahasa Indonesia logat Jepang, sambil tertawa dan tanya apa bahasa yang diucapkan betul.


    "Betul. O, ya, kenalkan ini Rini. She is my best friend." kata Yudi yang menunjuk pada Rini.


    "Rini? Best friend or special woman? Hahaha .... My name is Yuna, I'm from Japan. " Yuna memberikan tangannya mengajak bersalaman dengan Rini.


    "Rini .... My name is Rini, from Jakarta." kata Rini dalam bahasa Inggris, yang menyambut bersalaman dengan Yuna.


    Walau tidak kuliah, Rini sedikit-sedikit juga bisa bahasa Inggris. Maklum, tuntutan mendampingi suaminya jika ada tamu dari luar negeri.


    "Nice to meet you." kata Yuna pada Rini.


    Yuna langsung membawa peralatannya masuk ke ruangnya. Tentu untuk menyimpan peralatan.


    "Cantik ya, Yud ...." kata Rini berbisik ke Yudi.


    "Hooh ...." sahut Yudi.


    "Masih muda?" tanya Rini.


    "Empat puluh tahun." jawab Yudi.


    "Belum menikah?" tanya Rini.

__ADS_1


    "Belum kepengin menikah .... Masih perawan. Mungkin belum ketemu jodoh." jawab Yudi.


    "Kayak kamu ya, Yud?" kata Rini.


    "Beda, kalau aku jodohnya sudah ketemu, tapi hilang. Hehe ...." sahut Yudi.


    "Nanti tinggal di sini? Di rumah kamu?" tanya Rini.


    "Ya, sampai desainnya jadi." jawab Yudi.


    "Berapa lama?" tanya Rini lagi.


    "Mungkin sekitar satu bulan." jawab Yudi.


    Rini menyandarkan kepalanya di kursi. Diam, seperti bingung mau bicara apa. Yang jelas ada rasa tidak enak mendengar Yuna akan tinggal di rumah Yudi hingga satu bulan.


    "Kenapa?" tanya Yudi yang melihat Rini agak aneh.


    "Tidak apa-apa." jawab Rini.


    "Rini cemburu, ya?!" goda Yudi sambil tersenyum.


    "Lhah, itu .... Kelihatan dari mimik raut muka kamu, Rin." Yudi masih menggoda.


    Ya, tentu Rini menjadi cemburu. Bagaimana tidak cemburu, Yuna masih perawan, Yudi masih perjaka. Mereka berdua mengerjakan proyek bersama. Sama-sama seniman, punya hobi yang sama, jiwanya juga sama. Yuna tinggal di rumah Yudi, pasti cukup lama, sampai proyeknya selesai. Sedangkan Rini, dirinya sudah berkeluarga, sudah punya suami, mana mungkin Yudi bisa menikahi dirinya. Rini ada di Jakarta, tidak mungkin setiap hari mengawasi Yudi. Jika Yudi dekat dengan Yuna, dari sedikit demi sedikit, dari kebiasaan bersama, pasti nanti timbul rasa senang, tumbuh rasa cinta .... Ach, entahlah. Rini pasrah, apapun yang terjadi, dirinya adalah milik Hamdan, bukan pemilik Yudi. Tidak tidak yang bisa melarang ataupun menghalangi Yudi, jika memang itu nanti akan terjadi. Apalagi Yuna lebih muda dan lebih cantik dari dirinya. "Yudi - Yuna, nama yang serasi. Perawan - perjaka, lebih serasi lagi. Jika menjadi pasangan suami istri, bisa juga ...." begitu pikir Rini yang dilanda badai cemburu.


    Setelah berganti pakaian, entah mandi atau tidak, Yuna keluar dari ruangannya, kembali menemui Yudi dan Rini yang masih duduk di gasebo. Yudi masih memandangi laptopnya yang memuat rancangan proyek, saat Yuna menghampirinya, mendekat ke Yudi, ikut mengamati gambar yang ada di laptop.


    Rini langsung membelalakkan mata, saat melihat kedatangan Yuna. Bagaimana tidak, Yuna yang cantik itu, dengan tubuh semampai, kaki dan lengannya kecil halus, kulit putih ala bunga sakura, hanya mengenakan baju hem putih lengannya di gulung sedikit, kancing bagian atasnya sengaja dilepas tidak dikancingkan, baju itu tipis menerawang, sehingga terlihat bodi tubuh dalamnya. Padahal Yuna tidak mengenakan BH, tentu pada bagian dadanya nampak menyembul, mendorong baju tipisnya ke depan, menambah lebar belahan baju di dadanya. Demikian juga bagian bawahnya yang tidak mengenakan rok ataupun kulot, hanya mengandalkan panjangnya baju putih itu yang hampir sampai lutut. Di bagian tengah ada segitiga warna hitam yang nampak jelas di balik kain putih tipis itu. Ah, ya ampun, tubuh itu terlalu menggoda buat mata laki-laki. Apakah Yuna sengaja memamerkan tubuhnya kepada Yudi?


    Rini yang risih melihat wanita itu, jadi nggak jenak sendiri, malu, tidak nyaman memandangnya. Apalagi pikirannya yang sudah negatif, bahwa Yuna sengaja memancing mata Yudi. Maka ia langsung bergegas meninggalkan tempat itu dan masuk ke kamar Yudi. Tentu dengan kecemburuannya yang teramat besar.


    Yudi yang melihat kepergian Rini dengan gelagat yang kurang nyaman, langsung mengejar ke kamarnya.


    Benar dugaan Yudi. Di kamar, di tempat tidur, Rini tengkurap, kepalanya ditutup bantal. Marah.


    "Rin, kamu kenapa?" tanya Yudi yang berusaha membuka bantal penutup kepala.


    "Gak pa-pa." jawab Rini sengol.

__ADS_1


    "Rin, bilang dong, ada apa?" tanya Yudi lagi, yang sudah menduga pasti Rini cemburu.


    "Aku gak ngapa-ngapa ...!" kata Rini dengan nada jengkel.


    "Gak ngapa-ngapa kok begitu?" tanya Yudi.


    Yudi berusaha membuka bantal, ingin melihat wajah Rini, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, Rini cemburu dan marah. Rini berusaha mempertahankan bantal untuk menutup wajah. Tapi Yudi yang menang, bisa membuka bantalnya.


    Lantas Rini yang masih di tempat tidur langsung menubruk Yudi. Kepalanya dibenamkan pada bagian perut Yudi. Rini menangis sesenggukan.


    "Kamu kenapa, Rin?" tanya Yudi halus, sambil mengelus rambut Rini yang terurai.


    "Yudi ..., aku takut kehilangan kamu, aku takut kamu tergiur pada wanita Jepang itu." kata Rini yang masih menangis sambil mendekap pinggang Yudi.


    "Ya ampun, Rin .... Kalau aku pengin menikah, sudah dari dulu. Ngapain aku tergiur sama Yuna? Dia itu sekarang mitra kerjaku, partnerku, yang akan mewujudkan gagasanku. Bukan siapa-siapa, Rin." kata Yudi.


    "Tapi itu, lihat pakaian yang dikenakan Yuna ..., aku takut kamu tergoda. Dia pamer kecantikan, pamer bodi, Yud. Dia itu mau membandingkan dirinya yang lebih cantik dariku." kata Rini lagi.


    "Ya ampun, Rin ..., Rin .... Apanya yang menggoda? Apanya yang dibanding-bandingkan? Itu memang cara mereka berpakaian, gaya mereka, mode Yuna, ya sudah biarin saja. Saya gak pernah tergoda, kok!" jelas Yudi.


    "Yang bener?! Kamu gak melirik wanita itu? Kamu gak tertarik sama kecantikannya? Dia masih perawan, belum punya suami, pinter. Cocok kan sama kamu?!" kata Rini menegaskan.


    "Benar, Rin .... Kamunya saja yang cemburuan. Jangan ngacoin pekerjaan saya dong, Rin."


    "Bener?" tanya Rini lagi yang mendongakkan kepala, memandang Yudi.


    "Sumpah." sahut Yudi.


    "Besok kalau saya pulang ke Jakarta?" tanya Rini.


    "Ya, tidak terjadi apa-apa lah, Rin. Masak kamu mau pasang CCTV di sini, biar bisa memantau dari Jakarta." jawab Yudi mulai lega, karena Rini sudah tenang.


    "Bisa dipercaya?" tegas Rini.


    "Seratus persen." sahut Yudi.


    Rini langsung berdiri, masih memeluk Yudi, lantas mencium Yudi.


    "Jangan ada persaingan antara aku sama Yuna, ya .... Aku tidak mau diriku dibanding-bandingkan dengan Yuna. Aku terlalu mencintaimu, Yud. Walau diriku sudah bersuami, rasanya cintaku padamu tidak bisa tergantikan, Yud." kata Rini yang kembali mencium kedua pipi Yudi.

__ADS_1


__ADS_2