
Pagi itu, Rini belum keluar dari kamar. Di teras garasi sudah ramai ada suara orang yang ribut. Tentu suara itu mengusik ketenangan Rini di dalam kamarnya, yang akhirnya harus keluar untuk mengetahui keributan apa yang terjadi di rumahnya.
Yah, ternyata di teras garasi ada Mas Jo, sopirnya Hamdan, yang datang ke rumah. Ia ramai ngobrol dengan Mang Udel dan Mak Mun. Tentu sudah dibuatkan kopi oleh Mak Mun.
"We ..., alah .... Ada Mas Jo .... Dengaren, Mas Jo mampir ke rumah ...." ucap Rini yang sudah berdiri di dekat pintu.
Ya, memang sudah seminggu lebih Mas Jo tidak datang ke rumah, karena Hamdan, bosnya, sedang pergi ke luar negeri. Sehingga tidak ada yang perlu dijemput untuk ke kantor. Dan Mas Jo, berangkat kerja dari rumahnya langsung ke kantor.
"Eh, maaf ..., Ibu Rini .... Iya, Bu .... Ini kangen main ke sini ..., kangen kopinya Mak Mun .... Hehe ...." jawab Mas Jo sambil nyengenges.
"Sudah sarapan belum?" tanya Rini lagi.
"Hehe ..., belum, Bu ...." jawab Mas Jo sambil tersenyum malu.
"Walah .... Ya, sana minta sarapan sama Mak Mun ...." kata Rini yang langsung menyuruh sarapan Mas Jo.
"Iya, Bu .... Terima kasih." jawab Mas Jo.
"Mau ketemu saya apa nggak ...?!" tanya Rini lagi.
"Iya, Ibu .... Mau bicara sedikit dengan Ibu ...." kata Mas Jo.
"Kamu sarapan dahulu ..., saya mau mandi dulu biar wangi, orang mau ketemu sopir ngganteng kok .... Hehe ...." kata Rini yang terus masuk kamar.
Biasanya Mas Jo sarapan cuman sedikit. Bahkan minum kopi belum habis, majikannya sudah mengajak berangkat berangkat. Tentu hal itu membuat sarapan dan ngopinya tidak nikmat. Tapi kali ini, Mas Jo tidak menjemput direkturnya, tidak mengantar Pak Hamdan, maka ia bisa menikmati sarapan bersama Mang Udel dan Mak Mun sambil bercerita ke sana kemari. Benar-benar sarapan yang nikmat. Bahkan Mas Jo minta tambah dibuatkan minum teh hangat.
Rini sudah selesai mandi. Keluar kamar menuju ruang makan. Lantas duduk di kursi ruang makan. Walau tanpa make up, tanpa dandan, hanya mengenakan daster, rambunya diikat karet, Rini tetap kelihatan cantik dan menarik. Tentu karena memang Rini adalah wanita cantik. Meski usianya sudah lima puluh tahun, tetapi kecantikan itu tidak pudar, bahkan terlihat semakin anggun.
"Mas Jo, sarapannya sudah selesai?" Rini memanggil Mas Jo yang masih asyik mengobrol sama Mak Mun di dapur.
"Iya, Bu ...." sahut Mas Jo, yang langsung menemui Rini di ruang makan.
"Sini ..., duduk sini. Ada apa?" tanya Rini yang sambil mengoleskan mentega dan selai di roti tawar untuk sarapan.
"Iya, Ibu .... Mohon maaf sebelumnya kalau mengganggu." kata Mas Jo mulai bicara.
"Nggak, orang saya pengangguran kok terganggu .... Hehe ...." sahut Rini sambil memotong-potong roti tawar dan memakannya.
"Anu, Bu .... Ini mohon maaf jika saya salah ya, Bu ...." kata Mas Jo yang seakan takut untuk menyampaikan.
"Memangnya ada apa, sih ...?!" RIni mulai curiga.
"Anu, Bu .... Bapak ...." kata Mas Jo yang kembali terputus.
__ADS_1
Rini mulai menduga, pasti ini ada kaitannya dengan kantor suaminya. Dan yang lebih jauh lagi, pasti ini ada kaitannya dengan masalah suaminya. Maka Rini tidak begitu kaget jika nanti yang akan disampaikan oleh Mas Jo, terkait tentang suaminya.
"Bapak kenapa?" tanya Rini santai. Masih sambil menikmati roti selai.
"Anu ..., dengar-dengar di kantor pada ribut masalah Bapak." kata Mas Jo yang belum bisa mengatakan secara terus terang.
"Iya ..., ribut masalah apa?" tanya Rini lagi.
Lantas Mas Jo menyeret kursinya, mendekat ke Rini. Lantas mengucap lirih sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Rini.
"Bapak akan diberhentikan dari kantor, Bu ...." kata Mas Jo membisik lirih kepada Rini.
"Hah ...?!" Rini melongo. Meski suara Mas Jo itu lirih, tetapi terasa bergetar sangat keras di dada Rini. Tentu membuat Rini kaget, karena berita Mas Jo berbeda dengan yang diduga Rini sebelumnya.
"Kenapa bisa begitu, Mas Jo?!" tanya Rini yang keheranan.
"Maaf, Ibu .... Bapak ..., anu .... Anu, Bu ...." Mas Jo kembali bingung untuk menyampaikan masalah Hamdan ke Rini.
"Anu ..., anu ..., kenapa?!" tanya Rini mendesak.
"Anu, Bu Rini .... Bapak ketahuan selingkuh ...." kembali Mas Jo membisikkan kata itu di telinganya.
Rini tidak kaget. Karena ia bersama anaknya, Silvy, sudah menyimpan gambar-gambar suaminya yang bermesraan dengan karyawannya. Tetapi Rini justru jengkel dengan Mas Jo, sopir suaminya itu yang baru kali ini memberi tahu kasus ini.
"Maaf, Ibu Rini .... Saya kan hanya sopir ...." jawab Mas Jo.
"Memangnya kalau sopir tidak boleh mengingatkan bosnya ...?! Memang kalau sopir tidak boleh menasehati juragannya ...?! Kamu ikut dosa, Mas Jo .... Kamu ikut bersalah ...! Itu nanti kalau sampai berhadapan dengan hukum, kamu akan ditangkap, dituduh ikut terlibat, dituduh sudah membuat persekongkolan, dituduh melindungi orang bersalah ...!" kata Rini yang tentu menakutkan bagi Mas Jo.
"Kok begitu, Bu ...?! Kan saya tidak tahu apa-apa ...?!" tanya Mas Jo yang tentu takut.
"Ya iya, lah .... Kamu kan saksinya." sahut Rini menegaskan.
"Tapi saya kan tidak tahu, Bu ...." bantah Mas Jo.
"Masak ...! Bohong, kamu ...!" sergah Rini.
"Betul, Bu .... Sumpah ...." Mas Jo tetap bersikukuh.
Rini terdiam. Tidak mungkin menuduh Mas Jo tanpa bukti. Dan tidak mungkin memaksa Mas Jo untuk mengaku, kalau memang orangnya tidak tahu. Ia pun pasrah dengan apa yang telah terjadi. Semoga saja suaminya akan sadar dengan peristiwa yang dialami ini. Lantas, ia pun ingin tahu tentang nasib suaminya.
"Terus, keputusan dari perusahaan tadi bagaimana, Mas Jo?" tanya Rini lirih.
"Saya baru dengar-dengar, Bu ..., nanti sepulang dari Jerman baru akan dipanggil. Kapannya, saya tidak tahu." jawab Mas Jo.
__ADS_1
"Padahal kan Bapak sebentar lagi sudah pensiun, masak tidak menunggu pensiun sekalian?" kata Rini yang kurang setuju kalau suaminya langsung di pecat.
"Denger-denger nih, Bu ..., yang Mbak Lina juga langsung dipecat, kok ...." sambung Mas Jo.
"Sukurin ..., dasar wanita pelakor. Sejak kapan sih, pelakor itu jadi selingkuhan Bapak?" kata Rini.
"Saya tidak tahu, Ibu .... Kalau dengan saya, Bapak itu kelihatan baik terus, Bu .... Saya tidak menyangka ada kejadian ini, dan tidak percaya semua ini. Saya betul-betul kaget. Yakin, Bu .... Saya hanya tahu, Bapak itu orang baik. Bahkan saya sangat salut dengan Bapak. Benar, Bu ..., sampai-sampai saya itu mengidolakan Bapak lho, Bu .... Makanya, begitu saya mendengar berita ini, saya langsung menemui Ibu, untuk menyampaikan berita ini ke Ibu Rini ...." kata Mas Jo yang juga belum percaya.
"Kenapa juga, perusahaan memberikan tugas kepada wanita pelakor itu?" tanya Rini.
"Katanya Bapak yang mengusulkan, Bu ...." jawab Mas Jo.
"Hah ...?! Berarti memang Bapak sudah lama berselingkuh dengan pelakor itu." gumam Rini. Lantas bertanya lagi kepada Mas Jo, "Lhah, kemarin waktu Silvy telepon kamu, apa Mas Jo belum tahu, kok nggak ngasih tahu ke Silvy?"
"Lha, saya tidak tahu .... Mbak Silvy kemarin telepon hanya tanya yang ikut ke Jerman. Tidak tahu kalau ada masalah ini, Bu .... Kalau waktu itu saya sudah dengar, pasti saya beritahu sekalian. Makanya ini pagi-pagi saya kemari, untuk menyampaikan masalah ini ke Ibu Rini .... Maaf lho, Bu ...." kata Mas Jo.
"Mas Jo ..., ini kan masih rahasia .... Tolong Mas Jo jaga rahasia ini. Jangan sampai ada yang tahu dulu. Jangan cerita ke Mak Mun maupun Mang Udel .... Nanti mereka malah kaget. Yang penting kita tunggu saja Bapak pulang dari Jerman, kita tunggu keputusan perusahaan." kata Rini yang meminta Mas Jo untuk menjaga rahasia.
"Iya, Ibu Rini .... Saya paham, saya hanya khawatir kalau ibu Rini mendengar ini nanti langsung kaget ..., dan ..., saya khawatir Ibu sakit lagi .... Maaf, Ibu ...." kata Mas Jo yang mengkhawatirkan Rini.
"Iya, Mas Jo ..., terima kasih sudah memperhatikan saya, terima kasih sudah memberi tahu masalah ini. Doakan agar Bapak bisa terlepas dari godaan pelakor, dan semoga Bapak tidak mendapat sangsi dipecat. Doakan juga keluarga kami selalu dilindungi Tuhan, ya Mas Jo .... agar kami tetap nyaman dan bahagia ...." kata Rini pada Mas Jo.
"Nggih, Ibu .... Kalau begitu sekalian saya mohon pamit, saya mau ke kantor lagi, nanti kalau dicari malah dicurigai ...." kata Mas Jo yang langsung berpamitan balik kantor.
Rini duduk sendiri di ruang makan. Pikirannya mulai tidak keruan. Tentu karena takut menghadapi permasalahan suaminya. Bagaimanapun juga, kalau sampai Hamdan di pecat, pasti semuanya jadi berantakan. Tidak hanya masalah ekonomi, tetapi juga menyangkut harkat dan martabat keluarga, menyangkut harga diri, menyangkut kehormatan.
"Mak Mun ...!!" Rini memanggil Mak Mun.
"Iya, Ibu .... Ada yang harus saya kerjakan, Ibu ...?" tanya Mak Mun yang sudah berdiri di samping Rini.
"Mak Mun bisa nyanyi?" tanya Rini.
"Kalau lagu ndangndut, saya bisa, Ibu ...." sahut Mak Mun.
"Ayo, kita karaokean .... Mak Mun yang nyanyi ndangndut ...." kata Rini mengajak Mak Mun.
"Walah ..., yang benar ini, Ibu ...?!" Mak Mun jadi bingung diajak nyanyi karaoke.
"Iya .... Wis ayo, ke ruang keluarga, Mak Mun nyanyi ...." kata Rini yang langsung menyeret Mak Mun, diajak karaokean.
Mak Mun langsung memegang mic. Menyanyikan lagu ndangndut "Sepiring Berdua".
Rini menyaksikan Mak Mun yang berlenggak-lenggok menyanyi ndangndut. Asyik .... Sebagai penghilang jengkel.
__ADS_1