
Yudi sudah lebih dari dua bulan berada di Kuil Shinto Kifune. Memasuki bulan Desember, butiran salju sudah mulai turun mewarnai genting dan pelataran kuil, menjadi putih berkilau. Baru kali ini Yudi merasakan hidup di alam musim dingin. Meski di Kyoto suhunya belum begitu ekstrim, namun bagi Yudi yang asli dari daerah tropis, merasakan suhu udara di bawah sepuluh derajat celcius, tentu sudah sangat kedinginan. Oleh sebab itu, Yudi setiap hari mengenakan jaket untuk menutup tubuhnya.
Biasanya, pada musim dingin, aktivitas penduduk yang ada di luar rumah mulai berkurang. Termasuk penduduk yang pergi berdoa ke kuil, juga tidak terlalu banyak. Dalam keadaan kuil tidak ramai seperti inilah, tetua atau pimpinan pendeta mengadakan pertemuan. Ada dua macam pertemuan yang dilakukan di Kuil Shinto Kifune, yaitu pertemuan intern yang dihadiri oleh para pendeta, kannushi, miko serta para pembantu pendeta yang lain. Tentu dalam pertemuan intern itu yang dibahas adalah masalah yang ada di Kuil Shinto Kifune.
Sedangkan pertemuan yang kedua, merupakan pertemuan para pendeta dari kuil-kuil Shinto yang menjadi wilayah binaan dari Kuil Shinto Kifune. Ada banyak pendeta dari berbagai kuil di daerah Kyoto yang menjadi binaan dari Kuil Shinto Kifune.
Pada saat pertemuan intern, para pendeta, kannushi, miko serta para pembantu pendeta yang lain, berkumpul di aula besar. Tentu Sang Pendeta yang menjadi pimpinan Kuil Shinto Kifune, yang memimpin pertemuan tersebut. Acara pertemuan dimulai sejak pagi, setelah orang-orang selesai makan pagi. Semua yang hadir di ruang itu, ada sekitar dua puluh lima orang, duduk bersila di lantai aula. Meski di ruang aula itu terdapat banyak orang, tetapi suasana tetap sepi. Tidak riuh seperti umumnya orang berkumpul. Tidak ada suara.
Lantas datang tetua pemimpin para pendeta, yang usianya diceritakan sudah hampir seratus tahun. Tetua pendeta itu langsung duduk di altar, tempat yang lebih tinggi dari tempat duduk orang-orang yang mengelilinginya, dengan membentuk setengah lingkaran. Duduknya pun juga bersila, tidak mengenakan kursi empuk yang mewah dengan harga mahal, tetapi justru tempat duduknya berasal dari batu alam yang berbentuk kisaran cukup tebal.
Setelah tetua pendeta itu duduk, sebentar saja ia mengamati orang yang hadir di ruangan tersebut. Lantas melambaikan tangan pertanda memanggil Kannushi Negeri Jiran. Membisikkan kalimat perlahan kepada kannushi tersebut. Hanya sebentar dan perlahan.
Kannushi yang dibisiki langsung keluar. Rupanya tetua pendeta itu paham, kalau yang hadir di ruangan tersebut masih kurang satu orang. Maka kannushi yang dibisiki oleh tetua pendeta, langsung beranjak untuk mencari orang yang ditanyakan oleh pimpinan pendeta, yaitu Yudi.
Yah, Yudi memang tidak ikut berkumpul dengan para pendeta maupun pekerja lain di kuil itu. Karena Yudi merasa bahwa dia bukan bagian dari para pengelola dan pekerja kuil. Yudi di kuil itu hanya sebagai tamu yang disembunyikan. Makanya ia tidak berani untuk ikut berkumpul di dalam rapat yang bukan urusannya. Ia lebih baik membersihkan taman yang terdapat di air terjun.
__ADS_1
Kannushi Negeri Jiran langsung menemui Yudi yang sedang bersih-bersih di sekitar air terjun. Ya, meski sudah memasuki musim dingin, air suci yang terus memancar itu tidak pernah beku. Bahkan seakan sumber air tersebut justru memancarkan kehangatan. Itulah sebabnya Yudi senang membersihkan tempat tersebut.
"Yudi ...! Kamu diminta ikut berkumpul di aula, oleh Sang Tetua ...." kata Kannushi Negeri Jiran itu yang segera mengajak Yudi untuk ke aula pertemuan.
"Saya tidak punya pakaian seperti Anda." jawab Yudi, yang tentu merasa bukan bagian dari para pekerja kuil.
"Ini yang meminta Sang Tetua. Jangan menolak. Bergegaslah." kata Kannushi Negeri Jiran yang langsung berbalik untuk kembali ke tempat pertemuan.
Yudi tidak membantah. Ia langsung mengibaskan pakaiannya dengan jari-jari tangan, agar kotoran yang menempel hilang serta biar terlihat rapi. Selanjutnya, melangkah mengikuti Kannushi Negeri Jiran tersebut, menuju ruang pertemuan.
Dan kini, saat akan ada rapat penting, Yudi ternyata diundang oleh tetua pendeta itu. Ini bukan hal sepele, tetapi suatu kehormatan yang luar biasa. Bukan orang sembarangan yang bisa ketemu Sang Tetua. Yudi yang sudah berada di kuil lebih dari dua bulan saja, baru kali ini akan ketemu Sang Tetua, untuk mendengar nasehatnya.
Tetap seperti semula, ruang aula pertemuan itu walau dipenuhi orang, tetap sepi. Tidak ada yang ngobrol atau berbincang-bincang. Jangankan pada acara penting untuk mendengar petuah Sang Tetua, di hari biasa, saat bekerja bersama saja para pendeta maupun pekerja lain, jarang yang bicara. Hanya bicara kalau perlu dan penting. Bahkan, di dapur yang isinya para miko, orang-orang perempuan yang memasak, mereka pun tidak pernah banyak bicara.
Yudi duduk berdekatan dengan Kannushi Negeri Jiran. Tentu karena lebih akrab dan setidaknya jika ada bahasa yang belum dipahami oleh Yudi saat menerima petuah nanti, ia bisa bertanya kepada Kannushi Negeri Jiran tersebut. Walau ada Yudi yang baru datang di tempat itu, tidak ada yang mengamati Yudi. Ini juga diajarkan dalam kehidupan para pendeta, agar tidak terpengaruh oleh pandangan apapun. Bahkan Sang Pendeta Tetua, juga tidak menoleh ke Yudi. Bahkan melirik saja tidak.
__ADS_1
Yudi langsung menatap Sang Pendeta Tetua yang menjadi pusat pandangan dari semua orang yang ada di aula tersebut. Baru kali ini Yudi bisa melihat dan mengamati secara langsung orang yang selama ini ia harapkan bisa bertemu dan bertatap muka. Ada banyak harapan yang muncul dari diri Yudi. Terutama nasib tentang dirinya dan istrinya.
Ya, tentu Yudi sudah rindu untuk pulang ke rumah. Rindu dengan kampung halaman, rindu dengan orang tua. Terutama pasti rindu dengan Bagas yang selalu dijadikan sasaran emosinya.
Tetua pendeta itu langsung menyampaikan petuahnya. Yudi mendengarkan secara saksama. Tentu banyak kata yang harus cermati. Setidaknya memahami makna yang disampaikan oleh Tetua Pendeta. Petuah dari Tetua Pendeta yang disampaikan, adalah tentang cara hidup sufi. Sufi adalah orang yang menata dirinya untuk menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan melakukan cara hidup sufi, seseorang tidak berlebihan dalam memikirkan kehidupan duniawi dan tetap fokus pada iman dan takwa. Hidup sufi itu berarti seseorang dalam kehidupannya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Yudi mulai merasakan adanya paham dalam ajaran yang diberikan oleh Sang Pendeta Agung tersebut yang sesuai dengan filosofi dirinya. Yaitu hidup yang tidak mementingkan hal-hal duniawi.
Jika diri seseorang bisa meninggalkan kesenangan atau kegembiraan duniawi, seperti menjauhi hidup foya-foya, menghindari makan enak tanpa dibatasi, tidak mengumbar hawa nafsu syahwat, tentu orang tersebut dinyatakan sudah mampu mengendalikan dirinya untuk hidup bersahaja. Demikian pula ketika seseorang mau membagikan harta benda miliknya untuk kepentingan menyejahterakan orang banyak yang dalam keadaan membutuhkan, maka ia sudah bisa meninggalkan ikatan harta benda yang sering membelenggu batin manusia. Demikian pula, ketika seseorang bisa membagikan ilmu yang dimiliki kepada orang lain dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan agar orang lain menjadi lebih pandai dan bijak, maka ia sudah berbagi kebaikan.
Yudi sangat setuju dengan cara hidup sufi yang diajarkan oleh Sang Pendeta tersebut. Tentunya dengan segala keterbatasan kemampuan Yudi. Toh dalam ajaran Jawa, ada teladan-teladan yang harus dilakukan oleh seseorang untuk menjaga keutuhan dan ketenteraman hidup. Misalnya narima ing pandum, yang artinya menerima dengan rasa syukur apa saja yang sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemberi. Demikian juga dengan hidup yang lila lan legawa, tulus ikhlas dalam segala hal.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, terutama di daerah tempat Yudi tinggal, penuh dengan angger-angger lan wewaler, yaitu aturan dan larangan dalam tata kehidupan, yang tujuan utamanya tiada lain adalah untuk mengatur perilaku individu dan masyarakat agar memperoleh ketenteraman dan keselamatan hidup dunia dan akhirat.
Yudi sangat paham hal tersebut. Yudi sudah berusaha untuk melakukan tatanan hidup sesuai dengan angger-angger lan wewaler yang berlaku di masyarakatnya. Tentu intisari dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Sang Pendeta Agung tentang kehidupan sufi tersebut sudah bisa diterima. Kini, bagaimana untuk melaksanakan ajaran tersebut secara sungguh-sungguh. Karena yang terberat adalah melakukan ajarannya, bukan mendengar petuahnya.
Bagi Yudi, tentu kehidupan sufi ini dirasa masih sangat berat. Masih terlalu tinggi untuk digapai. Apalagi, saat ia datang ke kuil, sebenarnya adalah meminta pertolongan, yaitu berharap bisa menemukan dan menyelamatkan Yuna, istrinya. Namun kenyataannya, kini justru Yudi yang harus diselamatkan dari bahaya.
__ADS_1
Tentu dengan ajaran yang disampaikan oleh Sang Pendeta Agung itu, Yudi kembali merenung, ingin memahami arti hidup yang sebenarnya. Mampukah ia menjadi sufi?