
Sudah sepekan lamanya semenjak Rini kembali ke Jakarta, Yudi masih menunggu balasan WA maupun panggilan telepon dari Rini. Namun belum juga ada kabar berita. Walau demikian, Yudi sudah pasrah pada Yang Kuasa. Tidak seperti pada hari pertama, kedua, hingga hari ketiga, yang benar-benar melelahkan pikiran. Bagaimana tidak, Rini yang biasanya nge-chat atau telepon setiap hari, Rini yang biasanya menulis kata sayangku, cintaku, Rini yang biasanya telepon dengan kata-kata rindu yang menggebu-gebu, kini tidak mengirimi kabar berita sama sekali. Bahkan di WA tidak membalas, ditelepon juga tidak diangkat. Yudi benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan Rini. Sementara itu, Yudi tidak bisa mencari informasi dari orang lain, termasuk teman-teman dekatnya, tentu gegara HP Yudi yang hilang di Jakarta. Ya, rasa khawatir yang melelahkan. Ibarat makan tidak enak, kerja tidak nyaman, tidur pun susah untuk memejamkan mata. Hanya mengkhawatirkan Rini.
Namun setelah sepekan tanpa kepastian kabar berita, Yudi merasa tidak ingin berlarut-larut untuk memikirkan Rini lagi. Toh dulu, sesaat setelah lulus SMA, Rini menikah begitu saja tanpa memberi tahu dirinya, tanpa ada kata-kata maaf, bahkan juga tanpa undangan. Lantas kini, setelah Rini menjadi isteri orang lain, mengapa harus berpikir pusing. Apapun yang terjadi pada Rini, itu urusan Hamdan, suaminya. Bukan urusannya. Bila perlu, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang. Apalagi setelah sering ditegur oleh Yuna, pekerjaan Yudi tidak beres, garapan Yudi tidak bagus. Not good. Harusnya excellent, outstanding. Bekerja itu harus sungguh-sungguh, out all. Teguran dari Yuna itu yang menyadarkan Yudi untuk kembali fokus dalam bekerja.
"Yuna ..., Yuna .... Kenapa tidak dari kemarin menegur saya." begitu batin Yudi.
Sekarang Yudi ingin fokus untuk menyelesaikan rancangan proyeknya, yaitu Taman Awang-awang. Mumpung saat ini, orang yang akan membantu sudah siap, yaitu Yuna, sang arsitek desain eksterior yang cantik dari Jepang. Bukan sekedar membantu meneliti lokasi, bukan sekedar membantu membuatkan desain, tetapi Yuna juga siap menopang dana pembangunannya. Yudi harus konsen, sudah dibantu oleh orang baik jangan disia-siakan. Jauh-jauh datang dari Jepang, sudah seharusnya Yudi bersyukur.
Yudi jadi teringat, ketika proposalnya dibantai habis-habisan oleh tim evaluator saat presentasi di perusahaan Hamdan, suaminya Rini. Ia ingat bagaimana sulitnya mencari penyandang dana. Ia ingat bagamana susahnya mencari donatur. Ia ingat bagaimana sulitnya menawarkan proyek. Ia ingat bagaimana malunya mengemis bantuan. Itu semua menjadi kenangan pahit yang tidak boleh dilupakan. Sejarah buruk yang harus memicu kemandirian. Riwayat kelam yang harus dijadikan motivasi. Maka jika sekarang, ada orang yang dengan segenap jiwa raga akan membantu ide gagasannya, Yudi tidak boleh menyia-nyiakannya. Bersyukur, Yudi ..., bersyukur.
"Yah, aku harus bangkit. Aku harus bersemangat untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Aku harus bersungguh-sungguh untuk menggapai bintang-bintangku." begitu kecamuk pikiran yang menggugah semangat Yudi.
__ADS_1
Melepas bayang-bayang Rini dari benaknya, kini Yudi intens berdiskusi dengan Yuna. Tanpa ada wanita yang marah, tanpa ada orang yang cemburu. Dan tentu, tanpa ada wanita yang mengganggu dengan WA dan telepon rindunya. Ya, sebaiknya memang Yudi harus lebih aktif untuk berdiskusi dengan Yuna, agar Yuna juga lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya. Agar angan-angannya cepat terwujud.
*******
Yuna merasa senang, ketika Yudi menyodorkan catatan-catatan review. Itulah manfaat berdiskusi di dalam team work. Jika ada salah satu yang kurang, yang lain melengkapi. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai, yang lain membenarkannya. Demikian yang harus dilakukan dalam bekerja secara profesional. Maka dua orang ini, Yudi dan Yuna menjadi tim yang handal dalam merancang sebuah desain tata ruang maupun teknik bangunan. Karya arsitektur Yuna diberi sentuhan seni estetik oleh Yudi. Hasilnya, tidak diragukan lagi. Menghasilkan gambar desain Taman Awang-awang yang luar biasa. Rancangan gambar dari Yudi yang pernah ditawarkan ke perusahaan Hamdan, hampir semuanya berubah. Dirombak total oleh Yuna. Tetapi konten dari usulan Yudi masih tetap. Ada tambahan-tambahan wahana yang diusulkan Yuna. Setelah dicermati secara detail, Yudi tertawa. Ternyata wahana permainan itu bukan berasal dari Jepang maupun negara-negara maju di Eropa. Tetapi wahana permainan tradisional khas Jogja yang dikemas dengan teknologi modern. Seperti permainan bandulan, dakon, sodamanda, egrang, bakiyak, dan masih banyak bentuk permainan tradisional lainnya. Semua itu diberi wahana dengan sentuhan karya seni yang fenomenal. Bahkan dalam desain Yuna, juga menampilkan dapur tradisional yang menggunakan tungku kayu bakar khas Jogja, yaitu angklo, serta peralatan masak tradisional liannya. Sungguh keren. Yudi belum pernah memikirkan penawaran wisata tradisional. Tetapi Yuna, gadis asal Jepang itu, malah menampilkan porsi kebudayaan tradisional Jawa untuk diekspos ke tataran wisata internasional. Tahu dari mana Yuna?
"Yudi, kita harus cek ke lapangan, untuk penyesuaian gambar dengan fakta. We have to go to the field to check. We have to look at the facts." kata Yuna pada Yudi.
"Secepatnya." jawab Yuna.
"Okey, akan saya siapkan peralatannya. Are you ready?" sahut Yudi.
__ADS_1
"I'm ready." jawab Yuna yang sudah mengangkat koper dan tas punggung.
Bagas, orang kepercayaan Yudi, sudah menyiapkan mobil, sudah membantu Yuna memasukkan koper peralatan di bagasi belakang. Di bagasi sudah ada satu dus air mineral dan satu kantong kresek roti. Tentu untuk PPPK, pertolongan pertama pada kelaparan. Untuk mengganjal perut jika kelaparan. Ada juga tambang plastik yang digulung, ember dan gayung, sekop dan martil, hanya sekedar untuk berjaga jika dibutuhkan. Mereka sudah siap menuju Bukit Awang-awang.
Yudi mengenakan celana jean biru serta kaos oblong putih bertuliskan "Jog-Yes" karya anak-anak remaja Kampung Nirwana. Pakaiannya dilengkapi baju kotak-kotak lengan panjang warna merah ala Jokowi, tanpa dikancingkan, sehingga tulisan JogYes-nya kelihatan. Mirip mahasiswa. Sepatu Safety King's melengkapi penampilan kakinya. Di kepalanya, tidak lupa ditutupi topi laken kulit ala koboi, produksi desa Manding Bantul. Walau bekerja di kantor pemerintah, teman-teman Yudi itu para seniman, maka penampilan keren adalah kebiasaan. Tidak heran, jika Yudi berpakaian seperti itu, penampilannya betul-betul seperti borjuis. Yudi juga membawa tas punggung yang berisi berkas-berkas gambar rancangan proyek, yang nanti akan dicek kebenarannya di lapangan.
Penampilan Yuna tidak kalah keren. Gadis Jepang berkulit putih itu mengenakan celana canvas warna abu-abu tua, sangat longgar sehingga kelihatan seperti kebesaran, terdapat kantong besar yang menempel di luar lutut. Atasannya mengenakan kaos warna pink muda lengan pendek. Sangat serasi dengan kulit tubuhnya yang putih. Sehingga Yuna terlihat sangat cantik. Sementara sweater-nya diikatkan pada pinggang. Tidak lupa, Yuna mengenakan topi pantai dari anyaman daun pandan yang ia beli saat ke Parang Tritis. Keren.
Dua orang yang cantik dan ganteng itu duduk di jok tengah. Sementara Bagas yang menyetir, duduk di depan sendiri. Sambil jalan, di mobil, Yudi menjelaskan tempat-tempat di kanan kiri yang mereka lalui. Tentu Yuna juga ingin tahu lebih banyak tentang Jogja. Maklum, mulai kedatangannya dari Tokyo, ia belum sempat keliling Jogja. Maka, sekarang, ketika bisa bepergian bersama Yudi, Yuna bertanya banyak, ingin tahu tentang Jogja. Kalau dengan Bagas, tentu tidak bisa sepuas saat bersama Yudi. Dua orang itu banyak bicara. Sangat akrab dan leluasa. Berkali-kali Yuna tertawa. Berkali-kali Yudi berambisi cerita. Berkali-kali pula tangan Yuna menyentuh pipi Yudi.
Bagas yang menyetir mobil, berkali-kali melirik dua orang yang ada di belakangnya itu melalui kaca spion. Bagas tersenyum-senyum, menyaksikan dua orang yang bercengkrama. Bagas ikut senang melihat Yudi bisa tertawa lepas. Bagas senang saat melihat berkali-kali tangan Yuna menyentuh bahu Yudi, mencubit lengan Yudi, dan tentunya juga mengelus pipi Yudi. Baru kali ini Bagas melihat Yudi bahagia. Baru kali ini Bagas menyaksikan Yudi gojek bersama wanita. Bahkan, Bagas juga berdoa agar Yudi bisa menikah dengan Yuna. Toh, Yuna adalah wanita paling cantik yang pernah dilihat oleh Bagas, tentu sangat cocok jika bisa menikah dengan Yudi. Ach .... Semoga saja Yudi punya teman yang mendampingi hidupnya, mengurus rumah tangganya, bahkan bisa memberikan keturunan.
__ADS_1