
Pagi itu, sebuah truk box masuk ke halaman parkir Taman Anggrek Nirwana. Pada dinding bangunan sudah ada tulisan besar "Taman Anggrek Nirwana" terbuat dari galvalum dan dicat hijau muda. Sangat serasi dengan tembok dinding yang terbuat dari bata super warna merah kecoklatan. Bentuk hurufnya pun dilengkuk-lengkuk seperti bentuk daun, sangat bagus. Menambah keindahan seni pada bangunan itu. Apalagi Mas Wawan sudah memasang Taman Anggrek Nirwana ini pada google maps. Maka sopir truk itu dengan mudah dapat menemukan tempat yang dituju. Seperti biasa, truk pengantar bibit anggrek itu jalan malam, menghindari panas di siang hari.
Di tempat itu sudah ada Mas Trimo, orang yang bekerja untuk merawat anggrek. Mas Trimo ini masih keponakan Bagas. Saat Rini meminta tolong Bagas mencarikan orang yang bisa menyiram anggrek di Taman Anggrek Nirwana milik Rini, Bagas menyuruh Trimo untuk membantu Ibu Rini. Mas Trimo ini orangnya rajin dan tekun, walau hanya orang desa biasa, buruh tani yang hanya ikut menggarap tanah tetangganya.
"Ada apa, Pak?" tanya Mas Trimo yang menemui sopir truk box yang berhenti di parkiran tersebut.
"Mau mengantar bibit anggrek. Ini kiriman bibit anggrek dari Malang, untuk Taman Anggrek Nirwana milik Ibu Rini." kata sopir yang mengantar bibit-bibit anggrek tersebut.
"Ya, betul ..., sini tempatnya. Sebentar, saya telepon Ibu Rini dahulu." kata Mas Trimo.
Setelah berkata demikian, Mas Trimo langsung mengangkat HP menelepon bosnya.
"Halo, Mas Trimo .... Ada apa?" tanya Rini menjawab telepon.
"Iya, Ibu Rini .... Ini ada truk box datang, katanya mau mengantar bibit anggrek. Bagaimana, Bu?" tanya Mas Trimo yang tentu harus lapor pada pemilik.
"Oh, iya ..., Mas Trimo. Tolong diterima. Sebentar lagi saya akan ke sana." sahut Rini yang menyuruh Mas Trimo untuk menerima.
"Ya, Ibu .... Akan saya bantu untuk menurunkan." jawab Mas Trimo.
Mas Trimo mematikan HP, lantas bersiap untuk membantu menurunkan bibit anggrek.
"Iya, Pak .... Nanti Ibu Rini akan kemari." kata Mas Trimo pada sang sopir.
"Saya dibantu menurunkan, ya ...." kata sang sopir.
"Lhoh, ini sendirian? tidak ada kernetnya?" tanya Mas Trimo.
"Iya .... Sendiri. Saya ke mana-mana tanpa kernet, kok." sahut sang sopir.
"Walah ..., pemberani betul, ini ...." sahut Mas Trimo.
"Yah ..., demi uang .... Cari rejeki harus siap tempur, Mas ...." kata sang sopir itu.
__ADS_1
"Iya .... Kita harus siap tempur ...." sahut Mas Trimo.
"Kamu sendirian?" tanya pak sopir kepada Mas Trimo.
"Iya ...." jawab Trimo.
"Walah ..., kebun seluas ini dirawat seorang diri?" tanya sang sopir.
"Lha wong anggreknya masih sedikit, kok. Belum banyak." sahut Mas Trimo.
"Ini anggreknya mau ditaruh di mana? Saya turunkan di tempat pendopo itu dulu, ya ...." kata sang sopir.
"Ya, boleh ...." jawab Mas Trimo.
"Kalau begitu, truk saya putar balik, biar belakangnya langsung menempel di pendopo." kata sang sopir yang langsung memutar truk, kemudian mundur, sehingga bagian belakang truk langsung dekat dengan lantai pendopo.
Kemudia sopir itu membuka pintu belakang box truk. Sehingga tampaklah bibit anggrek yang ada dalam truk tersebut.
"Walah ..., banyak sekali bibit anggreknya ...?!" tentu Mas Trimo terperangah menyaksikan anggrek yang ada dalam mobil box tersebut. Sangat banyak, sampai bertumpuk empat rak.
Rini tiba di Taman Anggrek Nirwana, saat Mas Trimo dan sopir truk itu masih menurunkan bibit-bibit anggrek dari atas truk. Dia diantar Pak Min, petugas jaga malam Nirwana Homestay, yang kebetulan akan pulang. Membonceng sepeda motor.
"Mas Trimo ..., istirahat dahulu. Ini minum teh sama sarapan. Pak sopir diajak sarapan." kata Rini yang membawakan minum dan sarapan satu kantong kresek.
"Iya, Ibu Rini .... Terima kasih." sahut Trimo, yang selanjutnya mengajak sopir truk itu istirahat dan sarapan.
Mereka sarapan berdua. Menikmati nasi pecel lauk rempeyek udang buatan Mbok Sumi. Porsi besar, nasi untuk kiriman. Biasa, porsinya orang mencangkul di sawah. Pasti sangat kenyang.
"Ini baru dibangun ya, Bu ...?" tanya sang sopir pada Rini.
"Betul, Pak .... Baru saja selesai. Makanya saya pesan bibit anggrek untuk mengisi rak-rak yang sudah dibuat ini." jawab Rini blak-blakan.
"Besar banget, Bu .... Pasti habis miliaran ini ...." kata sang sopir itu menduga biayanya.
__ADS_1
"Ah, tidak .... Ini lahan saudara Pak Lurah, masih murah kok." sahut Rini.
Lantas sang sopir itu berjalan ke pintu, menengok bagian dalam. Tentu ingin tahu seperti apa tempat kebun anggreknya.
"Wah ..., ini sangat besar, Bu .... Bibit segini masih kurang. Ibu harus pesan lagi untuk memenuhi semua rak yang ada." kata sang sopir itu lagi.
"Bibit sebanyak dua ribu lima ratus itu masih kurang? Walah .... Ini saya sudah belanja dua puluh lima juta untuk beli bibit, masih kurang ...?!" kata Rini yang tentu sangat menyesal.
"Coba saja nanti bibit-bibit ini ditata di rak, paling-paling belum ada separonya, Bu ...." kata sang sopir yang memberi perkiraan.
"Walah .... Berarti harus belanja lagi? Beli bibit lagi?" tanya Rini yang tentu penasaran.
"Iya ..., betul, Bu .... Paling tidak untuk kebun segini, sekitar sepuluh ribu pot, Bu ...." kata sang sopir itu lagi.
"Waduh .... Seratus juta, dong ...." sahut Rini yang langsung njondil menyebut hitungan uang.
"Usaha anggrek kalau kulakan modalnya memang besar, Bu .... Beda kalau ibu punya pembibitan sendiri. Bangun laboratorium, mengembangkan bibit. Itu sangat menguntungkan. Apalagi lahan Ibu masih sangat luas, itu yang gandeng dengan rumah dibangun laboratorium pembenihan. Nanti bisa untung besar." jelas si sopir yang mengantar anggrek tersebut.
"Oo ..., seperti itu, ya .... Tapi kalau misalnya saya hanya jualan begini, tetap bisa untung, kan?" tanya Rini lagi, yang tentu masih ragu-ragu untuk membangun laboratorium.
"Jelas untung, Bu .... Ini saja, dari bibit ini nanti dalam waktu tiga sampai enam bulan, sudah berbunga. Ibu sudah bisa menjual dengan harga paling murah lima puluh ribu. Kalau bunganya bagus, jual saja dengan harga mahal. Semakin lama, semakin besar pohonnya, harganya juga semakin mahal. Tidak ada kata rugi berbisnis tanaman hias, Ibu ...." kata sang sopir itu.
"Halah .... Pak Sopir itu, lho ..., sukanya membombong orang ...." sahut Rini yang merasa dimotivasi.
"Betul, Ibu .... Tapi kalau boleh saya sarankan, sambil merawat yang bibit, Ibu juga mengambil yang sudah siap berbunga. Jadi sudah bisa menjual. Selain itu, jual anggrek kalau tidak ada bunganya kelihatan kurang menarik." kata si sopir itu memberi pilihan.
"Iya, betul juga ya, Pak ...." kata Rini yang mulai tertarik untuk mendatangkan yang sudah berbunga.
Lantas Rini mulai memesan anggrek-anggrek yang sudah ada bunganya. Tentu tidak harus penuh seluruh rak yang dibuat Mas Wawan. Bisa perlahan, sambil memutar uang dari penjualan. Setidaknya, Rini harus mengeluarkan uang lima puluh juta lagi untuk menambah jumlah tanaman. Yah, inilah yang namanya merintis usaha. Harus berani mengeluarkan modal.
Mas Trimo yang menata anggrek-anggrek ke rak kebun, diusung dengan menggunakan engkrak troli barang yang didorong. Berkali-kali keluar masuk mengusung pot-pot bibit anggrek tersebut. Dan benar, ternyata setelah semuanya tertata di rak, belum ada separonya.
Ya, jika ingin usaha besar, harus punya modal besar. Dan yang paling penting, harus berani dan yakin. Termasuk untuk membuka usaha anggrek, jangan asal-asalan. Besar sekalian, sehingga akan menghasilkan pendapatan yang besar pula.
__ADS_1
Rini, kini menjadi pengusaha anggrek. Menjual anggrek dengan kebun yang indah dan menawan, Taman Anggrek Nirwana.