
“Hahaha... Dulu mati-matian kamu membelaku di depan Mamahmu, bahkan sampai membuat kalian ribut, tetapi sekarang? Semenjak ada DIA kamu seolah-olah melupakan statusmu yang masih sah menjadi suamiku. Dimana kata-kata manis yang selama ini kamu ucapkan padaku, Mas? Dimanaaaaa!!!!"
"Apa kamu ingat saat aku memberikan izin untukmu menikah lagi, namun dengan sangat lantangnya kamu menolak itu semua dan tetap memilih hidup bersamaku meskipun kita tidak memiliki keturunan. Tapi mana buktinya Mas mana??? Kemarin-kemarin kamu bilang akan bersikap adil kepada aku dan Elsa saat kita sudah menjadi satu keluarga, cuma pada kenyataannya kamu tidak bisa memenuhi syarat itu”
“Jadi aku tidak akan pernah rela kamu menikahinya. Hanya saja aku setuju bukan karena aku mengikhlaskanmu, aku melakukan semua ini hanya demi 1 nyawa yang harus tetap hidup dan merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Aku tidak mau melihat anak itu merasakan hal yang sama denganku karena tidak bisa memiliki keluarga yang lengkap”
“Kalian semua tahu, aku dari kecil hanya tinggal berdua dengan almarhum Bapak. Jadi aku bisa merasakannya dan ini berlaku untukmu Elsa, teruslah menunjukkan sifat kepalsuanmu itu sampai membuat semuanya berpihak padamu. Tetapi kamu harus ingat bahwa Allah tidak akan pernah tidur"
"Jadi Elsa, tunggulah karma yang akan menimpamu nantinya. Di saat itulah nanti kamu akan sadar dengan apa yang sudah kamu tanam maka itulah yang akan kamu tuai. Suci permisi ke kamar dulu, Pah...”
Suci berpamitan dan melangkahkan kakinya, namun hanya beberapa langkah Suci kembali membalikkan tubuhnya.
“Satu lagi...” ucapan Suci sontak membuat semuanya kembali menatap Suci.
“Buat Mamah, tolonglah bersikap bijak dalam memilih sebuah pilihan. Jangan sampai pilihan yang akan Mamah ambil itu bisa membuat Mamah terjebak penyesalan yang amat dalam. Ingatlah, jika di atas langit masih ada langit. Jadi kurang-kurangi rasa sombong yang ada di dalam diri kita agar kita tidak mendapatkan hasil buruk dari apa yang sudah kita lakukan"
Suci kembali berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Di situlah air matanya runtuh tak terbendung, ia sangat sedih dengan apa yang sudah mereka lakukan padanya tetapi ia juga senang sudah bisa melawan satu persatu orang yang sudah menyakiti hatinya.
Ya meskipun Suci juga merasa bersalah telah bersikap tidak sopan namun ia tidak peduli, yang terpenting ia bisa kembali bangkit untuk tetap membela dirinya karena jika bukan Suci siapa lagi yang akan membela dirinya sendiri sedangkan yang lain malah menghinanya begitu keji.
Papah Angga tersenyum melihat sisi lain dari Suci yang sudah berani bersikap tegas dengan apa yang terjadi saat ini.
“Bagus, Nak. Pertahankan sifatmu ini, dan teruslah bela dirimu sendiri jika itu benar. Jangan pernah memandang siapa pun, harga diri adalah harga mati yang harus kamu pertahankan. Bahkan Papah akan sangat senang jika kamu berpisah dengan Dimas, setidaknya kamu bisa mencari kebahagiaan lain dari pada Papah harus melihatmu menangis setiap hari menahan semua perlakuan buruk mereka, Nak...” gumam Papah Angga di dalam hati kecilnya.
“Jika kamu ingin menikahinya, maka silahkan. Tapi jangan pernah memintaku untuk menjadi saksi di dalam pernikahan kalian. Lebih baik kau bawa Mamahmu itu untuk menjadi saksi kehancuranmu di mulai, dan bayarlah orang untuk ikut serta menyaksikannya” ucap Papah Angga yang membuat mereka terkejut bukan main.
Kata-kata Papah Angga seperti peringatan untuk Dimas, namun ia hanya bisa terdiam meratapi semua yang suda terjadi karena Dimas tidak bisa memilih antara Suci atau pun Elsa. Dia benar-benar mencintai keduanya.
Papah Angga pergi meninggalkan semuanya dengan wajah tegasnya, sedangkan Mamah Mita dan Vina tetap acuh tanpa mendengar ucapan Papah Angga yang seperti mendoakan kehancuran keluarganya sendiri.
“Mah, Dimas titip Elsa dulu ya. Dimas mau bicara sama Suci dulu” ucap Dimas sambil pergi menuju kamarnya.
Mamah Mita dan Vina tersenyum menyambut Elsa, mereka berbincang-bincang sambil memegang perut Elsa yang sangat membuat mereka penasaran. Elsa tersenyum dengan sangat bahagia, cuma di dalam hatinya ia seperti tertawa lepas setelah melihat bagaimana Suci di perlakukan tidak baik dengan mertua dan adik iparnya bahkan suaminya pun ikut melawannya.
__ADS_1
...*...
...*...
Di dalam suatu kamar di sebuah Rumah Istana, Arsya merasa sangat marah dan juga penuh emosi setelah melihat video yang dikirimkan oleh tukang kebun itu. Rahangnya mengeras dan terdengar bunyi gemeretuk gigi yang saling beradu.
Bahkan matanya pun memerah penuh kebencian, hingga tangan satunya mengepal sangat kuat. Cuma di akhir video, Arsya malah tersenyum melihat keberanian Suci yang sudah mulai menunjukkan jati dirinya dengan perlahan.
“Good Girl!! Lawan mereka terus dan tunjukkan pada mereka semua jika kamu bukanlah wanita yang lemah. Aku yakin suatu saat nanti Dimas akan bertekuk lutut memohon padamu karena telah menyia-nyiakan wanita setulus dirimu, Suci”
“Coba saja Thirta masih ada, pasti kalian bisa bersahabat. Aku bisa pastikan Thirta akan senang memiliki sahabat sepertimu, dan apa kamu tahu Suci... Sifatmu ini sangat mirip dengan Thirta dan itu membuatku sedikit mengagumimu, tetapi aku sadar jika kamu dan Thirta bukanlah orang yang sama. Melainkan kalian memiliki perbedaan masing-masing”
“Thirta dengan gayanya yang sedikit terbuka karena ia seorang model, dan kamu terlihat sangat anggun dengan pakaian tertutup seperti mencerminkan seorang bidadari surga” Arsya berbicara seorang diri sambil tersenyum hingga membuat pipinya merah merona.
Entah kenapa semenjak ia bertemu dengan Suci, bayang-bayang mengenai Thirta semakin ke sini semakin berkurang. Biasanya sehari sekali Arsya bisa menghabiskan waktunya ke Bar demi untuk menghilangkan ingatannya dengan sebotol alkohol. Cuma sekarang ia sangat jarang pergi ke sana, ya meskipun ia masih minum tapi porsinya tidak sebanyak dulu.
...*...
Suci sudah selesai membasuh mukanya untuk sedikit menyegarkan dirinya.
“Apa boleh aku berbicara padamu?” ucap Dimas yang membuat Suci sedikit meliriknya.
“Silahkan bicarakan saja Mas, lagi pula jangan terlalu lama berada di sini kasihan maduku nanti kesepian” sindir Suci yang membuat Dimas berjalan mendekati Suci.
Kemudian Dimas memeluk Suci dari belakang serta menempekan dagunya di bahu Suci. Suci yang sedang bercermin itu pun sontak terkejut dengan apa yang ia lihat di cermin.
“Maafkan aku, aku tidak bisa bersikap adil pada kalian. Tapi kali ini aku janji, setelah nikah nanti aku akan memperlakukan kalian dengan adil. Aku tidak mau menyakiti kalian berdua” ucap Dimas sambil mencium aroma tubuh Suci.
“Aku tidak butuh sekedar ucapan ataupun omongan belaka Mas. Aku hanya butuh pembuktian saja, dan masalah menyakiti... Seharusnya kamu bisa berpikir, Mas. Jika saat ini saja kamu sudah melukai hati seorang istri"
"Kamu rela membela dia yang baru saja masuk dalam kehidupanmu, namun aku yang sudah lama di dalam kehidupanmu saja seperti tidak ada lagi artinya untukmu Mas” ucap Suci dengan berusaha menahan air matanya agar tidak kembali menetes.
“Bukan seperti itu Dek, kamu salah paham. Tadi kan Elsa sedang kesakitan, makanya aku menolong dia. Mana tahu jika Vina hampir menamparmu seperti itu” ucap Dimas.
__ADS_1
Suci melepaskan kedua tangan Dimas yang melekat di pinggangnya sambil ia berbalik menatap Dimas dengan tersenyum.
“Semoga kamu segera sadar ya, Mas. Di sini Aku cuma bisa berdoa supaya saat kamu tersadar nanti, waktunya belum terlambat. Ya sudah kamu temani Elsa ke kamar tamu sana, sudah aku bersihkan kok. Dia bisa tinggal tempati saja, karena aku tahu 3 hari lagi kamu akan segera mengganti statusnya” ucap Suci dengan menunjukkan senyumnya.
“Terima kasih sayang, kamu memang istri terbaik. Aku keluar dulu ya...” ucap Dimas sambil mencium dahi Suci yang memar akibat benturan tadi yang sudah Suci oleskan sedikit obat, lalu Dimas pergi dari kamar.
“Percuma saja aku mengingatkan akan hal itu, Mas. Bahkan kamu sendiri saja tidak menggubrisnya. Apakah sudah sespesial itu Elsa untukmu, Mas?” gumam Suci sambil menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup.
“Huffff... Sudahlah Suci, lebih baik fokus benahi diri untuk tetap semangat menjalani cobaan ini. Ada saatnya nanti kamu bahagia, jadi sabarlah sedikit demi hasil yang indah"
"Jika Allah sudah berkata menyerah, maka aku harus mengikhlaskan semuanya untuk aku lepas. Namun jika Allah masih berkata aku harus kuat, maka di situlah aku harus berusaha mempertahankan harga diriku agar tidak selalu membuat mereka merasa puas karena melihat aku yang selalu lemah”
Di balik rasa sakit hatinya, Suci berusaha untuk tetap tersenyum apa pun keadaannya. Bahkan Suci sangat percaya jika ke depannya Allah sudah mempersiapkan kado terindah untukmu sebagai hadiah, karena ia telah berhasil melewati semua cobaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello... Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊
Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1