
“Ingat Sya... Meskipun aku sudah tidak ada di dunia ini, tapi kamu harus meneruskan kehidupanmu yang selalu berjalan. Aku memang tidak ada di dunia, tapi aku akan selalu ada di hati kecilmu. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah membuka hatimu sedikit demi sedikit agar ada seorang wanita yang bisa menggantikanku, Sya...”
“Walaupun aku cinta pertamamu, tetapi kamu berhak bahagia dengan cinta terakhirmu. Jemputlah masa depanmu dan buatlah kedua orang tuamu merasa senang jika melihat anaknya sudah mulai membaik dan berdamai dengan kenangannya”
“Lupakan balas dendammu itu Sya, karena aku di sini baik-baik saja dan bahkan jauh lebih bahagia dari pada saat aku di dunia. Jadi aku berharap kamu bisa berjuang untuk meneruskan kehidupanmu tanpa adanya diriku”
“Di sini aku akan selalu mendoakanmu agar bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku, dan semoga suatu saat nanti kamu bisa membantu seseorang yang sangat-sangat membutuhkanmu”
Thirta berbicara tanpa jeda dengan keadaan terus tersenyum, membuat Arsya tak terasa meneteskan air matanya. Lalu Thirta berjalan mundur sambil melambaikan tangannya.
“Selamat tinggal Arsya, aku harap kamu bisa menepati janjimu untuk kembali bangkit dari semua keterpurukan ini” lalu seketika Thirta menghilang begitu saja.
Bleeeessshhhh...
Arsya yang dari tadi menangis tanpa suara seketika terjatuh dalam keadaan pingsan karena saking tidak kuatnya Arsya untuk menahan beban di dalam hatinya membuat ia tidak sadarkan diri.
“Mas Arsyaa...” pekik Suci sambil penuh dengan kepanikan.
Segera mungkin Suci berlari menuruni anak tangga dan mendekati bodyguard yang menjaga di dalam rumah.
“Tuan tolongi saya, Mas Arsya pingsan di ruangan itu. Bisakah kalian membantu saya memindahkan ke kamarnya” saut Suci dengan keadan panik.
Para bodyguard langsung berlari sekilat mungkin untuk segera menolong Tuannya yang sudah tergeletak di lantai. Mereka menggotong Arsya menuju kamarnya, dan membaringkannya di atas kasur dengan perlahan. Salah satu bodyguard yang paham dengan bau tersebut langsung menatap Suci.
“Nona, bisakah Anda menunggu di depan kamar sebentar saja arena saya mau mengganti pakaian Tuan dulu” ujar sang bodyguard.
“Baiklah, lakukan yang terbaik untuknya. Jangan lupa berikan olesan minyak kayu putih di dalam tubuhnya agar dia merasa hangat” jawab Suci sambi berjalan keluar pintu dan langsung di tutup oleh bodyguard lainnya.
Suci mondar-mandir di depan kamar Arsya dengan rasa panik yang sangat berlebihan, “Aduh... Bagaimana ini? Kenapa dia bisa seperti itu, padahal aku niatnya ke sini untuk berbicara padanya tapi saat melihat kondisinya sekarang aku jadi tidak tega”
“Apa aku harus memberikan kabar ini kepada Bunda saja ya, biar dia tahu apa yang harus di lakukan untuk anaknya”
Suci bergumam di depan kamar sambil mengirimkan pesan singkat kepada Bunda Reni.
📱 “Assalamualaikum, Bun. Suci mau mengabarkan jika Mas Arsya pingsan, dan saat ini ia sedang di gantikan pakaiannya dengan bodyguardnya. Lalu,
__ADS_1
Suci harus bagaimana ya Bun? Suci bingung”
Tak lama ponsel Suci berbunyi.
Tingggg !!...
Pesan singkat masuk dari Bunda Reni.
📱 “Waalaikumsalam, Cantik. Ya sudah tenang saja, mungkin Arsya hanya kecapean saja. Bunda akan menghubungi dokter dan menyuruhnya untuk memeriksa Arsya. Bunda minta tolong sama kamu, untuk menjaga Arsya sampai Bunda pulang ya"
📱 "Soalnya pesawat yang di tumpangi Ayahnya Arsya terlambat karena ada kendala cuaca di sana jadi Bunda harus menunggu kabar selanjutnya. Bunda titip Arsya ya sayang, tolong jagain dia. Pasti saat ini dia membutuhkan seseorang yang berada di sampingnya”
Suci yang membaca pesan tersebut sedikit di buat bingung karena hari sudah semakin malam, namun ia harus menunggu kepulangan Bunda. Jadi mau tidak mau dia harus menunggu Arsya. Apa lagi Suci berhutang nyawa padanya jadi jika dia menemaninya di saat seperti ini, maka ini tidak sebanding dengan apa yang Arsya lakukan demi menyelamatkan dirinya.
Setelah selesai berkomunikasi dengan Bunda Reni, tak lama para bodyguard keluar dari kamar Arsya dan Suci langsung bertanya, “Bagaimana keadaannya, apakah dia sudah sadar?”
“Maaf Nona, Tuan belum sadar. Bahkan tubuhnya semakin panas, jadi saya harus segera mungkin memberi kabar pada Nyonya” saut salah satu bodygurd.
“Tidak perlu, Tuan. Saya sudah menghubungi Bunda Reni, dan katanya nanti akan ada dokter yang datang ke sini untuk memeriksa Mas Arsya” ucap Suci.
“Tu-tunggu...” seketika membuat para bodyguard membalikkan badannya menatap Suci dengan datar.
“Ada apa Nona? Apa ada yang bisa kami bantu?” ucap bodyguard.
“Bisakah salah satu dari kalian menemaniku untuk menaga Tuan Arsya. Aku tidak mau menimbulkan fitnah nantinya jika aku berlama-lama di dalam kamarnya” ujar Suci yang membuat para bodyguard saling menatap satu sama lain.
Mereka heran, masih adakah wanita seperti Suci yang menjaga ketat atas dirinya dan juga lawan jenisnya. Padahal di luar sana terlalu banyak wanita yang asal masuk ke dalam kamar lawan jenis bahkan ada yang sampai tidur bersama.
“Baiklah, biar saya saja Nona yang ikut menjaga Tuan” ucap bodyguard dengan sigap.
“Terima kasih” ucap Suci sambil tersenyum.
“Ya sudah kamu jaga di sini, aku akan pergi dulu. Permisi Nona...” ucap bodyguard lainnya untuk kembali ke tempatnya.
Sedangkan bodyguard tadi berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu kamar Arsya. Suci masuk sambil berterima kasih karena sudah di bukakan pintunya. Lalu ia mendekati ranjang Arsya dan melihat betapa lemahnya Arsya saat ini.
__ADS_1
Padahal beberapa menit yang lalu Arsya terlihat sangat kuat dan juga gagah. Tetapi sekarang, dia malah terbaring lemas tak berdaya. Sedangkan bodyguard berdiri di sudut kamar untuk berjaga sekaligus menemani Suci.
Tepat pukul 7 malam, dokter khusus yang menangani Arsya kini sudah sampai di depan rumah. Lalu bodyguard lainnya menyambut sang dokter serta menemaninya sampai ke depan pintu kamar Arsya. Mereka menunggu sang dokter tepat di depan kamar Arsya.
“Selamat malam semua...” sapa sang dokter dengan ramah, lalu Suci menoleh ke arah sang dokter.
“Alhamdulillah, akhirnya dokter datang juga. Silahkan Dok, tolong segera periksa Mas Arsya kasihan dia karena suhu tubuhnya juga dari tadi meningkat. Aku sudah mengeceknya menggunakan alat ini setiap beberapa menit sekali di bantu dengan bodyguardnya” celoteh Suci.
“Tenang saja Nona, Tuan Arsya sudah terbiasa seperti ini. Jadi saya hanya bisa menyuntikan sedikit obat dan memberikan beberapa resep obat dan Tuan Arsya pun akan kembali putih. Mungkin traumanya kambuh akibat Tuan Arsya kembali mengingat semua kejadian yang membuatnya sangat terpukul” jawab sang dokter yang membuat Suci terkejut hingga bingung.
“Trauma? Jadi ada suatu kejadian yang membuat Mas Arsya terpukul, begitu? Kejadian apa itu, Dok kalau boleh tau?” tanya Suci dengan penasaran.
“Maaf Nona, saya tidak bisa menceritakan semuanya. Jika saya bercerita kepada orang lain selain Tuan Arsya dan juga kedua orang tuanya, maka pekerjaan saya akan menjadi taruhannya. Sekali lagi maaf Nona, saya tidak bisa. Lebih baik Nona tanyakan langsung pada Tuan Arsya atau kedua orang tuanya”
Sang dokter menjawab semua pertanyaan Suci sambil fokus untuk memeriksa kondisi Arsya. Tak membutuhkan waktu yang lama, cuma cukup 10 menit saja sang Dokter sudah selesai memeriksa semuanya dan sudah menuliskan beberapa resep obat yang harus ditebus dan segera di minumkan saat Arsya terbangun agar panasnya segera turun.
Saat sudah selesai, sang dokter pamit untuk undur diri dan di temani oleh bodyguard lainnya. Tak lupa juga salah satu bodyguard itu pergi ke sebuah apotek besar untuk menebus beberapa obat yang berada di lembar kertas tersebut.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya obat pun sudah berada ditangan Suci, namun Arsya belum saja bangun dari tidurnya. Suci duduk di sofa panjang yang berada di kamar Arsya sambil mengirimkan pesan kepada Dimas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel to the Lo... Hello guys... 😆😆😆
Terima kasih atas dukungan kalian selama ini... 🤗🤗🤗
Dukungan kalian semua itu sangatlah berarti untuk Author... 🥺🥺🥺
Dan berikut adalah rekomendasi novel untuk hari ini dari Author... 😗😗😗
Silahkan baca dan tinggalkan jejak kehadiran kalian yaaa... 😁😁😁
...*...
__ADS_1