Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Wanita Selambat Suci


__ADS_3

“Astaghfirullah, sabar ya Suci jangan emosi. Dia memang begitu, jadi jangan sampai ke pancing oke...” gumam Suci di dalam hatinya dengan menahan rasa kesal.


Saat Arsya sampai di depan pintu ruang kerjanya kini ia menoleh ke arah Suci dan berkata, “Masuk, kita bicarakan di dalam”


Kemudian Arsya memasuki ruangan lebih dulu dan langsung di susul dengan Suci yang berlari kecil.


“Benar-benar pria menyebalkan, jika dia mau bicara padaku di ruang itu mengapa tidak mengatakannya dari tadi. Terus kenapa juga harus membuat aku menjadi kesal serta kebingungan seperti ini, dasar Es batu hump...” pekik Suci di dalam hatinya.


Lalu Suci masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah kecilnya dan cuma dengan beberapa langkah saja Suci sudah merasakan hawa yang sangat aneh, sehingga membuat Suci merinding. Mata cantik Suci melirik ke arah sekeliling ruangan tersebut yang penuh dengan warna hitam.


Entah kenapa semenjak kehilangan calon istrinya membuat Arsya sangat menyukai warna gelap. Bahkan ruangan ini dulunya terlihat elegan dengan berbagai warna, namun sekarang tidak lagi. Hampir sebagian rumah di rombak oleh Arsya untuk mengubah dan menghilangkan kenangannya.


Tetapi sekeras apa pun Arsya berusaha merubah takdirnya, ia pun tetap tidak bisa menyangkal jika dia memang benar-benar mencintai Thirta. Sampai kapan pun tidak akan ada yang menggantikan namanya di hati kecilnya. Namun tanpa di sadari saat Arsya ketemu dengan Suci, bayang-bayangnya Thirta sudah mulai menghilang.


Entahlah Arsya sendiri juga bingung,


yang jelas ini sedikit meringankan beban Arsya. Jadi dia tidak perlu setiap malam hari pergi ke sebuah Club hanya untuk menghilangkan semuanya dengan cara meminum minuman yang tidak menyehatkan.


“Ruangan ini kenapa terlihat berbeda dari yang lainnya?” ujar Suci sambil menatap isi yang ada di ruangan.


“Tidak perlu ikut campur dalam kehidupanku, kau bukan siapa-siapa di sini. Aku menghargaimu karena kamu sudah di anggap sebagai anak dari Bunda. Padahal selama ini Bunda tidak pernah membawa satu orang pun ke dalam rumah ini selain dia” tegas Arsya sambil duduk di kursi panjangnya yang berwarna hitam pekat namun masih terdapat gradasi warna coklat tua.


Kemudian Suci duduk di kursi tunggal untuk memberikan jarak antara mereka, “Dia? Dia siapa maksudnya Mas?”


“Sudah aku bilang bukan, jika kamu tidak perlu ikut campur atas kehidupanku dan jangan banyak bertanya. Lebih baik sekarang tutup poin saja, aku tidak mau basa-basi karena menurutku waktu adalah uang. Jadi jika kamu berbelit-belit seperti ini, maka kamu sudah membuang begitu banyak uangku” ucap Arsya yang membuat Suci terdiam.


Seketika Suci berbicara dengan tatapan anehnya, “Apakah jika aku berbicara padamu aku harus membayarmu, begitukah maksudnya? Baiklah, aku akan membayarnya tapi jangan terlalu mahal ya. Jujur saja, aku tidak punya uang terlalu banyak”


“Tapi karena ini penting, makanya aku harus berbicara padamu langsung. Jadi berapa nomor rekeningnya, biar aku transfer sekarang jadi aku tidak akan membuang waktumu yang katanya adalah uang itu. Aku tidak mau semakin aku lama berbicara padamu, maka tagihanku akan semakin banyak”


Suci yang memang asal ceplas-ceplos membuat Arsya menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil mendengak ke aras dengan mata yang tertutup. Kali ini Arsya benar-benar tidak mengerti kenapa ada wanita selambat Suci.

__ADS_1


“Apakah dia polos ataukah dia benar-benar lugu? Tapi di dunia seperti ini apakah ada orang seperti dia? Aishhh... Jika aku semakin lama berhadapan dengannya, pasti otakku pun akan ikut geser dari tempatnya hahh...” keluh Arsya di dalam hatinya, lalu ia kembali duduk dengan tegak.


“Tujuanmu datang ke sini untuk berbicara tentang apa?” ucap Arsya dengan mode serius.


“Kalau aku jawab sekarang, apa nanti biayanya tidak akan mahal?” tanya Suci yang masih dengan wajah polosnya.


“Lupakan soal itu, fokus pada tujuanmu dan segera katakan. Aku tidak bisa berlama-lama lagi karena aku harus segera beristirahat” ucap Arsya sambil membungkukkan tubuhnya sambil menggenggam kedua tangannya.


Suci yang melihat mata Arsya memerah dan ia seperti mencium aroma sesuatu membuat ia menutup mulutnya.


“Heempp... Mas Arsya habis makan apa sih, kenapa bau mulutnya tidak enak sekali” ucap Suci sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


Seketika Arsya memukul jidatnya sendiri. Du satu sisi ia pusing akibat minuman itu, namun di satu sisi lainnya dia di buat tambah pusing akibat celetukan Suci yang membuat Arsya frustasi.


“Apa kau tidak bisa membedakan antara bau makanan dengan bau minuman?” tanya Arsya dengan jengah.


“Memangnya minuman ada yang bau ya, Mas? Bukankah minuman yang bau itu biasanya hanya mengandung jamu ataupun rempah-rempah atau semacam kopi dan sebagainya, tapi tidak sampai membuat bau mulut seperti ini kok”


Celoteh Suci yang membuat Arsya semakin pusing, lalu ia berdiri sambil berjalan rada sempoyongan membuat Suci ikut berdiri mengkhawatirkan keadaan Arsya.


“Sudah aku katakan cepat bicara tujuanmu mencariku, kenapa malah merembet kemana-mana sih” pekik Arsya dengan keadaan yang sedikit pusing.


“Mas Arsya tidak apa-apa? Kenapa jalannya seperti itu?” tanya Suci dengan penuh kecemasan.


Namun tak lama bayangan Thirta yaitu mantan calon Istri Arsya yang sudah tiada pun muncul tepat di belakang Suci. Arsya yang melihatnya pun dibuat tersenyum saat melihat cinta pertamanya kembali menemuinya.


“Hai sayang, apa kabarmu?” ujar Thirta sambil melambaikan tangannya dalam imajinasi Arsya.


“Thi-Thirta? Ka-kamu di sini, Bebs?” saut Arsya dengan penuh kebahagiaan.


Suci yang melihat Arsya mengucapkan sebuah nama, membuat ia merasa bingung dan langsung membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


“Loh kok tidak ada siapa-siapa sih, lalu nama yang Mas Arsya ucapkan nama siapa? Apa dia ngelindur? Tapi kan Mas Arsya tidak habis bangun tidur emm...” gumam Suci di dalam hatinya sambil kembali menatap Arsya yang terlihat sangat bahagia.


“Kenapa kamu seperti ini lagi, Sya... Apa kamu lupa dengan ucapanku yang terakhir kalinya?” ucap Thirta dengan raut sedih.


Arsya yang melihat Thita bersedih langsung berjalan dengan sempoyongan mendekati Suci.


“Stop, di situ Sya. Jangan mendekat” pekik Thirta yang membuat Arsya berhenti tepat di samping Suci dan kini Suci dan Arsya bersebelahan saling membelakangi.


“Kenapa Bebs? Kenapa kamu tidak mau dekat denganku, apakah kamu sudah bisa melupakanku? Lalu apakah kamu di sana sudah memiliki penggantiku?” ucap Arsya dengan mata berkaca-kaca dan Suci hanya bisa bergeser sedikit sambil menatap Arsya.


“Ada apa dengan Mas Arsya, kenapa dia seperti sedang berbicara dengan seseorang. Lalu Thirta itu siapa? Jika dia kekasih Mas Arsya, lalu kenapa aku tidak pernah melihatnya di sini ya...” gumam Suci di dalam hatinya karena ia lupa kalau Bunda Reni pada saat pertama kali bertemu dengannya sudah menceritakan sedikit kisah Arsya.


“Mau sampai kapan kamu seperti ini Sya? Sampai kapan? Sampai tua? Sampai kau dianggap sebagai perjaka tua? Apa kau lupa jika Bunda dan Ayah sangat ingin kamu hidup berkeluarga, bukan menyendiri seperti ini”


“Kepergianku sudah cukup lama Sya, tapi kamu masih tetap seperti ini. Mau sampai kapan kamu tenggelam dalam bayanganku Sya, sampai kapan! Kehidupanmu masih panjang, jika kamu tidak bisa melupakanku itu hakmu. Tetapi ingat Sya, masa lalu cukup di kenang saja jangan terus tenggelam di dalamnya sehingga masa depanmu terbengkalai”


“Ingat Sya... Meskipun aku sudah tidak ada di dunia ini, tapi kamu harus meneruskan kehidupanmu yang selalu berjalan. Aku memang tidak ada di dunia, tapi aku akan selalu ada di hati kecilmu. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah membuka hatimu sedikit demi sedikit agar ada seorang wanita yang bisa menggantikanku, Sya...” ucap Thirta yang ada dalam imajinasi Arsya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai... Hai... Hai guys... 🤗🤗🤗


Apa kabar para pembaca setiaku? Aku harap kalian sehat selalu ☺️😊😇


Aku ingin kembali memberikan rekomendasi Novel nehh 🤭🤭🤭


Silahkan di jelajahi dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa... 😁😆😆


...*...


__ADS_1


__ADS_2