Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Lupa Dengan Kehadiran Suci


__ADS_3

Arsya mengoceh di dalam hatinya, namun ia malah terlihat seperti sedang berdebat dengan hati kecilnya. Ia merasa bahwa melakukan semua ini demi sang Bunda, meskipun hatinya menginginkan jika dia melakukan ini karena ia peduli dengan Suci.


Tapi entahlah... Arsya seperti menolak keras dengan apa yang berlawanan dari hatinya, mulutnya dan juga pikirannya. Arsya melihat sedikit serta diam-diam merekam adegan Dimas dan Elsa yang sedang bercum*bu membuat Arsya tersenyum licik.


Hanya saja Arsya tidak tega memberikan bukti ini, karena ia takut membuat Suci semakin sakit. Jadi Arsya menyimpannya rapat-rapat di ponselnya jika suatu saat dibutuhkan. Arsya yang sudah tahu mau kemana arah mereka.


Arsya segera meninggalkan ruangan karena ia tidak mau matanya ternodai dengan berbuatan tak senonoh yang mereka lakukan di dalam lingkungan kantor. Jika dengan istri, maka itu tidak menjadi sebuah masalah karena sudah sah menurut agama dan hukum. Tetapi kali ini seorang suami melakukannya dengan sekretaris dan juga sahabat dari istrinya, maka itu benar-benar gila.


Hanya demi kepuasan diri sendiri, mereka melupakan seseorang yang sedang berjuang mempertahankan ruang tangganya demi cinta tulusnya. Untungnya keadaan di sana sangat sepi, jadi Arsya bisa lolos dengan mudah dan segera mengembalikan pakaian OB yang ia pinjam serta menyelipkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dengan jumlah 10 lembar.


Arsya berpikir jika ia sedang menyewa baju, meskipun caranya salah tapi ia juga tidak mau menyewa tanpa adanya pembayaran. Akhirnya Arsya dan para bodyguardnya pergi meninggalkan kantor Dimas dengan penuh kejutan.


...*...


“Bagaimana keadaannya saat ini ya... Apa dia baik-baik saja setelah mengetahui kebusukan suami dan sahabatnya? Jika memang itu berhasil, tapi entah kenapa firasatku sangat yakin jika dia sudah mengetahui semuanya ya...” gumam Arsya.


“Apa aku coba untuk menelponnya saja, ya? Arghh... Tidak, tidak, tidak. Jika aku menelepon dia, maka pasti dia akan curiga bagaimana bisa aku mendapatkan nomornya sedangkan yang punya hanya Bunda"


"Ya walaupun pada saat itu aku mengambil nomornya secara diam-diam dari ponsel Bunda. Tapi untungnya saja aku tahu kata sandi ponsel Mamah itu tanggal pernikahannya dengan Ayah, jadi aku bisa mengambil nomornya"


"Tentu saja setelah itu aku menghubunginya untuk memberi kode-kode agar membuat ia penasaran dan mencari tahu dengan sendirinya”


“Arrghh... Sudahlah, yang penting aku sudah membantunya. Itu biarlah urusannya, mau dia ikuti apa yang aku katakan atau tidak itu haknya. Setidaknya aku sudah usaha memberikan jalan untuknya agar bisa mengetahui bagaimana kelakuan suami dan sahabatnya di belakangnya”


Setelah selesai dengan perdebatannya, Arsya kemudian pergi untuk mencari udara segar agar tidak membuat pikirannya pusing akibat memikirkan keadaan Suci yang entah dia sendiri pun tidak tahu.


Namun kali ini Arsya benar-benar lupa memberi tahukan bodyguard miliknya untuk memantau Suci agar dia bisa mengetahui semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Sedangkan mata-mata yang ia berikan itu, tetap berada di lingkungan rumah Dimas karena ia melakukan penyamaran sebagai penjaga kebun.

__ADS_1


...*...


...*...


Di rumah sakit Kasih Ibu


Suci duduk di sofa panjang sambil melipat kedua tangannya di dada sambil menatap bangkar Elsa, ia merasa sangat sakit karena melihat kemesraan suami serta sahabatnya yang begitu bahagia atas kehadiran si kecil di dalam perut Elsa.


Seakan-akan Dimas lupa dengan kehadiran Suci yang ada di belakang mereka. Bahkan kali ini Dimas benar-benar berani menunjukkan cintanya kepada Elsa langsung di depan mata Suci.


“Kamu tega Mas melakukan semua ini padaku. Rasanya itu sangat sakit, tapi aku harus bertahan demi cinta ini. Namun jika aku sudah lelah nanti, maka aku pastikan suatu hari nanti kamu juga akan bisa merasakan apa yang aku rasakan. Semoga sebelum waktu itu tiba, kamu sudah cepat sadar ya Mas...”


“Andai saja kamu tahu Mas, jika Elsa sudah memiliki kekasih yang mana mereka juga telah berjanji akan kembali dalam waktu dekat. Tapi entah kenapa semuanya malah menjadi seperti ini”


“Aku tidak pernah sedikit pun berpikir jika Elsa bisa melakukan hal selicik ini padaku, cuma yang aku kecewakan adalah dirimu Mas. Kamu pernah bilang, jika kamu tidak akan pernah mencari wanita lain saat aku telah menyuruhmu mencari calon istri agar bisa segera memberikan keturunan"


"Di situ kamu bilang jika ada anak atau pun tidak, maka kamu hanya ingin selalu bersamaku bukan bersama yang lain, tapi sekarang? Semua perkataan manismu itu yang selalu membuat hatiku tersentuh bahagia kini menjadi sangat menyakitkan"


"Kalau begini buat apa aku di sini Mas? Apa aku harus berpisah denganmu? Tapi aku belum sanggup melakukannya Mas, aku masih sangat mencintaimu. Aku akan merelakan kamu menikahi Elsa asalkan kamu juga bisa menghargaiku Mas hiks..."


Suci berbicara di dalam hati kecilnya sambil meneteskan air matanya menatap ke seruan Dimas yang sangat bahagia mendapatkan seorang keturunan. Bahkan ia juga selalu mengusap hingga menciumi perut Elsa tanpa mau menjauh darinya.


Suci menghapus air matanya dan kembali tersenyum, ia yang benar-benar tidak kuat lagi langsung pergi dari kamar rawat Elsa tanpa memberitahu keduanya. Elsa melirik ke arah Suci yang semakin menjauh, lalu ia tersenyum licik.


“Kenapa pergi Mbak, pasti rasanya sangat menyakitkan ya? Tapi ini baru permulaan loh Mbak, lagian aku kan sahabat yang baik jadi mana mungkin aku menyakitimu. Jika pun ada yang melukaimu, maka itu karena tingkah suamimu yang memang lebih mengutamakan diriku bukan karena aku ya haha...” gumam Elsa di dalam hatinya.


Elsa mengelus kepala Dimas yang masih mencium serta mengajak bicara bayi yang ada di dalam perut Elsa.

__ADS_1


“Hoya Sa... Nanti jika anak kita sudah lahir, dia mau memanggil kita dengan sebutan apa?” tanya Dimas.


“Hemm... Apa ya? Bagaimana kalau Mamih dan Papih, baguskan? Lucu, imut-imut gimana gitu hehe...” jawab Elsa.


“Tapi kayanya aku kurang suka deh, Sa. Bagaimana jika Papah dan Mamah saja, itu jauh lebih enak di dengar” ucap Dimas.


“Ya sudah, terserah Mas Dimas saja” ucap Elsa dengan sedikit kesal karena tadi Dimas yang minta jawaban, tapi kenapa malah dia tidak suka.


“Ckk! Kalau begini ngapain tadi aku harus mikir duluan, buang-buang waktu saja cih...” gumam Elsa di dalam hatinya sambil berusaha tersenyum.


Lalu Suci yang sudah berhasil keluar ruangan kini sedang asyik berjalan ke arah taman. Namun entah kenapa Suci merasa jika anak itu bukanlah anak dari Dimas, karena ia ingat jika Elsa dan Fajar telah berjanji untuk saling kembali satu sama lain dalam jangka waktu 5 bulan, tapi ini baru berjalan hampir 2 bulan.


Jadi kenapa Elsa malah mengkhianati Fajar, padahal Fajar sudah rela untuk menceraikan istrinya hanya demi kembali bersama Elsa. Suci duduk di kursi panjang berwarna putih sambil menatap ke arah anak-anak kecil yang sedang bermain.


“Andai saja aku bisa memiliki seorang anak, mungkin saat ini kehidupan cintaku tidak sesakit ini. Pasti aku dan Mas Dimas akan bahagia, tidak ada yang namanya pengganggu atau pun hama seperti Elsa huuft...” ucap Suci di dalam hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hey... Hai... Hello semuanya... 😊🤗🤗


Ketemu lagi dengan aku, Author tergemoy dan terunyu kalian 🤭🤭🤭


Seperti biasa... Author akan memberikan rekomendasi Novel lagi... 😁😁😁


Silahkan dijelajahi dan tinggalkan jejak imut kalian semuanya... 🥰🥰🥰


Mohon dukungannya dam terima kasih banyak semuanya... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


...*...



__ADS_2