
Suci yang melihat Xan menangis sedih itu, ia segera memeluk Xan begitu erat hingga keduanya menangis di pelukan satu sama lain yang membuat mereka seperti menemukan tempat ternyaman yang tidak pernah mereka temukan.
Setelah selesai menumpahkan semua beban di pundak keduanya, membuat mereka sedikit merasa lega terutama Suci. Entah mengapa kini hatinya tak sesakit saat ia belum menemukan kenyamanan untuk berbagi ceritanya.
Ya mungkin karena Xan memiliki kisah yang hampir sama dengan Suci, jadi membuatnya bisa terbuka dengannya karena jika Suci membagi bebannya kepada keluarga Arsya, ia malah semakin merasa bersalah karena selalu merepotkan mereka.
“Kamu tidak salah jika kamu ingin melakukan balas dendam karena itu bukanlah hal yang negatif. Kau bisa membalas dendammu itu menggunakan cara yang lebih halus dan juga cantik, sehingga tidak terlihat jika kamu sedang menariknya untuk masuk ke dalam jebakanmu. Paham maksudku?” ujar Xan sambil menatap Suci.
“Balas dendam secara halus dan juga cantik, itu seperti apa Kak? Suci tidak paham” jawab Suci dengan segala kebingungannya dan juga penuh penasaran.
“Aku ada ide untukmu, tapi aku harus membicarakannya bersama Tuan Arsya karena dia yang akan bisa sepenuhnya membantumu untuk bisa mewujudkan semuanya” ucap Xan.
“Baiklah, terima kasih banyak Kak Xan. Saat ini aku sudah menjadi lebih lega lagi, aku janji akan mengikuti semua yang Kakak ucapkan. Apakah Kakak mau membantuku untuk membalaskan dendamku ini? Aku butuh Kakak untuk terus menguatkanku, aku tidak bisa selalu bergantung pada Mas Arsya"
"Kasihan Mas Arsya, karena dia selalu mengurusiku sehingga Mas Arsya selalu keteteran dalam mengerjakan semua pekerjaannya di kantor. Bahkan sudah beberapa kali ia rela tidur di sofa hanya untuk memastikan jika aku baik-baik saja” jelas Suci yang membuat Xan paham.
Awalnya Xan mengira jika Arsya hanya ingin membantunya mewujudkan aksi balas dendamnya, dan ternyata Arsya memiliki perasaan pada Suci. Xan bisa melihat itu semua dari cerita Suci yang menyorot jika semua mengarah ke arah cinta, namun Suci belum menyadari semua itu.
Xan menganggukkan kepalanya, hingga ia langsung terbangun dan berdiri tegak di samping Suci saat mendengar pintu terbuka.
“Mbak Suciii...” pekik seorang wanita dengan wajah bahagianya saat melihat Suci kembali hadir di depan matanya.
Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Lisa, mantan sekretaris Dimas yang sekarang menjadi sekretaris Arsya. Suci yang mendengar suara itu matanya langsung berbinar dan segera turun dari ranjangnya serta berlari kecil mendekati Lisa yang juga merentangkan kedua tangannya seolah-olah mereka ingin berpelukan.
Namun entah kenapa Suci malah jalan melewati Lisa dan terhenti tepat di pelukan seorang pria yang berdiri di belakang Lisa. Siapa lagi jika buka Dion, mantan sahabat serta orang kepercayaan Dimas yang kini sudah menjadi manajer di perusahaan Arsya.
“Huuaaaa... Mas Dioonnn...” sahut Suci yang memeluk Dion begitu erat, hingga membuat semua orang yang melihatnya melongo tak percaya.
“Mbak... Lisa di sini loh, kenapa Mbak malah memeluk dia sihh...” ucap Lisa dengan kesal.
“Stttt... jangan berisik Lisa, aku sedang kangen dengannya” ucap Suci yang lagi-lagi membuat Lisa memerah kesal.
Sedangkan Xan, ia hanya diam sambil sedikit menyunggingkan senyumannya saat melihat Lisa diambang cemburu. Dion yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, wajahnya terlihat memerah akibat wanita yang dahulu ia sukai ini malah membuat dirinya kembali meleleh.
Lalu tidak lama kemudian, Arsya masuk tanpa melihat ke arah samping yang mana Suci masih setia memeluk Dion.
“Bagaimana, kalian sudah ketemu dengan Suci? Lalu kemana dia?” ucap Arsya dengan wajah bingungnya.
“Tuhhh... lihat saja sendiri, yang kangen siapa yang di peluk siapa! Ckk... dasar menyebalkan...” tunjuk Lisa dengan wajahnya yang di tekuk sambil menghentakan kakinya penuh kesal.
Arsya langsung menoleh ke samping, hingga membuat matanya seakan-akan ingin lari dari tempatnya.
__ADS_1
“Succccii... apa kamu sudah gila hahh! Kamu tahu kan kalian bukan mahram, tapi kenapa kalian berpelukan, hahh! Apa kamu lupa siapa aku? Ayo sekarang lepaskannn...” pekik Arsya yang sedang mencoba melepaskan pelukan Suci.
“Sssttt... diamlah, berisikk tahu!! Aku ini sedang menikmati ini tahu...” sahut Suci dengan tatapan tajam.
“Aku hilang lepaskan ya lepaskan, atau kamu mau aku melakukan suatu hal lain untuk membuat kalian melepaskan pelukan kalian itu, hah!” ucap Arsya dengan emosi.
“Kau juga kunyuk!!! Ngapain kau malah senyum-senyum seperti itu, hahh!! Senang bisa di peluk dengan idolamu begitu...” sahut Lisa dengan emosi yang mulai naik.
“Sebentarlah, aku sedang merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan” ucap Dion dengan wajah bahagianya yang kembali membuat Lisa seperti ingin membejek-bejekkan tubuh Dion.
Namun Dion tak menghiraukan wajah kesalnya Lisa saat ini. Arsya yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, segera masuk ke dalam kamar mandi dan ia mengambil ember kecil, serta diisikan air yang cukup banyak. Lalu Arsya keluar dengan wajah kesalnya.
“Rasaakaannn inii...” pekik Arsya yang menyiramkan air ke punggung Suci dan mengenai wajah Dion.
“Wahh... hahaha... segar, ayo Mas Arsya siram lagi berasa kaya di film-film India hahaha...” ucap Suci yang menoleh ke arah Arsya dan melepaskan pelukannya, sedangkan Dion sedang mengusap wajahnya yang sedikit perih akibat cipratan air yang cukup sakit mengenai matanya.
“Suuuccii...” geram Arsya yang membuat Suci mengangkat alisnya.
“Apa?” ucapnya dengan nada ketus.
“Sudah seharian ini kau membuatku kesal. Tadi masalah es kelapa, terus masalah kau mencubit bodyguardku, dan sekarang kau malah memeluk Dion. Maumu apa sih, hah!!” ucap Arsya yang membuat semuanya terdiam kecuali Suci.
Mereka sadar jika Arsya sudah mulai terbawa emosi, dan lebih baik mereka mencari aman untuk segera pergi dari sana secara perlahan. Kini hanya tinggal Suci dan Arsya yang berada di ruangan.
Wajah melongoknya Arsya benar-benar terlihat sangat frustrasi dan juga stres karena ia menghadapi Suci seharian ini yang membuat emosinya naik turun.
“Sofa ada banyak, kenapa Mas duduk di bawah?” tanya Suci.
“Sepertinya aku harus membawamu ke rumah sakit jiwa, agar kamu bisa segera di sembuhkan” ucap Arsya tanpa sadar.
“Apaaaa!!!???... kau bilang apa barusan, hah!!!” pekik Suci yang membuat Arsya kembali berdiri dengan keadaan wajah yang sangat takut.
“Ma-maaf mulutku keceplosan” ucap lirik Arsya.
“Ckkk... sudah lah... pokoknya aku mau makan, ayo kita cari makan” ucap Suci sambil berbalik dan berjalan mendekati pintu.
Namun dengan cepat Arsya langsung menariknya hingga air yang berceceran di lantai membuat kedua kaki mereka merasa licin dan pada akhirnya...
Buuuuuggghh...
Mereka terjatuh dalam keadaan Suci di atas Arsya dengan hidung mereka yang saling menempel satu sama lain. Tanpa mereka sadari, mata mereka saling memancarkan aura yang sangat dalam sampai membuat detak jantung mereka berpacu dengan sangat cepat.
__ADS_1
Sampai seketika, Xan berjalan masuk untuk memberitahu pada mereka jika Dion dan Lisa ingin pamit pulang.
“Per-...” ucap Xan terhenti saat matanya membelalak melihat pasangan sejoli dalam keadaan begitu intim dan segera mungkin Xan menutup ruangan itu dengan perlahan.
“Huhhh... astaga, mataku...” gumam Xan sambil menutupi wajahnya sehingga membuat Dion dan Lisa yang melihat Xan menjadi sangat bingung.
“Ada apa Kak Xan? Kenapa wajah Kakak seperti itu?” ucap Lisa.
“Huhhh... aku habis melihat adegan yang romantis di dalam, ya ampuunn...” ucap Xan sambil membuka tangannya dari wajahnya.
“Romantis? Adegan apa? Jangan-jangan Tu-Tuan Arsya sama M-Mbak Suci lagi ekhem... ekhem...” sahut Lisa dengan kepolosannya sambil menguncupkan dan menempelkan kedua tangannya hingga membuat mereka terkejut.
“Se-serius? Mereka sedang anu-anuan?” sahut Dion yang pikirannya semakin kemana-mana.
“Ckkk... kalian ini mentang-mentang adegan romantis mikirnya kemana kali. Ya memang mereka hampir saja seperti yang Lisa katakan, tapi tidak sampai kejadian dan hanya hidung mereka yang menempel hihi...” ucap Xan yang malah membuat dua sejoli semakin penasaran, dan segera melihatnya dengan keadaan penasaran.
“Yaaaa... dasar, kalian mau ngapain sih. Jangan gangguin mereka...” pekik Xan yang melihat Dion dan Lisa bergerak mengendap-endap memasuki ruangan.
“Sttttt... Diamlah Kak Xan, kita ini hanya ingin mengabadikannya jadi Kakak jangan berisik” ucap Lisa dengan pelan.
Xan hanya bisa mengikuti mereka yang mencoba masuk ke dalam dan masih di suguhkan dengan adegan yang cukup romantis. Tak lupa juga Lisa mengambil beberapa foto dari berbagai sisi yang berbeda-beda serta mengabadikannya menggunakan video.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Author juga ingin memberikan rekomendasi novel lagi nih... 😗😗😗
Berikut adalah rekomendasi dari Author untuk kalian semuanya 🥳🥳🥳
Silahkan kalian jelajahi dan tinggalkan jejak indah kalian semua 😁😁😁
Terima kasih semuanya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1