
Kini bayi mungil, lucu, menggemaskan dan juga tampan sudah berada di gendongan Suci. Tak lupa Suci langsung menciumi seluruh wajah bayi tampannya yang baru saja ia lahirkan.
Sedangkan semuanya menatap bayi mungil itu, dengan tangan Arsya yang terarah untuk mengusap kepala bayi yang masih sangat merah itu.
“Arsya, sekarang kamu adzan kan anak kalian baru nanti kita bisa bermain bersamanya. Gendonglah dia perlahan lalu bisikan adzan dengan lembut di telinganya. Kamu mengerti kan apa yang Ayah maksudkan?” tanya Ayah Al sambil menatap curiga Arsya.
“Tentu saja aku tahu Ayah, tanpa kamu kasih tahu juga aku pasti akan mengadzani anakku sendiri. Kemari sayang... datanglah pada Daddy supaya Daddy bisa mengadzani putra kecil Daddy” ucap Arsya sambil menggendong bayinya.
Suci memberikan bayinya pada Arsya dengan hati-hati sambil di bantu oleh dokter di sana. Lalu Arsya langsung mengadzani anaknya dengan lembut sambil sang bayi mengerutkan alisnya dan mulutnya yang terus mengecap sambil sedikit tersenyum di sela-sela adzan.
Setelah selesai lalu Arsya menggendong bayinya dengan sangat lembut sambil duduk di pinggir kasur samping Suci. Arsya tersenyum sambil Suci yang mengelus kepala bayi mereka yang saat ini sedang menutup matanya namun senyuman terus terukir di wajah bayi tampan tersebut.
“Putra kita sangat tampan dan keren sepertiku, tapi senyumnya manis dan imut seperti dirimu sayang. Dia benar-benar akan tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan dan akan membuat hati para wanita pun bergetar” ucap Arsya sambil tersenyum.
“Aku tidak mau ya kalau anakku akan menjadi Playboy dan suka mempermainkan perasaan wanita. Aku ingin putra kita tumbuh menjadi pria yang lembut dan getle sama seperti Daddy dan Opa-Opanya. Benar begitu sayang...” ujar Suci sambil mengelus pipi putra kecilnya.
“Sepertinya Suci memang menjadi wanita paling bahagia setelah menikah dengan Tuan Arsya. Tidak salah aku menyerahkan putriku itu ke tangan pria yang bisa membahagiakannya, tidak seperti saat dia masih bersama dengan putra bodohku itu”
“Semua orang selalu mengatakan bahwa Suci tidak bisa memberikan keturunan. Namun setelah Suci pisah dengan Dimas, dia langsung di pertemukan dengan pria yang hebat seperti Tuan Arsya dan Allah juga memberikan mereka keturunan yang tampan”
__ADS_1
Papah Angga berbicara di dalam hatinya sambil tersenyum bahagia saat melihat Arsya, Suci dan bayi mereka yang terlihat seperti keluarga kecil bahagia. Lalu saat Papah Angga ingin berbalik, tiba-tiba saja Suci memanggilnya dan memintanya untuk mendekatinya.
“Papah mau pergi ke mana? Papak kan belum melihat wajah cucu Papah dan juga Papah mau menggendongnya bukan? Jadi kenapa Papah ingin pergi secepat ini hemm...” ucap Suci sambil menatap Papah Angga dengan senyuman.
“Itu benar Tuan Angga, kemarilah dan gendong cucu kecil yang sudah lama Anda inginkan. Bagaimana pun Tuan Angga juga salah satu Opanya sama seperti diriku” ucap Ayah Al sambil merangkul Papah Angga dan berjalan mendekati Suci.
“Nanti setelah Tuan Angga sudah puas menggendong bayi tampan ini, selanjutnya adalah giliranku. Aku sudah lama sangat ingin menggendong cucu dari putra dan menantuku ini. Silahkan Tuan Angga...” ucap Bunda Reni yang membantu Arsya menyerahkan bayinya ke dalam pelukan Papah Angga.
“Di-dia sangat kecil da-dan juga rapuh, tapi dia juga ta-tampan seperti Tu-Tuan Arsya hiks... ra-rasanya seperti mimpi karena aku bisa me-menggendong cucuku seperti ini hiks...” tangis Papah Angga pecah saat dia menggendong bayinya Suci.
“Tentu saja dia akan tampan dan keren sepertiku karena dia adalah anakku dan juga Suci. Dia juga akan menjadi penerus dari perusahaan ‘Cahaya Intan Berlian Company’. Lalu aku bisa menghabiskan waktuku berdua bersama istriku”
Arsya berbicara sambil tersenyum lebar dan juga merangkul Suci dengan tangan kirinya. Sedangkan Suci langsung melepaskan rangkulannya Arsya dan juga memukul bahu Arsya sekuat tenaga, yang mana pada saat itu Suci masih lemah karena baru melahirkan.
“Anak kita saja belum berusia satu hari tapi kamu sudah memikirkan tentang masa tua dan menyerahkan semua tanggung jawab pada anak kita. Kamu ini benar-benar menjadi suami pemalas ya Mas...” geram Suci sambil memukul-mukul bahunya Arsya.
Arsya hanya tertawa kecil sambil berputar-putar bahwa dia merasa sakit akibat pukulan dari Suci. Sedangkan Papah Angga, Bunda Reni dan Ayah Al juga ikut tersenyum melihat keromantisan pasangan orang tua muda tersebut.
“Tapi tunggu dulu deh Mas, tadi kamu bilang ‘Kay’? Tapi Kay itu siapa? Lalu sejak kapan aku punya perusahaan sendiri yang akan di wariskan pada anak kita? Apa maksud dari ucapanmu itu Mas?” ucap Suci yang berhenti memukuli Arsya dan duduk dengan wajah bingung.
__ADS_1
“Tentu saja Kay anak kita, aku akan menamai anak kita dengan gabungan dari nama kita berdua. Suarsya Kaysa Valleanno yang akan menjadi putra pertama dari keluarga Valleanno” ucap Arsya dengan sangat bangga yang membuat Suci merasa terharu.
“Suarsya Kaysan Valleanno... itu adalah nama yang indah Tuan Arsya. Anak ini memang memiliki wajah seperti Tuan Arsya dan juga Suci. Semoga saja dia juga memiliki sifat seperti kalian yang sangat lembut, tegas dan berwibawa” ucap Papah Angga sambil tersenyum pada Baby Kay.
“Tentu saja dia akan tumbuh seperti menantuku yang sangat baik hati, lembut, penuh perhatian dan juga tulus. Aku tidak mau cucuku mirip dengan putraku yang kaku dan cuek seperti kanebo kering“ ucap Bunda Reni sambil berjalan mendekati Papah Angga.
“Yaaakk... kenapa juga sifatku Cuma yang jelek sana yang terlihat bagi Bunda. Apakah aku tidak pernah sekalipun bersikap lembut, baik hati dan penyayang seperti Suci? Aku juga baik hati seperti Suci” celetuk Arsya yang membuat semuanya menatapnya dengan wajah tidak percaya.
Arsya yang mendapatkan tatapan tidak percaya dari semuanya pun hanya memalingkan wajahnya dengan kesal. Suci pun tersenyum saat melihat suaminya yang bersikap lebih manja dan manis tidak seperti saat mereka baru saja mengenal satu sama lain.
Suci merasa bersyukur dia bisa memiliki suami yang tampan, baik hati, tulus dan juga gentle seperti Arsya. Apalagi mereka juga di karuniai seorang anak yang membuat hubungan keduanya menjadi jauh lebih harmonis daripada sebelumnya.
Meskipun anak tersebut bukanlah anak kandung Arsya, namun rasa sayang yang di berikan Arsya, Bunda Reni serta Ayah Al tidak berkurang sedikit pun. Malah sebaliknya, di mana Arsya menyerahkan semuanya pada anak pertama mereka yang bernama Kay.
Lalu Papah Angga memberikan Baby Kay pada Bunda Reni karena dia juga ingin memeluk cucu pertamanya. Di saat semuanya bahagia, tiba-tiba Suci teringat akan perkataan Arsya tentang perusahaannya yang mana membuat Suci bingung dan dia pun langsung bertanya pada Arsya.
“Tadi Mas bilang sesuai tentang perusahaanku, tapi sejak kapan aku punya perusahaan? Padahal setiap hari sSuc aku selalu ada di rumah bersama Bunda, jadi bagaimana bisa tiba-tiba aku memiliki perusahaan. Aku tidak mengerti Mas” ucap Suci dengan wajah bingungnya.
Papah Angga, Bunda Reni dan Ayah Al yang mendengar pertanyaan Suci pun langsung ikut menatap Arsya. Lalu Arsya yang mendapatkan tatapan penasaran dari semuanya pun tersenyum penuh Arti. Arsya tiba-tiba merasa seperti dia baru saja memenangkan suatu yang besar.
__ADS_1