
Siapa sangka bahwa perkataan Suci tersebut sanggup membuat Arsya bersedih dan tanpa di sadari matanya kini sudah berlinangan air mata.
Bunda Reni dan Ayah Al yang melihatnya pun langsung terkejut karena mereka tidak pernah melihat Arsya selemah dan sesedih ini sebelumnya.
“Sayang hiks... ke-kenapa kamu tiba-tiba jadi di-dingin seperti ini padaku hiks... a-aku ingin Su-Suci yang lembut dan ma-manja kembali... a-aku tidak su-suka Suci yang cuek dan di-dingin seperti ini huuuaaa...” tangis Arsya sambil menarik-narik kecil tangannya Suci.
“Apaan sih Mas, kamu ini lebay banget sih. Hari ini kamu bersikap aneh deh, aku enggak suka ya dengan kamu yang lemah dan cengeng seperti ini” ujar Suci dengan ketus yang membuat tangis Arsya semakin pecah.
“Bunda, Ayah.. sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Arsya? Kenapa dia jadi seperti ini tiba-tiba?” ucap Suci sambil mencoba menarik tangannya Arsya dari genggamannya.
“Malahan Bunda sama Ayah ingin bertanya, kenapa kalian berdua jadi aneh seperti ini. Apakah semalam kalian terjatuh dari kasur sehingga sifat kalian jadi tertukar? Atau aku masih bermimpi ya...” tanya Bunda Reni sambil mencubit pipinya sendiri.
“Aawwhh... rasanya sakit. Ini artinya aku saat ini sedang tidak bermimpi, jadi apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiba-tiba sifat mereka jadi tertukar begini sih...” imbuh Bunda Reni yang mana memegangi pipinya yang sedikit sakit akibat cubitannya sendiri.
“Aku pikir Suci seperti ini karena mood swing kehamilannya sehingga dia jadi Suci yang cuek dan dingin. Tapi aku tidak tahu ada apa dengan Arsya, apakah mood swing orang hamil bisa tertular pada suaminya?” tanya Ayah Al sambil menatap Suci dan Arsya.
“Lepaskan tanganku Mas, kamu ini bertingkah aneh. Lebih baik kamu pergi ke rumah sakit dan periksa” ujar Suci yang terus mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arsya.
“Tidak mau hiks... Suci sayangku jadi ja-jahat padaku, aku ingin Su-Suciku yang dulu kembali. A-aku ingin Suci yang lemah lembut dan ma-manjaku kembali huuaaa...” terus menarik tangannya Suci tanpa mau di lepaskan.
“Haaahh... kamu itu sebenarnya kenapa sih Mas. Aku tidak mengerti sama sekali, aku menyerah...” celetuk Suci sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Uuhh... le-lebih baik kita pindah ke ruang keluarga saja karena kita juga sudah selesai sarapan. Kamu juga bisa beristirahat di sofa yang empuk dari pada di kursi yang sandarannya keras seperti ini” ucap Bunda Reni yang berdiri dari kursinya.
“Baiklah Bunda, kalau begitu Suci akan pergi ke ruang keluarga lebih dulu” Suci berdiri dan berjalan ke ruang keluarga dengan Arsya yang masih menempel di tangannya Suci sambil menangis.
__ADS_1
“Mas... bisa tidak untuk sebentar saja kamu melepaskan tanganku? Kalau seperti ini aku tidak bisa berjalan dengan nyaman” tegas Suci dengan wajah yang sedikit kesal.
“Tidak mau... nanti kamu pasti akan menjauh dariku jika aku melepaskan tanganmu sekarang. Aku akan membantumu berjalan jadi kamu tidak akan merasa tidak nyaman lagi” jawab Arsya yang kini sudah mulai tenang dari tangisnya.
“Siapa yang tidak akan kabur jika melihat suami mereka tiba-tiba bersikap aneh seperti anak kecil begini” gumam Suci dengan wajah malasnya.
“Yaaakk... benar kan kalau kamu mau kabur dariku! Kalau begitu aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu huump...” jawab Arsya yang mana mengeratkan genggamannya pada tangannya Suci.
“Haahh... sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Arsya. Perasaan tadi dia masih normal saja deh, tapi kenapa tiba-tiba dia jadi aneh setelah aku menolak tawarannya” gumam Suci di dalam hatinya.
Lalu Suci dan Arsya duduk di sofa panjang sambil Suci yang langsung menyalakan televisi serta menonton drama Korea.
Sedangkan Arsya masih saja setia dengan tangannya Suci yang mana masih tidak mau dia lepaskan. Suci pun hanya bisa pasrah lantaran dia tidak mau Arsya menangis lagi.
Entah kenapa hari ini Suci merasa sangat malas untuk melakukan apa pun bahkan berdebat dengan Arsya.
Tidak lama kemudian Bunda Reni dan Ayah Al datang dan mereka duduk si sofa lainnya di samping Suci dan Arsya.
Mereka masih menatap Arsya sama Suci dengan wajah aneh bercampur bingung, karena ini pertama kalinya terjadi setelah kehamilannya Suci selama hampir 8 bulan ini.
Saat ini Suci sudah hamil 30 minggu atau 8 bulan kurang. Bahkan mereka sudah bisa mengetahui jenis kelamin anak tersebut, tapi Arsya menolaknya.
Dia ingin gender bayi mereka menjadi rahasia saja karena apa pun gendernya, maka Arsya akan selalu menyayangi anak yang ada di dalam kandungannya Suci.
Meskipun anak tersebut bukanlah anaknya Arsya, namun baginya anak tersebut adalah pelengkap hubungannya antara Arsya dan Suci.
__ADS_1
Semenjak hadirnya anak tersebut, membuat hubungannya Suci dan Arsya semakin dekat serta terbuka. Apalagi mereka juga menjadi semakin romantis dan juga lengket seperti saat ini.
“Sayang, apakah kamu pikir kalau Arsya seperti ini karena dia juga merasa mood swing yang Suci rasakan?” bisik Ayah Al pada Bunda Reni.
“Mungkin saja? Dulu kamu juga seperti itu waktu aku hamilnya Arsya, kamu ingat kan? Kamu bahkan merasakan morning sickness yang seharusnya aku rasakan. Kamu selalu muntah-muntah setiap kali kita makan, sedangkan aku malah makan dengan sangat lahapnya” bisik Bunda Reni pada Ayah Al.
“hehehe... a-aku sa-sampai lupa kalau kejadian itu pernah terjadi. Berarti saat ini Arsya juga mengalami mood swing ibu hamil seperti Suci ya...” Ayah Al cengengesan yang membuat Bunda Reni menggelengkan kepalanya.
“Ayah dan Bunda bisik-bisik apa? Apakah kalian membicarakan Suci sama Mas Arsya ya? Ayah sama Bunda tahu kan kenapa Mas Arsya tiba-tiba bersikap aneh seperti ini?” tanya Suci dengan tatapan menyelidiknya.
“Hehehe... Bu-Bunda pikir ka-kalau saat ini Arsya sedang mengalami mood swing yang seharusnya kamu rasakan saat kehamilan. Itu sebabnya sikap kalian berdua jadi terbalik seperti ini?” ucap Bunda Reni dengan nada ragu-ragunya.
“Mood swing? Tapi memangnya bisa ya mood swing tersebut di rasakan juga sama Mas Arsya? Bagaimana pun harusnya Ayah dari bayi ini yang merasakannya dan itu harusnya Mas Dimas bukannya Mas Arsya?” jawab Suci dengan wajah bingungnya.
“Yaaakk... anak ini adalah anakku, jadi wajar saja jika aku juga ikut merasakan mood swing yang kamu rasakan. Pokoknya anak ini adalah anakku, bukan anak pria breng*sek seperti dia paham!” tegas Arsya yang langsung mencium perutnya Suci dan mengelusnya.
Di saat Arsya baru saja mencium dan mengelus perut Suci, tiba-tiba saja bayi yang ada di dalam kandungan Suci menendang.
Merasa tendangan sang anak setelah di cium oleh Arsya, membuat Suci dan Arsya menatap satu sama lain serta mereka pun tersenyum dengan tangan mereka berdua mengelus perutnya Suci yang sudah membuncit.
“Lihatkan... bahkan anakku ini sudah mengakui bahwa aku adalah Daddynya. Jadi apa pun yang terjadi ke depannya, jangan pernah lagi kamu mengatakan jika ini bukanlah anakku, paham!” tegas Arsya dengan wajah kesalnya yang mana terlihat imut bagi Suci.
“Hihihi... baiklah Daddynya anak-anakku. Sampai kapan pun itu, kamu adalah Daddy dari anak-anakku yang tidak akan bisa di bantahkan oleh siapa pun di dunia ini” ucap Suci sambil tersenyum menatap Arsya.
Lalu mereka semua akhirnya tersenyum saat melihat momen mengharukan tersebut. Arsya pun mengecup keningnya Suci serta tak lupa juga mencium perut Suci yang mana lagi dan lagi bayi mereka kembali menendang.
__ADS_1
Mereka semua kembali tertawa ketika Suci sedikit meringis kesakitan setelah merasakan tendangan bayinya.