Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Kecemburuan Kay Pada Garis 2


__ADS_3

Namun, ketika Suci tersadar pohon mangga itu mulai jauh dari pandangannya segera mungkin Suci memberontak agar mereka kembali ke sana. Cuman sayang, percuma saja sikap Suci yang seperti ini malah membuat Arsya serta Kay semakin menduga bahwa Suci telah kesambet penghuni pohon mangga.


...*...


...*...


Sesampainya di rumah Arsya langsung menurunkan Suci di sofa tepat di ruangan keluarga bersama dengan Kay dan juga Bunda Reni serta Ayah Al yang sedang duduk santai.


"Loh kalian ini pada kenapa sih? Terus itu juga kenapa wajahnya di tekuk begitu, hem.. ada apa Suci? Bukannya tadi pas berangkat kalian terlihat baik-baik saja, lalu kenapa pas pulang wajahnya pada seperti ini?" Tanya Bunda Reni.


"Hahh.. hahhh.. hahhh.. i-itu Oma, Mommy hampir saja kesambet penghuni pohon mangga ishhh.. serem banget" Kay berbicara dengan nafas yang masih naik turun.


Bunda Reni dan Ayah Al yang mendengar itu langsung saling menatap satu sama lain dengan tatapan aneh, lalu mereka melihat ke arah Suci yang hanya bisa menekuk wajahnya sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"Apa yang terjadi pada istrimu Arsya dan lihat apa yang Kay katakan barusan, coba jelaskan semuanya" Tegas Ayah Al.


"Entahlah Ayah, tadi saat arah pulang Suci melihat ada pohon mangga besar cukup menyeramkan sih. Lalu tiba-tiba Suci ketawa sendiri dan memanggil namaku dengan sebutan Sayang. Biasanya kan Suci selalu memanggiku dengan sebutan Mas. Anehkan? Makannya itu aku sama Kay takut jika Suci ketempelan, ya sudah kami langsung bawa pulang aja dari pada nanti berabe urusannya" Jelas Arsya sambil menatap Suci.


Suci hanya melirik tajam ke arah Arsya dengan tatapan kesal, begitu juga dengan Kay Suci melihatnya yang membuat Kay sedikit ketakutan. Lalu tanpa di sangka Suci malah langsung berlari memeluk Bunda Reni dan juga menangis meraung-raung membuat semuanya terkejut bukan main.


Dari kemarin memang sikap Suci sedikit aneh kadang tiba-tiba nangis, marah atau pun manja. Entahlah bahkan hari ini Suci mulai bertingkah lagi, sehingga Bunda Reni langsung mencoba menenangkan Suci.


"Heiii.. sayang ada apa hem, kenapa kamu menangis seperti ini. Ayo bilang sama Bunda siapa yang nakal? Kay atau Arsya?" Ucap Bunda dengan lembut.


"Hiks.. du-dua duanya Bun, masa mereka bilang Suci kesambet penghuni pohon mangga. Padahal kan Suci cuman mau minta Mas Arsya buat naik ke atas pohon dan memetik mangganya bersama Kay. Eh tapi mereka malah membawaku pulang huaaa hiks.."


Suci menangis kembali memeluk Bunda Reni yang malah membuat semua langsung menatap satu sama lain. Namun tanpa di sadari Bunda Reni tersenyum mengelus punggung Suci.


"Arsya tolong belikan Bunda tespeck akurat 10 macam, SEKARANG TIDAK PAKAI LAMA!" Ucap Bunda Reni yang membuat Arsya terkejut begitu pun dengan Ayah Al.

__ADS_1


"Sa-sayang, ka-kamu hamil?" Tanya Ayah Al kepada Bunda Reni yang mana malah membuat Bunda Reni menepuk keningnya.


"Astaga, mana mungkin aku hamil!! Kau tidak lihat aku ini udah tua, jadi cepatlah belikan sebelum semuanya terlambat!!" Pekik Bunda Reni yang langsung membuat Arsya kocar kacir keluar rumah.


Kay yang tidak paham hanya bisa melirik kepergian Arsya serta wajah Papah Al yang tidak bisa di jelaskan. Sedangkan Bunda Reni malah tertawa kecil melihat tingkah Suci seperti ini.


"Secepat itukah penghuni pohon mangga menempeli Oma, sehingga Oma dan Bunda bertingkah sangat aneh. Apa perlu aku panggilkan Kyai agar penghuni pohon mangga itu segera pergi dari mereka?" Gumam Kay di dalam hatinya sambil menatap Bunda Reni dan juga Suci.


Hampir 20 menit lamanya Arsya kembali dengan membawa sekantong plastik kecil yang berisikan macam-macam tespeck yang Bunda Reni inginkan. Namun, setelah kembali Arsya malah melihat mereka semua sedang asyik makan cemilan sambil menonton drama kesukaan Suci.


"Astaga, mereka malah asyik-asyikan makan minum sambil nonton drama tanpa memikirkan aku. Sedangkan aku? Aku panas-panasan ke sana ke sini mencari apa yang Bunda minta, ta-tapi buat apa semua ini? Bukannya ini untuk mengecek kehamilan? Memanggnya siapa yang hamil? Akhhh.. sudahlah dari pada pusing mending lihat aja apa yang akan Bunda lakukan dengan semua alat ini"


Arsya bergumam di dalam hatinya sambil berjalan ke arah mereka serta memberikan plastik kecil tersebut pada Bunda Reni yang di terimanya dalam keadaan senyum penuh arti.


Kali ini seketika pikiran Arsya serta Ayah Al benar-benar lemot dimana mereka belum menyadari kode yang telah diberikan oleh Bunda Reni, bahkan Bunda Reni sendiri yang terlihat begitu gemas rasanya ingin menggetok kepala anak dan suaminya itu pakai martil biar langsung tanggap apa yang di maksud oleh Bunda Reni.


"Sayang, ayo terima ini. Sekarang kamu pergi kamar mandi untuk mencoba semuanya jangan sampai terlewatkan, oke.." Ucap Bunda Reni sambil mengasihkan plastik itu kepada Suci yang membuat Suci heran dengan isinya.


"Eiitss.. jangan di buka sekarang, lebih baik kamu buka di dalam kamar mandi saja. Ayo cepatlah, Bunda sudah tidak sabar pokonya semuanya kamu coba tanpa terkecuali oke Sayang?" Sambung Bunda Reni.


"Ya sudah Suci ke kamar mandi dulu ya sebentar, tapi jangan dihabisin jajanannya. Suci tinggal sebentar ya, ohya.. Kay jagain jajanan Mommy jangan sampai dia mengambilnya oke.." Suci melirik Arsya dengan tatapan sinis yang mana membuat Arsya melongo tak percaya.


Sedangkan Kay dia mengangkat tangannya ke atas membentuk huruf O dimana Kay akan menjaga semua jajanan milik Mommynya dari Daddynya yang akan menyentuhnya.


Setelah kepergian Suci, Arsya pun langsung meminum segelas air dingin yang membuat tenggorokannya terasa menyegarkan. Namun ketika ingin mengambil jajanan Suci Kay langsung melarangnya, tetapi bukan Arsya namanya jika dia tidak akan merebutnya. Hingga terjadilah perdebatan kecil antara anak dan Daddy.


Sampai-sampai Bunda Reni harus turun tangan untuk melerai mereka agar tidak membuat kepalanya pusing, di tambah lagi Bunda Reni sangat deg-degan dengan hasil yang akan Suci bawa nantinya.


Hampir 15 menit lamanya, Suci kembali dengan wajah lempengnya yang benar-benar belum menyadari semuanya. Entahlah ada apa dengan hari ini kenapa semuanya seakan-akan menjadi sangat lemot, sampai seketika Suci duduk dan langsung memberikan plastik tersebut kepada Bunda Reni dan kembali menonton drama sambil menyemil.

__ADS_1


Setelah Bunda Reni melihat hasilnya dia benar-benar tersenyum begitu lebar, kemudian Bunda Reni berteriak penuh kebahagiaan sambil melompat-lompat kecil bahkan dia tidak melihat usianya yang sudah menua. Sampai seketika semuanya menatap Bunda Reni yang masih melihat tespeck garis 2 membuat mereka terkejut dan juga bingung.


"Huaaaaa... yessss aku akan miliki cucu lagi hahaha.. terima kasih Suci Arsya, selamat untuk kalian sebentar lagi Kay akan mendapatkan adik yang lucu hahah.."


"Sayang lihatlah ini, lihat.. dari semua alat ini menandakan bahwa Suci sedang hamil cucu kita haha.. aku bahagia banget, akhirnya kita akan punya cucu. Kalau bisa kita ternak cucu yang tidak akan pernah habis hahah.."


Bunda Reni memeluk Suci, Arsya, Kay dan juga yang terakhir Ayah Al. Namun semuanya masih terkejut dengan ucapan Bunda Reni hingga akhirnya Ayah Al tersadar dan langsung jingkrak-jingkrakan bersama Bunda Reni terlihat betapa bahagianya mereka berdua.


Suci dan Arsya saling menatap satu sama lain dengan tatapan berkaca-kaca, tanpa berkata lagi mereka berhambur memeluk satu sama lain dalam keadaan air mata yang terus berjatuhan.


"Hiks.. akhirnya aku hamil juga Mas, aku senang banget bisa kembali merasakan kehamilan untuk ke dua kalinya. Dimana kali ini dia hadir menjadi pelengkap cinta kita hiks.. terima kasih Ya Allah, Engkau sudah kembali memberikanku kepercayaan untuk merawatnya. Aku janji aku akan menjadi Mommy yang baik buat mereka semua hiks.." Ucap Suci.


"Hiks.. ma-makasih juga sayang, karena kamu aku baru bisa merasakan seperti apa kebahagiaan itu. Bahkan aku tidak menyangka kalau aku akan bisa memiliki keluarga kecil seperti ini. Terima kasih Tuhan karena Engkau telah menggantikan apa yang hilang dengan semua hal yang jauh lebih baik hiks.." Ucap Arsya.


Suci dan Arsya saling berpelukan yang mana membuat Bunda Reni serta Ayah Al pun langsung duduk serta meneteskan air matanya. Baru kali ini mereka melihat adegan bahagia namun sangat menyedihkan di mana Arsya yang selama ini Bunda Reni pikirkan tidak akan bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Tetapi ternyata semua itu di luar dugaannya.


Sedangkan Kay dia tersenyum kikuk menatap kedua orang tuanya, dimana awalnya Kay merasa sangat senang ketika menginginkan adik yang akan menemaninya ketika bermain. Cuman kali ini berbeda, setelah kenyataan yang Kay terima beberapa hari lalu membuat Kay seperti tidak lagi ingin memiliki adik.


Kay tidak mau jika Daddynya akan lebih menyayangi anak kandungnya dari pada dirinya, entah kenapa pikiran itu seketika terlindas di dalam pikiran Kay. Sehingga Bunda Reni dan Ayah Al ketika menatap Kay membuat mereka menjadi bingung seperti Kay tidak terlihat bahagia mendapatkan kabar baik ini.


Kay berdiri dengan tersenyum sambil menatap kedua orang tuanya dan berkata, "Mommy, Daddy selamat ya karena saat ini pasti kalian akan sangat bahagia atas kehadiran adikku di dalam perut Mommy, semoga kehadirannya tidak akan membuat Daddy tidak lagi menyayangi Kay. Sekali lagi selamat buat Mommy.. Kay ke kamar dulu ya mau mengerjakan PR buat besok. Assalammuaikum.."


Kay langsung berpamitan sambil berlari dengan kencang menuju kamarnya dengan menaiki anakan tangga yang cukup banyak. Bahkan Suci serta Arsya pun yang mendengar ucapan Kay langsung melepaskan pelukannya menatap kepergian Kay.


Kemudian mereka semua menatap satu sama lain dengan tatapan terkejut atas apa yang Kay ucapkan, seolah-olah mereka mengerti bahwa Kay saat ini sedang berada di fase kecemburuannya terhadap adiknya yang baru saja hadir.


Dimana perasaan Kay benar-benar sensitif karena sebuah kenyataan yang pahit tentang Kay jika dirinya bukan anak kandung Arsya, dan sekarang yang hadir adalah anak kandung Arsya sehingga banyak ketakutan yang akan Kay rasakan saat ini.


Ketika Suci ingin mengejar Kay, Arsya menahannya agar memberikan waktu kepada Kay untuk sendiri lebih dulu. Setelah suasananya mulai mereda barulah mereka akan menemui Kay dan menjelaskan semuanya agar Kay tidak lagi merasa cemburu pada adiknya.

__ADS_1


__ADS_2