
Suci mengoceh dengan penuh air mata, hingga ia memukuli dadanya sendiri. Arsya yang melihat itu pun langsung memeluk Suci dan menahan tangannya.
“Aku bilang cukup, ya cukup!! Jangan sakiti dirimu hanya karena pria tidak tahu diri itu. Harusnya kamu bahagia karena kamu sudah lepas darinya, dan sekarang waktunya kamu bangkit Suci. Tunjukkan pada mereka jika kamu bisa jauh lebih bahagia tanpa mereka” ucap Arsya dengan tatapan lurus menyorot penuh amarah.
Meskipun Arsya bersifat dingin dan cuek tapi ia tidak bisa melihat seorang wanita menangis, itu membuat Arsya bisa merasakan apa yang Suci rasakan. Pada akhirnya, Arsya melepaskan pelukan Suci serta meraup wajah Suci.
“Lihat mata aku Suci, lihatt...” ucap Arsya yang membuat Suci langsung menatapnya.
“Lupakan dia! Mulailah bangkit menjadi Suci yang baru, Suci yang dulunya lemah kini sudah mati bersama kisahnya. Sekarang hanya ada Suci yang kuat untuk membalaskan semua rasa sakit yang telah mereka lakukan dengan tamparan cantik dan buat mereka merasakan semua penderitaanmu. Aku berjanji akan membantumu sampai mereka merasakan apa yang kamu rasakan, aku janji Suci!”
Suci yang mendengar ucapan Arsya membuatnya tersenyum sambil menangis, bahkan ia langsung kembali memeluk Arsya begitu erat. Entah mereka sadar atau tidak, jika apa yang mereka lakukan ini melebihi batas seharusnya.
Sampai seketika, Suci yang begitu lelah tertidur di pelukan Arsya yang sangat nyaman baginya. Arsya yang menyadari jika Suci mulai tenang dan sudah kembali tidur, ia segera membaringkan tubuh Suci dengan perlahan.
Sedangkan seseorang yang melihat interaksi keduanya malah tersenyum penuh kebahagiaan. Siapa lagi itu jika buka Bunda Reni, ya Bunda Reni yang mendengar adanya teriakan dari kamar Suci langsung ia segera mungkin ingin menemui Suci.
Namun siapa sangka ternyata anak semata wayangnya sudah lebih dulu menjadi sandaran kerapuhan Suci.
Tapi dibalik kebahagiaan itu, ada suatu hal yang membuat Bunda Reni menangis yaitu karena ia mendengar semua kisah Suci yang begitu menyakitkan.
“Sabar sayang, Bunda yakin Suci bisa menjadi wanita yang kuat seperti apa yang Arsya katakan. Bunda juga berjanji untuk tetap selalu berada di sampingmu, biarkan mereka menikmati kehidupan mereka saat ini. Namun berikan mereka pemahaman jika wanita lemah yang telah di sia-siakan, bisa berubah menjadi wanita yang spesial” gumam Bunda Reni.
Kemudian Bunda Reni kembali berjalan menuju kamarnya dan ia masuk dengan wajah yang masih bergelimang air mata. Ayah Al yang melihatnya malah menjadi khawatir dengan keadaan istrinya yang tiba-tiba seperti ini.
“Bun, Bunda kenapa menangis? Apa yang terjadi pada Suci?” ucap Ayah Al yang langsung berdiri serta merangkung Bunda Reni untuk di dudukan di pinggir kasur.
Bunda Reni menatap wajah Ayah Al dengan mata yang berkaca-kaca, lalu ia langsung bersandar di bahunya.
“Hiks... Hancur hatiku Mas, hancur... Ter-ternyata Suci seperti ini karena ulah suaminya yang sudah menikah kembali bersama perempuan yang sedang mengandung hiks..."
"Tetapi Suci sangat yakin jika itu bukanlah anak dari suaminya Mas, melainkan anak dari kekasih gelap wanita itu...” cerita Bunda Reni yang membuat Ayah Al langsung menggenggam tangannya serta memeluk Bunda Reni dari samping.
“Jika benar seperti itu, harusnya kamu senang sayang karena sekarang Suci sudah terbebas dari keluarga bia*dap seperti itu. Bukannya kamu selalu bilang padaku jika ini yang kamu inginkan, agar kamu bisa mendekatkan Suci dengan Arsya hem...”
__ADS_1
“Lalu kenapa sekarang kamu menangis sayang? Sudah dong, kasihan wajah cantikmu tertutup dengan kesedihan yang tidak seharusnya berada di sini” ucap Ayah Al sambil tersenyum meraup wajah Bunda Reni sambil menghapus air matanya serta mencium keningnya begitu lembut hingga membuat Bunda Reni tersenyum.
“Mungkin ini adalah jawaban dari semua doa-doamu selama ini, sayang. Berarti itu tandanya Allah berpihak padamu untuk mempunyai menantu sepertinya, tapi apa kamu siap jika kita tidak akan pernah mempunyai penerus Arsya?” ucap Ayah Al kembali.
“Aku tidak peduli Mas, Arsya bisa mendapatkan Suci saja itu sudah anugerah untukku. Kalau masalah anak, biarkan Allah yang akan menjawab semuanya. Jika memang Allah tidak memberi mereka keturunan, maka kita bisa merawat anak yang benar-benar membutuhkan kasih sayang keluarga sebagai penerus Arsya” ucap Bunda Reni penuh ketulusan.
“Inilah Reni yang selalu bisa membuatku merasakan jatuh cinta berulang kali setiap harinya tanpa rasa bosan. Apa kamu tahu sayang, aku adalah pria yang paling beruntung bisa mendapatkan bidadari sepertimu"
"Hanya satu pintaku saat ini, siapa pun yang akan pergi lebih dulu semoga kita bisa di pertemukan kembali di Jannah Allah aamiin...” jawab Ayah Al yang berhasil membuat Bunda Reni tertawa kecil akibat kata-kata yang tidak pernah ia dengar dari sosok suami yang dingin seperti Ayah Al.
“Ada angin apa hari ini, kenapa suamiku begitu romantis hem...” ucap Bunda Reni dengan keadaan bersandar di dada serta mendongak menatap wajah Ayah Al dan tak lupa ia mengelus rahang tegas milik suaminya.
“Waktuku sudah terlalu banyak terbuang sia-sia tanpa bisa membuat istriku bahagia, jadi sekarang waktunya aku untuk memanjakannya dan membuatmu bisa merasakan sebagai seorang ratu di istana hatiku” ucap Ayah Al yang membuat hati Bunda Reni benar-benar meleleh.
“Huaaa... Sayang...” rengek Bunda Reni yang sangat bahagia, hingga membuat Ayah Al terkekeh karena ini baru pertama kalinya ia mendengar suara manja sang istri.
*
*
Dimas masih kerepotan untuk mengurus semua keperluan Elsa dan juga anaknya yang terlahir prematur. Bahkan saat ini Elsa sudah boleh pulang dari rumah sakit, hanya saja anaknya belum bisa di bawa pulang karena kondisinya belum cukup kuat untuk di keluarkan dari ruangan bayi (Inkubator).
“Akhirnya selesai juga mengeluarkan anak itu dari badanku, sepertinya aku harus mengadakan diet dan melakukan olah raga agar tubuhku kembali cantik seperti dulu nih...” ucap Elsa di dalam hatinya sambil duduk di atas bangkar, sedangkan sang suster mencopot impusan yang berada ditangan Elsa.
“Dimas kalau kita semua pulang ke rumah, terus cucuku siapa yang akan menungguinya? Kalau tidak kalian saja yang pulang, biar Mamah yang menjaga cucu Mamah di sini ya...” ucap Mamah Mita dengan wajah yang sangat lesu.
“Tidak perlu, Mah. Di sini kan ada suster dan dokter, jadi biar mereka saja yang merawatnya. Jika ada apa-apa juga pasti akan di kabarkan ya kan Sus...” ucap Elsa yang membuat sang suster tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Saa... Apa kamu tidak merasa sedih jika harus meninggalkan anakmu di sini sendirian? Bukannya ikatan batin seorang Ibu dan anak itu sangat kuat ya...” ucap Dimas yang membuat Elsa menyadari atas ucapannya barusan.
“Tapi apa yang di bilang Kak Elsa benar loh Bang. Kita juga kan bisa menjenguknya setiap hari...” sahut Vina.
“Tapi Dek, biasanya seorang Ibu yang baru melahirkan itu saat melihat kondisi anaknya seperti ini dia pasti akan sangat sedih untuk meninggalkannya, tetapi Elsa? Dia seperti sangat cuek dengan anaknya...” jawab Dimas yang lagi dan lagi membuat Elsa kebingungan harus menjawab apa lagi.
__ADS_1
Mamah Mita dan Vina yang menyadari itu semua langsung menatap Elsa untuk meminta penjelasan apa yang dia maksud dengan omongannya barusan dan itu malah semakin membuat Elsa menjadi lebih gugup.
“Eh... ma-maksudnya bu-bukan seperti itu sayang” ucap Elsa dengan nada terbata-bata sambil tersenyum memegang tangan Dimas yang berdiri di sampingnya.
“Lalu...?” tanya Dimas dengan tatapan intimidasi, Elsa memejamkan matanya perlahan dan menarik nafasnya agar bisa membuatnya sedikit tenang tanpa harus membuat yang lain curiga.
“Ja-jadi begini loh Mas, kata dokter anak kita butuh waktu yang cukup lama sehingga jika kita menunggunya di rumah sakit selama itu yang ada kita malah akan jatuh sakit. Di sini kan banyak berbagai macam jenis penyakit, jadi kalau imun tubuh kita lemah penyakit itu akan dengan mudahnya menyerang kita”
“Mungkin apa yang dibilang Vina benar, Mas. Kalau kita tidak bisa menemaninya selama 24 jam, tapi kan kita bisa menjenguknya setiap hari ya kan Sus...”
Elsa mencoba mencari pembelaan dari sang suster yang tidak tahu apa-apa.
Namun menurut sang suster apa yang dikatakan Elsa ada benarnya juga, jadi ia pun sedikit memberikan pembahasannya menggunakan bahasanya sendiri agar membuat semuanya mengerti. Pada akhirnya Elsa pun tersenyum penuh kemenangan, karena lagi dan lagi ia selamat dari pertanyaan yang seolah-olah menyudutkan dirinya untuk menjadi seorang Ibu yang baik.
Padahal pada kenyataannya Elsa belum siap dengan semua itu. Bahkan untuk memikirkan punya anak saja Elsa tidak mau, baginya memiliki anak adalah hal yang sangat menjengkelkan karena anak membuat Elsa kehilangan tubuh cantiknya dan juga ia harus mengulangi semuanya kembali dengan cara berdiet, olah raga, yoga, dan sebagainya untuk memulihkan tubuhnya yang saat ini terlihat sangat kusam dan jelek.
Bagi Elsa, penampilan tubuhnya adalah hal yang nomor satu supaya ia tidak bisa di pandang remeh oleh semua orang yang dulu pernah menghinanya. Jadi tujuan Elsa menikah dengan Dimas selain ia menyukainya, ia juga ingin membalas dendam kepada orang-orang yang telah menghinanya karena ia miskin dan juga sebatang kara.
Maka dari itu, saat ia melihat kehidupan Suci berbanding terbaik dengannya ia segera merencanakan sesuatu. Menurut Elsa, Suci bukanlah saingan terberatnya karena baginya Suci adalah wanita yang lembut, lemah dan tidak berdaya dan inilah buktinya dimana saat ini Elsa sudah menjadi sang juara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello guys... Selamat beraktivitas dan selalu bahagia semua... 😁😁😁
Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺
Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗
Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 🥰🥰🥰
Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1