Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Apa Tujuan Dia Membantuku


__ADS_3

“Andai saja aku bisa memiliki seorang anak, mungkin saat ini kehidupan cintaku tidak sesakit ini. Pasti aku dan Mas Dimas akan bahagia, tidak ada yang namanya pengganggu atau pun hama seperti Elsa”


“Tapi ya sudahlah, mungkin semua ini sudah jalan dari Allah untuk membuat aku lebih kuat dalam menghadapi semua cobaannya. Aku percaya kok, jika suatu saat nanti aku akan bisa jauh lebih bahagia dari mereka. Hoya... Aku sampai lupa, aku kan ingin mencari tahu siapa orang misterius itu, tapi bagaimana caranya ya?"


“Hem... Apa aku coba hubungi nomor ini lagi ya? Siapa tahu kan nomornya sudah aktif kembali. Ya sudah deh aku coba saja dari pada penasaran kan, lagian juga aku mau bilang terima kasih padanya. Jika bukan karena dia, pasti aku tidak akan mengetahui ini semua. Tapi ya sudahlah saat ini cuma bisa bersabar dan menunggu kapan waktu bahagiaku itu tiba”


Celoteh Suci sambil menatap ponselnya dengan notif nomor yang tidak di kenal. Lalu Suci menghubungi nomor tersebut yang beruntungnya, nomor itu aktif karena Arsya lupa untuk menonaktifkan kembali setelah tadi ingin mencoba mengirimkan pesan kembali kepada Suci dengan tujuan ingin memberitahu apakah Suci sudah mengetahui kebusukan suaminya atau belum.


Saat ini Arsya sedang sibuk meminum minuman beralkohol untuk sedikit meringankan pikirannya, sampai-sampai ia tidak mengetahui jika yang telah berusaha menghubunginya adalah Suci.


Glekkk...


“Hemstt... argghh... Kenapa pikiranku terus ke bayang dengan Suci sih, apa coba istimewanya wanita itu. Kenapa aku bisa sampai sepeduli ini dengannya, ada apa ini Arsya!! Semudah itukah kau melupakan cinta pertamamu ugh...”


“Bertahun-tahun kamu berusaha bangkit untuk melupakannya, namun kamu selalu terjebak dengan bayangan indahnya hingga membuat kamu memiliki dendam yang sangat dalam kepada orang yang sudah merenggut nyawa calon istrimu itu”


“Tetapi setelah kemunculan Suci, entah kenapa bayang-bayang akan dirinya seketika sudah tidak lagi muncul dan malah tergantikan olehnya arghhh... Ada apa ini, sadar Arsya!! Sadar!! Dia adalah istri orang, tidak mungkin kan kalau kau menyukainya jadi jangan gila!!"


Arsya mengoceh tanpa henti sambil meminum minuman yang bisa membuatnya tenang. Entah sudah berapa gelas yang Arsya minum, namun bayangan akan Suci malah semakin jelas. Di sela-sela itu, tiba-tiba ponselnya bergetar untuk kesekian kalinya.


Drrtttt...


Drrrttttt...


Arsya yang sudah kesal langsung mengangkat telepon tersebut tanpa melihat notif terlebih dahulu.


“Hem... Ada apa? Kenapa kau menghubungiku, apa kau tidak tahu jika aku sedang sibuk! Jadi jangan coba-coba untuk menggangguku, paham!!” ucap Arsya dengan nada kesal sambil menutup sambungan telepon.

__ADS_1


Arsya kembali meminum minuman tersebut dengan wajah yang kesal, hingga membuat mood Arsya menjadi sangat tidak enak.


“Ckkk!! Dahlah... Lebih baik aku pulang dan tidur saja di rumah, mungkin dengan begitu aku bisa kembali mengingat kenangan dia dan melupakan bayangan wanita konslet itu” celetuk Arsya yang langsung pergi begitu saja.


Arsya memang meminum minuman yang cukup banyak, tapi tidak sampai membuatnya mabuk karena Arsya termasuk orang yang kuat dalam hal minum semenjak kehilangan mantan calon istrinya.


Sementara itu dengan Suci, ia sangat terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Suara itu tidak begitu asing di telinganya hingga Suci terdiam sejenak mengingat suara yang khas itu sampai seketika terlintas 1 nama.


“M-Mas A-Arsya? Be-benarkah orang itu adalah dia? Tapi aku sangat hafal dengan suara khasnya itu, ya meskipun di sana dalam keadaan ramai cuma aku sangat jelas mendengar suaranya”


“Jika benar itu adalah Mas Arsya, lantas apa tujuan dia membantuku? Apakah semua ini ada hubungannya dengan Bunda Ren? Ya mungkin saja sih karena kan Bunda Reni adalah Ibunya jadi siapa tahu Bunda yang meminta tolong padanya"


"Apa lagi Mas Arsya sepertinya bukan orang biasa, cuma.... arrghh... Sudahlah, dari pada aku penasaran lebih baik aku ke rumah Bunda saja untuk menanyakan langsung”


Suci segera pergi dari taman rumah sakit menuju rumah Bunda Reni karena ia sangat penasaran apakah benar itu Arsya. Namun jika itu benar, maka apa tujuan dia membantunya dan dari mana dia bisa mengetahui semua itu. Sementara itu di dalam ruang rawat, Dimas sedang kebingungan mencari Suci di saat Elsa sedang tertidur pulas.


“Dimana Suci kenapa dia menghilang? Bukannya tadi dia ada duduk di sini ya, jadi kenapa dia pergi tidak kasih tahu aku dulu?” gumam Dimas sambil duduk di sofa panjang, lalu ia mencoba untuk menghubungi Suci.


...“Tidak usah menghubungiku, lebih baik kamu jaga saja calon ibu dari anakmu beserta anak kalian. Tidak perlu mengkhawatirkan kondisiku, aku baik-baik saja dan aku bisa menjaga diriku sendiri”...


...“Yang perlu harus kamu ingat cuma 1 Mas, semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Begitu juga dengan besi, semakin tinggi harga besi itu maka akan semakin banyak ia di tempa. Lalu sama halnya dengan pedang yang semakin di asah maka akan semakin tajam”...


Suci mengirimkan sebuah pesan yang membuat Dimas merasa tersindir, namun ia juga tidak bisa membalikkan keadaan seperti semua. Bahkan untuk memilih pun ia tidak bisa menentukan pilihannya. Dimas hanya bisa terdiam mencerna isi pesan Suci serta kembali mengingat semua ucapan manisnya yang nyatanya semua berbanding terbalik dengan kelakuannya.


“Maafkan aku Suci, jika aku belum bisa menjadi suami yang terbaik untukmu. Tapi aku tidak bisa jika harus berhadapan dengan pilihan, ya memang aku seorang pria yang peng*ecut dan juga bod*doh. Tetapi aku sadar jika Suci dan Elsa memiliki arti tersendiri di dalam hatiku"


"Aku tidak bisa membandingkan keduanya, karena menurutku mereka berdua itu berarti sama. Suci dengan semua sifat kebaikannya membuatku semakin jatuh cinta padanya, dan Elsa dengan kesempurnaan rahimnya membuat aku juga semakin bahagia”

__ADS_1


“Jadi menurutku mereka bisa di satukan asalkan aku bersikap adil kepadanya. Ya meskipun Elsa lebih unggul dari Suci karena ia bisa memberikan keturunan, tapi Suci? Dialah wanita yang selalu menemaniku di saat suka mau pun duka. Hanya dengan mendengar suaranya saja sudah bisa membuat aku menjadi tenang hahh...”


Dimas bergumam di dalam hatinya sambil menatap foto kebersamaannya dengan Suci di layar ponselnya. Tak terasa waktu sudah semakin sore dan Suci baru saja sampai di depan gerbang rumah Bunda Reni bersamaan dengan datangnya mobil Arsya.


“Suci? Ngapain dia ke sini? Apa jangan-jangan rencanaku gagal? Astaga jika itu benar, maka aku harus mencari cari lain supaya bisa segera membuka kedok mereka ughh...” gumam Arsya di dalam mobil dengan penuh rasa kesal.


Sedangkan Suci yang melihat mobil Arsya membuat ia kembali teringat pada kejadian konyolnya yang ingin mengakhiri hidupnya dengan sia-sia. Lalu Suci tersenyum menyambut mobil Arsya dan tak lama Arsya membuka kaca mobilnya.


“Masuk ke dalam mobil” ujar Arsya yang kembali menutup kaca mobilnya dengan wajar datar.


“Ya ampun, ini orang enggak ada manis-manisnya banget dalam memperlakukan seorang wanita. Udah cuek, dingin, galak pula ihh...” celoteh Suci di dalam hatinya sambil menaiki mobil Arsya.


Tak perlu basa-basi Arsya langsung membawa mobilnya masuk dan memarkirkan mobilnya. Kemudian ia keluar dari mobil dan berjalan lebih dulu dan Suci mengikuti di belakangnya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Selamat beraktivitas dan jaga diri kalian 🤗🤗🤗


Terima kasih atas dukungan kalian semua pembaca setiaku 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Teruslah dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺


Dan teruslah berikan komen-komen greget kalian yaaa... 😁😁😁


Jangan lupa mampir di rekomendasi novel dari Author yaaa 😉😉😉


Silahkan jelajahi dan tinggalkan jejak unik kalian yaaa.... 😆😆😆

__ADS_1


...*...



__ADS_2