Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Ibu Sambung Dari Suci


__ADS_3

Suci langsung memesan makanan serta air putih untuk dirinya dan juga yang lainnya. Setelah selesai, kedua sahabat Mamah Mita ini masih dilanda dengan pertanyaan yang seakan-akan menunggu Mamah Mita menjawabnya.


“Kenapa Jeng, kok melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini?” tanya Mamah Mita dengan berbagai aktingnya.


“Kau belum menjawab pertanyaan kami, Jeng” ujar Jeng Karina.


“Astaga, aku lupa hehe... Aduh, maaf ya karena aku sangat mengkhawatirkan Suci jadi lupa deh sama pertanyaan kalian” saut Mamah Mita dengan gelagat tawa yang sangat membuat Suci sedikit curiga.


“Sejak kapan Mamah seperhatian ini sama Suci? Ini kali pertama Mamah bersikap kaya gini. Apa Suci harus bahagia ataukah Suci harus sedih karena pasti sebentar lagi mereka akan tahu jika Suci bukanlah wanita yang sempurna. Mamah bilang jika Suci tidak boleh membuatnya malu di depan teman-temannya kalau sampai bertemu, tapi kenapa malah Mamah yang ingin mempermalukan Suci ?”


“Tapi, ya sudahlah biarkan saja. Lagian memang ini kenyataannya. Suci tidak boleh malu dengan cobaan yang Allah kasih untuk Suci karena Suci sangat yakin Allah tidak akan memberikan Hambanya cobaan jika Dia tidak menyayangi Hambanya kan...”


Suci terus bertanya di dalam hatinya dengan wajah yang cukup tenang, karena Suci tidak mau terlihat lemah apa lagi menjadi orang yang harus di kasihani.


“Jeng, kenapa diam sih? Aku khawatir loh dengan Suci, apa dia sakit parah? Kalau benar, aku mau membantunya dan akan menelepon dokter kepercayaan keluarga kami biar bisa mengurus semua kebutuhan menantumu ini. Aku kasihan melihatnya” celoteh Jeng Reni yang malah seolah-olah menjadi mertua Suci.


“Dishh... Sehebat apa sih wanita itu sampai-sampai baru saja kenal tapi Jeng Reni bisa berbuat seperti ini. Bahkan Jeng Reni terlihat sangat peduli dengan si Suci ini. Tapi jika aku lihat-lihat Jeng Mita tidak menyukai Suci, ya memang sih karena kan selera Jeng Mita denganku berbeda tipis tidak seperti Jeng Reni. Mungkin karena anaknya sudah semakin tua dan belum menikah jadi dia sangat gencar mencari jodoh untuknya sampai-sampai lupa jika Suci adalah menantu dari Jeng Mita kali ya...” celetuk Jeng Karina di dalam hatinya


“Tidak, Jeng. Suci tidak sakit apa-apa kok. Dia hanya di vonis sama dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan untuk Dimas, yang mana dia harus terus mengonsumsi obat agar bisa membantu rahimnya untuk sedikit bereaksi. Suci memiliki rahim yang sangat lemah, jadi kecil kemungkinan untuk hamil hanyalah 5 persen saja” ucap Mamah Mita dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.


Sedangkan Suci hanya bisa tersenyum begitu manis kepada mereka, seolah-olah Suci memendam rasa sakit yang membuat dirinya begitu hancur di depan sahabat Mamah Mita. Aib yang seharusnya keluarga jaga, kini malah dengan mudahnya di bongkar oleh mertuanya sendiri.


“Astaga, jadi menantumu ini tidak bisa memberikanmu cucu Jeng? Ya ampun Jeng... Kasihan sekali kamu, lalu apa rencanamu kedepannya? Apa Dimas akan menikah lagi atau bagaimana?” tanya Jeng Karina dengan ceplas-ceplos yang membuat Suci semakin sakit.


“Jeng Karina, bisa kan Jeng gunakan hati kecil Jeng sedikit saja. Bagaimana jika semua ini terjadi pada menantumu? Apa kamu akan membiarkan anakmu menikah seenaknya tanpa memikirkan perasaan menantumu itu?” pekik Jeng Reni dengan wajah kesalnya.


Suci yang berusaha tersenyum pun seketika meneteskan air mata yang berusaha ia tahan, namun seketika runtuh saat mendengar ucapan dari Jeng Karina. Namun dengan kecepatan kilat, Suci menghapusnya agar tidak terlihat lemah di depan semuanya.


“Sayang, maafkan Mamah ya. Mamah tidak bisa menyembunyikan ini semua dari sahabat-sahabat Mamah karena mereka yang selalu ada buat Mamah. Jadi sekali lagi maafkan Mamah ya...” ucap Mamah Mita sambil meneteskan air mata yang mana semua itu adalah kebohongan.


“Tidak apa-apa, Mah. Suci sudah ikhlas menerima semua cobaan ini, lagian memang ini kenyataan jika Suci belum bisa membuat kalian bahagia. Seharusnya suci yang meminta maaf sama Mamah dan juga Mas Dimas” ucap Suci sambil tersenyum.


Jeng Reni yang melihat betapa tegarnya Suci membuat hatinya begitu tersentuh hingga meneteskan air mata, Jeng Reni bisa merasakan jika sosok Suci yang begitu baik tidak membuat mertuanya bersyukur sudah memiliki Suci.


“Jika saja aku yang lebih dulu bertemu dengan Suci, maka aku kan membuat dia bahagia bersama anakku. Meskipun dia tidak bisa memiliki keturunan untuk kami, tetapi bagi kami itu tidak masalah. Banyak anak-anak yang butuh kasih sayang dari orang tua asuhnya kok, buat apa Allah memberikan cobaan kepada Hambanya jika Hambanya tidak bisa melewatinya kan?”


“Lagian Allah memberikan cobaan itu agar semua Hambanya sadar, kalau masih banyak anak-anak yang tidak memiliki orang tua untuk di asuh sebagai anak yang meskipun tidak terlahir di dalam rahimnya sendiri. Lalu kenapa Jeng Mita tega sekali membongkar aib keluarganya seperti ini”

__ADS_1


“Kasihan Suci, sepertinya dia tidak diharapkan oleh mertuanya. Cuma perkara anak saja bisa membuat Jeng Mita sejahat ini, padahal dia juga seorang wanita kan. Lalu kenapa dia tidak memikirkan bagaimana cobaan yang Suci alami terjadi kepadanya. Apakah dia akan sekuat ini melebihi Suci? Aku rasa tidak.”


Jeng Reni terus saja berbicara di dalam hatinya sambil menatap Suci yang begitu menyentuh hatinya dan tak lama pun pesanan datang yang membuat mereka segera menghapus air matanya bersama-sama sambil tersenyum ke arah pelayan.


Setelah semua sudah selesai tersaji di meja makan, mereka pun langsung menyantapnya. Tetapi Suci dia hanya bisa meminum air putih saja karena nafsu makan yang seakan memanggilnya kini berubah menjadi rasa yang begitu kenyang.


“Ayo dimakan sayang, jangan menyiksa dirimu seperti itu. Nanti Mamah bisa-bisa diomeli Dimas jika tidak memperhatikanmu. Apa lagi, jika Mamah sampai lupa tentang obatmu” sindir Mamah Mita.


“Loh... Memangnya Dimas suka memarahimu, Jeng? Hanya karena masalah sepele itu? Atau Suci yang mengadu kepada Dimas dengan melebih-lebihkan ucapannya?” tanya Jeng Karina dengan kehebohannya.


“Aku tidak tahu Jeng, pokoknya setiap aku lupa memperhatikan Suci pasti Dimas selalu memarahiku” ucap Mamah Mita di sela makannya.


Suci di sana hanya bisa menahan semuanya dengan berkali-kali lipat. Semudah itu Mamah Mita memfitnah Suci di depan kedua sahabatnya ini. Sedangkan Jeng Reni yang sudah sangat kesal, langsung mengajak Suci ke kamar mandi.


“Suci, bisakah kamu mengantarkan saya ke kamar mandi. Soalnya saya takut sendirian, jika saya mengajak Karina pasti dia sedang sibuk dengan makanannya” sindir Jeng Reni.


“Hehe... ya kau benar Jeng, jika aku mengantarkanmu ke kamar mandi maka selera makanku jadi hilang” ucap Jeng Karina dengan cengengesan.


“Ya sudah, Tante. Suci antarkan, Mah... Tante Karina, Suci ke kamar mandi sebentar ya” ucap Suci sambil berdiri yang hanya di acuhkan oleh Jeng Karina dan cuma di angguki oleh mertuanya.


“Hiks... Sabar ya sayang, ini adalah cobaan untukmu. Jangan pernah berpikir jika kamu bukanlah wanita yang sempurna. Allah memang belum bisa memberikan kepercayaan untuk kalian, tapi Allah akan menunjukkan mukjizat-Nya jika Hambanya benar-benar ingin memintanya dengan ketulusan” ucap Jeng Reni yang memeluk Suci dengan sangat erat.


Suci yang begitu tersentuh, kini tidak lagi bisa membendung kesedihannya. Tumpahkan tangisan yang begitu menyayat hati Suci dengan sangat deras. Suci bisa merasakan bahwa Jeng Reni benar-benar sangat peduli padanya, sedangkan mertuanya sendiri malah bersikap seolah-olah dirinya yang tersakiti.


Di saat Jeng Reni sedang berusaha untuk mencoba menguatkan Suci. Di dalam restoran mereka malah asyik tertawa bersama-sama, siapa lagi kalau bukan Jeng Karina dan Mamah Mita.


“Bagaimana aktingku Jeng, bagus kan haha...” tawa Mamah Mita.


“Gila, itu bagus banget Jeng. Aku sampai tidak bisa mengenali aktingmu, aku kira Jeng beneran sedih seolah-olah Jeng tidak bermaksud untuk menjelekkan menantumu itu” saut Jeng Karina.


“Habis bagaimana lagi, Jeng. Aku sudah sangat capek dengan semua ini jika aku tidak seperti ini, maka mereka tidak akan berpisah. Lalu kapan aku bisa memiliki cucu Jeng. Kau tahu bukan, jika kita sudah memiliki cucu rasanya itu benar-benar sangat bahagia. Ada teman main, teman jalan-jalan bahkan bisa melihat tingkah-tingkah lucu mereka” jawab Mamah Mita.


“Ya kau benar, Jeng. Aku pun bisa merasakan itu, apa lagi aku sudah memiliki cucu yang masih lucu-lucunya. Dan apa kau tahu Jeng, pertama kali aku mendengar cucuku memanggil Oma itu rasanya benar-benar sangat bahagia sekali. Coba saja Jeng bisa merasakan apa yang saya rasakan, pasti Jeng juga akan bahagia sama dengan saya” ucap Jeng Karina.


“Maka dari itu Jeng, aku sedang berusaha membuat mereka agar segera berpisah dan aku bisa memiliki menantu yang akan membuatku bahagia dengan adanya seorang cucu” tegas Mamah Mita.


“Baiklah, aku hanya bisa mendoakan agar menantumu itu segera lepas dari anakmu. Semoga Jeng bisa kembali menikahi Dimas dengan wanita yang akan memberikan keturunan” ucap Jeng Karina.

__ADS_1


“Amin... Terima kasih, Jeng. Eh... eh... Itu mereka sudah datang” ucap Mamah Mita saat melihat Suci dan Jeng Reni dari kejauhan yang membuat mereka kembali pada makanannya.


Suci dan Jeng Reni yang sudah membersihkan wajahnya agar tidak terlihat seperti habis menangis, kini langsung kembali ke tempat. Lalu mereka duduk di tempatnya masing-masing


Suasana menjadi sangat hening, hingga makanan pun habis. Lalu mereka saling berpamitan satu sama lain. Tak lupa Jeng Reni memeluk Suci sambil membisikkan sesuatu di telinganya.


“Sayang, kamu harus bisa bangkit seperti yang sudah tante ucapkan tadi ya. Tante pulang, dulu. Kalau ada apa-apa hubungi nomor Tante. Nanti tante akan membalasnya, kapan pun Tante siap mendengarkan curhatan kamu. Jaga diri baik-baik ya, Tante sayang sama Suci” ucap Jeng Reni yang membuat hati Suci bergetar hebat.


Suci yang baru kenal dengan Jeng Reni, membuat dirinya seperti kenal sudah sangat lama. Bahkan Jeng Reni siap untuk menjadi Ibu sambung dari Suci. Di saat itu juga mereka pun kembali ke rumah dengan keadaan Suci dan Mamah Mita menenteng belanjaan yang cukup banyak. Mereka memasuki mobil dan menuju ke rumah kediaman Dimas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para readers semuanya 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung Author terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Share 📲


Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜


Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️


Terima kasih semuanya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2