Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Kembali ke Mas Dimas


__ADS_3

1 Minggu kemudian...


Hubungan diantara Dimas dan Elsa kini sudah semakin dekat, bahkan mereka selalu menghabiskan waktu bersama di apartemen yang Dimas berikan pada Elsa secara diam-diam tanpa ada yang mengetahuinya. Lalu, bagaimana nasib Suci selama satu minggu ini pergi dari rumah kediaman Dimas?


Selama satu minggu ini Suci merasa sangat senang bisa tinggal bersama Bunda Reni yang selalu memperlakukan Suci sebagai anaknya sendiri. Suci dan Arsya memang satu atap, tapi mereka sangat menjaga jarak. Ya meskipun begitu hanya sekali dua kali saja mereka sempat saling menyapa karena Arsya benar-benar sangat sibuk dengan pekerjaan serta perusahaannya membuat mereka jarang berinteraksi.


Sedangkan hubungan Vina dan juga Brayen malah semakin membaik akibat malam itu Brayen dengan sengaja menjebolkan gawang Vina. Lalu bagaimana dengan kehidupan Fajar dan Sindi? Diam-diam Fajar terus berusaha mencari celah agar dia bisa terlepas dari jeratan singa betinanya yang begitu galak dan tidak berhati.


Hari demi hari selalu Suci lewatkan dengan senyuman bersama Bunda Reni, tapi entah kenapa Suci selalu tidak tenang karena ia merasa sudah terlalu lama meninggalkan Dimas seorang diri. Akibat melamun sambil memotong sayuran di dapur, Suci hampir saja memotong jarinya sendiri tanpa sadar.


“Suciii...” teriak Bunda Reni saat melihat pisau yang besar hampir saja memotong jari kecil Suci.


Suci tersadar dan menoleh ke arah Bunda Reni dengan tatapan bingung, “Bunda, ada apa? Kenapa Bunda berteriak menyebut nama Suci?”


Bunda Reni langsung mengambil pisau yang ada di tangan Suci, kemudian menarik Suci untuk duduk di kursi dengan penuh kekhawatiran,


“Ya ampun, sayang. Kamu tahu tidak jika tadi kamu itu bukan sedang memotong wortel, melainkan kamu malah mau memotong jarimu sendiri”


“Benarkah itu, Bun? Perasaan Suci dari tadi potong wortel kok, bukan jari Suci?” jawab Suci serba kebingungan.


Lalu Bunda Reni duduk di sebelah Suci sambil menggenggam tangan Suci dan berkata, “Kamu kenapa sayang? Apa kamu ada masalah? Atau kamu sedang ke pikiran Dimas lagi?”


Suci hanya bisa menundukkan kepalanya karena ia malu dengan Bunda Reni. Setiap hari Bunda Reni selalu memperingati Suci untuk berpisah dengan Dimas, namun Suci tetap menolaknya. Suci yakin jika Dimas hanya khilaf dan bukan seperti laki-laki lainnya yang berani menduakan istri mereka begitu saja.


“Sayang kan sudah Bunda bilang, lebih baik kamu tinggal sama Bunda saja di sini ya... Kamu akan jauh dan jauh lebih aman serta kamu juga bisa tertawa lepas di sini bersama Bunda. Coba jika kamu tinggal bersama mereka di sana, pasti kamu hanya bisa patah hati dan menangis sendirian"


“Buat apa kamu mempertahankan hubungan yang mana hanya ada 1 pihak yang berjuang, namun pihak lainnya malah berusaha menghancurkannya. Apa itu pantas di katakan sebuah hubungan? Tidak Suci, ayolah kamu buka mata dan hati kamu. Lihatlah jika Dimas yang dulu dengan Dimas yang sekarang itu sangatlah berbeda"


"Mungkin Dimas yang dulu bisa menahan hasratnya hanya denganmu karena itu awal-awal kalian menikah, namun setelah bertahun-tahun kamu menikah dan Dimas tahu jika kamu tidak bisa memberikan anak, pasti dia akan tergoda dengan wanita lain"

__ADS_1


"Ya walaupun saat ini kamu hanya bisa melihat bekas lipstik merah di kemeja Dimas, tapi jika kamu bertahan dengan semua ini maka kamu harus siap kalau nantinya di setiap hari saat Dimas pulang kerja kamu akan mencium aroma-aroma parfum yang berbeda dari tubuh Dimas”


“Apa lagi Dimas itu pria yang tampan dan kaya raya, jadi wanita mana sih yang tidak akan mencoba mendekatinya jika tahu istrinya Dimas tidak bisa memberikannya seorang anak. Pasti para wanita akan berlomba-lomba untuk menggantikan posisimu di hatinya Dimas, sayang...”


Bunda Reni tidak henti-hentinya berusaha membuat mata, hati serta pikiran Suci agar bisa terbuka luas. Jangan hanya karena cintanya, membuat Suci seakan buta dengan semua kesalahan Dimas yang sudah terlewat batas dan menganggap itu semua hanyalah kekhilafan Dimas semata.


“Suci tahu Bun, tapi Suci minta maaf karena Suci tetap harus kembali ke Mas Dimas yang mana dia adalah suami Suci. Suci tahu Bunda pasti kecewa dengan jawaban Suci ini, tapi Suci tetap harus kembali. Jika benar Mas Dimas memiliki wanita lain, Suci akan tetap menerimanya. Mungkin dengan begitu kami bisa menjadi keluarga yang harmonis dan Mamah Mita tidak akan membenci Suci lagi”


Suci berusaha mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Cinta tulus yang kini ada di dalam hati Suci, membuat ia tidak bisa meninggalkan Dimas. Sedangkan Bunda Reni yang sudah tidak tahu harus menjawab apa lagi, hanya diam membisu.


Bunda Reni memang sedikit kecewa dengan keputusan Suci, tapi ia juga tidak berhak ikut campur dalam urusan keluarga Suci. Lalu saat keduanya terdiam, tiba-tiba ada seseorang yang datang mendekat ke arah mereka karena diam-diam ia menguping pembicaraan Suci dan juga Bunda Reni.


“Apa yang dikatakan Suci benar Bun, biarkan dia kembali pada suaminya. Lepaskan dia dan jangan pernah menahannya, tapi ingatlah satu hal ini. Jika kamu merasakan sakit hati yang lebih parah dari kemarin, maka jangan pernah berusaha untuk mengakhiri hidupmu”


“Kamu harus tetap maju ke depan dengan segala kekuatan yang kamu punya untuk membuat mereka sadar jika mereka telah menyia-nyiakan sebuah berlian demi mendapatkan batu kerikil. Buatlah mereka menyesal seumur hidup mereka atas apa yang mereka perbuat padamu, maka itu adalah cara terbaik untuk membalaskan dendam yang sangat berkesan”


“Jangan pernah sia-siakan air matamu itu demi menangisi tempat sampah yang sangat menjijikkan itu. Tapi cobalah kamu membuat air matamu itu terjatuh di tempat yang seharusnya” ucap seorang pria yang menguping pembicaraan mereka.


Bunda Reni pun yang dari tadi melihat dan mendengarnya itu hanya bisa tersenyum saat melihat putranya bisa berkata sebijak itu, membuat ia sangat-sangat bangga padanya. Namun Arsya yang di senyumi oleh kedua wanita cantik di depannya malah membuat ia sedikit salah tingkah. Lalu segera mungkin Arsya pergi dari sana agar mereka tidak tahu jika ia berusaha menahan kegugupannya.


“Astaga, tadi aku ngomong apa sih. Kenapa kata-katanya seperti sedang membaca puisi sih argh... Tapi sudahlah aku sendiri saja tidak paham dengan apa yang aku bicarakan. Semoga saja dengan perkataanku itu, bisa membuat wanita konslet berhenti mengambil jalan pintas, amiinn...” gumam Arsya di dalam hatinya sambil berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan Bunda Reni dan juga Suci langsung saling memandang satu sama lain dan tertawa kecil bersama-sama karena perkataan dan tindakan kaburnya Arsya yang seakan-akan membuat mereka merasa bahwa sikapnya Arsya itu sangatlah lucu.


“Pria sedingin dan secuek itu bisa mempunyai pikiran seluas tadi? Ya Allah... Benar-benar mengejutkan, tapi apa yang di katakan dia memang benar. Aku tidak boleh selalu menangis, tapi aku harus kuat. Jika mereka menyakitiku kembali, maka aku harus bisa melawannya serta membuktikan bahwa aku bukanlah wanita yang lemah lagi hemp...” gumam Suci di dalam hatinya.


Suci dan Bunda Reni lalu kembali melanjutkan untuk memasak makan malam untuk semuanya yang mana saat ini ada seorang laki-laki lagi yang juga memiliki sifat yang hampir sama seperti Arsya, namun laki-laki itu bahkan jauh lebih romantis dan manis jika dibandingkan dengan Dimas. Siapakah dia? Nahkan... kepo 🤣


...~Ꮬ~ SKIP TIME ~Ꮬ~...

__ADS_1


Pagi hari di kediaman Bunda Reni


Saat ini Suci tengah bersiap diri untuk kembali ke rumahnya yang seharusnya ia berada, tapi Bunda Reni sedikit gelisah jika Suci harus kembali ke sana lagi. Apakah Suci akan baik-baik saja? Ataukah Suci akan semakin menderita? Entahlah... Tapi mau tidak mau Bunda Reni mencoba untuk mengikhlaskan kepulangan Suci ke rumah suaminya itu.


Bahkan Bunda Reni berpesan jika terjadi hal buruk nantinya, maka ia menyuruh Suci untuk kembali ke rumah ini lagi. Suci hanya bisa tersenyum, lalu sebelum pulang tidak lupa Suci melakukan ritualnya dulu yaitu memeluk Bunda Reni begitu erat. Namun tanpa mereka sadari, Arsya telah mengirimkan salah satu orang kepercayaannya untuk masuk ke rumah Dimas sebagai tukang kebun.


Mungkin dengan begini Arsya akan lebih mudah memantau pergerakan Suci karena Arsya takut jika Suci akan melakukan hal bo*doh seperti waktu itu. Akhirnya Suci pergi di antarkan oleh sopir dari Bunda Reni, yang mana sopir itu juga pernah mengantarkan Suci. Setelah kepergian Suci, Arsya pun berpamit kepada Bunda Reni dengan mencium tangannya.


“Bun Arsya pamit berangkat kerja. Bunda baik-baik di rumah ya karena kemungkinan Arsya akan menginap di markas, jadi Bunda jangan mencemaskan Arsya” ucap Arsya yang hanya membuat Bunda Reni tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Lalu Arsya berjalan pergi ke luar rumah dan langsung menaiki mobil kesayangannya itu. Arsya menyalakan mesin mobionya itu dan langsung pergi menuju perusahaan denngan kesepatan normal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁


Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗


Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊


Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄


Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰


Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️

__ADS_1


Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2