Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Aku Kesurupan Setan Bete


__ADS_3

“Aku bete sama kamu, aku sebel sama kamu, aku keki sama kamu, aku bete, bete, bete akhh... BETE...” Lisa menyanyi dengan sangat heboh sambil berjoget ria membuat Dion yang melihatnya sedikit ketakutan.


“Sa-Saaa... Ka-kamu e-enggak apa-apa kan? Ka-kamu ba-baik-baik aja, kan?” tanya Dion dengan wajah cemasnya sambil mengemudikan mobilnya secara perlahan.


“Enggak, biasa aja” jawab Lisa dengan cuek, kemudian Dion mengelus-elus dadanya sendiri.


“Alhamdulillah, aku kira dia kesurupan hahh...” gumam Dion yang masih bisa terdengar suaranya oleh telinga Lisa.


“Ya... Aku kesurupan setan bete, puuuaaasss!!!” sahut Lisa dengan nada yang begitu kesal.


“Loh kok jadi marah-marah, aku kan cuma nanya doang. Lagian kamu malam-malam malah nyanyi enggak jelas begitu, bagaimana aku tidak curiga coba. Siapa tahu kan ada yang nempel di sampingmu” celetuk Dion yang tanpa sengaja membuat Lisa malah menjadi takut.


“Aaaaa...” teriak Lisa sambil memeluk tubuh Dion yang membuatnya langsung refleks memberhentikan mobilnya.


Dion pun terbengong saat merasakan jantungnya kembali berdekat sangat cepat. Lisa yang bisa mendengar detak jantung Dion, seketika mendongak ke atas menatap wajah Dion yang masih setia dengan keterkejutannya.


“Eh... Ma-maaf Pak Dion, ak-aku tidak sengaja. Lagian Pak Dion sih malah nakut-nakutin, jadikan kan aku refleks” ucap Lisa dengan wajah malunya sambil segera melepaskan pelukannya dari tubuh Dion.


“I-iya e-enggak apa-apa, ha-harusnya aku yang minta maaf sudah membuatmu takut” jawab Dion dengan kegugupannya, tak di sangka kini wajahnya sudah mulai memerah.


Langsung saja Dion kembali melajukan mobilnya menuju rumah kontrakan Lisa. Saking mereka menahan rasa malunya atas kejadian tadi, membuat keduanya terdiam dengan bayangannya masing-masing. Tanpa keduanya sadari, mereka membuang mukanya sambil mengukirkan senyum yang sangat manis.


Selang beberapa menit mereka sudah sampai di depan kontrakan Lisa, ia segera turun dari mobil Dion dan berjalan menuju samping pintu Dion. Dion menurunkan kaca mobilnya secara perlahan, sehingga keduanya saling menatap satu sama lain yang berlangsung hanya persekian detik saja.


Lisa segera berpamitan tanpa lupa untuk mengucapkan terima kasih pada Dion. Lalu ia langsung berbalik badan berjalan dengan wajah penuh keceriaan. Padahal tadi wajahnya terlihat sangat bete dicuekin oleh Dion, tapi sekarang hanya dengan kejadian itu bisa membuat keduanya seperti berada di atas awan yang indah.


Lisa menoleh ke arah Dion, sambil melambaikan tangannya dengan perasaan ragu. Begitu juga dengan Dion, ia membalasnya dengan penuh keraguan. Sampai seketika Lisa masuk ke dalam dengan pintu yang di tutup sedikit keras. Lisa bersandar di belakang pintu sambil mengingat kembali kejadian yang sangat langka.


Sedangkan Dion, ia langsung kembali mengemudikan mobilnya untuk segera pulang ke rumah karena ia merasa jika tubuhnya sudah mulai tidak ada yang beres setiap berada di dekat Lisa.


“Aaaaa... De-demi apa ta-tadi? A-aku memeluk Pak Dion? Kok bisa?” gumam Lisa sambil berjalan.


“Ta-tapi kenapa rasanya kaya deg-degan serr-serrr gimana gitu hehe... Apa ini sebuah pertanda, jika aku sudah mulai tertarik padanya dan juga telah menyukainya?"


“Huaaaa... Ti-tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau memiliki kekasih yang dingin seperti Pak Dion, mana enggak peka lagi bisa-bisa nanti hidupku akan semakin flat dan juga tipis kaya tripleks”

__ADS_1


Lisa mengoceh sambil berjalan tanpa matanya melihat jika di depannya terdapat dinding pemisah, dan siapa sangka kini jidat Lisa sudah mencium dinding tersebut dengan sangat sempurna.


Bughh...


“Awwwshhh...” keluh Lisa sambil mengusapkan jidatnya dengan wajah yang begitu sakit.


“Ckk! Siapa sih yang menaruh dinding di sini, kek enggak ada tempat lain aja” celoteh Lisa sambil memukul tembok yang mana malah membuat tangannya juga ikut merasakan sakit.


“Aaaaaa... Si*alan! Di pukul malah ngelawan lagi, dasar tidak punya perasaan. Berani-beraninya dia melawan seorang wanita humpt... Dasar menyebalkan, enggak bisa lihat apa orang senang dikit ya...” pekik Lisa dengan wajah kesalnya, sambil kembali berjalan menuju kamar.


Lalu Lisa langsung bersih-bersih dan juga segera beristirahat. Berbeda dengan Dion, dia sepanjang jalan sampai di rumahnya dan bahkan di kamarnya pun tetap saja tersenyum sambil membayangkan kejadian tadi. Saat bersih-bersihnya selesai, Dion segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat besar.


“Huuuhhhh... Akhirnya bisa rebahan juga” gumam Dion sambil menatap langit-langit kamarnya.


“Tadi seriuskah Lisa memelukku? Kalau iya, kenapa rasanya sangat berbeda ya? Hem... Dahlah, aku juga bingung dengan diriku sendiri, tapi perasaan itu memang sangat kuat dan juga nyata kok..."


"Bahkan aku bisa memastikan jika setiap aku dekat dengannya, pasti ada saja tingkah jantung ini yang membuatku tidak tenang seperti mempunyai penyakit jantung yang sewaktu-waktu bisa mendadak kambuh”


Dion berbicara sendiri layaknya seorang yang sedang mengungkapkan perasaannya selama ini, ia tidak tahu harus berbicara kepada siapa lagi karena biasanya Dimas menjadi pendengar yang baik. Tetapi semenjak Dimas berubah, membuat Dion merasakan sangat kecewa padanya.


Berkali-kali Dion mengucek matanya agar memastikan jika itu hanyalah khayalannya, dan benar saja saat Dion sudah tersadar kini bayangan Lisa menghilang entah kemana.


“Huaaa... Ke-kenapa aku jadi membayangkan wajah Lisa sih, apa tidak ada wanita lain gitu. Kenapa harus Lisa, Lisa dan Lisa terus yang ada di pikiranku. Apa ja-jangan jangan dia memakai ajian semar mesem lagi huaaa.. tidak, tidak, tidaaaakkkkkk” pekik Dion sambil menutupi wajahnya dengan bantal.


Hanya selang beberapa menit ia langsung tertidur, cepat bukan? Ya pastinya, orang Dion sangat lelah hari ini. Sudah badannya cape akibat menyetir, di tambah lagi dengan jantungnya yang selalu berpacu tidak karuan jika berada di dekat Lisa.


...*...


...*...


1 bulan telah berlalu...


Di sebuah taman yang di hiasi oleh berbagai macam bunga penuh dengan warna-warni membuat siapa pun yang ke sana bisa sedikit menyegarkan pikirannya. Namun tidak dengan pasangan ini, mereka bertemu di taman hanya karena ada sesuatu hal penting yang akan mereka bahas.


“Bagaimana kabarmu, Sa?” tanya seorang pria yang tidak lain adalah Fajar.

__ADS_1


Fajar menghubungi Elsa menggunakan nomor baru, supaya Elsa mau mengangkat panggilannya dan berbicara padanya demi untuk mengajaknya bertemu.


“Baik, kau bisa lihat sendiri kan... Sekarang aku sudah tidak semiskin dulu, bahkan penampilanku sudah berubah. Coba jika aku menunggumu, pasti aku tidak akan merasakan hidup semewah ini” jawab Lisa sambil duduk di kursi taman.


“Aku tahu kok Sa, aku bukan pria yang kaya raya seperti suami sahabatmu itu jadi kamu lebih memilih untuk menghancurkan persahabatan kalian dari pada memilih pria yang benar-benar tulus mencintaimu”


“Ya meskipun aku bukan pria kaya, tapi aku sanggup kok untuk membiayai semua kehidupanmu. Aku juga akan berjuang keras agar bisa membelikanmu pakaian, barang atau apa pun itu yang kamu mau. Cuma satu pintaku, yaitu sabar”


Fajar berbicara sambil menatap Elsa yang dari tadi hanya fokus pada ponsel terbarunya. Terlihat sekali, Elsa begitu menikmati kehidupannya yang baru di atas penderitaan sahabat dan juga kekasihnya.


“Sabar kamu bilang? Mau sampai kapan aku harus sabar Fajar, sampai kapan! Kamu tahu kan biaya hidup semakin lama semakin meningkat, jika kamu hanya fokus dengan bisnis kecilmu itu mau sampai kapan kamu bisa menjadi orang kaya!” jawab Elsa dengan nada meninggi.


“Usahaku memang masih belum bisa menghasilkan uang ratusan juta setiap minggunya, namun aku sangat senang karena akulah bosnya. Jadi aku akan berusaha berjuang lebih keras agar bisa membawa usaha ini untuk naik ke tingkat lebih tinggi. Sehingga aku pun bisa dengan mudahnya menyaingi perusahaan suamimu itu” jawab Fajar dengan wajah penuh keseriusan.


Elsa yang mendengar semuanya itu seketika terkekeh dengan sangat geli, seperti ia sedang meremehkan pria yang dulu pernah menjadi bagian dalam hidupnya.


“Kamu ingin menyaingi suamiku? Bagaimana mungkin bisa Fajar, Fajar haha... Jangan mimpi deh, lebih baik kamu fokus mengurus perusahaan kecilmu itu. Takutnya sebentar lagi kamu akan menjadi pengangguran, sehingga membuat keluargamu menjadi gelandangan” Elsa tertawa dengan nada mengejek.


Fajar yang dari tadi sudah mulai emosi, seketika ia menutup matanya perlahan sambil menarik nafasnya lalu kembali ia membuka matanya dan menatap Elsa penuh senyuman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁


Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗


Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊


Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄


Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰


I Love You Guys... ♥️♥️🤍🤍

__ADS_1


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2