
“Tapi kan tidak masalah Mah jika hanya sesekali mengajak Suci untuk pergi bersama kalian. Lagian Suci juga tidak akan minta yang aneh-aneh kok. Asalkan Suci bisa berjalan bersama kalian saja, itu sudah membuat Suci sangat senang kok” jawab Suci.
Mamah Mita yang mendengar itu pun langsung menghentikan langkahnya dan menatap Suci penuh intens.
“Cukup ya! Jangan pernah membuat saya kembali kesal, dari tadi saya sudah mencoba untuk menahannya tetapi apa yang saya dapat? Lagi dan lagi kamu hanya bisa membuat saya kesal, kapan sih kamu bisa membuat saya bahagia, hah! Kapan!!” teriak Mamah Mita yang membuat para pengunjung di sana menatap ke arah mereka.
“Ma-maaf, Mah. Suci tidak bermaksud untuk membuat Mamah kesal. Ya sudah lebih baik kita ke dalam saja, apa pun yang Mamah mau Suci akan beli kan sebagai tanda maaf dari Suci sama Mamah” ujar Suci sambil menunduk.
“Bagus! Jadi kamu mau membayarkan apa pun yang akan saya beli nanti?” tanya Mamah Mita dengan senyuman liciknya.
“Ya, Mah... Apa pun Suci akan belikan, asalkan Mamah bahagia” jawab Suci sambil menatap mertuanya.
“Oke... Saya suka itu. Orang tuh ngomong dari tadi kek biar tidak perlu repot-repot lagi saya mengeluarkan uang” saut Mamah Mita sambil pergi memasuki Mall.
Suci yang melihat itu pun langsung mengikuti mertuanya kemana pun ia akan pergi.
“Lihat saja kamu Suci, setelah pulang dari sini akan aku pastikan Dimas akan marah besar padamu haha...” ucap Mamah Mita di dalam hati kecilnya.
Mereka menaiki eskalator menuju lantai 4 dimana semua berisikan baju, sepatu hingga barang-barang aksesoris lainnya yang tentunya memiliki merek tersendiri. Dari satu toko ke toko lainnya mereka masuki, hingga keluar tanpa tangan kosong. Bahkan Suci yang tidak mau beli apa-apa di paksa oleh Mamah Mita untuk membeli barang-barang dari setiap toko yang mereka kunjungi.
Mau tidak mau Suci melakukan itu demi membuat Mamah Mita tersenyum. Ya memang benar, Mamah Mita tersenyum cantik ke arah Suci yang membuatnya bahagia. Tetapi berkat kepolosan Suci, ia tidak bisa melihat niat buruk mertuanya itu.
Mamah Mita dengan sengaja merayu Suci untuk ikut berbelanja dengannya agar Mamah Mita bisa menjebak Suci di dalam amarah Dimas karena selama ini Mamah Mita tahu jika Dimas tidak bisa marah kepada Suci. Lalu bagaimana kalau Dimas tahu Suci menghabiskan uang yang begitu banyak dalam sehari hanya demi berbelanja?
Pastinya Dimas akan memarahi Suci. Itulah yang saat ini berada di pikiran Mamah Mita. Sampai seketika mereka menghabiskan hingga 3 jam di dalam Mall tersebut dengan tas belanjaan yang sudah penuh ditangan Suci maupun di tangan Mamah Mita.
“Mah, apa ini tidak berlebihan? Suci takut jika Mas Dimas tahu pasti dia akan marah. Apa lagi Suci kan tidak pernah belanja sebanyak ini” ujar Suci dengan wajah cemasnya.
“Tenang, biar Mamah yang membela kamu di depan Dimas nanti” ucap Mamah Mita yang membuat Suci terkejut.
“Apa? Tadi Suci tidak salah dengar kan kalau Mamah menyebut dirinya Mamah dan bukan dengan kata-kata saya lagi. Ya ampun, Suci mimpi apa semalam ya... Kenapa hari ini benar-benar penuh kejutan. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan semua doa-doa hamba-Mu ini ya Rab...” ucap Suci di dalam hatinya.
“Pasti saat ini dia sedang besar kepala karena aku ingin membelanya dan bahkan tadi aku menggunakan kata-kata Mamah. Aduh... Suci, Suci... Kasihan sekali nasibmu hari ini. Diangkat tinggi-tinggi namun seketika di hempaskan ke bawah hanya dengan hitungan per sekian detik haha...” ucap Mamah Mita di dalam hati kecilnya.
“Mamah serius mau membela Suci jika nanti Mas Dimas sampai memarahi Suci?” tanya Suci dengan tersenyum.
“Yaa...” jawab Mamah Mita dengan singkat.
__ADS_1
“Ya sudah ayo kita makan, Mamah lapar” ucap Mamah Mita kembali sambil mencari tempat makan dan Suci pun hanya bisa mengikuti kemana pun mertuanya pergi dengan wajah yang berseri-seri.
“Sebenarnya aku sangat senang hari ini, tetapi kenapa hatiku menjadi gelisah seperti ini? Kayak ada hal buruk yang akan terjadi padaku nanti. Astaghfirullah... Suci kamu tidak boleh berbicara seperti itu, sama saja kamu mendahulukan ketetapan Allah. Jika memang ada sesuatu yang akan terjadi nantinya, cukup hadapi dengan ikhlas dan juga sabar. Pasti Allah akan selalu mendampingimu emm...” gumam Suci di dalam hatinya sambil tersenyum.
Ketika mereka sampai di rumah makan yang masih berada di dalam Mall, anpa sengaja Mamah Mita bertemu dengan kedua temannya.
“Loh, Jeng Mita. Ya ampun Jeng, kenapa kita bisa kebetulan bertemu di sini ya...” ucap sahabat Mamah Mita sambil berpelukan.
“Aduh... Jeng Mita. Ini siapa? Kok cantik sekali, apa ini anak Jeng juga? Tapi kan Jeng hanya memiliki dua anak yaitu Vina dan Dimas. Lalu wanita ini siapa?” tanya salah satu sahabat Mamah Mita.
“Oh ini, perkenalkan ini menantuku Jeng. Namanya Suci” ucap Mamah Mita sambil tersenyum, namun di belakang ia menggerutuki kebodohannya karena telah memperkenalkan Suci sebagai menantunya.
“Maaf tante, perkenalkan nama saya Suci. Saya adalah istri dari Mas Dimas” ucap Suci sambil bersalaman dan mencium tangan kedua sahabat Mamah Mita.
“Saya Karina” ucap Jeng Karina dengan tatapan tidak suka dan menarik tangannya agar tidak sampai menyentuh tangan Suci.
Entah kenapa Jeng Karina yang melihat penampilan Suci seolah-olah wanita yang sangat baik, membuat dirinya tidak menyukai itu semua.
“Hoya... Ayo silahkan duduk” ucap sahabat Mamah Mita yang membuat mereka duduk di satu meja.
“Aduh... Saya jadi pengen cepat-cepat deh punya menantu seperti Suci. Kalau boleh tahu kamu dapat menantu seperti ini dimana Jeng. Kalau bisa aku juga mau deh hehe...”
Sahabat Mamah Mita kembali bersuara sambil bercanda tertawa kecil di depan Jeng Karina, yang malah menatapnya sinis.
“Penampilan kaya gini kok di bilang cantik, iuyuuhhh... Cantikkan juga menantuku. Dia lebih berkelas dan tidak memalukan seperti ini hump...” gumam Jeng Karina di dalam hatinya.
“Jika bisa kutukar tambah maka dengan senang hati aku akan memberikan Suci kepada Jeng Reni tanpa imbalan apa pun. Lagian juga dia tidak tahu jika Suci adalah wanita mandul. Mungkin jika tahu pasti dia juga tidak akan suka pada Suci. Bagaimana jika aku mempermalukan Suci saja di depan mereka supaya mereka tidak berpikiran kalau aku bahagia memiliki menantu seperti Suci ini ya...” ucap Mamah Mita di dalam hatinya.
“Aduh... Sampai lupa kan, hoya... Perkenalkan nama saya Reni” ucap Jeng Reni sambil tersenyum kagum dengan aura yang Suci pancarkan.
“Salam kenal tante Karina dan tante Reni. Terima kasih atas pujiannya, tapi maaf Suci bukan wanita sebaik itu. Suci masih banyak kekurangan hingga belum bisa juga membahagiakan mertua serta suami Suci” ucap Suci dengan kejujurannya.
“Ya ampun... Kamu jujur banget Suci, jarang-jarang loh seorang menantu yang mau mengakui semua ini. Apa lagi kamu tidak malu berbicara ini di depan kita, seakan-akan kamu tidak peduli dengan harga dirimu sendiri dan hanya mengutarakan perasaanmu dengan kejujuran. Aku salut sama kamu Suci, coba saya aku yang mendapatkanmu mungkin aku akan menjadi mertua yang sangat bahagia bisa memiliki menantu seperti dirimu”
“Ya yang pasti Jeng Mita pasti sangat bahagia kan mendapatkan menantu seperti Suci ini. Saya saja yang melihat Suci malah jadi iri sama Jeng apa lagi kalau Suci anak Jeng Mita, huaaa... Sudah pasti besok saya akan lamar untuk anak saya yang sangat susah di suruh menikah. Dia terlalu kaku dan juga dingin sama wanita semenjak kepergian kekasihnya yang mengalami kecelakaan pada saat-saat menjelang hari pernikahan mereka” curhat Jeng Reni dengan raut wajah sedihnya.
“Astaghfirullah, ya ampun kasihan sekali anak tante. Pasti dia sangat trauma dengan keadaan yang seperti itu, karena Suci juga pernah merasakannya bahkan setelah ijab kabul Suci dengan Mas Dimas selesai, di saat itu juga Suci kehilangan Bapak Suci. Hari yang mana Suci harusnya bahagia kini menjadi hari yang penuh dengan duka” jawab Suci.
__ADS_1
“Astaghfirullah... Maaf ya cantik, tante tidak sengaja mengingatkanmu pada masa-masa itu” ucap Jeng Reni sambil menggenggam tangan Suci.
“Tidak apa-apa tante, Suci udah mengikhlaskan semuanya. Mungkin pada saat itu adalah waktu yang baik untuk Bapak pergi karena Bapak tidak akan lagi merasakan sakit seperti yang Bapak sudah rasakan di dunia” saut Suci sambil menggenggam tangan Jeng Reni.
“Cih! Pintar sekali dia mencari muka pada Jeng Reni. Seolah-olah dia adalah menantu yang sangat baik di dunia, aduh... Coba deh ngaca! Penampilan kaya gini saja mau terlihat baik di depan orang. Mending menantuku dia benar-benar sangat berkelas tidak seperti ini. Pasti Jeng Mita sangat tertekan memiliki menantu kaya gini. Kasihan sekali nasibmu Jeng Mita dan juga anaknya ish... ish...” ucap Jeng Karina di dalam hatinya.
“Hoya... Suci apa kamu sudah meminum obat dari dokter? Bukannya obat itu tidak boleh putus ya...” sindir Mamah Mita yang membuat semuanya menoleh ke arahnya.
“Obat? Obat apa Jeng?” tanya Jeng Karina dengan penasaran.
“Loh, Suci sakit Jeng. Sakit apa?” tanya Jeng Reni dengan wajah cemasnya.
“Astaghfirullah, Suci lupa Mah...” jawab Suci.
“Ya sudah kamu pesan makanan dan air putih untuk kamu minum obatnya. Ingat pesan dokter kalau kamu tidak boleh putus minum obat karena pasti akan menjadi sia-sia saja pengobatannya dan kamu harus kembali ke pengobatan awal” tegas Mamah Mita yang berpura-pura menjadi perhatian pada Suci.
Suci langsung memesan makanan serta air putih dan juga untuk yang lainnya. Setelah selesai, kedua sahabat Mamah Mita ini masih dilanda dengan pertanyaan yang seakan-akan menunggu Mamah Mita menjawabnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊
Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1