
Tak lupa Fajar mengabadikan momen indah ini dengan menyewa potografer untuk merekam serta memotret semua momen yang mereka lakukan karena suatu saat nanti kenangan masa kecil mereka akan berguna untuk di masa yang akan datang.
...*...
...*...
Di Perusahaan Arsya
Dion masuk ke ruangan Arsya dengan tergesa-gesa, bahkan wajahnya terlihat begitu panik. Sehingga Arsya yang sedang fokus memeriksa beberapa dokumen langsung menoleh dalam keadaan bingung.
"Saya tahu kita ini sudah seperti saudara, tapi apa kau lupa jika ini adalah kantor. Jadi mau ada ikatan darah atau pun tidak tetap status kita berbeda, dimana saya ini adalah atasanmu!" Ucap Arsya dengan tegas.
"Ma-maaf Tuan, saya salah.." Sahut Dion sambil sedikit membungkuk dan menundukkan kepalanya. Arsya yang melihat itu pun langsung menatap Dion dari atas sampai bawah dan kembali menatap ke arah wajahnya yang masih menunduk.
"Angkat kepalamu dan katakan ada apa? Saya tidak punya banyak waktu, pekerjaan msih banyak!" Ujar Arsya.
Arsya sama Dion memang sudah seperti saudara kandung, akan tetapi jika masih berada di lingkungan tempat kerjanya maka status mereka tetap atasan dan bawahan. Jadi mereka harus bersikap profesional yang mengharuskan mereka menggunakan kata-kata formal.
Namun jika di luar kantor mereka akan bersikap bagaikan seorang saudara, tidak ada kata formal dan juga perbedaan status.
"Jadi begini Tuan, saya mendapatkan info kalau orang yang selama ini kita suruh untuk menyelidiki khasus meninggalnya mendiang mantan tunangan Tuan mereka sudah menemukan titik terang keberadaan mobil tersebut"
"Mereka bilang mobil itu berada di sebuah hutan yang cukup lebat, yang lebih parahnya mobil itu sengaja di umpeti di sana dengan di tutupi oleh pepohonan. Jadi seolah-olah kalau ada yang melewati hutan maka mereka tidak akan menyadari jika di sana ada sebuah mobil"
"Keadaan mobil itu benar-benar sudah tidak bisa digunakan lagi lantaran banyak pepohonan yang tumbuh disekelilingnya hingga membut mobil bagaikan media tanam baginya, cuman ada 1 barang bukti yang sangat kuat karena mereka menemukannya di dalam mobil. Sehingga sebentar lagi kita akan mengetahui siapa dalang di balik kecelakaan mendiang mantan tunangan Tuan sendiri"
__ADS_1
Dion menjelaskan secara detail informasi apa yang ia dapatkan dari orang suruhannya yang selama ini menyelidiki semua kejadian tersebut, dimana polisi tidak bisa mengungkap dalang dibalik kecelakaan.
Belum lagi CCTV di tempat kejadian tidak berfungai jadi hanya bertahan selama 1 tahun polisi pun menyerah. Mau tidak mau Arsya menyelidikinya sendiri dengan bantuan beberapa intel, belum lagi kejadian ini sudah terjadi bertahun-tahun cuman baru kali ini Arsya kembali mendengar kabar hasil penyelidikan mereka.
Kata menyerah sama aja seperti Arsya membiarkan arwah mendiang mantan tunangannya tidak bisa beristirahat dengan tenang dan damai.
Arsya dari tadi hanya terdiam duduk di kursinya sambil mengepalkan tangan di atas meja, sedangkan Dion yang menatap ekspresi wajah Arsya membuatnya sangat ketakutan.
Arsya seperti ini bukan berarti dia masih mengharapkan atau mencintai mendiang mantan tunangannya, melainkan karena Arsya sudah sangat gereget untuk mengetahui siapa pelaku tabrak lari dibalik semuanya yang mengakibatkan seorang wanita kehilangan nyawanya.
"Bukti apa yang mereka dapatkan?" Tanya Arsya dengan tatapan mematikan sambil menatap lurus ke arah depan tanpa menatap Dion. Dimana rahang Arsya benar-benar mengeras hingga terdenggar suara gemerutuk gigi yang saling bertabrakan.
"Saya belum tahu, Tuan. Tapi mereka sudah mengirimkannya ke sini, karena tadi saya langsung memberikan alamat kantor ini agar Tuan bisa melihatnya secara langsung. Cuman pesan mereka Tuan tidak boleh menyentuhnya dengan tangan kosong. Jadi Tuan harus menyentuhnya menggunakan sarung tangan agar sidik jari orang itu tidak hilang" Jawab Dion.
"Mereka bilang identitas pemilik mobil, cuman mereka tidak tahu pasti apakah itu pemiliknya atau bukan. Yang jelas identitas itu bisa di jadikan alat untuk membuka kembali khasus yang lama di tutup" Sahut Dion dengan wajah seriusnya.
Mereka pun terdiam sambil duduk di sofa ruangan Arsya menunggu kedatangan bukti tersebut, dan tak lama seseorang mengetuk pintu yang membuat Arsya langsung menyuruhnya masuk.
"Permisi Tuan, i-ini ada titipan paket dari seseorang katanya untuk Tuan Arsya" Ujar seorang OB dengan membungkukkan tubuhnya sambil memberikan sebuah amplop coklat kepada Arsya.
"Terima kasih!" Ucap Arsya sambil menerimanya, lalu OB itu pun pamit dengan sedikit tersenyum.
Setelah pintu kembali tertutup, Dion langsung menyuruh Arsya untuk memakai sarung tangan karet agar bisa menghindari sidik jari. Dengan perlahan Arsya membuka amplot coklat tersebut dengan sangat hati-hati.
Dion menatap amplop itu penuh keseriusan, mereka berdua benar-benar penasaran. Dan setelah amplopnya terbuka mata Arsya membola sangat lebar hingga semakin membuat Dion menjadi panik.
__ADS_1
Arsya menatap Dion yang membuat Dion juga menatapnya, lalu Arsya memperlihatkan identitas seseorang dimana itu adalah kartu pengenal di Universitas Trisakti.
Foto seorang wanita cantik terpampang di kartu tersebut bersaman dengan nama lengkapnya. Vina Ananda, nama yang tidak asing bukan? Ya, dia adalah Vina adik dari Dimas mantan suami Suci.
"Ternyata pembunuh yang di cari selama ini berada di sekeliling kita, tapi kenapa kita tidak bisa menydari semuanya?" Ucap Arsya yang sudah mulai emosi.
"Sabar Tuan, mungkin pada saat itu Allah belum mengabulkan doa kita. Tetapi lihatlah seberapa lama khasus itu di tutup tetap saja akan terkuab, sama halnya dengan bangkai. Serapat apa pun kita tutupi pasti baunya akan tercium. Setidaknya kita sudah mempunyai bukti ini, bagaimana kalau kita langsung melaporkannya ke polisi?" Ujar Dion.
"Baiklah, kau ikut saya ke kantor polisi. Habis itu antarkan saya pulang ke rumah lantaran saya mau segera menceritakan semua ini pada orang rumah. Habis itu kau bisa kembali ke kantor" Tegas Arsya.
"Siap Tuan, mari saya antar" Jawab Dion yang langsung berdiri di ikuti oleh Arsya. Bukti tersebut kembali Arsya masukan ke dalam amplop dan menaruhnya di dalam saku jasnya.
Kemudian mereka pergi ke kantor polisi untuk kembali membuka khasus yang sudah lama di tutup. Cuman membutuhkan waktu 30 menit saja mereka sudah sampai di depan pintu kantor polisi.
Segera mungkin Arsya dan Dion mengatakan bahwa mereka ingin membuka khasus kecelakaan beberapa tahun lalu yang menewaskan gadis cantik yang pada saat itu akan menikah dengan Arsya.
Arsya meminta pada polisi untuk segera menuntas abis semua kejadian agar pelakunya di hukum sesuai dengan perbuatannya. Setelah selesai melapor, Dion membawa Arsya pergi ke rumahnya dan hanya menurunkannya di depan gerbang sesuai dengan perintah Arsya.
Apa lagi Arsya sangat tahu jika 1 jam lagi seharusnya mereka ada minting penting, tetapi karena masalah ini lebih penting membuat Arsya langsung menyuruh Dion untuk menghendle semuanya.
Di rumah keluarga Valleanno, saat ini anak-anak sedang tidur siang dan juga Kay baru saja berangkat les bareng Ara. Jadi Arsya bisa leluasa mengobrol dengan mereka untuk masalah sepenting ini.
Semua orang duduk di ruang keluarga dengan wajah bingungnya ketika menatap wajah Arsya begitu marah, tanpa basa-basi Arsya menceritakan semuanya yang berhasil membuat mereka benar-benar terkejut bukan main.
Tapi ya mau bagaimana lagi meskipun menurut mereka Vina sudah berubah menjadi wanita yang jauh lebih baik, tetapi kesalahan di masa lalu adalah kesalahan. Sehingga Vina memang harus menjalani hukuman sesuai dengan fakta yang akan terungkap.
__ADS_1