Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Masa Lalunya Xan


__ADS_3

Entah mengapa kini Suci terdiam kembali dengan tatapan yang kosong, mungkin jika tidak ada lagi yang harus memancing mood Suci pasti ia akan kembali terlihat orang yang begitu menyedihkan.


Bahkan Xan pun yang melihat Suci seperti itu menjadi bingung, karena dari tadi Suci selalu berbicara tanpa jeda, dan sekarang ia malah menutup dirinya rapat-rapat sehingga Xan menaruh curiga padanya yang membuat ia sedikit tersentuh.


Hanya selang beberapa detik, ponsel Xan berbunyi dengan notifikasi dari Tuan Es. Xan segera membukanya, lalu ia membacanya secara perlahan sambil sedikit melirik ke arah Suci. Di situ Arsya mengatakan bahwa Suci punya sedikit gangguan mental hingga membuat ia trauma dan depresi, jadi Xan harus terus berada di dekat Suci tanpa lengah sedikit pun.


Dari sini Xan mengerti kenapa di awal Suci yang bawel mengoceh tanpa henti, dan sekarang malah terlihat bagaikan manekin. Arsya meminta untuk Xan mencoba mendekatkan diri kepada Suci, karena mungkin dengan sesama wanita ia akan bisa lebih terbuka agar semua depresinya tidak berlarut-larut.


Apa lagi Suci tidak mau jika harus pergi ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter psikolog, ia merasa jika dirinya sehat-sehat saja, padahal yang sakit ialah mentalnya. Xan dengan perlahan mencoba untuk duduk di tepi ranjang yang membuat Suci sedikit menoleh. Lalu Xan langsung meminta maaf pada Suci jika tadi sudah membuatnya merasa sedih.


“Maafkan saya Nona, jika saya sudah membuatmu sedih atas ucapan saya tadi. Tapi apakah semua itu masih berlaku? Jika ia, saya mau kok jadi teman sekaligus Kakak untuk Nona. Kita bisa saling berbagi atau bertukar cerita satu sama lain. Bagaimana, seru kan...” tawar Xan dengan senyuman yang mencoba membuat Suci ikut tersenyum bersamanya.


“Benarkah Kak Xan mau?” tanya Suci untuk memastikannya kembali dan membuat Xan mengangguk kecil.


“Terima kasih banyak Kak, aku merasa seperti punya keluarga yang lengkap. Kakak tahu tidak aku memiliki 2 sahabat loh dan juga dua-duanya sudah aku anggap sebagai adikku tapi-...” ucap Suci terhenti saat ia kembali mengingat hal yang membuat hatinya sakit, jadi Suci mengurungkan niatnya untuk meneruskan ceritanya.


“Tapi apa? Kalau mau cerita, ceritakan saja aku siap kok jadi pendengar yang baik sebagai seorang Kakak yang lagi mendengar keluh kesal sang Adik” ucap Xan yang membuat Suci menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Sebelum aku bercerita, bolehkah aku memeluk Kak Xan? Aku sudah lelah Kak, aku sudah tidak kuat lagi menjalani semua ini hiks...” Suci menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Xan yang bisa merasakan apa yang Suci rasakan, lalu Xan langsung memeluk Suci begitu erat. Bahkan pelukannya benar-benar bagaikan seorang Kakak yang sedang menyemangati adiknya yang sedang dalam keadaan terpuruk.


“Nangislah sepuasmu Nona, jangan di tahan. Keluarkan apa yang selama ini menjadi bebanmu, lalu kembalilah bangkit menjadi wanita yang kuat” ucap Xan sambil mengelus punggung Suci agar membuatnya merasa nyaman.


Xan sangat tahu jika seseorang yang dalam gangguan mental atau pun depresi itu hanya butuh suport dan juga kenyamanan. Jika orang tersebut sudah merasa aman, pasti dengan sendirinya ia akan membagi bebannya dengan secara perlahan dan benar saja.

__ADS_1


Setelah Suci selesai menangis serta sedikit merasa lebih tenang, ia akhirnya membagi semua cerita yang selama ini ia pendam. Bahkan rasa sakit yang ada di dalam hati kecilnya Suci pun Xan bisa merasakan, hingga ia pun larut dalam tangisan yang penuh emosi.


“Jadi begitu Kak, di-dia mengkhianatiku hiks... bahkan di saat aku mengatakan kebenarannya, dia malah menceraikan aku dan memilih wanita itu hiks... padahal jelas-jelas aku tahu jika anak itu bukanlah anak darinya hiks...”


“Apa kau tahu Kak, dia itu sahabat kecilku yang selalu aku jaga hiks... hingga akhirnya aku pergi meninggalkan dia karena almarhum Bapakku ingin mengubah nasib setelah bertahun-tahun merasakan kehilangan seorang Mamahku hiks... bahkan saat Bapak telah selesai menyerahkanku padanya, ia langsung meninggalkanku untuk selamanya hiks...”


“Sekarang dialah yang meninggalkanku, sakit kak... sakit hiks... aku tidak terima semua ini, aku ingin mereka juga bisa merasakan apa yang aku rasakan bahkan lebih hancur dariku hiks... Apa aku salah memiliki dendam seperti itu Kak hiks..."


"Jika aku salah, lalu sekarang aku harus bagaimana hiks... aku tidak bisa diam seperti ini, sedangkan mereka dengan bahagianya ketawa-ketiwi di atas penderitaanku hiks...” Celoteh Suci mampu membuat Xan berhenti dengan keadaan mata memerah menyorot tajam.


Kisah kehidupan pernikahan Suci hampirlah sama seperti dirinya, hanya saja yang membedakan adalah Xan yang memiliki seorang anak, namun anaknya meninggal dunia karena pada waktu itu Xan sudah terlambat untuk membawa anaknya yang sakit itu ke rumah sakit


“Stop menangisi pria seperti itu, hapus air matamu sekarang!!” tegas Xan yang membuat Suci tersontak kaget dan segera menghapus air matanya, ya meskipun suara isak tangis masih terdengar nyaring di telinga Xan.


“Dengarkan aku baik-baik Suci, hidupmu masih sangat panjang. Itu hanya sebagian kecil rasa sakit yang kamu alami, sedangkan di luar sana ada yang jauh lebih sakit darimu. Contohnya aku! Aku dan kamu memiliki kisah yang hampir sama, hanya saja kamu cuma di khianati oleh sahabatmu"


"Belum lagi aku harus selalu melunasi semua hutang demi hutang yang dia pinjam di berbagai rentenir. Jika aku tidak menurutinya, maka dia akan menyakiti anakku. Terus aku harus bagaimana? Aku cuma bisa terdiam diri, dan menuruti semua kemauan lelaki itu"


"Sampai seketika aku melihat anakku tubuhnya penuh dengan luka lebam yang selama ini aku tidak tahu, jika setiap hari di saat aku banting tulang menghidupi anakku dan juga pria be*jat itu cih.. dengan seenaknya dia menyakiti anakku setiap hari tanpa sepengetahuanku"


“Anakku yang masih berusia 5 tahun hanya bisa terdiam karena ia telah diancam oleh Ayahnya. Jika anakku sampai mengatakannya padaku, maka dia harus siap kehilanganku. Dari situ anakku sudah benar-benar mentalnya terganggu, dan aku pun tidak tahu akan hal itu sama sekali hiks...”


“Aku tahu semua itu pada saat anakku tidak sengaja jatuh sakit dan aku izin mengambil cuti yang tidak pernah aku gunakan. Hal itu karena jika aku berhenti bekerja, maka aku tidak akan mendapat gaji pada hari itu atau gajiku akan dikenakan potongan”


“Aku merawat anakku sampai seketika aku ingin mengelap tubuhnya, dan betapa aku terkejut saat melihat tubuh kecilnya itu hiks... su-sudah tak semulus saat aku melahirkannya dulu hiks...” Hatiku hancur sehancur-hancurnya hiks..."

__ADS_1


"Anak yang aku percayakan padanya untuk di rawat selama aku mencari nafkah untuk mereka, kini malah selalu ia siksa tanpa rasa belas kasihan hiks... Aku rela menjadi tulang punggung untuknya, namun balasan dia padaku seperti ini hiks..."


"Aku kira dia hanya akan menyakitiku karena ia selalu bersikap baik terhadap anak kami, tapi siapa sangka di saat aku tidak ada di rumah dia memperlakukan anakku bagaikan seekor binatang hiks... Di situ aku marah besar padanya sampai aku meminta untuk bercerai darinya, cuma dia selalu tidak mau menceraikan aku hiks..."


"Sampai seketika anakku mengatakan {Bu... a-aku su-sudah ti-tidak kuat lagi, aku mau tidur boleh?} Di situ duniaku seakan-akan runtuh tak tersisa hiks... lalu aku segera membawanya ke rumah sakit tanpa sepersen uang pun di dalam sakuku, yang penting aku bisa menyelamatkan anakku hiks...”


“Tapi sayangnya anakku hanya bisa bertahan 2 hari di rumah sakit dan ia benar-benar tertidur sangat pulas dengan keadaan tersenyum hiks...” Xan menceritakan kisah masa lalunya yang membuat Suci sadar bahwa apa yang ia rasakan bahkan tidak sebanding dengan apa yang di rasakan oleh Xan.


Bahkan masa lalunya Suci jauh lebih terang daripada masa lalunya Xan. Di situ Xan menangis sejadi-jadinya, selama beberapa tahun ini Xan selalu mencoba menjadi wanita yang kuatmelebihi seorang pria. Tapi jika menyangkut seorang anak, maka Xan akan kembali menjadi wanita yang rapuh.


Suci yang melihat Xan menangis sedih itu, ia segera memeluk Xan begitu erat hingga keduanya menangis di pelukan satu sama lain yang membuat mereka seperti menemukan tempat ternyaman yang tidak pernah mereka temukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳


Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭

__ADS_1


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2