
Lisa yang mendengar perkataannya Dion tersebut pun langsung memalingkan wajahnya menjauhi Dion dengan telinganya yang memerah.
Dion yang melihat Lisa malu-malu tersebut hanya bisa terkekeh gemas karena Lisa selalu saja mudah merasa malu dengan sedikit gombalannya yang mana membuat Dion selalu ingin menggoda Lisa.
“Apa kamu tahu bahwa aku menjadi seperti ini karena hadirnya dirimu di dalam hidupku. Aku mulai mengenal apa itu cinta, apa itu keromantisan dan apa itu suatu hubungan. Jika aku tidak memperlakukanmu penuh sayang seperti ini, lalu pada siapa lagi harus aku tunjukkan rasa sayangku hemm...”
Dion berbicara sambil mengelus pipi Lisa yang mana membuat wajahnya Lisa menjadi semakin memerah.
Dion tersenyum saat melihat bahwa Lisa sangat menyukai sikapnya yang romantis dan peduli seperti ini. Lalu Dion membaringkan tubuhnya di tanah yang penuh rumput tersebut.
“Aku harap hari-hari seperti ini akan selalu terjadi untuk kita ke depannya. Semoga setelah kita menikah nanti, hari-hari bahagia seperti ini akan terjadi setiap harinya agar aku bisa selalu membuatmu merasa bahagia seperti ini”
“Aku juga akan bekerja lebih keras untuk memiliki tabungan yang jauh lebih dari cukup untuk biaya nikah kita dan juga biaya hidup kita nanti. Aku tidak ingin setelah kamu menikah denganku, hidupmu tidak akan menjadi lebih baik dan berwarna”
“Aku berjanji kalau aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia setelah menikah denganku. Aku akan melakukan apa pun yang aku bisa untuk membuatmu dan calon anak-anak kita nanti hidup dalam berkelimpahan harta dan kebahagiaan”
Dion berbicara sambil menatap langit cerah dengan melipat kedua tangannya di belakang kepalanya.
Lisa yang mendengar semua ucapan dan janjinya Dion pun merasa sangat tersentuh. Bahkan saat ini matanya sudah berlinangan air mata.
Kemudian, Lisa menundukkan kepalanya sedikit dan di pun mengecup pipi Dion yang mana membuat Dion langsung memelototkan matanya.
Lisa juga segera mungkin kembali duduk sambil menatap ke depan dengan memeluk kedua kakinya serta menundukkan wajah memerahnya.
Dion yang melihat tingkah gemasnya Lisa itu pun hanya bisa terkekeh kecil sambil dia yang menutup matanya dan tersenyum.
Lisa memberanikan dirinya untuk melirik sekilas Dion yang sedang menutup matanya tersebut sambil tersenyum.
“Jika kamu ingin melihat wajah tampan calon suamimu ini, maka lihatlah sepuasnya tidak perlu mengintip. Kalau kamu sampai tidak puas melihat wajahku, maka aku tidak akan memulangkanmu dengan aman dan selamat ke rumahmu”
Dion berbicara sambil tetap menutup matanya dan tersenyum yang mana membuat wajah Lisa semakin memerah.
__ADS_1
Langsung saja Lisa memalingkan wajahnya dan kembali menundukkan kepalanya. Hingga akhirnya mereka berdua pun hanya diam sambil diam-diam tersenyum bahagia.
Meskipun Dion terkenal sebagai pria yang cuek dan kaku, tapi setelah dia menjalin hubungan dengan Lisa maka semua itu berubah.
Kini Dion menjadi pria yang romantis, penuh kasih sayang dan pengertian yang mana membuat Lisa menjadi lebih bahagia.
Lalu mereka berdua pun pergi dari taman tersebut menuju mobilnya Dion dan pergi mengantarkan Lisa kembali ke kontrakannya.
Setelah melihat Lisa masuk ke kontrakannya, Dion pergi dari sana dan kembali ke Apartemennya sendiri. Mereka pun tertidur dengan keadaan yang sangat bahagia.
*
*
Minggu pagi di kediaman keluarga Valleano, semua orang sedang berkumpul di ruang makan dan menikmati sarapan bersama.
Di saat semua orang sedang sarapan, ada satu orang yang hanya diam sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya. Siapa lagi jika bukan Ibu hamil kita, yaitu Suci.
“Aku tidak apa-apa, aku Cuma malas makan saja” ucap Suci dengan nada cuek dan dinginnya.
“Kenapa kamu tiba-tiba menjadi cuek dan dingin seperti ini padaku? Apakah aku melakukan suatu kesalahan? Tolong kasih aku, kesalahan apa yang sudah aku lakukan jadi aku bisa meminta maaf padamu sayang...” bujuk Arsya sambil mengelus pipinya Suci.
“Kamu enggak salah apa-apa, aku cuma malas makan aja. Lalu tolong jangan elus pipiku karena itu rasanya tidak nyaman, mengerti!” tegas Suci yang mana membuat semua orang terdiam.
Ini adalah pertama kalinya Suci berbicara cuek dan dingin seperti ini setelah Suci mengenal keluarga Valleanno.
Suci yang melihat bahwa semua orang merasa kaget dengan ucapannya pun hanya memandangi Bunda Reni, Ayah Al dan Arsya secara bergantian dengan tatapan bingungnya.
“Kenapa semuanya tiba-tiba diam? Apakah ada sesuatu yang salah sehingga kalian semua jadi terkejut seperti ini?” tanya Suci dengan nada datar dan wajah bingungnya.
“Ti-tidak... tidak ada apa-apa kok, kami cuma bingung saja. Sebenarnya kamu ini kenapa Suci? Kenapa kamu tiba-tiba jadi aneh seperti ini, tidak seperti kamu yang biasanya” ucap Bunda Reni dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
“Suci tidak apa-apa Bunda, Suci baik-baik saja kok. Tidak tahu kenapa tapi Suci hanya merasa malas dan jenuh saja hari ini, rasanya seperti Suci tidak mau melakukan apa pun hari ini” ucap Suci dengan wajah datarnya menatap Bunda Reni.
“Kalau kamu merasa jenuh di rumah, kita bisa kok pergi jalan-jalan ke mana pun yang kamu inginkan. Aku akan menemanimu ke mana kamu pergi, dan kita juga bisa pergi berempat semuanya. Benar begitu bukan Bunda, Ayah?” tanya Arsya sambil menatap orang tuanya bergantian.
“Tentu saja, Ayah dan Bunda akan merasa senang juga jika bisa pergi berlibur bersama dengan kalian. Lagi pula aku dan sayangku sudah lama tidak pergi liburan, kan sayang...” goda Ayah Al yang membuat Bunda Reni menepuk tangannya Ayah Al.
“Kalau begitu kamu ingin pergi liburan ke mana hari ini, sayang? Kamu katakan saja pada kami dan kami akan siapkan semua kebutuhannya untuk kita berangkat sekarang juga” ucap Bunda Reni dengan senyuman manisnya.
“Ermm... Suci tidak tahu, Suci tidak memikirkan apa pun atau tempat mana pun saat ini” jawab Suci yang mana masih saja cuek pada semuanya.
“Kalau begitu bagaimana dengan kita pergi ke pantai, sayang?” tanya Arsya sambil menatap Suci.
“Tidak mau, di pantai panas”jawab Suci dengan cueknya yang bahkan tidak menatap Arsya sedikitpun.
“Bagaimana jika kita pergi ke kebun binatang saja? Kita bisa melihat banyak hewan di sana” tawar Arsya dengan penuh semangat.
“Tidak suka, di sana terlalu berisik dan juga ramai” jawab Suci kembali yang mana sibuk memainkan ponselnya.
“Kalau pergi ke taman bunga yang ada di pusat kota bagaimana? Di sana pasti sangat indah dan wangi dengan berbagai jenis bunga” ucap Arsya sambil tersenyum pada Suci.
“Di sana itu panas dan terlalu menyengat, aku tidak mau!” tegas Suci yang masih fokus dengan ponselnya.
“Lalu ke mana kita harus pergi supaya kamu tidak merasa jenuh dan dingin seperti ini padaku, sayang...” ujar Arsya dengan wajah melasnya yang mana dia tidak suka jika Suci bersikap cuek padanya.
“Tidak tahu! Aku hanya tidak suka jika kamu berbicara, itu membuatku semakin jenuh” jawab Suci dengan ketus yang langsung membuat semuanya terdiam kaku terutama Arsya.
Arsya merasa jika saat ini Suci sedang membencinya karena dia merasa sudah melakukan sesuatu yang salah.
Namun sebenarnya ini hanya karena mood Suci yang sedang turun sehingga dia merasa tidak mood untuk melakukan sesuatu. Suci hanya ingin diam di rumah dan tidak melakukan apa-apa sampai moodnya kembali naik.
Siapa sangka bahwa perkataan Suci tersebut sanggup membuat Arsya bersedih dan tanpa di sadari matanya kini sudah berlinangan air mata.
__ADS_1
Bunda Reni dan Ayah Al yang melihatnya pun langsung terkejut karena mereka tidak pernah melihat Arsya selemah dan sesedih ini sebelumnya.