
Dooorrr...
Dooorrr...
Dooorrr...
Welcome back to Valleanno's Mansion...
Teriak semuanya yang ada di dalam yang mana itu adalah suara dari Bunda Reni, Ayah Al, Papah Angga dan juga ada seseorang yang membuat Suci sangat terkejut.
"Selamat datang di istana Valleanno, wahh.. cucuku makin tampan saja. Sini-sini peluk Oma dulu, Oma kangen.." Bunda Reni sangat antusias dan langsung menyamakan tinggi Kay serta merentangkan kedua tangannya.
"Huaaa.. Oma, Kay juga kangen sama Oma.." Pekik Kay yang langsung berhambur memeluk Bunda Reni begitu erat. Sehingga Bunda Reni langsung membalasnya dan juga meraup wajah Kay serta menciumi seluruh wajahnya beberapa kali saking gemasnya.
"Maaf semuanya aku harus ke kamar dulu mau menggantikan pakaian mereka, kasian suamiki yang tampan ini habis kena ompol Ara hihi.. dahhhh.." Lisa cengengesan yang membuat semuanya menggeleng kepala, dan langsung menggiring Dion ke arah kamar dimana Dion hanya bisa menahan kesalnya.
Sedangkan Ara yang berada di dalam gendongan Dion hanya bisa cekikikan hingga berusaha membuat Appa-nya tertawa dengan ulah gemasnya itu.
"Apakah Opa boleh memelukmu, pria kecil?" Tanya Ayah Al dengan datarnya.
"Tentu, kenapa tidak! Aku ini kan cucumu, jadi kau boleh memelukku sepuasnya. Asalkan jangan pernah menciumku, karena hanya Oma dan Mommy yang boleh!" Tegas Kay dengan cueknya yang mampu membuat semua menahan tawanya.
Sifat Kay dengan Arsya memang mirip sama Ayah Al yang dingin, tetapi jika sudah bertemu dengan pawangnya maka sifat lainnya akan muncul secara tiba-tiba.
Mungkin saat ini Kay hanya memiliki pawang yaitu Oma dan juga Mommynya, dan suatu saat nanti pasti Kay bisa menemukan pawang seumur hidupnya yang akan membuatnya sama seperti pria dingin yang ada di depannya ini.
Ayah Al pun menyamakan tinggi Kay serta langsung memeluknya ala pria, dan bergantian dengan Papah Angga yang memeluk Kay sambil meneteskan air matanya. Kay yang melihat itu langsung mengusap air mata yang menetes di wajah Papah Angga.
"Jangan cengeng Kek, kita adalah seorang pria sejati jadi jangan seperti para wanita yang hanya bisanya menangis saat menumpahkan rasa rindunya yang sudah terpendam" Ucap Kay sambil melirik Suci dan juga Bunda Reni saat mereka berpelukan sambil menangis satu sama lain.
Entahlah siapa yang ngajarkan Kay bisa berbicara seperti ini, yang jelas Kay memang benar-benar seorang anak kecil yang mulai tumbuh menjadi pangeran sekaligus pelindung untuk keluarganya.
Kini bergantian dengan Arsya yang memeluk Bunda Reni, Ayah Al, dan juga Papah Angga. Begitu juga dengan Suci, dia hanya bersaliman kepada kedua pria tampan yang kini sudah dianggapnya sebagai orang tua kandung.
Sampai seketika mereka semua berbalik dan melihat ke arah Suci yang kini berdiri tepat di depan seseorang yang sedang tersenyum sangat manis.
"U-umi Le-lena?" Gumam Suci yang diangguki kecil oleh Umi Lena serta membuat semuanya reflek terkejut ketika Suci mengenali Umi Lena.
Padahal setahu mereka Suci belum sama sekali mengenal Umi Lena, lantaran Papah Angga hanya mengenalinya sekilas Umi Lena kepada Bunda Reni dan juga Ayah Al beserta keluarga kecil Dion.
__ADS_1
Tapi, siapa sangka awalnya Papah Angga mau membuat kejutan untuk Suci dan juga semuanya. Namun, malah Papah Angga yang terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Visual Umi Allena Belvyah Mahveen berusia 52 tahun.
Visual Papah Angga Wirawan berusia 55 tahun.
Visual Ayah Alaric Valleanno berusia 54 tahun.
Visual Bunda Reni Valleanno berusia 51 tahun.
Tanpa basa-basi Suci langsung memeluk Umi Lena dengan sangat erat, seperti seseorang yang sedang menumpahkan kerinduannya selama ini lantaran semenjak Suci mulai ada problem di dalam rumah tangganya dia tidak pernah lagi berkunjung ke rumah singgah. Tetapi setiap bulannya Suci selalu mengirim ke nomor rekening panti atas nama HAMBA ALLAH.
"Ya ampun Umi, Suci tidak menyangka Umi bisa datang ke rumah ini. Bunda kenapa tidak bilang jika Bunda punya sahabat seperti Umi Lena?" Ucap Suci dengan perasaan senang lalu menatap ke arah Bunda Reni.
"Bukan Sayang, tapi sepertinya dia akan menjadi-.. eohhh.. loh kok kamu kenal dengan Umi Lena? Perasaan kita semua tidak ada yang memberitahu tentang Umi Lena deh.." Tanya Bunda dengan bingung.
"Orang baru tiba dari jauh bukannya di suruh duduk terus, tawarin minum makan atau apa kek. Ini malah pada berdiri udah kaya kehabisan tiket saja!" Celetuk Kay yang langsung berjalan lebih dulu menuju sofa dan duduk dalam keadaan datar.
"Ya begitulah para wanita, kalau sudah bertemu lupa dengan suami dan juga anaknya yang sudah lelah berdiri!" Sahut Arsya yang langsung mengikuti Kay dari belakang.
"Maklumin saja, para wanita memang seperti itu. Jika tidak banyak mengoceh ya bukan wanita namanya" Ucap Ayah Al yang langsung mengikuti Kay dan juga Arsya.
"Ya ampun, mereka bertiga benar-benar sangat mirip!" Gumam Bunda Reni sambil menatap ketiga pria yang terbilang sangat kaku, dingin dan juga cuek.
"Hihihi.. sabar ya Bun kali rumah ini bakalan penuh dengan manusia Kutub. Jadi, kita harus banyakin sabar walaupun rasanya terkadang ingin sekali membuang mereka ke laut tetapi jika sudah dalam mode manja mereka terlihat sangat menggemaskan hhehe.." Celoteh Suci yang membuat Bunda Reni dan juga Umi Lena terkekeh.
Begitu juga Papah Al yang berada di samping Umi Lena hanya bisa tersenyum saat melihat semua orang tidak mempermasalahkan dengan kehadiran Umi Lena.
Kemudian mereka pun langsung berjalan ke arah ruang keluarga dan duduk bersama-sama, tak lupa Bunda menyuruh asisten rumah tangganya untuk menyiapkan minuman serta camilan yang sudah di tata rapih di dapur.
"Omaaaaaaa.... yuuhhuuuu... plinces datang hihi.." Teriak Ara yang begitu nyaring hingga membuat semuanya menoleh ke arah Ara yang saat ini berlari sekuat tenaga menuruni anakan tangga dengan wajah gembiranya serta diikuti oleh Dion dan juga Lisa dari belakang.
__ADS_1
"Astaga, princes hati-hati sayang. Jangan lari seperti itu.." Pekik Bunda Reni yang oenuh dengan kekhawatiran.
Kay yang melihat akan terjadi sesuatu langsung berlari cepat ke arah Ara hingga membuat semuanya bingung. Dan benar saja feeling Kay, siapa sangka saking kuatnya Ara berlari dia sampai melupakan langkah kakinya lalu Ara kehilangan keseimbangannya.
Semuanya pun langsung berdiri dengan wajah paniknya saat melihat Ara akan terjatuh di anakan tangga terakhir, begitu juga dengan Lisa yang sudah berteriak sambil menyutup wajahnya. Sedangkan Dion dia mah berlari sekuat tenaga.
"Aaaarrraaaaaa.." Pekik semua orang bersama-sama.
"Aaaaaaa......" Teriak Ara sangat kencang.
Buggghhhh...
Para wanita hanya bisa menutup wajahnya saking tidak kuatnya melihat Ara yang akan terjatuh, seakan-akan mereka sudah membayangkan bagaimana nasib Ara nantinya.
Kay yang telah berhasil menyelamatkan Ara dengan memeluknya, namun saking tubuh Kay belum bisa menyeimbangi hingga akhirnya membuat mereka malah terjatuh bersama-sama dengan posisi tubuh mungil Ara menibani tubuh Kay. Dion yang berusaha berlari seketika langsung berhenti menatap posisi kedua bocih yang sangat manis.
"Hikss.. a-atiittt hiks... Amma, Appa hiks.." Ara menangis sambil memejamkan kedua matanya dengan posisi masih menibani Kay.
"Apaan yang sakit sih, bukalah matamu gadis manja! Saat ini harusnya aku yang mengeluh karena ulahmu tubuhku menjadi sakit!" Sahut Kay yang membuat Ara terdiam langsung membuka kedua matanya.
"Eohh.. hihihi.. ma-mangap ya. Kalena Ala Ka-kakak jatuh uga hihi.." Ucap Ara sambil terkekeh.
"Ckkk.. cepat bangun dari tubuhku. Bisa-bisa tubuhku gepeng ketiban buldozer sepertimu!" Kesal Kay saat melihat Ara bukannya segera bangkit ini malah menertawainya.
"Yaaaakkk.. Enyak caja alo ngomong! Ala ini cekci tau, Kakak caja yang ndak bica melihat. Dacal menyebalkan!!" Celoteh Ara yang sangsung bangun serta menekan perut Kay hingga membuat Kay meringis kesakitan.
"Aaaaaaa... dasar gadis manja!!! Bisa-bisanya di tolongin bukannya bilang terima kasih malah, menekan perutku!!" Pekik Kay sambil mengeluh.
"Booodooo mamattt.. wleeeee.. cukuyin emang enyak hahah.." Ledek Ara dengan sangat jahil.
Dion, Arsya, Papah Angga, dan juga Ayah Al hanya bisa terdiam menggelengkan kepalanya melihat aksi mereka yang baru saja bertemu sudah menimbulkan pelerangan.
Padahal Kay dan Ara tidak saling mengenal selain lewat video call atau foto, tetapi entah kenapa mereka merasa bahwa Ara dan Kay punya cara tersendiri untuk bisa saling dekat.
Sedangkan para wanita hanya terkekeh saat melihat Kay yang begitu kesal akibat di godain oleh Ara, bagaimana jika nanti dia memiliki Adik seperti Ara. Bisa-bisa mungkin Kay akan meminta Suci untuk mengembalikan adiknya di dalam perut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai guys.. jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Semoga dari beberapa banner yang aku publish ini ada yang sesuai dengan genre kalian sebagi pembaca 🥰 Terima kasih.....
__ADS_1
...Lets go di serbu... 🤸🤸...