Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Suci Hanyalah Milik Arsya


__ADS_3

Arsya yang sudah tidak kuat lagi menahan emosinya ketika tangan Dimas hampir saja meraih tangan Suci, membuat Arsya langsung menangkis keras tangan Dimas hingga ia terjatuh di lantai.


"Sudah aku katakan bukan, jika aku hanya mengizinkanmu untuk sekedar berbicara pada anak dan juga istriku. Lantas apa maksudnya barusan kau ingin menyentuh istriku, hahh!!" Geram Arsya sambil berdiri.


Suci yang mulai melihat emosi Arsya mulai meninggi, ia langsung memegang lengan Arsya dan mencoba untuk menenangkannya. Begitu juga dengan Kay, dia hanya terdiam duduk sambil.melihat Dimas yang sudah tergeletak di lantai.


"Sabar Mas Arsya, sabar.. kamu tidak lihat di sini ada Kay. Kalau dia sampai mencontoh kejadian ini bagaimana? Dan juga kamu Mas Dimas, apa kamu sudah gila. Aku ini sudah menjadi milik Mas Arsya jadi jangan pernah kamu berpikir aku akan kembali padamu!" Tegas Suci yang membuat Dimas langsung berdiri di hadapan mereka.


"Milik Arsya? Bagaimana mungkin, pernikahan kalian saja tidak sah secara agama. Jadi kamu itu belum menjadi miliki siapa pun!" Jawab Dimas sambil menatap Suci.


"Ya memang pada saat itu pernikahanku tidak sah, tetapi setelah Kay lahir selang beberapa bulan kami kembali melangsungkan pernikahan yang hanya di hadiri oleh orang penting. Jika kau tidak percaya silakan tanya pada semuanya" Ucap Suci yang sudah kembali meneteskan air matanya.


Arsya hanya terdiam mencoba mengendalikan emosinya, apa lagi disini ada Kay yang masih sangat kecil. Jadi Arsya tidak mau sampai Kay mengikuti perbuatannya yang jelek.


Suci sangat tahu jika saat ini tangan Arsya kembali mengepal dengan keras menahan semua emosi di dalam tubuhnya, yang mana Suci langsung memegang tangan Arsya dan membuat Arsya menoleh kearahnya lalu tangan mereka saling menggenggam satu sama lain.


Di saat Dimas dan Arsya ingin melontarkan perkataan mereka, tiba-tiba saja mereka mendengar suara bariton anak kecil yang dari tadi hanya terdiam menahan semuanya.


Tetap sekarang tidak lagi, Kay tidak bisa melihat air mata Mommynya terjatuh hanya karena pria yang sudah menyakitinya kembali di hadapannya untuk membuka luka yang selama ini berusaha di tutup dengan hadirnya Arsya.


"SUDAH CUKUP DRAMANYA TUAN DIMAS!! JANGAN PERNAH KAU BERHARAP JIKA AKU DAN MOMMY AKAN KEMBALI PADAMU, PERCUMA SAJA KAU BERHARAP DENGAN SESUATU YANG TIDAK AKAN PERNAH TERJADI KARENA HASILNYA AKAN SIA-SIA"

__ADS_1


"INGATLAH BAIK-BAIK CINTA SUCI HANYALAH MILIK ARSYA SEORANG, BEGITU JUGA DENGAN CINTA ARSYA YANG HANYA MENJADI MILIK SUCI DAN SATU LAGI. SAAT INI DI DALAM PERUT MOMMY SUDAH ADA ADIKKU YANG AKAN HADIR KE DUNIA SEBAGAI BUKTI CINTA ARSYA DAN JUGA SUCI!"


"JADI UNTUK ITU MAAFKAN KAMI, KARENA KAMI SUDAH SANGAT BAHAGIA BERSAMA DADDY ARSYA TANPA ADA ATAU TIDAKNYA DIRIMU!"


Kay berdiri dengan tatapan yang sangat mematikan hingga matanya pun begitu merah menahan segala amarah yang ada di dalam hatinya, satu sisi Kay sangat kecewa dengan Dimas karena dia semudah itu mengatakan agar mereka kembali tanpa sedikit pun merasa bahwa sudah berapa banyak kesalahan yang dia perbuat.


Tetapi di sisi lainnya Kay juga tidak boleh sampai membenci Ayah kandungnya, karena itu bukalah ajaran yang kedua orang tuanya ajarkan sedari kecil untuk memiliki dendam di dalam hatinya.


Ucapan Kay mampu membuat Arsya yang awalnya merasa kesal kini malah tersenyum menatap anak kecil yang bertingkah bagaikan seorang pria dewasa. Suci langsung menatap Arsya sambil tersenyum yang mana kembali menatap Kay.


Mereka benar-benar sangat kagum, ternyata benar. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sebesar apa pun pendidikan atau serendah apa pun pendidikan peran keluarga jauh lebih penting. Karena banyak orang yang berpendidikan tinggi namun memiliki attitude rendah sama saja halnya seperti sekolah tapi tidak belajar.


"Bagaimana Tuan Dimas, apakah masih kurang jelas apa yang di katakan oleh anakku? Apa perlu aku yang mengulangi kalimat tersebut?" Ujar Arsya sambil menatap ke arah Dimas, yang membuat Dimas menatap Arsya dengan tatapan penuh amarah.


"Aku hanya mengajarkanya agar Kay bisa menjadi anak yang jauh lebih baik dari kedua orang tuanya, cuman semua kembali lagi kepada diri Kay. Walaupun usianya masih sangat kecil tetapi dia adalan anak yang sangat luar biasa, bahkan dia sudah bisa membedakan mana yang baik untuk di ambil dan menghindari hal yang buruk!"


"Apa kau lupa bahwa sikap seseorang itu tergantung bagaimana cara orang itu di perlakukan, jadi jangan salahkan aku dalam mendidiknya. Karena aku sangat yakin jikalaubpun Kay berada di tanganmu maka sikap Kay tidak akan bisa menjadi seperti ini"


Arsya berbicara dihiasi dengan senyuman miring ke arah Dimas yang mana membuat Dimas semakin merasa emosi sambil berkata, "Kaaaaauuuuuu...."


"Apa yang dikatakan suamiku itu benar adanya, Mas! Bahkan jika aku masih bersamamu aku juga tidak yakin jika Kay bisa bersikap seperti ini. Semua itu tergantung dari cara kita mendidiknya, bukan karena dia anak kandung siapa. Meskipun di dalam darah dagingnya mengandung darahmu, tetapi sikapnya dia mewarisi Mas Arsya. Dan aku merasa sangat senang saat tahu Kay mewarisi Mas Arsya bukan dirimu!" Sahut Suci.

__ADS_1


Lagi dan lagi Dimas dibuat kesal atas ucapan Suci yang seolah-olah meremehkan dirinya dalam mendidik anak. Hingga tanpa di sadari tangan Dimas mulai mengepal dengan tatapan penuh amarah dimana saat Dimas ingin melambungkan bogeman kepada Arsya, Kay langsung kembali mengatakan yang membuat Dimas kembali mengurungkan niatnya.


"Jika sampai kau berani menyentuh kedua orang tuaku sedikit saja, maka aku akan pastikan bahwa sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menatap wajahmu atau kalau perlu aku tidak akan mau menganggapmu sebagai AYAH KANDUNGKU!!"


"Daddy, Mommy ayo kita pergi dari sini" Kay pun berjalan lebih dulu menjauhi Dimas, yang langsung diikuti oleh Suci dan juga Arsya.


Tetapi sebelum pergi Arsya menepuk bahu Dimas sambil berkata, "Semua butuh proses, tidak ada yang instan Tuan. Mungkin kau memang tidak akan pernah bisa memiliki mereka kembali, tetapi setidaknya jika kau mau bersabar insyaAllah Kay akan kembali menerimamu sebagai Ayahnya dan kapan pun kau bisa menemuinya"


Arsya pergi meninggalkan Dimas dengan mengucapkan salam, sedangkan Dimas masih berdiri terdiam di tempat tanpa satu kata pun selain membalas salam dari Arsya.


Dimas benar-benar tidak bisa lagi menahan semua emosinya dimana kepercayaan dia yang sangat tinggi, kini telah di hancur lantaran Suci dan Kay lebih memilih hidup bersama Arsya. Ditambah lagi Suci sedang mengandung anak dari Arsya, seketika bayangkan yang ada di dalam pikiran Dimas langsung hilang.


Impian membina rumah tangga kembali bersama Suci serta Kay kini telah pupus di makan oleh waktu, karena Arsya yang di duga tidak akan bisa membahagikan Suci. Ternyata jauh lebih baik dari pada dirinya.


Emosi yang tidak bisa di kontrol oleh Dimas membuat Dimas langsung membanting semua makanan dan juga minuman yang dia pesan sehingga ruangan itu menjadi sangat gadung. Beberapa pelayan segera berhamburan mendatangi ruangan Dimas.


Sebagian orang ada yang menahan Dimas agar tidak kembali memecahkan barang-barang di ruangan tersebut. Dimas hanya bisa merangis meratapi nasibnya yang benar-benar sudah hancur.


Istri yang dulu dia campakan dan juga anak kandungnya sekarang telah bahagia bersama orang lain, sedangkan istri yang dia pertahankan malah menyimpan sebuah rahasia tentang Diva yang bukan anak kandungnya, di tambah lagi dengan kisah Papah Angga yang mana baru terungkap jika Papah Angga berpisah dengan Mamah Mita lantara Mamah Mita selalu merendahkan harga dirinya, bukan karena adanya pihak ke-3.


Rasanya Dimas ingin sekali menghilang dari dunia ini. Dia benar-benar tidak kuat lagi menjalani semuanya seorang diri akibat satu persatu orang yang dia sayangi sudah pergi dengan kisah yang berbeda-beda.

__ADS_1


Hingga akhirnya Dimas langsung menancap gas mobilnya pergi ke sebuah BAR berharap di sana bisa menenangkan pikiran akibat semua masalah selalu berhasil membuat kepalanya terasa sangat pusing, dan penat. Mungkin dengan segelas dua gelas minuman bisa sedikit meringankan beban yang saat ini ada di pundaknya.


__ADS_2