
Lisa yang sudah berhasil membuat Dion tertawa begitu gemas hingga tanpa di sadari kini Dion kembali berada di atas tubuh Lisa dan wajahnya sudah berada tepat di depan wajah Lisa.
Dengan perlahan Dion menyingkirkan tangan Lisa yang membuat Lisa hanya bisa menatap wajah Dion dengan begitu dalam hingga pada akhirnya Dion tersenyum.
"Apakah bisa kita mulai sekarang, hem..?" Tanya Dion sambil mengelus wajah Lisa dengan penuh kelembutan hingga Lisa pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum malu.
"Ta-tapi.. a-apakah ra-rasanya sangat sa-sakit?" Ucap Lisa dengan wajah yang sedikit ragu.
"Aku janji, aku akan bermain lembut dan tidak akan membuatmu kesakitan. Mungkin rasanya hanya seperti di gigit semut kok, jadi tidak usah khawatir ya.."
"Jika memang kau merasakan kesakitan cakarlah tubuhku untuk mengurangi rasa sakitmu itu, jadi kita akan impas bukan? Kau sakit dan aku pun juga sakit. Bagaimana?"
Dion mencoba memberikan pengertian terhadap Lisa hingga mereka pun tersenyum. Hasrat Dion yang memang sudah di ujung tanduk membuat sang Adik sudah tidak terkontrol lagi, sehingga Dion langsung kembali melakukan permainan kecilnya untuk memancing gairah yang ada di tubuh Lisa.
Lisa yang memang sangat sensitif dengan sentuhan Dion membuat tubuhnya sudah di ambang hasrat yang cukup tinggi, sampai seketika Lisa sudah mulai memberanikan diri untuk memulai melu*mat bibir Dion tanpa di minta.
Dion yang melihat reaksi tubuh Lisa membuat dirinya tersenyum di sela ciumannya, lalu dengan perlahan Dion memijit sang Adik serta mengarahkannya ke dalam lobang yang kini sedang berusaha Dion tembus.
"Aarrrghhhhh.. hikss.. sa-sakit Dion, sakit bod*doh!" Pekik Lisa sambil memukul dada Dion dengan sangat keras hingga Dion memberhentikan aksinya.
"Ssttt.. heii, sayang tenanglah tenang. Jangan banyak bergerak nanti Adikku akan lepas, ini baru hanya ujungnya loh belum semuanya. Jadi, sabar dulu ya.." Titah Dion dengan cemas.
"Hiks.. katamu tadi tidak sakit, lalu itu apa hahh!!! Dasar pembohong hiks.." Lisa menangis merasakan rasa sakit yang entahlah, baru masuk ujungnya sudah seperti cacing kepanasan bagaimana saat setengahnya atau full auto Dion bisa di garuk olehnya.
Segenap tenaga Dion keluarkan untuk kembali membuat Lisa tenang, hingga di menit yang ke-5 akhirnya Lisa sudah mulai tenang dan Dion pun bisa meneruskan membobol gawang yang masih sangat sempit.
"Jika kamu tidak bisa tenang maka rasa sakit itu akan semakin bertambah, jadi cobalah untuk sedikit menahannya dan jangan dilawan. Peluk tubuhku, serta cium bibirku sekuat tenagamu"
"Aku ikhlas asalkan adikku bisa memasuki rumahnya dengan sempurna. Aku janji dibalik rasa sakit yang akan kamu rasakan maka akan ada rasa nikmat yang membuatmu ketagihan"
Dion berbicara dengan nada lembutnya, sampai seketika Dion memulai kembali mencium lembut bibir Lisa lebih dulu di saat reaksi Lisa sudah mulai bagus dengan perlahan Dion kembali menekan sang Adik sedikit demi sedikit.
Lisa yang memang merasakan rasa sakit itu mencoba untuk menahannya hingga air matanya terus menetes, dan saat hentakkan ke sekian kalinya sang Adik berhasil memasuki rumahnya. Meskipun baru setengah namun itu sudah membuat bibir Dion menjadi korban gigitan Lisa.
"Arrrrrrghhhhhhh... hiks.. ma-maaf hiks.." Lisa menangis sambil meminta maaf yang mana Lisa tidak sengaja untuk menggigit bibir Dion. Tapi, Dion yang memang sudah tidak kuat lagi menahannya langsung menerobos sang Adik tanpa rem.
Jlebb...
Jlebbb...
Jleebbbb..
__ADS_1
Arrrghhhhhh....
Kini, keduanya berteriak hingga membuat mereka mendongak satu sama lain. Lisa yang merasakan tubuhnya telah di robek paksa membuat ia menangis tak henti-hentinya yang mana punggung serta bibir Dion memang sudah menjadi korbannya.
Sedangkan Dion pun yang baru pertama kali merasakan membuat sang Adik berkedut dengan kencang hingga merasakan kesakitan di ujung sang Adik lantaran mencoba menerobos apa pun yang menjadi penghalang di dalamnya.
Tesss...
Tesss...
Tesss...
Cairan merah menetes di sela-sela gawang Lisa yang menandakan bahwa segelnya telah terbuka bersaman dengan cairan merah yang juga menetes dari punggung Dion. Entahlah sudah ada berapa cakaran kuku Lisa hingga membuat cairan tersebut menetes.
"Terima kasih sayang, hari ini kau adalah milikku seutuhnya dan tidak akan ada yang bisa merebutmu dariku. Maaf jika aku sudah tidak bisa meneoati janjiku serta bermain dengan kasar, tapi jika aku tidak seperti ini maka aku akan semakin membuatmu tersiksa" Ucap Dion dengn wajah sedihnya.
"Hiks.. ti-tidak apa-apa sayang, aku mengerti. Aku juga minta maaf sudah membuatmu merasakan apa yang aku rasakan, aku mencintaimu Dion sunggu mencintaimu" Ujar Lisa yang langsung ******* bibir Dion untuk menahan cairan merah yang ingin menetes.
"Hemmpp.. a-ku juga mencintaimu, sangat mencintaimu sayang" Jawab Dion di sela ciumannya.
Di rasa sudah mulai tenang, Dion mencoba menggerakan sang Adik dengan perlahan hingga rasa sengatan demi sengatan kecil membangunkan gairah di dalam tubuh mereka.
"Arrrgghh.. hemp.. e-enakhh sa-sayang arghh.." Ujar Dion sambil mendongak ke atas merasakan sang Adik begitu nyaman di dalam sana.
Dion yang sudah tidak terkendali langsung melu*mat habis 1 gunung kembar Lisa sambil menggerakan pinggulnya dengan tempo sedang yang mana Lisa bisa merasakan sensasi yang berbeda.
Lisa hanya bisa menjambak rambut Dion merasakan betapa nikmatnya malam ini, entah kenapa rasa sakit yang Lisa rasakan seketika hilang begitu saja dengan tergantikan oleh rasa nikmat yang luar biasa.
"Ba-bayhhh.. fa-faster yes.. arghhh.. hemppt.. uhhh.." Ucap Lisa yang mulai ketagihan dengan gendotan maut Dion, hingga Dion begitu semangat memberikan goyangan terbaiknya.
"Yes, sayang.. i'm cooming uhh.. arghhhh.. hempt.. huhh.." Jawab Dion dengan menambah kecepatannya sampai membuat keduanya mendongak ke atas dengan merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Bahkan 2 gunung kembar Lisa pun seakan-akan melompat-lompat dengan brutalnya hingga hampir terlepas dari tempatnya, hingga kini tubuh keduanya mulai bergetar yang menandakan jika sesuatu akan segera keluar.
"Byhhh.. a-akuh ma-mau pipis arghhhh.." Ucap Lisa.
"Tunggu aku sayang, arghhh.. kita keluar bersama arghh.. uhh.. hempt.."
Dion langsung menambah ekstra kecepatan lagi sampai akhirnya mereka melakukan pelepasan bersama dengan tubuh yang bergetar hebat. Lisa dengan pelepasan yang ke 3 kalinya, dan Dion dengan pelepasan yang pertama.
Namun tidak berhenti sampai di situ saja. Dion yang memang belum puas langsung menyuruh Lisa untuk mengubah posisinya hingga mereka melakukan adegan posisi 69 yang mana awalnya Lisa menolak, tapi dengan bujuk rayu Dion akhirnya Lisa mencoba untuk memanjakan sang Adik dengan sesuatu di bawah sana yang sudah menyentuh mahkota Lisa.
__ADS_1
"Arrghhh.. e-enakh sayang, mainkan dengan lidahmu hempt.. huhh.."
"Yaaahhh.. se-seperti itu hempt.. arghh.. i-inih enak banget arghh.. terushhh sayangg.."
Dion yang merasakan sentuhan Lisa membuat dirinya tidak bisa terkentrol dan hanya bisa memejamkan kedua matanya dan terus memainkan benda kecil yang ada di dalam goa Lisa hingga membuat Lisa juga tidak bisa mengontrolnya lagi.
Hingga tidak tahu berapa lamanya mereka kembali melakukan pelepahan untuk sekian kalinya. Tapi, tenang tidak berhnti di sini saja. Dion kembali melakukan beberapa posisi hingga dengan gaya apa pun yang membuat mereka akan merasa puas.
Sampai tidak terasa waktu terus berjalan yang mana jam sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi, yang mana mereka masih dalam hasrat yang menggebu-gebu.
"Sayang, aku cape..." Keluh Dion sambil merebahkan tubuhnya saat dirinya merasa tubuhnya mulai kehabisan tenaga, namun Lisa terus merengek menginginkannya lagi.
Entahlah, kenapa di sini malah Lisa yang begitu kuat dari Dion tenaganya? Ya, tidak heran karena Dion terus yang memimpin permainan. Sedangkan Lisa hanya menikmatinya saja, tidak adil bukan?
"Tapi aku mau lagi, Dion. Ayolahh.. pleasee sekali lagi ya? Habis itu kita tidur, nanggung sampai jam 4 ya hihi.." Rengek Lisa yang memeluk tubuh Dion, hinga membuat Dion begitu gemas.
"Hem.. dasar wanita aneh, awalnya menangis kaya cacing kepanasan sekarang malah ke enakan bahkan ketagihan pula.."
"Huhhh.. baiklah, tapi kau yang memimpin permainan sebagai penutupnya bagaimana? Aku juga mau merasakan goyangan maut istriku ini seperti apa, hem.."
Dion menggoda Lisa hingga membuat wajahnya memerah dan langsung menenggelamkan nya di dada Dion yang mana Dion malah tertawa kecil.
"A-aku tidak bisa Dion, ba-bagaimana cara me-memimpin permainan ini?" Tanya Lisa dengan wajah memerahnya.
"Nanti akan aku ajari, jadi kamu naik ke tubuhku sini. Lalu kamu duduk tepat di depan Adikku dengan keadaan berjongkok" Ucap Dion.
Lisa yang memang penasaran bagaimana cara memimpin permaina pun bergegas mengikuti arahan Dion yang mana membuat Dion tersenyum.
"Kau pegang Adikku dan urut dengan perlahan. Lalu arahkan ke dalam lubangmu itu dan tekan dengan perlahan sampai dia benar-benar masuk sempurna. Setelah sudah masuk barulah kamu goyangkan pinggulmu perlahan" Titah Dion yang langsung di angguki oleh Lisa.
Lisa yang memang tidak begitu paham membuat Dion gemas dan langsung membantunya hingga sang Adik masuk dengan sempurna.
Aaarggghhhhhh....
Mereka menge*rang secara bersamaan, lalu Dion membantu Lisa untuk menggoyang pinggulnya hingga mereka berdua merasakan sensasi yang berbeda dari apa yang sudah mereka lakukan.
Sehingga pada akhirnya mereka melakukan pelepasan untuk yang ke 15 kalinya, dan keduanya pun tepar dalam keadaan yang sama-sama puas.
"Terima kasih sayang, i love you so much istriku" Ujar Dion sambil memeluk Lisa.
"I love you so much suamiku.." Jawab Lisa sambil memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Sampai seketika mereka tertidur dalam keadaan wajah yang sangat lelah dengan selimut yang menyelimuti tubuh polosnya.