Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Leukimia Stadium 3


__ADS_3

Sang dokter menarik nafasnya dengan perlahan sambil menatap ke arah Diva, kemudian kembali menatap semuanya secara bergantian. Lalu sang dokter mengatakan...


"Sebelumnya saya minta maaf, apa yang saya katakan semalam ternyata benar adanya. Setelah saya membaca keseluruhannya hasil tes berulang kali, saya akan mengatakan bahwa Nona Diva mengidap penyakit LEUKIMIA STADIUM 3"


Jeedeeerrrrr....


Sebuah kilatan besar seketika menyambar tubuh Dimas dan juga Mamah Mita, mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Diva yang terbilang masih sangat muda bisa menerima cobaan begitu berat.


Mamah Mita terdiam mematung sambil memegangi dadanya yang saat ini berdetak begitu kencang, hingga nafasnya memburu sangat cepat. Elsa yang mendengar itu malah terlihat biasa saja, namun yang dia takutkan hanya 1 hal. Jangan sampai ada sesuatu yang mengharuskan Dimas serta Diva melakukan tes secara bersama-sama.


"Le-leukimia sta-stadium 3?" Gumam Dimas sambil matanya menatap ke arah Diva yang masih tertidur pulas di atas bangkarnya dalam keadaan wajah pucat.


"Ya Tuan, apakah Tuan tidak mengetahui semua ini? Padahal Leukimia itu selalu identik dengan demam yang sangat tinggi, mimisan atau keluar darah secara tiba-tiba tanpa henti, belum lagi penurunan berat badan dan juga gampang sekali kelelahan. Jadi apakah selama ini tidak ada yang menyadari tentang penyakit tersebut?" Jelas dokter dengan tatapan bingung.


"Ti-tidak Dok, waktu kecil ketika Diva umur 2 tahun dia memang sering sekali demam jadi beberapa kali saya bawa ke rumah sakit namun tidak ada gejala apa pun. Dokter hanya mengatakan bahwa kondisi tubuh Diva tidak seperti anak pada umumnya, tubuhnya sangat rentan ketika sedang kelelahan. Lantas bagaimana bisa Diva mengalami Leukimia separah itu bahkan sudah stadium 3?" Jawab Dimas.


"Mungkin kalian semua terlalu menyepelekan keadaannya ketika sedang sakit sehingga tanpa di sadari penyakit itu terus menerus menyebar hingga saat ini. Lalu apakah selama ini Nona Diva suka mengeluh tentang apa yang di rasanya?" Tanya Dokter kembali dengan wajah serius.


"Entahlah, aku sebagai Ayahnya pun telah gagal menjaga anakku hiks.. bocah seusianya bisa menyembunyikan penyakit yang sangat mematikan cuman dengan mengatakan. Aku gapapa Ayah, aku sehat aku cuman pusing dan badanku sedikit lemas nanti setelah aku minum obat juga sudah enakan. Hiks.. dia selalu pandai merangkai kata-kata agar terlihat baik-baik saja di depan semua orang"


"Lantas bagaimana ini, Dok? Langkah apa yang harus di lakukan demi kesembuhan anakku, aku mohon Dok selamatkan anakku. Aku mohon hiks.."


Dimas memegang erat kedua bahu sang dokter sambil menggerakan tubuh dokter tersebut, hinga membuat sang dokter berusaha menenangkan Dimas agar tidak semakin panik. Mamah mita cuman bisa terdiam dengan keadaan masih syok, ketika cucu kesayangannya hanya bisa terbaring lemas.


"Diva sayang, ke-kenapa kamu menyembunyikan semua rasa sakitmu pada Nenek Nak? Ke-kenapa hiks.. be-berapa kali Nenek bilang kalau kamu itu tidak sedang baik-baik saja. Tetapi kamu tetap menyangkal itu semua dan membuat Nenek kembali mempercayaimu hiks.. ma-maafkan Nenek Diva ma-maafkan Nenek hiks.."


Mamah Mita langsung memeluk Diva dan menangis meraung-raung hingga Elsa yang melihatnya hanya bisa tetap terdiam dengan semua ketakutannya.

__ADS_1


"Keadaan Nona Diva semakin lama semakin menurun Tuan, tidak mungkin jika kita melakukan kemoterapi karena posisi Nona Diva sudah tidak sadarkan diri"


"Tetapi, ada 1 cara. Hanya saja saya tidak bisa menjamin itu akan membantu kesembuhan Nona Diva atau tidak. Yang penting kita lakukan semua cara agar Nona Diva kembali tersadar lebih dulu"


Sang dokter menjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk menyembuhkan Diva atau paling tidak membuat Diva kembali membuka matanya, karena jika kondisi Diva seperti ini peluang untuk sembuh sangatlah sedikit bahkan nyaris tidak ada.


"Apa itu, Dok? Katakan, cepat katakan!!" Pekik Dimas yang sudah menangis.


"Kita harus segera melakukan transplantasi sel induk untuk mengganti sumsum tulang Nona Diva yang sudah rusak, jadi kita harus segera mencari pendonor. Tetapi Tuan tidak usah khawatir karena di salah satu kedua orang tua pasti ada yang sama dengan Nona Diva sama halnya dengan mendonor darah"


"Jika kalian bersedia, maka segera lakukan beberapa tes untuk memenuhi syarat menjadi pendonor agar kita bisa menyelamatkan Nona Diva. Saya sudah tidak punya banyak waktu karena keadaan Nona Diva semakin menurun"


Seketika kedua kaki Elsa melemas yang membuat Elsa langsung terjatuh di lantai dalam keadaan pandangan kosong, Dimas yang melihat itu langsung membawa Elsa ke sofa serta langsung memberikan minum agar membuat Elsa sedikit tenang.


Ketakutan yang Elsa alami selama ini benar-benar terjadi dimana Dimas telah bersedia untuk mendonorkan tulang sumsumnya untuk Diva sedangkan Elsa dia masih tidak bisa berkata apa-apa karena pikirannya melayang entah kemana.


...*...


...*...


Keesokan harinya tepat di hari Minggu pukul 8 pagi, semua sudah kumpul di depan ruangan Diva. Yang mana hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu apa lagi kebenaran tentang Diva sebentar lagi akan terungkap.


Suci, Arsya, dan juga Papah Angga sudah berada di depan ruangan Diva bersama yang lain. Hanya saja Bunda Reni sama Ayah Al mereka malah memilih untuk menunggu Kay di ruangannya.


"Bagaimana ini? Astaga.. habislah riwayatmu Elsa, semoga saja anak itu beneran anak Dimas. Kalau tidak, aku harus cari cara supaya Dimas tidak akan menendangku dari rumahnya!" Gumam Elsa di dalam hatinya dengan perasaan gelisah.


Suci, Arsya dan juga Papah Angga yang melihat tingkah Elsa sangat khawatir dengan hasil tesnya membuat mereka cuman bisa tersenyum penuh arti. Dimana sudah tidak di ragukan lagi kalau Diva memang bukanlah anak Dimas.

__ADS_1


Tak lama seorang dokter datang dari arah jauh yang membuat semuanya pun berdiri serta mengerubunginya kecuali Suci, Arsya dan Papah Angga yang hanya berdiri sedikit jauh namun masih bisa memantau semuanya.


"Bagimana hasilnya, Dok. Siapa yang cocok? Saya atau istri saya?" Tanya Dimas dengan cemas.


"Pasti suami saya kan Dok yang cocok?" Sambung Elsa begitu panik.


"Kalian itu bisa tidak sih, diam dulu. Biarkan dokter menjelaskan semuanya, aku yakin pasti Dimas yang cocok sama Diva karena dia Ayahnya" Tegas Mamah Mita, namun di dalam hatinya dia begitu penasaran dengan hasil tes tersebut.


"Tenang dulu semuanya, saya belum melihat hasilnya karena masih tersegel rapat. Jadi saya akan bukanya sekarang di depan kalian semua"


Sreeettttt...


Dokter merobek segel amplop yang tertera serta mengeluarkan selembar kerta yang bertuliskan nama Elsa Anandita.


"Yang pertama saya akan membacakan hasil tes dari Nyonya Elsa selaku Ibu dari Nona Diva, di sini tertera bahwa golongan darah Nyonya tidak cocok dan juga tulang sumsum Nyonya tidak memenuhi syarat"


"Itu artinya Nyonya Elsa tidak bisa menjadi pendonor lantaran tidak ada kecocokan sama sekali dengan Nona Diva"


Deghh.. deghh.. deghh..


Jantung Elsa berpacu dengan cepat mendengar penjelasan dari dokter yang mana kalau golongan darah Elsa dengan Diva tidak cocok, berarti hanya ada satu harapan yaitu Dimas. Ya, Dimas tetapi jika Dimas tidak cocok maka habislah riwayat Elsa hari ini berkat semua rahasianya selama ini telah terungkap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai guys.. jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Semoga dari beberapa banner yang aku publish ini ada yang sesuai dengan genre kalian sebagi pembaca 🥰 Terima kasih.....


...Lets go di serbu... 🤸🤸...

__ADS_1



__ADS_2