Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Menyemil Di Malam Hari


__ADS_3

Rumah besar, mewah dan juga indah sekarang telah berubah menjadi rumah penuh kegelapan yang di kelilingi oleh kabut tebal berwarna hitam atau bisa di sebut dengan KARMA.


...*...


...*...


Dimas yang sudah mengetahui kasus perceraian kedua orang tuanya membuat konsentrasi pikirannya semakin kacau, dimana seharusnya Dimas fokus berjuang sekuat tenaga untuk membuat keuangan perusahaannya stabil kini malah menjadi terbagi.


Antara perceraian orang tuanya, kasus Vina yang sudah ketahuan dikeluarkan dari Universitas, kondisi Mamah Mita yang mulai sakit-sakitan dan juga sifat istrinya Elsa yang semakin hari semakin boros hingga setiap hari selalu saja terdengar keributan.


Apa lagi tanpa sepengetahuan Dimas, Elsa mengikuti semua ajang untuk menjadi model terkenal yang mana tanpa Elsa ketahui di Paris Suci sudah terdaftar jadi model hijab terkenal bahkan Suci juga sudah mulai mendalami sekolah disainer agar dia bisa mengelola perusahaannya sendiri.


Tepat 2 tahun Suci dan Arsya berada di Paris, Mamah Mita sama Papah Angga pun sudah resmi bercerain secara agama dan juga negara. Hingga keduanya sudah berdamai dalam keadaan masing-masing.


Suci, Arsya, Bunda Reni dan juga Ayah Al sudah mengetahui semuanya tetapi mereka hanya bisa mendoakan untuk kebaikan Papah Angga karena mereka tidak bisa datang menghadiri serta menyaksikan persidangan.


...*...


...*...


Di Paris..


Hari ini adalah hari libur dimana Suci dan juga Arsya sedang pergi ke suatu tempat menggunakan mobil sambil mengajak Baby Kay agar bisa mengenal betapa indahnya kota Paris.

__ADS_1


Baby Kay berdiri di bawah sambil bermain pintu yang mana semua pintu sudah di kunci rapat oleh Arsya, Baby Kay mulai lincah ketika berjalan bahkan Baby Kay juga sudah mulai aktif mengoceh.


"Heii.. jagoan Daddy, hati-hati nanti jidatmu itu bisa-bisa terpentok dasbor mobil langsung nangis" Ledek Arsya sambil melirik Baby Kay yang mana Baby Kay berbalik memegang dasbor mobil sambil meledek Arsya dengan lidahnya.


"Hihihi.. gemasnya anak Mommy ini" Suci menjaga Baby Kay dan memegangi tubuh mungilnya agar tidak sampai terpentok.


"Yaaaakkk.. berani-beraninya kamu di bilangin Daddy malah melet-melet, siapa yang ngajarin hem.." Pekik Arsya sambil menatap jalanan sesekali menoleh kearah Baby Kay.


"Hihihi.. ntuhhh.. Omi" Baby Kay menunjuk ke arah Suci yang membuat Suci terkejut sambil membuka mulutnya lebar.


"Haaaahhh.. kok Mommy sih, kan Mommy enggak pernah ngajarin begitu Daddy kali..." Sahut Suci tidak terima jika yang jelek-jelek tentang Baby Kay selalu menunjuk ke arah dirinya, tetapi jika yang bagus selalu saja menunjuk ke Arsya.


Itulah Baby Kay, dia benar-benar kompak sekali dengan Arsya hingga terkadang apa yang di lakukan Arsya membuat Baby Kay menirunya.


Sedangkan Arsya selalu saja terkekeh geli saat melihat Baby Kay yang berseteru dengan Suci, sampai tak terasa mereka sudah di Disneyland Paris. Mereka menikmati masa liburnya bersama-sama, bahkan tidak hanya satu tujuan mereka juga pergi ke kebun binatang Parc de Thoiry.


Tepat di depan meja sudah terdapat beberapa cemilan yang mana membuat Arsya hanya bisa mengelus dadanya, lalu tiduran di atas paha Suci.


"Sayang, sepertinya kamu harus berhenti mengemil. Tidak baik jika kamu mengemil saat jam sudah menunjukkan diatas jam 7 malam" Ucap Arsya sambil menatap Suci yang kini sedang memakan ciki dengan rasa coklat.


"Memangnya kenapa? Kamu takut kalau aku gendut Mas?" Tanya Suci dengan wajah sedikit kesal sambil menunduk menatap Arsya.


"Eohhh.. e-enggak bu-bukan begitu Sayang, ta-tapi kan kata dokter nyemil malam itu tidak sehat loh. Apa lagi setiap malam kamu selalu menyemil begitu banyak, sampai-sampai setiap hari saat kamu pulang kuliah selalu penuh dengan belanjaan cemilan" Jelas Arsya.

__ADS_1


"Ohhh.. aku tahu, kamu berbicara begini karena kamu takut kan jika kamu akan jatuh miskin karena jajanku banyak? Yaelah Mas, tenang saja. Suci tidak pernah menghamburkan uang yang Mas Arsya berikan, tetapi semua uang Mas Arsya Suci habiskan untuk perut dan keperluan kita sehari-hari serta Baby Kay" Celoteh Suci.


Arsya bangun dan duduk dengan tegak di sebelah Suci serta menatapnya, yang mana Suci hanya menatap layar tv sambil mulutnya terisi penuh dengan cemilan di tangannya.


"Aku tidak akan pernah mempermasalahkan kamu mau gunakan buat apa semua uangku itu, bahkan aku juga bisa membuatkan 1000 pabrik makanan dalam waktu singkat agar kamu tidak usah repot-repot membelinya lagi"


"Aku berbicara seperti ini karena aku takut jika kamu kenapa-kenapa apa lagi kamu itu nyemil udah terlalu banyak loh, belum lagi tadi saat jalan-jalan sepanjang jalan kamu minta beli ini itu dan sebagainya tanpa rasa lelah. Sedangkan aku sama Baby Kay aja cuman makan sedikit udah kenyang gara-gara lihat cara makanmu itu" Celetuk Arsya.


"Ya sudah kalau begitu kamu tutup saja matamu dan jangan pernah melihatku ketika lagi makan, lagian aku juga tidak masalah jika tubuhku menjadi gendut. Toh aku sudah punya suami, anak, dan juga keluarga jadi buat apa aku harus menjaga tubuhku jika dengan apa adanya diriku bisa membuat semua keluargaku bahagia" Cerocos Suci dengan nada sewotnya.


Arsya hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan Suci bagaikan seorang bocah yang susah untuk dinasehati. Bahkan terkadang sikap Suci juga suka berubah-ubah terkadang bahagia, terkadang, manis, dan juga bisa-bisa nangis sampai seharian hingga membuat Arsya kebingungan.


"Huhhh.. terserah kamu aja deh, percuma aku memberikan nasehat juga kamu tidak akan mendengarnya malah nyerocos mulu kek mobil gak ada remnya" Ucap Arsya yang kembali tiduran di paha Suci.


"Kata siapa? Orang dari tadi aku dengarin kok, kamunya aja kali yang budek! Makannya kalau lebaran itu beli katembat bukan beli linggis. Jadi kebablasan kan, kuping kanan nyambung sama kuping kiri"


Entah kenapa Suci benar-benar tidak tahu dia selalu saja menjawab apa pun yang di ucapkan Arsya, bukan melawan. Tetapi lebih tepatnya sih karena Suci tidak mau kalah dalam hal berbicara. Sedangkan Arsya hanya bisa memejamkan matanya perlahan dan kembali membuka matanya lalu menoel-noel perut Suci yang masih rata.


"Issshhh.. apaan sih Mas, janganlah noel-noel begitu geli tahu. Kalau mau nyusu ya sudah nyusu aja tapi jangan menggangguku karena aku lagi seru menonton drakor!!" Ucap Suci membuat mata Arsya membola yang hampir saja copot.


"Se-serius bo-boleh a-aku menyusu? Bi-biasanya ka-kamu selalu melarangku dengan berbagai alasan. Tapi sekarang-..." Arsya berbicara dengan mata berbinar namun saat ucapannya belum selesai Suci langsung bertindak yang membuat Arsya benar-benar begitu terkejut.


"Ckkk.. kelamaan, udah sih diem aja nyusu sono sepuasnya jangan berisik!!" Tita Suci saat kepala Arsya sudah masuk ke dalam bajunya hingga mata Arsya benar-benar berbinar sangat cantik saat melihat buah Cerry semakin sekal dan juga mulai membesar.

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi Arsya membuka ikatan pengait yang mutupi buah Cerrynya, lalu melahapnya satu persatu menikmati rasa yang sangat berbeda dari biasanya.


Sedangkan Suci dia tetap menyemil sambil meneruskan menonton drakor kesukaannya tanpa mengiraukan hisapan, jilatan atau pun gigitan kecil yang Arsya berikan agar membuat fokus Suci teralihkan. Namun, sayangnya Arsya tidak berhasil karena Suci akan tetap terus menontonnya hingga film pun habis.


__ADS_2