
Suci yang melihat wajah Arsya berubah membuat ia sedikit cemas, dengan penuh keberanian Suci langsung bertanya kepada Arsya.
"Mas, kamu gapapa? Ada apa sih... kenapa kamu terlihat kesal seperti itu? Apa ada masalah?” tanya Suci yang membuat Arsya menoleh ke arahnya dengan tatapan kecewa.
“Ma-maafkan aku Suci, karena hari aku belum bisa membuatmu senang. Orang kepercayaanku barusan mengabariku jika di kantor ada sedikit masalah, jadi aku harus ke sana untuk menyelesaikannya. Tapi sebelum itu, aku mau mengantarmu pulang terlebih dahulu ya...” ucap Arsya yang sesekali menoleh ke arah Suci dan juga fokus pada laju mobilnya.
“Oh begitu... ya sudah tidak apa-apa Mas, kan masih ada malam hari hehe... ta-tapi...” ucap Suci terhenti yang membuat Arsya menolehnya sebentar dan kembali menyuarakan suaranya.
“Tapi apa? Kamu takut jika aku ingkar janji lagi? Tenang saja, kali ini aku tidak akan mengecewakanmu kok. Setelah selesai meetingnya aku akan langsung menjemputmu dan kita pasti akan bersenang-senang sesuai dengan janjiku oke...” ucap Arsya, namun Suci menggelengkan kepalanya yang membuat Arsya bingung.
“Kamu enggak mau pergi denganku? Jadi kamu marah begitu? Baiklah, aku akan membatalkan meetingnya dan-...” ucap Arsya terhenti saat Suci langsung memotongnya.
“Ishh... bukan begitu maksudnya Mas...” sahut Suci.
“Terus tadi itu kamu ngomong tapi itu tapi apa coba?” tanya Arsya yang malah membuat Suci cengengesan sehingga Arsya yang melihatnya menjadi sedikit merinding.
“Ke-kenapa ketawa begitu? Ja-jangan jangan kamu ketempelan ya...” ucap Arsya yang membuat Suci langsung cemberut.
“Yaaaakk... enak saja, Mas Arsya ini kenapa sih susah banget buat pekanya. Aku itu mau ikut ke kantor tahu, kenapa? Enggak boleh? Ya sudah aku pulang saja...” celetuk Suci yang membuat Arsya kembali frustrasi.
“Astagaa... hari ini ada apa sih, kenapa Suci bawaannya marah-marah mulu padaku. Bahkan sekalinya dia berbicara kenapa kesannya jadi selalu aku yang salah...” gumam Arsya di dalam hatinya.
“Sudah aku bilang jangan mengumpat tentangku, Mas Arsyaaaa...” pekik Suci yang membuat Arsya refleks menginjak remnya dengan sangat pakam.
Cccciiiiattttt....
Bughhhh...
Arrrghhh...
Awwsshhh...
Suci berteriak kesakitan saat keningnya sudah mencium dasbor mobil dan terbentur lumayan keras.
“Huaaaaa... Mas Arsya jahat mau membunuh Suci ya? Ya itu pun kalau Suci meninggal, lah kalau Suci anemia bagaimana? Bisa-bisa Suci lupa semuanya...” pekik Suci yang langsung menatap Arsya sambil memegangi keningnya.
Sedangkan Arsya terdiam seribu bahasa, ia benar-benar telah dibuat bingung, frustrasi dan juga terkejut. Entah mengapa hari ini Suci begitu menyebalkan, jika boleh memilih Arsya mau Suci menjadi pendiam saja agar suaranya tidak terlalu berisik di telinganya. Tapi Arsya juga tidak mau Suci menjadi pendiam karena sama saja seperti dia sedang mengajak ngobrol sebuah patung.
“Amnesia bukan anemia. Kamu kira hanya terbentur dasbor mobil bisa membuat orang sampai kekurangan darah apa” jawab Arsya dengan kesal.
“Ya maaf namanya juga orang kaget jadi asal nyebut. Lagian juga namanya kan sangat mirip, jadi maklum jika lidahku keserimpet” ucap Suci.
“Ya ya ya terserah... Dahlah aku mau ke kantor, terus kamu aku antar pulang biar istirahat di rumah” ucap Arsya yang kembali melajukan mobilnya.
“Aku mau ikut boleh ya, Mas pliss...” ucap Suci dengan mata berkaca-kaca, dan membuat Arsya yang melihatnya menjadi kasihan.
__ADS_1
“Ya sudah, tapi ingat jangan bikin ulah di kantorku nanti paham...” ucap Arsya dengan sedikit keterkejutannya saat mendengar sorakan Suci yang begitu bahagia.
Padahal Arsya hanya mengizinkan Suci untuk ikut bersamanya ke kantor, namun itu sudah berhasil membuat Suci begitu bahagia.
“Kalau hanya dengan mengajaknya ke kantor bisa membuatnya sebahagia ini, kenapa enggak dari kemarin-kemarin saja aku bawa dia setiap hari ke kantor tanpa perlu repot-repot membujuknya” gumam Arsya kembali yang melihat Suci masih dengan ekspresi senang.
...*...
...*...
Cahaya Intan Berlian Company
Arsya dan Suci baru saja sampai di depan perusahaan Arsya yang begitu mewah. Mereka langsung di sambut oleh beberapa bodyguard yang selalu berjaga di sana tanpa adanya hari libur. Mereka berdua keluar dari mobil dengan di bukakan pintu oleh para bodyguard.
Semua bodyguard itu sangat gagah, sangar, datar, dingin dan juga menyeramkan. Tapi entah kenapa Suci malah mencubit pipi dari salah satu bodyguard Arsya yang paling ganteng sehingga membuat semuanya refleks terkejut bukan main.
“Succii... apa yang kamu lakukan pada bodyguardku...” pekik Arsya yang langsung menarik Suci untuk berada di belakang tubuhnya.
“Issshh... apaan sih Mas, orang cuma nyubit memangnya enggak boleh apa? Lagian dianya sih siapa suruh punya wajah yang tampan dan juga imut ya jadinya aku kan berasa kaya pengen bawa pulang gitu hihi...” ucap Suci sambil cengengesan yang membuat Arsya melototkan matanya.
Lalu Arsya menatap semua bodyguard yang ada di sana untuk memberi kode agar mereka segera pergi menjauhi diri mereka dari sisinya Suci. Kemudian para bodyguard itu langsung pergi begitu saja yang membuat Suci sedikit sedih.
“Yaaahhh... kok pergi sih, kan aku masih mau melihat bodyguard tampan itu loh...” ujar Suci dengan nada lirihnya.
“Apa kamu sudah gila, hah! Kamu lupa jika aku ini adalah calon suamimu, tapi kenapa kamu malah mencubit pria lain? Kenapa bukan aku saja yang kamu cubit.” pekik Arsya yang malah membuat Suci menatapnya dengan sangat malas.
“Mas kan baru calon suamiku bukan suami beneran. Lagipula siapa yang tahu kan kalau yang akan menjadi suamiku itu mungkin saja bodyguardmu yang tampan itu, bukan majikannya yang menyebalkan ini” sahut Suci yang langsung berjalan memasuki kantor dan meninggalkan Arsya yang masih terdiam mencerna ucapannya.
“Astaga... ada apa sih sama Suci, apa karena dia depresi makanya sifatnya seperti ini? Tapi tidak mungkin, masa ada orang depresi senyebelin ini arrggh.. tahu lah...” gumam Arsya yang langsung masuk ke dalam menyusul Suci.
Arsya mencari keberadaan Suci yang cepat sekali menghilangnya, bagaikan di telan bumi.
“Ya ampun... ini bocah pergi kemana sih, cepat banget jalannya kayak pernah ke sini saja. Biasanya kalau orang baru pertama kali datang ke sini akan menjadi linglung dan bingung, tapi Suci? Dia benar-benar sangat berbeda...” ucap Arsya sambil berjalan mencari Suci.
Pada akhirnya Arsya berhasil juga menemukan Suci yang mana dia malah berdiri sambil melipat tangannya di dadanya dan berdiri tepat di depan lift.
“Mas Arsya lama banget sih jalannya sudah kek keong aja. Katanya ada meeting penting, ini malah lelet banget” sahut Suci yang membuat Arsya benar-benar sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perdebatan mereka.
Arsya sadar mau sampai kapan pun dia berdebat dengan Suci, pasti dia akan tetap kalah. Entah karena Arsya lemah, atau karena ia sudah mencintai Suci sehingga dia mudah menyerah pada Suci.
Kemudian mereka memasuki lift menuju ruangan meeting yang berada di lantai yang sama dengan ruang kerjanya Arsya. Saat pintu lift terbuka, mereka sudah di sambut oleh orang kepercayaan Arsya.
“Selamat siang Tuan...” ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.
“Hemm...“ sahut Arsya hanya dengan deheman yang membuat Suci meliriknya dengan tatapan malas.
__ADS_1
“Orang di sapa bukannya jawab yang benar ini malah cuman hem... ham... hem... udah kek orang bisu” gumam Suci yang membuat Arsya langsung menatapnya.
“Apa? Mau marah?” ucap Suci kembali yang membuat Arsya hanya bisa menarik nafasnya dengan kasar.
“I-ini be-benarkan yang aku lihat saat ini? Ke-kenapa Tuan Asya begitu takluk pa-padanya?” ucap orang kepercayaan Arsya dengan tatapan aneh yang membuat Arsya paham.
“Kenalin... dia adalah calon istriku, kau bisa memanggilnya dengan sebutan Nyonya” ucap Arsya yang membuat Suci melototkan matanya.
“Tidak... jangan dengarkan dia. Panggil aku Suci saja tanpa embel-embel apa pun, paham!” tegas Suci yang malah membuat Arsya menatapnya dengan kesal.
“Aku bilang Nyonya ya Nyonya, paham!” tegas Arsya.
“Aku maunya Suci, titik!” tegas Suci.
“Nyonya!!” pekik Arsya sambil menatap Suci dengan tajam.
“Sucii!!!!” pekik Suci yang juga menatap Arsya dengan tatapan tajam.
Kini mereka berdua malah ribut hanya karena sebuah panggilan sehingga membuat orang kepercayaan Arsya menjadi bingung dan juga kesal.
“Aku akan memutuskan untuk memanggilnya dengan sebutan NONA, jadi stop berdebat sekarang!” tegas orang kepercayaan Arsya yang membuat keduanya terdiam seribu bahasa.
“Sudah tidak ada banyak waktu lagi, mereka sudah menunggu di dalam. Jadi Tuan mohon segara masuklah ke dalam” ucapnya kembali yang membuat keduanya segera berjalan ke arah ruangan meeting, sedangkan orang kepercayaannya Arsya malah terkekeh kecil di dalam hatinya.
“Hihi... baru kali ini aku akhirnya bisa menaklukkan Tuan Arsya. Ternyata begini ya rasanya jadi Tuan Arsya yang bisa membuat semua orang tunduk padanya. Pantas saja dia bersikap dingin, ternyata jadi bos itu sangat enak haha...” gumam kepercayaan Arsya.
Namun saat Arsya ingin ruangan, dia menyadari jika ada kesalahan pada dirinya. Lalu segera mungkin ia berbalik dan menatap orang kepercayaannya yang sedang tertawa sangat kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1