
Dimas pun berjalan menuju sofa dan langsung saja dia duduk dengan menundukkan kepalanya. Dimas memikirkan apa dan bagaimana semua ini bisa terjadi karena dia masih tidak bisa terima jika keluarganya kini terasa seperti sangat asing baginya. Bahkan istrinya pun yang kini tidak peduli dengan suami dan anak mereka.
...*...
...*...
Tepat saat jam makan malam, keluarga Dimas sedang asyik menikmati masakan yang di buatkan oleh Bi Tin. Sedangkan di luar rumah terdapat seorang wanita yang baru saja turun dari sebuah mobil.
Sementara itu, security yang ada di depan gerbang keluarga Dimas merasa terkejut dengan penampilan wanita tersebut.
Kemudian, mobil itu pergi meninggalkan rumah keluarga Dimas dan wanita tersebut malah berjalan mendekati pos security dengan sempoyongan.
"Hai, Pak security yang baik dan budiman. Bisakah kalian membukakan pintu untuk Vina yang cantik, seksi dan sangat jelita ini.." ujar Vina sambil menunjukkan wajah centilnya yang mana tubuhnya tidak bisa berdiri dengan tegak.
Kedua security saling menatap satu sama lain dengan tatapan aneh, kemudian salah satu security langsung membukakan pintu gerbang dengan wajah bingungnya namun mereka juga tidak berani untuk bertanya.
Vina pun berjalan masuk menuju rumahnya dengan kadaan yang sempoyongan sehingga dia tidak bisa berjalan dengan benar. Hinga tiba-tiba Vina berjalan miring dan menabrak pohon yang ada di dekat teras rumah.
"Hahaha... Kenapa juga ini pohon tiba-tiba numbuh di sini. Perasaan tadi aku cuma liat ada tunas pohon, tapi kenapa tiba-tiba sudah jadi sebesar ini hahaha..."
Vina pun berbicara sambil menepuk-nepuk pohon tersebut dan berjalan menuju pintu. Tanpa mengetuk atau pun mengucap salam, Vina langsung masuk dengan kasar.
Braaaakkkk! ...
Suara bantingan pintu bersamaan dengan Vina yang masuk dalam keadaan sempoyongan. Mendengar suara tersebut, semua orang yang ada di meja makan langsung berhenti makan dan menatap satu sama lain.
"Haiii.. Vina kesayangan kalian sudah kembali. Kalian semua ada dimana? Kenapa tidak ada satu orang pun yang menyambutku.." teriak Vina berjalan melewati ruang tamu menuju ruang makan.
__ADS_1
"Ini sepertinya suara Vina, tapi kenapa dia berteriak? Biasanya Vina kalau pulang langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan sepatah pun. Namun, kali ini berbeda" ucap Mamah Mita dengan wajah bingungnya.
"Jika orang yang biasanya tidak bersuara tapi tiba-tiba bersuara sekeras itu, maka ada sesuatu yang salah. Mungkin saja dia belajar seperti ini dari seseorang!" celetuk Papah Angga sambil melirik sekilas Mamah Mita.
"Apa maksud dari lirikan matamu? Maksudmu aku yang mengajarkan dia seperti itu, lalu memangnya ajaran seperti apa yang kau berikan padanya sehingga setiap tingkah buruknya selalu aku yang di salahkan" ucap Mamah Mita dengan kesal.
"Sudahlah, aku sudah kenyang dengan drama klasik keluarga ini!" sahut Papah Angga langsung berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan mereka semua dengan wajah cuek menuju kamarnya.
Awalnya Papah Angga tidak ingin ikut makan malam bersama. Namun berkat bujukan Dimas, Papah Angga pun menyetujuinya. Meskipun dalam keadaan terpaksa, maka sudah pasti saat ini Papah Angga lebih memilih kembali ke kamarnya.
Setelah Papah Angga pergi, Vina datang ke ruang makan dan membuat semua orang di sana terkejut lantaran mereka melihat keadaan Vina yang sudah tidak bisa di jelaskan lagi.
Tetapi, Dimas yang duduk tidak jauh dari tempat Vina berdiri langsung bisa menghirup aroma kuat yang tidak asing keluar dari tubuh Vina.
"Hempt.. kamu mabok?" celetuk Dimas sambil berdiri dengan keadaan tangan yang menutup hidup dan mulutnya.
"Enak banget sih jadi Vina, dia bisa pergi sesuka hatinya dan bersenang-senang dengan minuman bersama teman-temannya. Sedangkan aku, harus menjaga pola makanku lantaran aku yang masih harus menyusui"
"Padahal aku juga ingin bersenang-senang dan pergi ke Club seperti Vina. Jika bukan karena anak itu, aku pasti bisa selalu pergi refresing kemana pun dan melakukan apa pun sesukaku dengan menggunkan uang Dimas"
Elsa berkata di dalam hatinya, dengan menatap iri ke arah Vina yang masih dalam keadaan enak.
Sedangkan Mamah Mita berdiri dari kursinya dan mendekati Vina, lalu sedikit menjauhkan Vina dari Dimas ke belakang tubuhnya.
"Sudahlah Vina, lebih baik kamu pergi ke kamarmu sekarang sebelum adanya keributan yang mana akan membuatku semakin pusing. Pergilah, bersih-bersih dan beristirahat di kamarmu!"
Mamah Mita berbicara sambil mendorong lembut Vina ke arah tangga agar segera naik menuju kamarnya, sehingga Dimas tidak lagi bisa mempertanyakan tentang Vina.
__ADS_1
"Mamah kenapa diam aja sih, harusnya Mamah itu tegur Vina bukan malah membiarkan masalah ini berlarut-larut. Apa Mamah tidak lihat bagaimana respon Papah tadi, setiap Vina bertingkah seperti ini"
"Apa Mamah tidak pernah memperhatikan Vina yang semakin hari semakin menjadi. Vina bertingkah seolah-olah seperti anak jalanan yang tidak pernah di didik dan di sekolahkan oleh orang tuanya"
Dimas mengoceh dengan nada geramnya sambil menunjuk-nunjuk kamar pintu Vina di lantai 2. Pandangan Mamah Mita pun mengikuti arah dimana tangan Dimas menunjuk, dan kembali lagi untuk menatap Dimas.
"Sudahlah, biarkan saja adikmu itu masih sangat muda dan membutuhkan banyak bergaul di jaman yang sekarang ini. Lebih baik kita lanjutkan makan malam bersama Elsa" titah Mamah Mita yang berbalik dan menatap Elsa yang kini hanya terdiam duduk manis.
"Terserah Mamah deh mau ngomong apa, Dimas sudah lelah menasehati putri kesayangan yang selalu Mamah manjakan itu!" ucap Dimas yang langsung berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
Lalu, Mamah Mita pun kembali duduk di kursinya dan tersenyum canggung menatap Elsa. Yang mana Elsa pun membalas senyuman tersebut. Mereka pun kembali melanjutkan makan malamnya berdua saja.
Saat ini Dimas baru saja memasuki kamarnya sambil menunjukkan wajah kesalnya serta menutup pintu dengan membantingnya sedikit keras.
Kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara rengekan bayi yang mana Baby Diva terganggu tidurnya lantaran suara keras yang cukup menggema di kamar Dimas.
Dimas yang baru saja menyadari keberadaan Baby Diva pun langsung berlari mendekati keranjang tidur Baby Diva dan menepuk penuh kasih sayang dada Baby Diva.
Selang beberapa detik kemudian, Baby Diva kembali tenang dan melanjutkan tidurnya. Dimas pun menghela nafas lega serta berjalan menuju kasurnya dan duduk di tepi kasur.
"Untung saja Baby Diva bisa kembali tertidur, jika tidak maka kepalaku akan bertambah pusing. Di satu sisi Vina yang semakin menjadi-jadi, di sisi lainnya Elsa yang selalu sibuk dengan dunianya hingga dia melupakan kewajibannya sebagai Ibu"
"Belum lagi jadwal perusahaan yang sangat padat merayap. Di tambah keadan keluargaku yang semakin hari semakin terasa asing bagiku, yang mana hubungan antara Papah dan Mamah semakin merenggang"
"Entah kenapa aku hanya bisa memikirkan tentang satu hal, yaitu jika Suci masih bersamaku maka dia pasti akan bisa kembali menyatukan serta membuat keluarga kami kembali utuh dan harmonis"
"Huuft.. sekarang semua itu hanyalah angan-anganku karena saat ini Suci sudah mendapatkan kehidupan yang baru jauh dariku. Lebih baik saat ini aku fokus untuk melakukan yang terbaik agar kelurgaku tidak semakin hancur lebih dari ini"
__ADS_1
Dimas berceloteh sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur yang menghadap ke arah ranjang tidur Baby Diva. Tanpa di sadari Dimas pun langsung tertidur akibat rasa lelah yang ia rasakan saat ini.