Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Kembali Dekat Dengan Mamah


__ADS_3

“Kenapa diam, Bray? Kaget ya, haha...” ucap Vina dengan tawa jahatnya.


“Oke... Aku salah, aku ngalah. Aku minta maaf jika semua kesalahanku membuat kamu jadi seperti ini, tapi apa bisa kita mulai dari nol untuk perbaiki hubungan ini lagi. Jujur aku masih sayang sama kamu Vin...” ungkap Bray dengan wajah memohon hingga menggenggam tangan Vina.


Vina terdiam sambil menatap wajah Bray. “Aku juga sayang sama kamu, Bray. Ta-tapi...” ucap Vina terbata-bata.


“Aku janji, kali ini aku tidak akan mengkhianati kamu lagi. Aku akan berubah demi kamu, tapi aku minta satu hal sama kamu Vin...” ucap Bray.


“Satu hal? Apa itu?” tanya Vina dengan wajah penasaran.


“Nanti kamu akan tahu jawabannya, sekarang lebih baik kita pergi dulu. Pasti teman-temanku sudah nungguin di base cham” ucap Bray sambil tersenyum penuh arti.


“Tapi, kamu janji kan tidak akan selingkuh?” ucap Vina sambil mengikuti langkah Bray menuju mobilnya.


“Tidak sayang, percaya padaku. Aku kan sudah janji, tapi untuk membuktikannya aku butuh proses jadi aku pengen kamu bantu aku. Pasti kamu sudah tahu kan alasan aku selingkuh itu apa” ucap Bray sambil membukakan pintu mobil untuk Vina.


“Aku tahu, tapi apa harus seperti itu Bray?” tanya Vina saat sudah duduk di dalam mobil.


Bray hanya tersenyum menganggukkan kepalanya sambil menutup pintu mobil. Kemudian berlari kecil untuk memasuki mobil dan duduk di kursi pengemudi bersama Vina di sampingnya. Lalu Bray menyalakan mobilnya dan pergi menuju base cham yang mana teman-temannya sudah menunggu di sana.


...*...


...*...


Di rumah kediaman keluarga Dimas


Mamah Mita yang sedang fokus pada televisi di ruang tamu, membuat ia merasa kesepian karena Vina beberapa hari ini pasti tidak akan ada di rumah. Lalu Mamah Mita harus bagaimana untuk menghilangkan kejenuhannya? Apa lagi biasanya hampir setiap hari dia jalan-jalan bersama Vina sambil berbelanja.


“Aku bosan di rumah terus seperti ini, tapi kalau aku pergi juga mau sama siapa? Vina tidak ada di rumah dan Papah juga lagi keluar kota, masa ia aku harus jalan sama Suci. Apa nanti dia tidak akan mempermalukanku ?” gumam Mamah Mita di dalam hati kecilnya.


Dan tanpa sengaja, Mamah Mita mendengar suara langkah kaki dan langsung menoleh ke arah tangga yang mana Suci baru saja keluar dari kamarnya.


“Aduh... Apa ia aku harus mengajak Suci? Tapi bagaimana cara bilangnya coba. Kalau aku salah bilang, pasti nantinya dia akan besar kepala kan...” Mamah Mita berbicara dalam hatinya sambil menatap Suci yang sudah hampir menuruni semua anak tangga.


Namun saat Suci menatap Mamah Mita, seolah-olah Mamah Mita malah membuang pandangannya ke arah televisi yang mana ia sangat gugup bahkan gengsi untuk mengatakannya pada Suci. Dikarenakan Suci paham dengan tatapan mertuanya itu, ia langsung mendekatinya secara perlahan.


“Loh Mamah, kenapa Mamah sendirian di sini? Kenapa Mamah tidak memanggil Suci saja untuk menemani Mamah menonton televisi. Pasti Mamah merasa kesepian, ya...” ucap Suci sambil menyapa Mamah Mita.


Mamah Mita hanya acuh serta cuek tanpa menoleh kepada Suci, ia malah menyibukkan diri dengan mengganti acara televisi secara acak.

__ADS_1


“Ck!! Ini kenapa acaranya tidak ada yang seru sih, malah membuatku semakin bosan saja. Mana di rumah aku sendirian lagi. Vina pergi, terus Papah juga ada pekerjaan mendadak. Belum lagi Dimas selalu sibuk ke kantor tanpa ada waktu untuk Mamahnya sendiri, benar-benar membuatku jenuh” sindir keras Mamah Mita yang membuat Suci paham akan maksud dari ucapannya itu.


Suci pun duduk di sebelah Mamah Mita sambil tersenyum. Lalu ia sedikit memegang paha mertuanya.


“Apa Mamah bosan di rumah? Kalau begitu kita jalan-jalan keluar yuk, Mah. Suci akan selalu siap menemani Mamah kemana pun Mamah pergi, dan Suci juga janji tidak akan membuat Mamah malu jika jalan bersama Suci”


“Mamah mau kan jalan sama Suci? Kali ini saja Mah... Izinkan Suci untuk kembali dekat dengan Mamah. Suci kangen sama Mamah yang dulu Suci kenal pertama kalinya, dimana pada saat itu kita sangat dekat bahkan terlihat seperti anak dan Ibu”


“Kali ini saja Mah, please... Izinkan Suci untuk bersama Mamah sehari ini saja, Suci ingin merasakan kembali bagaimana rasanya jalan-jalan bersama Mamah yang sudah Suci anggap sebagai orang tua sendiri”


“Apa lagi, saat ini hanya ada Suci di rumah. Jadi sekali saja ya Mah, hitung-hitung untuk menebus kesalahan Suci yang belum bisa membuat Mamah bahagia”


Suci mengoceh panjang kali lebar sambil menggenggam tangan Mamah Mita beberapa kali, karena ia selalu menolaknya hingga menepisnya. Tetapi Suci tidak menyerah untuk mengambil kesempatan kali ini yang mana ini tidak akan datang untuk ke sekian kalinya.


Suci harus ekstra membujuk Mamah Mita agar mau jalan-jalan bersamanya. Ini merupakan kesempatan yang Suci tunggu-tunggu dari kapan tahu agar bisa kembali mengambil hati mertuanya kembali. Apa lagi biasanya Mamah Mita selalu bepergian bersama Vina atau pun Papah Angga tanpa mau mengajak Suci.


Mamah Mita terdiam cukup lama, supaya terlihat bahwa kesannya Sucilah yang ingin menemaninya pergi. Namun di dalam hatinya, Mamah Mita tertawa dengan sangat senang. Tanpa ia berkata apa pun pada Suci, sudah membuat Suci seakan-akan paham dengan maksud sindirannya.


“Mah... Kenapa Mamah diam saja, ayo dong jawab. Mamah mau kan jalan-jalan sama Suci, please... Mah. Suci mohon...” lagi dan lagi Suci terus membujuk mertuanya dengan permohonan yang malah membuat Mamah Mita semakin merasakan kemenangan.


“Baiklah, jika kamu memaksanya. Lagian juga aku tidak mau jalan-jalan, di luar sangat panas, bahkan banyak debu di mana-mana. Tapi karena kamu selalu memaksaku ya sudah apa boleh buat. Meskipun aku tidak suka denganmu, cuma aku masih punya hati untuk mengabulkan permintaanmu yang konyol itu. Lalu satu lagi...” tegas Mamah Mita sambil menatap Suci.


Suci harus benar-benar bisa mengambil hati mertuanya kembali walau pun hanya setetes. Setidaknya Suci sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka yang saat ini hancur akibat dirinya yang belum bisa memberikan keturunan.


“Alhamdulillah, akhirnya Mamah mau juga jalan sama Suci hehe... Hoya, satu lagi apa Mah?” ucap Suci dengan mata berbinar serta terukir senyum yang begitu menyejukkan.


Mamah Mita menatap wajah Suci dengan sangat lama, ia seperti melihat senyuman yang begitu langka dari Suci.


“Apa dia sebahagia itu bisa jalan denganku? Padahal cuma jalan loh, tapi kenapa dia terlihat seperti baru saja mendapatkan hadiah istimewa. Apa jangan-jangan aku sudah keterlaluan sama Suci? Ya memang sih semua ini bukan sepenuhnya kesalahan Suci, apa lagi sudah ada campur tangan Sang Pencipta. Tapi aku masih belum bisa menerima kenyataan ini dimana aku sangat iri kepada para tetangga yang selalu memamerkan cucunya di depan mataku huhh...” ucap Mamah Mita di dalam hatinya


Suci yang melihat mertuanya terdiam melamun menatapnya, langsung kembali menyadarkannya, “Mah... Mamah kenapa diam terus, Mamak sakit? Kok mukanya kaya sedih gitu. Apa kita batalkan saja jalan-jalannya?”


Mamah Mita yang mendengar bahwa Suci ingin membatalkan keinginannya. Membuat ia langsung menjawab dengan begitu lantang.


“Jangan! Aku baik-baik saja, lagian kamu juga yang sudah memaksaku tadi untuk jalan-jalan kan? Lalu, kenapa seenaknya di batalkan begini. Dahlah... Aku mau siap-siap dulu, dan ingat satu lagi. Jangan pernah kamu bermimpi untuk bisa dekat denganku lagi, sebelum kamu bisa mewujudkan impianku paham!”


Mamah Mita seketika mengancam Suci dengan kata-kata yang kembali membuat Suci merasakan kesedihan, namun Suci berusaha untuk tetap tersenyum meskipun hatinya begitu hancur dengan ucapan mertuanya. Tapi balik lagi, Suci tidak akan menyerah dan ia akan terus berusaha apa pun caranya demi merebut kembali hati mertuanya.


Mamah Mita yang sudah pergi menuju kamarnya, membuat Suci pun ikut bergegas mengganti pakaiannya agar terlihat sangat pantas menemani mertuanya. Suci berusaha keras untuk merubah penampilannya agar terkesan tidak membuat mertuanya malu di depan orang lagi.

__ADS_1


Apa lagi jika nanti mereka sampai bertemu dengan teman-teman sosialitanya Mamah Mita itu. Sesampainya di dalam kamar, Suci langsung memilih baju yang layak ia gunakan dengan desain simpel dan elegan namun terlihat sangat indah.


“Aku harus menggunakan baju seperti apa ya agar tidak membuat Mamah kecewa padaku. Ini kali pertama untukku bisa kembali menemani Mamah sebelum kejadian di mana aku tidak bisa mewujudkan impian Mamah. Jadi aku harus bisa membuat Mamah bangga dengan penampilanku yang nantinya tidak akan menjadi perbincangan banyak orang”


Suci mengoceh sambil tangannya serta kakinya selalu bergerak ke sana ke sini untuk mencari apa pun yang bisa ia gunakan nanti. Satu demi satu semuanya sudah tertata rapi di dekat kasur. Mulai dari baju gamis, hijab, sepatu sendal, tas, dan sedikit perhiasan untuk menambah kesan kecantikan Suci.


Setelah semuanya selesai, Suci lalu pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Kemudian ia memakai dalaman hijab untuk menutupi aurat rambutnya. Tak perlu berlama-lama lagi, Suci bergegas untuk merias wajahnya sebisa mungkin karena ia sudah sedikit mempelajari bagaimana caranya mempoles wajah agar terlihat cantik, namun terkesan sangat natural.


Suci berdandan bukan dengan berbagai macam bedak, atau pun cream yang menempel di wajahnya dengan sangat tebal, karena nanti semua itu malah terlihat seakan-akan membuat Suci seperti badut yang ingin menghibur anak-anak di acara ulang tahun. 1 jam lamanya, Suci merias wajahnya. Hingga akhirnya mencapai proses 80 persen.


“Akhirnya selesai juga hihi...”


“Wah... I-ini benarkan wajahku? Ya ampun, kenapa jadi bisa secantik ini? Ternyata tangan Suci berbakat juga ya hehe...”


“Padahal Suci belum pernah menunjukkannya di depan Mas Dimas, tetapi ini malah Suci praktikkannya untuk Mamah”


“Tapi, tidak masalah. Yang penting Mamah tidak malu jalan sama Suci, dan semoga saja ini adalah petunjuk yang baik untuk Suci dari Allah agar bisa kembali mengambil hati Mamah...”


“Bismillah... Ya Allah semoga Engkau Meridhoi apa yang Suci lakukan saat ini semata-mata hanya untuk membuat hubungan kami membaik kembali”


Suci mengoceh di depan cermin dengan penuh harapan yang begitu besar, ia percaya jika ini adalah jalan yang Allah berikan padanya untuk bisa kembali meluluhkan hati mertuanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁


Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗


Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊


Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄


Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰


Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️

__ADS_1


Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2