
Ayah Al melepaskan pelukannya dan dia juga menepuk pelan pipi Arsya dengan sangat bangga. Lalu Arsya pun bergeser untuk sungkeman pada Bunda Reni, dan begitu juga dengan Suci yang kini ia ikut bersungkeman kepada Ayah Al.
“Jadilah wanita yang kuat seperti istriku, jangan mudah menyerah di kondisi apa pun. Ingatlah jika harga diri, jauh di atas segalanya. Bangkit dan tunjukkan kalau kamu itu adalah istri Arsya yang hebat”
“Kasih paham mereka semua kalau Suci mantan istri Dimas yang dulu lemah, kini telah hancur bersama dengan serpihan masa lalunya. Sekarang hanya ada Suci, istrinya Arsya dengan semua keberanian serta ketegasan. Buat suamimu bangga karena kamu mampu membela dirimu sendiri tanpa bantuan siapa pun”
Nasehat Ayah Al yang membuat Suci mengangguk menangis bahagia karena dia tidak menyangka bisa mendapatkan keluarga sebaik ini dan berhati malaikat. Bunda Reni pun tersenyu manis dengan semua isak tangisnya, lantaran scene ini adalah impiannya agar dia bisa melihat Arsya bangkit dari masa lalunya itu dan menikah dengan wanita yang sangatlah tepat untuknya.
“Bunda... maafin Arsya kalau selama ini Arsya hanya bisa menyusahkan Bunda dan membuat Bunda merasa tertekan karena perubahan Arsya. Tapi Arsya itu sangat bangga punya Ibu seperti Bunda yang kuat, tegas dan seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Ribuan ucapan terima kasih pun tak akan pernah cukup untuk membalas semua pengorbanan Bunda, tapi satu yang mau Arsya ucapkan..."
"Arsya itu sangat... sangat menyayangi Bunda dan terima kasih Bunda karena berkat do'a dari Bunda, akhirnya Arsya bisa mendapatkan istri yang sangatlah sempurna. Arsya janji tidak akan pernah menyia-nyiakannya..."
"Arsya akan menjaga Suci sekali pun harus mempertaruhkan nyawa Arsya sendiri. Bahkan Arsya tidak akan pernah membiarkan ada satu orang pun untuk merebutnya atau menyakitinya. I love you Bunda, jangan pernah lelah dalam menghadapi anakmu yang bandel ini”
Arsya berbicara dengan sangat lantang, sambil ia meneteskan air matanya yang kini sudah membuat Bunda Reni pun tak lagi bisa berkata apa-apa. Bunda Reni benar-benar sangatlah bahagia ketika Arsya sudah bangkit dari masanya.
Arsya pun segera memeluk Bunda Reni begitu erat, bahkan ia menciumi seluruh wajah Bunda Reni dari kening hingga ke kedua pipi Bunda Reni yang membuat semua orang pun terkejut penuh haru melihat sosok Arsya yang bisa dibilang dingin dan cuek itu kini terlihat begitu manis dan penuh kasih.
Suci, Ayah Al dan juga Papah Angga pun menoleh menyaksikan seorang putra yang tak pernah menyatakan perasaan yang dia miliki kepada Ibunya, kini untuk pertama kalinya Arsya mengucapkan kata yang sangatlah indah.
Kini saatnya bagi Suci yang bergantian sungkeman ke Bunda Reni yang mana Bunda Reni langsung meraup wajah Suci dan menciumi seluruh wajahnya hingga memeluknya begitu erat.
Entah kenapa Bunda Reni tidak bisa lagi mengatakan satu kata pun kepada Suci untuk menggambarkan betapa Bunda Reni sangat bahagia melihat perubahan Arsya dan kini ia memiliki menantu yang sangat ia idam-idamkan.
__ADS_1
“Hiks... Bunda... terima kasih selama ini Bunda selalu aja mendukung Suci hiks... Suci janji sama Bunda kalau Suci tidak akan menyakiti anak Bunda. Suci akan berusaha untuk mencintai anak Bunda, ta-tapi tidak sekarang hiks... Suci belum bisa membuka hati Suci kembali karena Suci masih takut Bun..."
"Ta-tapi Bunda jangan khawatir karena perlahan demi perlahan Suci akan selalu mencobanya. Doakan saja Suci dan juga Mas Arsya, semoga aja kita benar-benar berjodoh hiks... Suci sayang banget deh sama Bunda Reni hiks...”
Suci menangis di dalam pelukan Bunda Reni yang membuat Bunda Reni merasa semakin bahagia. Ya meskipun saat ini Suci masih belum mencintai Arsya, tapi setidaknya Suci berusaha mencintainya. Walaupun butuh proses yang panjang, namun itu sudah membuat Bunda Reni merasa sangat-sangat bahagia. Bunda Reni melepaskan pelukannya dan ia pun kembali meraup wajah Suci.
“Hiks... dengarkan Bunda sayang, jadilah wanita yang kuat. Sekarang kamu sudah bukan lagi bagian dari mereka, dan juga bukan lagi Suci yang lemah. Jadi kamu harus buktikan pada semuanya jika istri Arsya adalah wanita yang hebat, wanita yang kuat dan juga wanita yang tegas, paham...” ucap Bunda Reni.
Suci mengangguk dan kembali memeluk Bunda Reni dengan begitu erat. Entah kenapa saat Dimas melihat kedekatan Suci dengan Bunda Reni, membuat dia merasa sangat sesak di dalam dadanya.
“Andai saja saat Mamah tahu tentang hasil tes tersebut tidak sampai merubah kedekatannya bersama Suci... mungkin aku tidak akan pernah ada di posisi ini, dan juga hidupku sekarang ini bersama Suci pasti sangatlah bahagia"
"Meskipun kami harus mengadopsi anak tapi huft... sayangnya sekarang semua itu hanya khayalan semata yang sudah berakhir. Aku juga sudah memiliki anak dari Elsa, tetapi kenapa rasanya sangat sakit saat melihat milikku telah di rebut orang lain"
Dimas berceloteh di dalam hati sampai tak terasa air matanya kembali menetes saat melihat Arsya meminta restu pada Papah Angga. Elsa yang melihat itu pun langsung mengerutkan alisnya saat dia melihat Dimas menangis untuk pertama kalinya hanya karena menangisi Suci.
“Ma-Mas menangis...” ucap Elsa dengan terkejut yang membuat Dimas langsung mengusap air matanya secara kasar.
“E-enggak kok... aku cuma kelilipan aja, tadi ada debu yang masuk ke mataku” elak Dimas dengan segala kegugupan.
Elsa yang mendengar itu lalu ia terdiam sejenak, dan lalu ia kembali memastikan apakah saat ini Dimas sedang mencoba membohonginya dan menyembunyikan perasaannya terhadap Suci.
“Mas masih mencintai Mbak Suci, kan?” tanya Elsa yang membuat Dimas lalu menoleh ke arah Elsa dengan tatapan tidak sewajarnya.
__ADS_1
“Kenapa kamu nanya seperti itu Saa... bukankah kamu sudah tahu kalau cinta pertamaku adalah Suci. Jadi ya mana mungkin aku bisa melupakan ia secepat itu. Kalau kamu tanya aku masih cinta sama Suci atau tidak, maka jawabannya aku akan selalu mencintai dia. Meskipun bahkan jika Suci sudah menjadi milik orang lain, paham!!”
Dimas membentak Elsa dengan suara yang tidak terlalu kencang, lalu kembali menatap ke atas pelaminan yang mana Suci dan Arsya sedang melakukan sesi pemotretannya. Elsa yang mendengar ucapan Dimas serta nadanya, membuat ia sangat kesal dan juga semakin penuh emosi.
Tangan Elsa mengepal kuat terasa ingin menonjok wajah Suci, yang mana Dimas masih belum bisa melupakannya. Apa lagi hanya karena Suci, Dimas berani berkata seperti itu padanya. Ini pertama kali Elsa di bentak oleh Dimas, lantaran Dimas masih sangat mencintai Suci dan tidak ada niatan untuk membuang atau melupakan hal yang berkaitan tentang Suci.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih sepi nih 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja ya... 🤭🤭🤭
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semuanya... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1