
“Mana mungkin aku cuek sama adikku sendiri yang bawel kek kamu ini...” ucap Dimas sambil mengacak-acak rambut Dila, lalu ia duduk di samping Pak Somat yang hanya bisa tersenyum menatap keduanya.
“Aduh, Abang ishhh... Rambutku berantakan kan jadinya, nanti kalau kusut bagaimana? Sudag tahu rambutku ini ikal jadi gampang sekali kusutnya” ucap Dila dengan wajah kesalnya.
“Haha... Ya sudah, kamu tidur sana besok sekolah kan?” tanya Dimas.
“Ya, dong kan bentar lagi Dila mau lulus SMK. Jadi, nanti kalau Dila sudah lulus bisa langsung cari kerja untuk bantu-bantu Ibu sama Bapak” ucap Dila.
“Bagus, nanti Abang bantu cariin” saut Dimas.
“Wah... Serius, Bang? Aduh, Dila jadi enak nih hehe...” ucap Dila sambil cengengesan.
“Sudah ayo tidur sana ini sudah larut malam, tidak baik gadis-gadis masih di luar rumah seperti ini” ucap Pak Somat.
“Bang, Dila pulang dulu ya. Maklum pawang Dila sudah mengaung jadi Dila pamit dah...” teriak Dila sambil berlari ke arah belakang Villa.
“Anak itu benar-benar ada saja tingkahnya, maaf ya Den. Maklum anak ABG jaman now jadi begitulah hehe...” ucap Pak Somat.
“Enggak apa-apa Pak Mat, lagian Dimas senang kok bisa lihat Dila seperti itu. Beda dengan adik kandung Dimas sendiri yang malah salah pergaulan” ucap Dimas yang sedang menutupi kesedihannya.
“Sabar, Den. Namanya juga anak remaja masih sangat butuh bimbingan dari keluarga, sama seperti Dila. Jika tidak selalu di awasi dia juga akan salah pergaulan, jadi Den Dimas harus bisa lebih sabar menghadapi sikap Non Vina. Sebisa mungkin Den Dimas coba bicara dari hati ke hati sama Non Vina, semoga saja dia mau mendengar nasihat dari Den Dimas” ucap Pak Mamat.
“Susah, Pak Mat. Vina yang Bapak kenal sama Vina yang sekarang itu jauh lebih buruk Vina yang sekarang. Bahkan dengan mudahnya ia selalu berkata kasar kepada istriku, yang mana dia adalah kakak iparnya hanya karena mereka tahu kondisi istriku saat ini” ucap Dimas dengan wajah sedihnya.
“Sudah, Den. Jangan di pikirkan lagi, lebih baik makan bakwan ini enak loh masih hangat. Lagian Bibi tahu kok posisi Den Dimas saat ini” saut Bi Nining yang langsung menjawab ucapan Dimas.
“Astaga, Bu. Kamu ini main serobot saja, tidak baik menguping pembicaraan orang seperti itu” tegas Pak Somat.
“Hehe... Maaf Pak, Den. Bibi tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian saat mau mengantarkan minuman dan camilan ini” ucap Bi Nining dengan senyuman.
“Sudah, Pak Mat. Tidak apa-apa, lagian kalian juga sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri” ucap Dimas sambil mengukir senyuman.
“Lain kali, jangan seperti itu Bu. Jika ada orang yang sedang berbicara sebaiknya Ibu nunggu sampai selesai berbicara jangan langsung nongol kek jalangkung” ucap Pak Somat.
“Hehe... Ya, ya Pak. Maaf toh, sudah jangan marah-marah nanti gantengnya di ambil Den Dimas loh” goda Bi Nining yang langsung membuat Dimas sedikit tertawa.
“Ya ampun, Bu. Sudah tua masih saja merayu. Ingat umur Bu, anak kita sudah besar, jadi jangan lupain itu” saut Pak Somat dengan wajah malunya.
“Aduh, si Bapak bisa saja. Lagian kalau Ibu suruh nambah anak pun Ibu siap kok hehe...” ledek Bu Nining yang langsung membuat Pak Somat melototkan matanya.
“Ibu...” geram Pak Somat.
“Hahaha... Aduh, Bi sudah-sudah haha... Dimas tidak kuat lihatnya” saut Dimas yang sudah tertawa.
“Hehe... Alhamdulillah, akhirnya Den Dimas ketawa juga. Maaf ya Pak, iseng dikit gapapa kan lagian juga nanti Ibu kasih bonus di kamar” goda Bi Nining.
__ADS_1
“Yaaakk... Ibu, sudah sana kembali ke belakang. Ganggu saja, sudah Den tidak usah di dengarkan sepertinya Bibimu ini obatnya sudah habis jadi omongannya ngelantur kemana-mana” ucap Pak Somat yang malah membuat Dimas semakin tertawa.
Bu Nining yang sudah berhasil membuat Dimas tertawa pun langsung pergi ke belakang meninggalkan mereka berdua di luar Viilla. Bu Nining yang bisa merasakan kesedihan di wajah Dimas membuat ia mengeluarkan sedikit lelucon untuk menghiburnya, meskipun suaminya sendiri yang jadi sasaran. Tapi, Bi Nining senang saat melihat Dimas kembali tertawa.
Pak Somat yang mulai gugup dengan tingkah istrinya membuat ia langsung meminum serta memakan camilan dengan lahap, sampai-sampai ia merasakan kepanasan yang semakin membuat Dimas tertawa. Hari sudah semakin larut malam yang membuat Dimas dan Pak Somat pun langsung beristirahat.
Dimas yang sudah merasa sangat dingin langsung masuk ke dalam kamarnya dan Suci. Namun, rasa kantuk yang sudah tidak bisa di bendung ini membuatnya malas untuk ngapa-ngapain. Lalu, tanpa membuang-buang waktu lagi kini Dimas pun sudah tertidur sangat nyenyak menyusul Suci di alam mimpi.
...*...
...*...
Pagi hari pukul 7
Suci yang sudah bangun lebih dulu, subuh-subuh ia membangunkan Dimas untuk mengajaknya beribadah. Lalu di saat Dimas masih mengantuk, ia kembali melanjutkan tidurnya dan Suci pun langsung bersih-bersih serta tak lupa pula ia mengganti pakaian yang sudah di belinya saat belum sampai di Villa.
Suci yang memang terbiasa sehabis membersihkan diri, kemudian ia mencari dapur. Dan saat ia berjalan ke dapur ia melihat seorang wanita paruh baya sedang memasak.
“Permisi, boleh saya membantunya?” tanya Suci dengan sangat ramah yang membuat Bi Nining sedikit terkejut.
“Eh, copet lu copet...” latah Bi Nining sambil memegang spatula.
“Ya ampun, Non. Maaf ya, Bibi tidak sengaja. Habisnya Non mengagetkan saja, jadi Bibi latah deh. Sekali lagi maaf ya Non, kalau Bibi sudah berkata kasar” ucap Bi Nining dengan nada memohon sambil melipat kedua tangannya.
“Aduh, Bibi lupa kalau kita belum kenalan ya hehe... Ya, Non Suci, perkenalkan nama sama Nining dan panggil sama Bi Ning. Saya dan suami saya Pak Somat atau bisa di panggil Pak Mat sudah bekerja sangat lama di saat usia anak saya 5 tahun. Saat ini Dila sudah berusia 18 tahun. Kami juga tinggal di rumah belakang Villa, jadi saat Non Suci membuka pintu belakang pasti surah bisa liat tempat tinggal kami” jawab Bi Ning.
“Wah... Enak dong, Bi. Kapan-kapan saya akan main ke sini lagi deh hehe....” ucap Suci sambil tertawa.
“Ya, harus dong Non. Toh, Villa ini kan milik Den Dimas jadi kapan pun Non mau ke sini kami siap menyambutnya hehe...” jawab Bi Nining dengan senang hati.
“Aduh, Bibi bisa saja. Ya sudah Suci bantu, boleh Bi?” tanya Suci.
“Tidak perlu, Non. Lebih baik Non duduk saja, biar semuanya Bibi yang menyiapkan lagian ini sudah tugas Bibi Non” jawab Bi Nining.
“Tidak, Bi. Suci mau bantu Bibi saja, lagian Suci sudah terbiasa kok. Justru kalau Suci kebanyakan duduk malah suka sakit pinggang hehe...” ucap Suci sambil bercanda.
“Oalah, si Non ini bisa saja toh. Ya sudah Non, bantu yang ringan-ringan saja. Takutnya nanti Bibi kena marah sama Pak Mat” ucap Bi Ning.
“Loh, kok Pak Mat yang marah kan aturan Mas Dimas, Bi?” tanya Suci dengan wajah bingungnya.
“Kalau Den Dimas mah enggak pernah marah-marah, Non. Dia selalu menghormati orang yang lebih tua darinya. Bahkan Dila saja sudah di anggap sebagai adiknya sendiri sejak kecil makannya mereka sangat dekat. Tapi, kalau Pak Mat tuh baru galak banget hehe...” jawab Bi Ning.
“Ya ampun, Bi Ning bisa saja. Suami sendiri di bilang galak, kasihan Pak Mat pasti lagi keselak kalau dia sedang minum hehe...” canda Suci yang juga membuat Bi Ning tertawa.
Sedangkan Pak Mat yang memang sedang duduk santai sambil melihat tanaman dan meminum kopi pun langsung tersedak.
__ADS_1
Sruuuupp !...
Uhukk... Uhukk...
“Pasti si Ibu sedang membicarakan aku di dapur, kalau tidak mana mungkin aku tersedak seperti ini kan padahal aku minumnya pelan-pelan. Dasar Bu, Ibu. Suka sekali membicarakan suamimu ini. Tapi, biar pun seperti itu aku tetap mencintai dia apa pun keadaannya, dialah istri yang setia menemaniku sampai saat ini” ucap Pak Mat.
Kemudian, Pak Mat kembali menyirami semua tanaman yang ada di Villa. Lalu Bi Ning dan Suci pun melanjutkan memasaknya dengan canda gurau serta bercerita yang membuat mereka berdua tertawa.
...*...
...*...
“Errrghhh...” reng*kuhan Dimas saat baru saja terbangun.
Lalu, ia membuka matanya sedikit demi sedikit untuk menyesuaikan silaunya cahaya dari luar jendela yang sudah Suci buka saat ia ingin keluar dari kamar.
“Hooaamm... Dimana istriku?” tanya Dimas sambil duduk dan merenggangkan tubuhnya.
“Pasti dia sedang berada di dapur bersama, Bi Ning. Ya sudah lebih baik aku mandi dulu, baru turun ke bawah” ucap Dimas yang langsung bersiap-siap untuk pergi ke kamar mandi.
Selesai dari mandinya, Dimas sedikit merapikan rambutnya dengan sedikit mengoleskan minyak rambut agar membuatnya terbentuk sangat rapi. Tak lupa, ia juga memakai sedikit minyak wangi. Ya, begitulah Dimas. Dia selalu menjaga kerapian dirinya serta menjaga keharuman tubuhnya agar selalu membuat Suci menempel dengannya.
Dimas tahu, wangi parfum yang ia gunakan adalah wangi kesukaan Suci saat pertama kali mereka bertemu, dan Suci pun menggunakan parfum kesukaan Dimas yang selalu membuatnya candu.
Setelah semuanya siap, Dimas langsung turun ke bawah dengan menggunakan pakaian santai yaitu baju kaos putih lengan pendek, celana pendek selutut berwarna abu-abu, serta tak lupa jam tangan yang selalu melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya.
Tangga demi tangga Dimas lewati dengan sangat berwibawa. Lalu, tak lupa ia memandangi setiap sudut untuk mencari keberadaan sang istri. Saat mencium aroma masakan, Dimas langsung saja pergi ke arah dapur karena ia tahu wangi ini pasti berasal dari masakan Suci.
Tanpa basa-basi Dimas langsung memeluk Suci dari belakang yang sedang mengaduk sayur bayam. Suci yang begitu kaget pun membuat ia hampir saja menggetok kepala Dimas menggunakan centong sayur yang terbuat dari besi yang saat ini dipegang oleh Suci.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai disini dulu ya cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁
Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗
Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗
Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1