Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Aku Hampir Saja Khilaf


__ADS_3

Di rumah kediaman Dimas


Suci sedang merasa gelisah serta khawatir karena Dimas sampai saat ini belum pulang dan di telepon pun ponselnya tidak aktif.


“Aduh, ini Mas Dimas kemana ya sudah hampir jam 11 malam loh kok belum sampai rumah juga. Padahal tadi aku telepon Mas Dion katanya pas ia pulang duluan kerjaan Mas Dimas tinggal dikit lagi. Tapi, ini aku hubungi malah enggak aktif”


“Perasaanku jadi enggak enak deh, apa jangan-jangan Mas Dimas kenapa-kenapa? Astaghfirullah, aku enggak boleh berpikir jelek seperti itu. Semoga saja Mas Dimas baik-baik saja, aku harus berdoa yang baik jangan sampai omonganku bisa menjadi doa buruk untuknya” gumam Suci sambil menatap ponselnya.


Suci dari tadi belum bisa tidur, meski pun badannya terasa sangat lelah bahkan lukanya pun masih sering terasa berdenyut. Tetapi apa boleh buat saat ini Dimas belum juga pulang, jadi rasa cemas dan kekhawatiran Suci semakin bertambah.


Bahkan saat ini Suci dari tadi terus mencoba untuk menghubungi Dimas yang mana nomornya tidak aktif, sampai seketika Suci tidak lagi bisa menahannya. Lalu Suci keluar dari kamarnya untuk menunggu Dimas di depan rumah.


Satpam yang berjaga di sana pun merasa terkejut saat melihat Suci berdiri di luar halaman dengan keadaan gelisah. Saking penasarannya salah satu satpam tersebut langsung berjalan mendekati Suci untuk memastikan jika keadaan di dalam baik-baik saja.


“Permisi, Non. Dari tadi saya lihat sepertinya Nona Suci sedang gelisah, memang ada apa ya Non. Apa di dalam semuanya baik-baik saja? Apa perlu saya mengeceknya?” ucap Satpam tersebut dengan wajah yang ikutan cemas.


“Alhamdulillah, Pak Ang. Di dalam baik-baik saja kok, ini Suci cuma lagi khawatir soal Mas Dimas. Kenapa jam segini belum pulang juga, biasanya kalau pulang telat pasti dia memberi kabar tapi ini di hubungi ponselnya tidak aktif” ucap Suci dengan kepanikannya.


“Sabar, Non. Tenang dulu, lebih baik Non menunggu Den Dimas sambil duduk saja. Kalau non berdiri seperti ini malah membuat Non semakin cemas, saya yakin sebentar lagi Den Dimas pulang kok” jawab Pak Aang yang mencoba menenangkan Suci.


Suci pun akhirnya duduk di salah satu kursi depan rumah sambil menatap ke arah pagar, dan tak lama terdengar suara klakson yang mana Suci sangat hafal jika itu suaminya.


“Non, sebentar ya saya buka pintu dulu” ucap Pak Aang sambil berlarian menuju gerbang yang mana di sana sudah ada temannya yang mau membukakan gerbang.


Gerbang yang begitu besar serta tinggi mana mungkin bisa di buka hanya dengan satu satpam saja. Akhirnya gerbang pun terbuka lebar, dan muncullah mobil sang suami yang mana membuat Suci kegirangan serta berlari kecil menuju mobil Dimas.


Dimas memarkirkan mobilnya lalu, keluar dengan keadaan yang masih syok. Suci langsung memeluk Dimas dengan sangat erat, yang membuat Dimas refleks mendorong Suci hingga terjatuh.


“Awww... Mas Dimas...” ucap Suci dengan tidak percaya bahwa Dimas bisa sekasar ini padanya.


Dimas yang sadar akan perlakuannya terhadap istrinya sendiri seketika, langsung menolong Suci.

__ADS_1


“Astaghfirullah Suci, ya ampun sayang maaf. Aku tidak sengaja, aku kira tadi El... Sekali lagi maaf yaa sayang...” ucap Dimas yang seketika menghentikan perkataannya dan kembali meminta maaf.


“Apa tadi, Mas? El... El apa?” jawab Suci sambil berdiri yang dibantu oleh Dimas.


“Hem... Ti-tidak apa-apa sayang, hoyaa... kamu kenapa malam-malam begini kok di luar?” tanya Dimas yang mencoba mengalihkan perhatian Suci.


“Suci khawatir sama Mas Dimas, dari tadi perasaan Suci tidak enak kayak ada sesuatu yang akan terjadi gitu. Bahkan Suci hubungi Mas Dimas pun ponselnya tidak aktif, sampai Suci menelepon Mas Dion untuk menanyakan Mas Dimas. Tapi katanya pas Mas Dion mau pulang pekerjaan Mas Dimas sebentar lagi selesai jadi kenapa jam segini Mas Dimas baru pulang?” celoteh Suci yang membuat Dimas seketika terdiam mengingat kejadian tadi.


Suci yang melihat Dimas seperti sedang memikirkan sesuatu membuatnya sedikit heran karena tidak biasanya Suci mengoceh panjang kali lebar Dimas hanya berdiam diri seperti ini.


“Mas... Mas enggak apa-apa kan, Mas baik-baik saja kan? Atau Mas lagi cape jadinya saat Suci berbicara panjang seperti itu Mas tidak mendengarkannya” ucap Suci yang membuat Dimas tersadar dan langsung gelagapan sambil menatap Suci.


“Eh.. e-enggak kok, aku gapapa hehe... ya sudah aku mau mandi dulu ya” ucap Dimas yang langsung pergi mendahulu Suci dan membuat Suci hanya bisa menatap bingung dengan tingkah anehnya Dimas.


“Mas kamu kenapa, sih? Apa ada masalah? Atau lagi banyak pikiran? Kok aku merasa kayak ada yang aneh dari sikapmu itu ya... Astaghfirullah, enggak Suci enggak. Kamu enggak boleh seudzon sama suamimu sendiri, ingat saat ini dia sudah pulang dengan selamat jadi apa yang harus kamu curigai dan apa yang harus di takuti lagi. Lebih baik aku membuatkan teh saja untuk Mas Dimas, siapa tahu kan dia perlu yang hangat-hangat” gumam Suci sambil pergi berjalan menuju dapur.


...*...


...*...


Dimas kembali mengingat kejadian itu yang mana membuat Dimas tidak seimbang kemudian terjatuh duduk di bawah kucuran air sambil melipat kedua kakinya. Dimas mencoba untuk menangkis semua ingatannya agar bisa kembali normal dan tidak sampai terbayang-bayang akan hal bod*doh yang sudah ia lakukan bersama Elsa.


Hampir 1 jam lamanya Dimas berada di dalam kamar mandi yang membuat Suci sedikit menaruh curiga padanya. Lalu Suci mengetuk pintu kamar mandi secara perlahan.


Tokk... Tokk... Tokk...


“Mas... Masih lama mandinya? Ini sudah hampir 1 jam loh Mas berada di dalam, apa Mas baik-baik saja? Atau perlu Suci masuk ke dalam?” ucap Suci sambil berbicara di depan pintu kamar mandi.


Tak lama pintu kamar mandi pun terbuka lebar bersamaan dengan keluarnya Dimas yang sambil mengeringkan rambutnya.


“Mas tumben banget mandinya lama, biasanya hanya butuh waktu 15 sampai 20 menit saja. Bahkan yang biasanya mandinya lama kan Suci, tapi kenapa malah jadi Mas Dimas yang lama sampai-sampai melebihi Suci” ucap Suci.

__ADS_1


“Ya sayang, tadi Mas berendam air hangat dulu agar lebih segar. Apa lagi, Mas ngerasa cape banget hari ini” jawab Dimas sambil duduk di pinggir kasur.


“Ya sudah, Mas minum dulu tehnya keburu dingin nanti tidak enak loh. Sini handuknya biar Suci yang membereskannya” ucap Suci sambil mengambil handuk dari tangan Dimas, kemudian pergi menaruhnya.


Dimas pun langsung menyeruput teh tersebut dengan perlahan sambil mencoba untuk menghilangkan semua kejadian itu.


“Suci, maafkan suami ini yang belum bisa menjaga cinta kita seutuhnya. Maaf juga karena tanpa sengaja aku telah mengkhianatimu dengan sahabatmu sendiri, aku hampir saja khilaf sayang. Sekali lagi maafkan aku sayang, aku belum bisa mengatakan kejadian ini yang sejujurnya padamu karena jika kamu tahu maka aku yakin kamu akan sangat kecewa dengan diriku. Aku tidak mau sampai harus kehilanganmu, cukup kali ini aku mengkhianatimu aku janji sayang...” ucap Dimas di dalam hati kecilnya.


Suci yang dari jauh dapat melihat jika saat ini kondisi Dimas benar-benar sangat berbeda dari biasanya, seperti ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Namun Suci tidak mau berpikir buruk tentang suaminya itu. Suci harus percaya pada Dimas karena Suci tahu jika Dimas sangat mencintai dirinya.


“Sepertinya, Mas Dimas butuh kehangatan dari Suci deh. Apa lagi, Suci kan sudah selesai berhalangan, jadi apa salahnya kan Suci menyenangkan Mas Dimas supaya rasa lelahnya bisa sedikit terobati hem...” ucap Suci di dalam hatinya sambil tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁


Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗


Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊


Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄


Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰


Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️


Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2