Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Mas Arsya Memang Benar


__ADS_3

Suci berbicara sambil menatap lurus ke depan, sambilmengutarakan isi hatinya karena ia tahu jika Fajar juga merasakan hal yang sama seperti apa yang saat ini Suci rasakan.


“Akhir-akhir ini aku juga merasa seperti itu, Mbak” saut Fajar sambil menatap ke depan.


Suci menoleh ke arah Fajar, “Jangan memanggil aku dengan sebutan Mbak, cukup panggil namaku saja yaitu Suci” kemudian Suci kembali menatap ke arah depan.


“Baiklah Suci. Jika memang kamu tahu maksud dari tujuan Elsa merebut suamimu, lantas kenapa kamu membiarkannya? Kenapa kamu tidak melarangnya, bahkan kamu juga bisa langsung mengatakannya pada suamimu bukan?” tanya Fajar.


“Tidak semudah itu, Fajar. Aku tidak ada bukti apa pun jika Elsa berniat untuk menyingkirkan aku dan mengambil hakku. Jika ada pun aku akan langsung memberitahukannya, tanpa harus melihat suamiku menikahi sahabatku sendiri” jawab Suci yang berusaha tegar menahan air matanya.


“Kalau begitu, kenapa kamu tidak bercerai saja dengannya? Atau kamu bisa menolak semua ini, bukan malah mengizinkan suamimu menikahi Elsa. Apa kamu sudah gila, membiarkan wanita selicik itu memasuki kehidupan kalian?” ucap Fajar dengan wajah penasaran.


“Ya, memang aku sudah gila. Gila karena aku begitu tulus mencintai suamiku, namun pada akhirnya aku pula yang tersakiti"


"Jika kamu bertanya kenapa aku mengizinkan suamiku menikahi Elsa dan membiarkan Elsa menjadi duri di antar kami, itu karena aku tidak mau menyerah"


"Aku harus bisa membuktikan kepada mereka semuanya jika Elsa yang dulu berbeda dengan Elsa yang sekarang"


"Belum lagi sekarang Elsa sedang mengandung benih dari suamiku, jadi aku tidak mau menjadi wanita egois yang hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri tanpa memikirkan nasib anak yang ada di dalam perut Elsa"


"Bahkan aku tidak mau anak itu lahir tanpa seorang Ayah atau pun tidak bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang lengkap”


Suci menjawab semua pertanyaan Fajar, yang malah membuat dirinya benar-benar terkejut dan juga shock akibat mendengar jika Elsa sedang mengandung.


“A-apa? E-Elsa mengandung anak dari suamimu? Bagaimana mungkin, apa mereka pernah melakukan hubungan intim?” sahut Fajar sambil menatap Suci dengan wajah begitu tegang.


“Ya aku kurang tahu sih, tapi itu menurut pengakuan mereka sendiri. Mereka mengakui bahwa mereka pernah melakukan hubungan intim, bahkan lebih dari sekali dua kali"


"Belum lagi, Elsa juga pada saat itu tinggal di apartemen suamiku. Jadi bisa saja mereka sering melakukannya, bukan?” tanya Suci yang membuat Fajar langsung terdiam.


“Elsa mengandung anak dari suami Suci, apa iya? Karena belum lama ini aku melakukan hubungan intim bersama Elsa, bahkan aku sengaja mengeluarkannya di dalam supaya aku bisa memiliki anak darinya..."


"Namun kenapa sekarang Elsa malah memiliki anak dari pria itu? Apa maksudnya ini...” gumam Fajar di dalam hatinya sambil melamun yang membuat Suci menoleh ke arahnya.


“Jika dia diam seperti ini, apakah ada sesuatu hal yang terjadi padanya dan juga Elsa? Namun jika aku bertanya soal ini, apakah dia tidak akan tersinggung? Tapi aku memang harus mencari tahu tentang kebenaran ini, apakah anak itu adalah anak dari Mas Dimas atau Fajar” ucap Suci di dalam hatinya.


Fajar yang benar-benar terkejut dan juga bingung, langsung pergi meninggalkan Suci seorang diri.

__ADS_1


“Tungguuu... Aku belum selesai berbicara padamu” pekik Suci sambil berdiri dari kursi taman.


Fajar menoleh ke arah Suci sambil berkata, “Lain kali ya... Saat ini Aku ada urusan penting, nanti aku kan menghubungimu dah...”


Kemudian Fajar kembali berlari dan seketika menghilang begitu saja. Suci yang melihat kepergian Fajar membuat ia menyesalinya, kenapa tadi dia tidak langsung tutup poin saja. Kenapa harus membahas yang lain, itulah yang membuat Suci merasa sedih.


Di satu sisi Suci merasa jika ada yang aneh dengan kehamilan Elsa, namun di satu sisi lagi Suci tidak mau berseuzon pada sahabatnya. Apa lagi keduanya sudah mengakui jika memang mereka sudah melakukan semuanya berulang-ulang kali, tanpa adanya pemaksaan.


Lalu Suci kembali duduk sambil membungkukkan tubuhnya serta kedua tangannya menutupi wajahnya, namun tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk di sebelah Suci.


“Tidak usah cemas, aku siap untuk membantumu apa pun itu” ucapnya sambil menatap lurus ke depan dengan kaki kanan yang diangkat lalu di letakkan di atas kaki kiri serta kedua tangan di lipat di dada.


Suci yang mendengar suara itu tidak begitu asing untuknya, membuat dirinya langsung duduk tegak serta menatap orang yang saat ini berada di sampingnya.


Betapa terkejutnya Suci, saat ia tahu siapa yang ada di sebelahnya ini. Padahal ia sama sekali tidak mengundangnya untuk menghadiri pernikahan kedua dari suaminya, lalu dari mana orang ini bisa tahu keberadaan Suci saat ini.


“Ma-Mas A-Arsya... Ma-Mas Arsya ngapain ada di sini? Kenapa Mas Arsya bisa tahu Suci di sini? Bukannya Mas Dimas sama sekali tidak mengundang rekan bisnisnya? Bahkan teman kantor pun tidak ada yang di undang, lalu bagaimana bisa Mas Arsya ada di sini?”


Suci mencecar Arsya dengan berbagai macam pertanyaan yang membuat ia langsung menoleh ke arahnya.


“Tidak perlu menanyakan bagaimana aku bisa ada di sini, tapi coba tanyakan pada hatimu apakah kamu akan kuat menjalani cinta yang rumit ini? Apa kamu bisa melihat kemesraannya bersama sahabatmu setiap saat?” tanya Arsya yang seketika membungkam mulut Suci hingga ia tidak bisa berkata apa pun.


“Hiksss... Mas Arsya memang benar hiks... Su-Suci tidak akan kuat melihatnya, Mas hiks ..” Suci menangis sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Arsya yang tidak tega, langsung mengeluarkan sapu tangannya yang selalu ia bawa setiap saat di dalam saku celananya.


“Nih...” ucap Arsya dengan cuek sambil memberikan sapu tangan tersebut kepada Suci.


Suci mengintip apa yang Arsya berikan dari balik jari-jarinya, kemudian ia segera mengambilnya karena Suci takut jika sampai make up di wajahnya itu luntur.


“Hiks... Ma-makasih Mas...” ucap Suci sambil mengelap air matanya dengan sapu tangan yang Arsya berikan.


“Buat apa kamu menangisi apa yang sudah terjadi? Percuma, semua tidak ada artinya. Lebih baik kamu fokus menata dirimu agar bisa jauh lebih kuat untuk menghadapi ular berbisa yang sewaktu-waktu akan menggigitmu” ucap Arsya yang membuat Suci menoleh ke arahnya.


“Ya, kamu benar Mas. Aku harus bisa menata diriku agar jauh lebih kuat menghadapi semua ini dan aku akan bangkit untuk membela diriku sendiri di saat semua orang menjatuhkan atau pun menghinaku”


“Aku akan membuktikan pada mereka semua, jika Suci bukanlah wanita lemah seperti apa yang ada di dalam pikiran mereka”Suci mengucapkan kalimat tersebut sambil tersenyum, dan kembali menatap ke arah depan.

__ADS_1


Sedangkan Arsya, ia sedikit melirik Suci dan sekilas mengukir senyumannya. Di saat mereka sedang terdiam, tiba-tiba Suci kembali mengingat bagaimana cara Arsya bisa menemukannya di sini. Lalu ia menoleh ke arah Arsya dengan menunjukkan wajah bingungnya.


“Apa Mas Arsya memiliki kerja sampingan sebagai seorang dukun?” tanya Suci dengan polosnya, sehingga membuat Arsya langsung menatapnya dengan tatapan terkejut.


“Du-dukun? Apa maksudnya kamu berkata seperti itu? Lagian mana mungkin ada dukun setampan diriku ini” jawab Arsya dengan nada sombongnya.


“Ya sih tampan, tapi kalau dingin kayak gini mah sama saja bohong atuh...” gumam Suci dengan suara kecilnya, namun masih bisa terdengar di telinga Arsya.


“Apa kamu bilang? Coba ulangi lagi” seru Arsya dengan nada tegasnya yang membuat Suci menoleh ke arahnya dan menyengir bagaikan seekor kuda.


“Heheh... E-enggak kok. Iyaa Mas Arsya tampan, tapi-...” jawab Suci yang membuat Arsya penasaran.


“Tapi apa?” sahut Arsya dengan tegang.


“Tapi kalau di lihat dari atas Monas menggunakan sedotan minuman gelas yang kecil haha...” ucap Suci sambil tertawa yang malah membuat Arsya semakin kesal.


“Yaaaaa... Dasar wanita menyebalkan!” pekik Arsya dengan nada tinggi.


“Huaaa... haha... Ada monster ngamuk hahaa...” tawa Suci pecah sambil berlari seakan-akan ia telah melupakan kejadian yang membuat hatinya begitu sakit.


“Mau kemana kamu, hah!” ucap Arsya yang langsung mengejar Suci.


“Kemana saja boleh yang penting bahagia haha...” jawab Suci sambil menoleh ke arah Arsya dan kembali berlari mengelilingi taman.


Bahkan saat ini Suci lupa jika dirinya sedang menggunakan kebaya, sehingga langkah kakinya tidak bisa cepat. Sedangkan Arsya hanya mengikuti Suci dari arah belakang dengan langkah kaki yang besar dan membuat jarak di antara mereka tidak terlalu jauh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Jangan bosan-bosan ya buat dukung Author Cubby ini... 🤭🤭🤭


Jangan lupa untuk selalu tersenyum dan bahagia ya semuanya... 😁😁😁


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗

__ADS_1


Sayang kalian banyak banyak semua pembaca setiaku 🤗🥰❤️🤍


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2