
“Kejadian? Kejadian apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya sangat penting, bahkan sampai-sampai Suci tidak boleh mengetahuinya ya...” ucap seseorang yang berdiri di samping sofa mereka.
Dimas dan Elsa pun langsung bersamaan menoleh ke arah sumber suara tersebut, sambil memasang wajah terkejut hingga penuh kegelisahan.
“Pak Di-Dion?” pekik Elsa dengan wajah cemasnya hingga, keringat dingin pun keluar dari sela-sela rambut Elsa.
“Bisakah jika ingin masuk ke ruanganku, mengetuk pintu lebih dulu. Jangan asal main menyelonong masuk saja kek jalangkung tak di undang” ucap Dimas dengan nada dinginnya sambil merasakan kekhawatiran sampai-sampai keringat dingin Dimas pun ikut keluar
“Lah, saya kan memang seperti ini. Bahkan Tuan pun seharusnya sudah hafal dong, jika hanya saya yang bisa masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Namun siapa pun selain saya harus dan wajib mengetuknya lebih dulu, jadi kenapa sekarang menjadi permasalahan?” tanya Dion dengan wajah datarnya.
Dimas pun langsung terdiam, karena apa yang Dion katakan memang benar jadi Dimas tidak tahu harus menjawab apa lagi. Elsa yang melihat Dion seperti sedang menatapnya dengan tatapan aneh, membuat Elsa semakin tidak nyaman. Lalu ia berdiri dari duduknya sambil sedikit membungkuk.
“Tuan, saya izin pamit ke meja saya lebih dulu karena pekerjaan saya sudah menunggu, permisi semuanya” ucap Elsa.
Setelah berpamitan, Elsa langsung buru-buru keluar dari ruangan Dimas. Elsa percaya, jika Dimas tidak akan menceritakan kartu As-nya kepada Dion. Ya meskipun mereka bersahabat namun tidak semua harus Dion ketahui, bukan? Seperginya Elsa dari ruangan Dimas, Dion langsung saja duduk di depan Dimas yang mana kursi itu bekas Elsa duduki tadi.
“Apa maksud omongan lu tadi sama si Elsa? Jangan bilang lu berdua ada main?” tanya Dion dengan penuh penyelidikan.
“Maksud omongan lu apa? Lu nuduh gua ada main sama sahabat istri gua sendiri, hah!” bentak Dimas untuk menutupi kesalahannya.
“Wiss... Santai dong, gua kan cuma nanya kali. Kalau memang lu enggak ada hubungan sama tuh cewek jadi ngapain lu esmoci begini” pekik Dion dengan penuh tanda tanya.
“E... ya-ya lagian l-lu kayak seolah-olah nuduh gua begitu, ya jelaslah gua marah. Siapa sih yang enggak marah kalau di tuduh tanpa bukti” jawab Dimas dengan nada terbata-bata.
“Lah, itu mulut lu kenapa? Keserempet mobil? Tumben-tumbenan banget ngomong gelagapan begitu. Seorang Dimas yang gua kenal itu enggak pernah yang namanya ngomong sampai keserimpet kayak gitu. Gua yakin pasti lu berdua ada apa-apa kan, ngaku deh...” saut Dion dengan tatapan penuh interogasi.
Dimas yang semakin merasa terpojok, tidak tahu harus menjawab apa lagi pertanyaan dari Dion. Namun jika Dimas tidak bisa mengontrol rasa paniknya, pasti Dion akan tambah curiga padanya. Lalu Dimas mencoba untuk mengalihkan obrolan mereka.
“Tapi ini masih jam kerja, jadi lu ngapain ada di ruangan gua? Memangnya tugas yang gua kasih semalam sudah beres?” tanya Dimas dengan tatapan tajam.
“Eh... hehe... a-anu... i-itu... hem aduh... gimana ya hehe...” jawab Dion sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan cengengesan.
“Ana, anu, ana, anu... Tadi lu ngatain gua keserempet mobil, terus ini apa? Keserimpet daster emak-emak kompleks” ucap Dimas dengan datar.
“Hehehe... Sorry, lagian pas gua masuk liat ada Elsa jadi gua lupa deh. Niatnya pengen bilang sama lu, kalau gua sedikit kesulitan ngerjain perkerjaan itu sendirian. Biasanya kan kalau ada Lisa gua bisa tanya-tanya bahkan dia selalu bantuin gua. Cuma kam Lisa belum balik, jadi gua harus nanya sama siapa ya?” pekik Dion.
__ADS_1
“Tanya sana sama rumput tetangga yang lebih hijau dari rumput lu sendiri” saut Dimas yang langsung pergi ke arah mejanya untuk mengecek data-data perusahaan.
“Mana ada rumput gua hijau, ada juga hitam kecokelatan kali. Belum lagi kaya kriting-kriting gimana gitu hahaha...” jawab Dion sambil tertawa terbahak-bahak yang membuat Dimas jengkel dan langsung melemparkan pulpen tepat di kepala Dion.
Bugh !...
“Awwwwssh... yakk... Dasar bos gila!! Di kata judat gua ini tembok kali, gua aduin Suci baru tahu rasa lu” ancam Dion sambil mengusap dahinya.
“Wahhh... Ngajak gelut nih orang, mainannya ngancem-ngancem...” ucap Dimas sambil berdiri dengan sangat tegak.
“Apa? Memangnya gua berani sama lu apa” pekik Dion sambil berdiri memasang kuda-kuda dan menatap Dimas dengan tatapan tajam.
“Kalau lu enggak berani sama gua, ngapain lu ancang-ancang kaya gitu?” saut Dimas dengan wajah heran
“Ya buat jaga-jaga aja, emangnya enggak boleh apa?” ucap Dion dengan nada nantangin.
“Oh, jadi lu nantangin gua! Oke... Siapa takut” jawab Dimas dengan sangat dingin.
Kemudian Dimas berjalan selangkah demi selangkah untuk mendekati Dion. Namun Dion berusaha berani untuk menghadapi tubuh Dimas yang mana jauh lebih kekar darinya. Seketika Dimas maju, Dion malah mundur dengan gaya menonjok angin sambil matanya menatap tajam layaknya seekor Elang.
Saat Dimas sudah tepat berada di depan Dion dan Dion pun sudah mentok di belakang pintu, kemudian Dion berkata “Eittzz... Tu-tunggu dulu, gua belum siap”
Dimas tahu jika Dion tidak terlalu jago untuk bela diri. Gayanya saja yang ketinggian, sampai-sampai memasang kuda-kuda. Padahal Dion tidak ada apa-apa jika harus menjadi tandingannya Dimas yang mana Dimas pernah menjadi juara bela diri, taekwondo, atau pun silat. Jadi Dimas tidak perlu repot untuk mempersiapkan diri karena dia sudah sangat hafal jika musuh menyerangnya secara tiba-tiba.
“Si*al!! I-ini kenapa Dimas malah balik nantangin gua sih. Memangnya dia enggak tahu apa, kalau ilmu bela diri gua itu rendah. Lagian juga ini mulut ngapain sih lemes banget kek cewek, kalau gini kan gua sendiri yang kena getahnya. Ayo, mikir Dion mikir cepat sebelum riwayatmu tamat ugh...” ucap Dion di dalam hatinya sambil menggerutuk kebo*dohannya.
“Haha... Pasti saat ini dia sedang menggerutuki kebo*dohannya karena berani-beraninya menantang sang juara bela diri. Tapi syukurlah dengan begini Dion tidak lagi mengingat percakapanku dengan Elsa tadi kan...” ucap Dimas di dalam hatinya.
“Ayolah, lama! Tangan gua udah gatel nih, udah lama juga gua enggak latihan. Siapa tahu gua bisa matahin tulang kering lu itu, atau bisa membuat tulang rusuk lu retak haha...” ledek Dimas yang membuat Dion bergidik ngeri.
“Nj*ir... Serem amat ini orang, astaga! Gua lupa, dia kan jago banget bela diri. Ya ampun Dion... Dion, kenapa lu nantangin tuh bocah sih. Arggghhh... Ini mah namanya gua nyerahin nyawa ke kandang singa, please... Ayolah otak buruan kek mikir, kenapa di saat-saat kaya gini lemot banget sih. Bagian liat cewek cantik dikit langsung lancar jaya tanpa hambatan argh...” gumam Dion di dalam hatinya
Dimas yang memang sudah gatal ingin menjahili sahabatnya ini, seketika ia melayangkan gerakan-gerakan kecil yang membuat Dion refleks langsung menangkisnya.
“Hiiyaaakkkk...” ucap Dion sambil melompat karena Dimas menghantam kakinya.
__ADS_1
“Wihh... Boleh juga nih, sepertinya ada kemajuan ya dalam bela dirimu itu haha...” ledek Dimas.
“Si*al! Bisa-bisanya gua lagi lengah lu malah main serang-serang aja. Terima balasan dari gua nih, hiiyaaaakkkk...” teriak Dion sambil menonjok wajah Dimas, yang mana ia meleset dan malah nyungsep ke sofa dengan keadaan kaki nangkring di senderan sofa.
Lalu kepalanya berada di sela-sela pinggiran sofa, dan Dimas yang melihat itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya, “Bhahaha... Padahal gua tadi diam doang loh kenapa lu malah nyungsep haha...”
“Huaaaa... Wajah tampan gua ke gencet sofa” teriak Dion dengan suara yang lantang sambil mengusap wajahnya.
“Haha... Kasihan, sakit ya haha...” ledek Dimas yang lagi-lagi membuat Dion geram.
Dion yang tidak terima dengan ledekan dari Dimas seketika langsung berlari ke arah Dimas. Namun tanpa Dion sadari, kakinya keserimpet sofa lainnya. Sehingga Dion kembali menyungsep ke lantai yang membuat Dimas semakin tertawa kencang.
“Arrrrgghhh... Hari ini kenapa sih gua si*al banget kayanya. Mau mukul lu aja pake acara nyungsep-nyungsep segala lagi. Berasa tubuh lu kek ada perisainya” ucap Dion dengan kesal sambil duduk di lantai.
“Haha... Makannya lu jangan macam-macam sama gua. Jadi kualat kan” tegas Dimas di sela-sela tawanya.
“Lu kata lu orang tua gua pakai kualat segala. Dahlah gua mau balik ke ruangan, percuma gua ke sini juga enggak ada faedahnya” pekik Dion sambil keluar dari ruangan dengan wajah kesalnya.
Elsa yang melihat wajah Dion seperti kesal membuat ia penasaran. Padahal tadi ia dengar suara cekikikan, lalu kenapa Dion keluar malah dengan wajah murung dan kesalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊
Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
__ADS_1
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻