
Ya mungkin tadi Arsya gugup di tambah ia melihat penampilan Suci yang sangat berbeda sehingga membuat fokusnya menjadi buyar. Tapi kini tidak lagi, Arsya menjadi benar-benar sangat fokus tanpa mengalihkan sedikit pun matanya dari mata sang penghulu. Kemudian Bapak penghulu kembali mengucapkan kalimat ijab kabul dengan sangat jelas dan juga penuh ketegasan.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Suci Permata Sari binti Achmad Sholeh dengan maskawin tersebut, dibayar tunai” jawab Arsya dengan satu tarikan napas dengan sangat tegas, di penuhi dengan suara baritonnya dan penghulu tersenyum lalu dia menoleh menatap para saksi yang ada.
“Bagaimana para saksi? Apakah Sah atau tidak?” ujar Bapak Penghulu.
“Sah...” teriak semua orang seisi gedung dengan sangat keras yang di barengi dengan tepuk tangan yang meriah untuk menyambut status baru dari kedua mempelai.
Ekspresi Dimas yang awalnya ia sangat percaya diri dan juga tersenyum remeh, kini hilang entah kemana. Sekarang ini hanya ada wajah kesal, marah dan juga penuh penyesalan.
“Arrrgggghhhhh... si*allllll... kenapa sah, sih! Kenapa juga dia mengucapkannya selantang itu, Arrrghhhhh... si*alllaaan... si*alll... si*allll...” pekik Dimas di dalam hatinya.
Arsya lalu melepaskan tangannya dan ia tersenyum penuh kemenangan menatap ke arah wajah Dimas yang terlihat tidak baik-baik saja.
“Bagaimana rasanya hem... Kau kira aku akan membatalkan pernikahanku sendiri hahh!? haha... dasar bod*doh!!” gumam Arsya di dalam hatinya.
“Arrrggghhhh... si*alll... kenapa sih Suci selalu lebih beruntung dariku. Jika aku tahu pria itu jauh lebih kaya dari Dimas, mungkin aku yang ada diposisinya saat ini! Tidak seperti sekarang ini... bahkan aku hanya mendapatkam mahar yang sangat jauh dan tidak bisa dibandingkan darinya. Sedangkan Suci? Maharnya itu malah mendapatkan perusahaan, uang, dan juga berlian!"
"Arrrghhh... benar-benar tidak adilll!!! Aku benci semua ini, aku benciii!!! Lihat saja kau Suci... hidupmu akan aku pastikan tidak akan tenang...” teriak Elsa di dalam hatinya dengan tatapan penuh dendam.
Inilah rasa iri dan dengki yang tidak bisa melihat orang lain bahagia. Padahal dari dulu Suci dan Elsa adalah sahabat kecil yang sangatlah baik dan juga harmonis. Namun hanya karena nasibnya Suci jauh lebih baik darinya, membuat Elsa tamak akan harta dan juga semua yang terlihat tidak boleh melebihi apa yang ia punya.
Bunda Reni dan Lisa berlompat-lompat kecil penuh kegembiraan saat Arsya dan Suci kini benar-benar sudah sah sebagai pasangan suami istri. Bahkan mereka melupakan jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian orang banyak, tapi tidak masalah seenggaknya Suci dan Arsya sudah menikah.
__ADS_1
Sekarang saatnya semua orang terdiam mendengar do'a yang Bapak penghulu panjatkan untuk kedua mempelai agar menjadi bekal utama agar mereka bisa melangkahkan kakinya bersama-sama. Lalu setelah selesai, sang MC kembali berbicara untuk mengarahkan kedua mempelai itu supaya mereka melakukan sungkeman pada satu sama lain.
Dengan gerakan secara perlahan, Suci memegang tangannya Arsya dan ia pun mencium tangannya begitu lembut dan membuat Arsya tak terasa meneteskan air matanya penuh kebahagiaan. Begitu pula dengan Suci yang juga menangis menatap Arsya setelah sungkeman.
Kemudian Arsya meraup wajah Suci dan mencium kening Suci dalam keadaan mereka yang saling menutup matanya. Bahkan air mata Arsya terjatuh tepat di pipi Suci dan bercampur menjadi satu dengan air matanya Suci.
Kini saatnya sesi pemasangan cincin pernikahan di jari keduanya. Arsya lalu membuka kotak kecil berbentuk hati dan memperlihatkan betapa indah dan juga cantiknya sepasang cincin intan berlian dengan desain yang cantik, simpel tapi sangat mewah. Cincin mereka di desain khusus oleh Arsya dengan bantuan para ahli lainnya hingga tidak akan ada yang bisa meniru desain tersebut.
“Mas, pulang yuuk... aku sudah sangat bosan berada di sini. Acara ijab kabul juga sudah selesai kan jadi buat apa kita lama-lama di sini? Kasihan tahu Mamah sendirian mengurus Baby Diva di rumah” ucap Elsa yang semakin panas melihat perlakuannya Arsya kepada Suci yang benar-benar memanjakan Suci dengan semua yang dia punya.
“Nanti dulu Sa, aku belum mengucapkan selamat kepada mereka. Jika aku sudah mengucapkannya, baru kita pulang. Aku masih mau di sini untuk menyaksikan semuanya” ucap Dimas sambil menatap lurus ke arah Arsya dan juga Suci.
Sampai seketika tanpa sepengetahuan Elsa, tangannya Dimas sudah mengepal kuat karena ia melihat hal yang sangat membuatnya merasa cemburu. Saat ini Arsya sedang mengelap air mata Suci yang dari tadi mengalir tanpa henti saat dia merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dia rasakan.
Lalu Arsya menggandeng tangan Suci untuk berjalan secara perlahan menaiki 3 anakan tangga menuju atas panggung pelaminan, yang mana di sana sudah ada Bunda Reni, Ayah Al dan juga Papah Angga yang menyambutnya. Kemudian Arsya berlutut di depan Ayah Al, sambil Suci berlutut di sampingnya Arsya untuk menunggu giliran.
Arsya memegang tangan Ayah Al sambil dia menatapnya dengan tatapan sangat bahagia. Entah kenapa dua pria ini yang terbilang sangatlah dingin dan juga kaku itu, seketika mereka pun meneteskan air mata secara bersamaan.
“Ayah, maafkan Arsya kalau selama ini Arsya sudah membuat Ayah kesal dan juga marah. Tetapi kali ini Arsya mohon doa restu dari Ayah supaya Arsya bisa membina rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warohma bersama Suci yang saat ini sudah menjadi istri sahnya Arsya...”
“Mohon Ayah bimbing Arsya untuk bisa menjadi seperti Ayah yang selalu dapat menyayangi Bunda tanpa ada rasa lelah dan juga tolong ajarin Arsya bagaimana cara menjadi laki-laki sejati yang hanya cukup dengan 1 wanita. Arsya janji akan buat istri Arsya bahagia, sebahagianya Bunda yang bisa memiliki Ayah...” ucap Arsya yang membuat Suci, Bunda Reni dan yang lainnya pun menangis.
Entah kenapa kalimat Arsya benar-benar sangat menyentuh hati setiap wanita. Ayah Al pun tersenyum di sela-sela isak tangisannya, sambil dia memeluk Arsya dengan sangat erat dan menepuk-nepuk punggung Arsya.
__ADS_1
“Jadilah dirimu sendiri yang mana kamu harus bisa membahagiakan istrimu ini sampai dia pun lupa bagaimana caranya menangis. Janganlah menjadi seperti diriku yang rela mengejar harta, sampai lupa jika harta yang paling berharga itu sesungguhnya ialah keluargaku sendiri”
“Banyak sekali hal yang sudah terlewati sampai-sampai aku sendiri pun tak tahu jika istriku sendiri telah bertahun-tahun menanggung beban yang sangat berat. Sampai detik ini pun penyesalan ini tak akan pernah aku lupakan, pesanku pada dirimu hanya satu. Utamakan keluarga, baru hal yang lainnya sebelum kau ikut terjebak merasakan penyesalan yang sama sepertiku”
Ayah Al melepaskan pelukannya dan dia juga menepuk pelan pipi Arsya dengan sangat bangga. Lalu Arsya pun bergeser untuk sungkeman pada Bunda Reni, dan begitu juga dengan Suci yang kini ia ikut bersungkeman kepada Ayah Al.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih sepi nih 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja ya... 🤭🤭🤭
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semuanya... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1