Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Merek Apel di Gigit


__ADS_3

Dila dan Suci yang sudah bersiap kini langsung berjalan mendekati mereka semua, kemudian mereka bertiga pamit kepada Bi Ning dan Pak Mat.


Lalu Dimas langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan Villa menuju Mall yang cukup memakan waktu agar bisa sampai ke sana.


...*...


...*...


1 jam berlalu...


Akhirnya mereka bertiga telah sampai di salah satu Mall yang cukup besar. Lalu saat Dimas sudah memarkirnya mobilnya, kini saatnya mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam Mall.


Mereka berjalan menaiki eskalator menuju lantai 3 dimana itu adalah tempat semua alat elektronik mulai dari ponsel, laptop, televisi dan lain-lain. Suci dan Dila yang kini semakin akrab membuat mereka saling bergandengan.


Bahkan Dimas pun sedikit merasa iri saat Suci menggandeng tangan Dila. Namun di satu sisi Dimas pun senang Suci bisa tersenyum seperti ini saat bersama Dila, berbeda jika Suci bertemu dengan adik kandung Dimas yaitu Vina.


Meskipun Dila sudah di anggap adik angkat oleh Dimas, tapi Dimas merasa Suci malah sangat dekat kepada Dila. Sampai sepanjang jalan mereka bercanda sambil melihat-lihat ke semua sudut.


“Loh kok kita ke sini Mas? Memangnya Mas mau beli apa?” tanya Suci dengan wajah bingungnya saat Dimas berhenti di semua toko ponsel yang cukup besar dari yang lain.


“Aku mau belikan Dila ponsel sayang. Aku tidak tega melihat Dila harus selalu tergantung pada temannya saat belajar. Lagi pula juga supaya Dila bisa memberikan kabar kepada orang tuanya sehingga tidak membuat mereka menjadi cemas dan khawatir memikirkan keadaan Dila saat di luar rumah” jawab Dimas.


“Hah? Se-serius ini Abang ma-mau beliin Dila po-ponsel?” tanya Dila dengan wajah bingungnya.


“Ya seriuslah, biar kamu makin pintar belajarnya. Lalu ingat, gunakan ponsel sebaik mungkin untuk belajar dan mengabari orang tua. Nanti Abang belikan juga buat orang tuamu” ucap Dimas sambil mengusap kepala Dila.


“Yakkk... Abang, rambut Dila berantakan tahu...” ke*luh Dila dengan wajah cemberutnya.


“Aduh, aduh... Adikku yang cantik janganlah cemberut seperti itu, nanti cantiknya di ambil orang loh hehe...” goda Suci sambil tertawa kecil.


“Wah... Kalau ada yang berani mengambil kecantikanku bakalan aku jadikan dia perkedel biar tahu rasa” saut Dila dengan meremas telapak tangannya.


“Jika yang mengambilnya Kak Suci bagaimana?” tanya Dimas.


“Hehe... Ka-kalu itu sih gapapa, Dila ikhlaskan dari pada Dila di pecat jadi adiknya Abang sama Kakak, jadi mending Dila jelek saja hihi...” saut Dila dengan cengengesan yang membuat semua tertawa.


“Kamu ini sudah kayak pekerja saja pecat-pecat, lagian juga sampai kapan pun kamu tetap akan jadi adik Abang sama Kak Suci ya kan sayang...” ucap Dimas.


“Ya dong, aku juga senang banget bisa punya adik. Nanti kita selalu berkabar ya... dan kalau perlu nanti kita sering-sering ke sini ya Mas” jawab Suci sambil menatap Dimas penuh permohonan.


Dimas pun berpura-pura untuk berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu dan berkata, “Hem... Bagaimana ya, iya atau jangan ya...”

__ADS_1


“Ayolah Bang, sering-sering ke sini. Nanti Dila bisa rindu sama kalian semua, Abang tahu kan rindu itu berat. Jadi biar Dilan saja yang merasakan kalau Dila jangan...” saut Dila dengan tatapan memohon.


“Dilan? Siapa itu? Temanmu? Atau kekasihmu? Ya ampun Dila ingat ya, aku enggak mau kamu pacar-pacaran. Nanti saja kalau kamu sudah bisa cari uang sendiri, baru kamu cari pendamping jangan pacaran aku enggak mau nantinya kamu kenapa-kenapa. Lagi pula pacaran juga itu dosa tahu...” saut Suci yang membuat Dila dan Dimas melongo tak percaya.


“Kalau Dilan memang pacarku, aku akan senang Kak. Tapi sayangnya Dilan itu pemain sinetron jadi mana mungkin bisa dekat sama anak penjaga Villa haha...” jawab Dila.


“Sudah-sudah, kapan kita beli ponselnya. Nanti keburu malam bagaimana? Abang pagi-pagi sekali harus pulang karena jam 10an ada meeting, jadi kalau bisa sehabis subuhan kita pulang sayang” ucap Dimas.


“Ya sudah, Mas. Ayo kita lihat-lihat ponsel untuk adikku yang cantik” ucap Suci.


“Kak, nanti bantu aku milih ya soalnya aku kan enggak tahu merk ponsel, apa lagi harganya semua mahal-mahal” saut Dila.


“Tidak perlu milih, biarkan mereka yang menjelaskan fungsi ponsel mana yang terbaik itulah yang kita beli” saut Dimas yang masuk ke toko lebih dulu kemudian di susul oleh Suci dan Dila.


Dila yang merasa sudah sangat dekat oleh Suci, membuat Dila selalu bergelayutan di tangan Suci dan saat ini mereka tepat di depan penjualnya yang mana kali ini seorang laki-laki yang melayaninya.


“Selamat datang di toko kami Kakak, ada yang bisa saya bantu?” ucap laki-laki tersebut dengan sangat ramah menyambut mereka.


“Bisa berikan saya ponsel terbaik yang bisa digunakan untuk apa pun dan juga bisa di gunakan untuk anak-anak sekolah” ucap Dimas dengan datar.


“Ada Kak, sebentar ya saya ambilkan dulu beserta warna lainnya” ucap laki-laki tersebut sambil mengambilkan ponsel yang akan di tunjukkan kepada mereka.


“Ini ponsel terbaik yang kita punya, Kak. Silakan dilihat saja dulu” ucap laki-laki tersebut sambil memperlihatkan ponsel berlogo apel digigit yang masih bersegel.


Dila yang melihat ponsel tersebut di atas etalase kaca, membuat ia langsung membelalakkan matanya.


“Se-serius Bang Dimas mau membelikan aku ponsel Apel setengah? Akhh... Pasti tidak mungkin, toh harganya juga sangat mahal. Mana mau dia mengeluarkan uang terlalu banyak hanya untuk membelikan aku ponsel seperti itu ya kan...” gumam Dila di dalam hatinya.


Laki-laki tersebut pun menjelaskan semuanya terhadap mereka mulai dari fungsi, baterai, kapasitas dan lain-lain. Sehingga Dimas rasa ini cukup untuk Dila karena merek ponselnya tidak terlalu jauh dari apa yang Dimas dan Suci punya.


Ponsel dengan merek Apel di gigit yang mana merupakan ponsel yang cukup mahal bahkan bisa dibilang sangat mahal di antara ponsel lainnya. Maklumlah, Dimas kan merupakan pebisnis terkenal. Mau dia beli apa pun juga tidak akan membuatnya bangkrut atau hartanya tidak akan habis 10 keturunan.


Di saat Dimas sudah paham dengan penjelasan laki-laki tersebut, Dimas langsung menengok ke arah Dila.


“Dila mau warna apa?” tanya Dimas dengan serius yang membuat Dila sangat syok.


“Hah? A-apa Bang? Ma-maksudnya Di-Dila milih warna ponsel merrk itu gitu?” tanya balik Dila dengan terbata-bata.


Dimas hanya menganggukkan kepalanya, yang semakin membuat Dila tak henti-hentinya terkejut.


“Sepertinya warna gold bagus untuk Dila, Mas. Sama kaya punya Suci warnanya” jawab Suci.

__ADS_1


“Ya sudah kalau nunggu jawaban dari Dila, bisa-bisa 7 hari 7 malam kita tidak pulang” ucap Dimas saat melihat wajah Dila yang begitu syok.


“Saya ambil 2, warna hitam dan gold. Lalu tolong di pasangan cardnya sekalian supaya bisa langsung di pakai” ucap Dimas.


“Baik, Kak. Semua akan kami siapkan, jadi Kakaknya bisa langsung menggunakannya. Tunggu sebentar ya Kak” ucap laki-laki tersebut yang langsung mengajak temannya untuk segera memasangkan card atau pun menyeting semuanya agar bisa langsung di gunakan.


Hanya membutuhkan beberapa menit saja, kemudian ponsel pun sudah siap digunakan. Dila yang begitu syok hanya bisa terdiam lemas tak berdaya. Bahkan mulutnya yang sangat bawel itu seketika tertutup rapat-rapat karena sudah di bungkam oleh ponsel yang sangat mahal.


Suci yang bisa merasakannya pun tersenyum lebar, karena dirinya juga pernah ada di posisi Dila pada saat pertama kali menjadi istri sultan yang mana semuanya harus serba bermerek. Meskipun Suci tidak pernah memintanya, tapi Dimas selalu mengajaknya berbelanja atau membelikan sesuatu untuk Suci sang Istri tercintanya.


Suci membawa tas yang berisikan ponsel tersebut, sedangkan Dimas langsung membayarnya menggunakan black card. Setelah semuanya beres, Dimas mengajak Suci dan Dila untuk berbelanja pakaian. Hampir 3 jam mereka di dalam Mall, yang mana kini Suci dan Dila sudah membawa 3 tas belanja mereka masing-masing.


Ya memang Dimas membebaskan mereka untuk berbelanja, tapi sifat Suci dan Dila hampir sama. Mereka berdua tidak terlalu suka untuk berbelanja barang yang tidak di butuhkan cuma karena desakan Dimas, akhirnya mereka hanya memilih 2 setel pakaian untuk masing-masing dan tak lupa 1 setel sepatu pergi untuk Suci dan 1 setel sepatu sekolah untuk Dila.


Sekiranya sudah puas, kemudian mereka langsung pulang menuju Vila. Hingga akhirnya tepat jam 12 malam lebih mereka sampai, di mana Bi Ning dan Pak Mat masih menunggu di dalam ruang tamu Villa supaya bisa menyambut kedatangan mereka walaupun dengan wajah ngantuknya.


Tapi setelah mereka mendapatkan hadiah yang sangat mengejutkan itu, membuat mereka berdua pun merasa sangat berterima kasih kepada Dimas dan Suci yang telah baik kepada mereka bertiga.


Awalnya mereka menolak karena terlalu mahal, tapi berkat Dimas yang memang tidak mau mereka menolaknya maka mau tidak mau mereka menerimanya dengan senang hati sambil mengeluarkan air mata.


Bi Ning dan Pak Mat yang memang tidak tahu cara menggunakannya, membuat Dimas menyuruh Dila untuk mengajarkan mereka. Meskipun Dila sendiri tidak bisa tapi sedikit demi sedikit Dila tahu betul cara menggunakan ponsel seperti apa karena Dila pernah melihat teman sekolahnya menggunakan ponsel bermerek apel di gigit.


Hari sudah semakin larut membuat mereka bertiga kembali ke rumahnya yang berada di belakang Villa. Lalu Dimas dan Suci langsung berjalan ke arah kamarnya dengan saling merangkul. Sehingga mereka bisa beristirahat dengan damai.


Pak Mat, Bi Ning dan Dila masih susah untuk tidur karena mereka tidak percaya dengan apa yang mereka pegang saat ini. Namun pada akhirnya rasa ngantuk mengalihkan semuanya hingga mereka pun tertidur di kamar masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai disini dulu ya cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁


Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗


Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗


Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2