Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Pengaruh Obat


__ADS_3

Dimas mulai mendekatkan wajahnya membuat Suci memejamkan kedua matanya, Suci merasa sangat takut dan tak henti-hentinya memanggil semua nama-nama orang yang dia sayangi agar bisa meminta pertolongan karena apa yang Dimas lakukan padanya adalah sebuah pele*cehan.


...*...


...*...


Di sisi lain, Arsya sangat cemas entah kenapa hatinya merasa begitu gelisah. Hingga akhirnya Arsya kepikiran dengan keadaan keluarganya dirumah, namun semuanya baik-baik saja tidak ada yang terjadi apa pun dengan kedua orang tuanya atau pun ke-4 anaknya.


Bahkan ketika Arsya menelpon keluarganya, Kay langsung meminta Arsya untuk segera menyusul Suci ke toilet karena Kay mempunyai pirasat buruk yang sebentar lagi akan terjadi pada Mommy-nya. Tanpa basa-basi Arsya berlari sekuat tenaga menuju toilet wanita, Arsya tahu bahwa Kay memiliki ikatan batin kuat dengan Suci. Jadi tanpa banyak bertanya Arsya langsung mencari keberadaan Suci.


Dan benar saja, mata Arsya membola ketika mendengar suara isak tangis Suci yang kini sudah terhempit di dinding bersama seorang pria yang saat ini wajahnya mulai mendekati bibir Suci. Tapi sayangnya tidak mengenalinya karena pria itu seperti membelakanginya, tangan Arsya mengepal cukup kuat lalu berlari menyerang pria itu dengan sangat brutal.


Sedangkan Suci dia segera menyingkir di pojokan dalam keadaan meringkuk, dimana dia masih sangat syok dan juga tubuhnya mulai berkeringat dingin, Suci tidak tahu kenapa tubuhnya terasa begitu panas ketika Dimas tidak lagi mendekatinya.


Bughh..


Bughh..


Bughh..


Arsya memukul wajah Dimas dengan penuh emosi dan tidak memberikan celah sedikit pun untuk Dimas menangkis semua pukulan yang Arsya berikan padanya.


"Dasar breng*sek, baji*ngan, bia*dap berani-beraninya kau mele*cehkan istriku, dasar LUZER!!"


"Rasakan ini, haah.. mam*pus loh, ma*ti aja sekalian. Biar tidak ada pria be*jad sepertimu di muka bumi ini!!"


Arsya memukuli Dimas hingga kondisi wajahnya sudah tidak bisa di jelaskan lagi, Suci yang melihat itu langsung menghentikan Arsya karena dia tidak mau suaminya sampai membunuh seseorang hanya karena emosi yang akan menghancurkan semuanya impian mereka. Apa lagi mereka memiliki anak yang masih sangat kecil, dan Suci tidak mau sampai mereka besar tanpa sosok Arsya di sampingnya.


"Mas Arsya sudah cukup, jangan sampai kau membunuhnya. Ingat anak-anakmu di rumah sudah menunggu jangan buat mereka kecewa ketika melihat Daddy-nya menghabiskan waktu yang sangat lama di dalam penjara hanya karena membunuh pria be*jad seperti dia!!" Pekik Suci yang masih dalam keadaan meringkuk.


Arsya yang mendengar kata anak-anak membuat ia langsung terdiam ketika tangan Arsya sedikit lagi akan membogem hidung Dimas, jika bukan karena Suci mungkin saat ini tulang hidung Dimas sudah retak akibat bogeman yang akan Arsya berikan padanya.


Arsya menoleh ke belakang melihat keadaan Suci yang sudah sangat menyedihkan, segera mungkin Arsya bangkit menolong Suci untuk berdiri dan langsung memeluknya.


"Ma-mas, pa-panas hiks.. tu-tubuhku sangat panas. Peluk a-aku Mas pe-peluk yang erat ja-jangan di lepas hiks.." Ucap Suci yang sedikit merasakan tubuhnya mulai nyaman.

__ADS_1


Arsya mendengar suara Suci mulai terdengar sangat parau membuat ia bingung, apa yang terjadi pada tubuh Suci. Lalu Arsya melepaskan pelukannya dan langsung meraup wajah Suci sambil menatap lekat ke arah matanya.


"Ada apa denganmu? Apa yang terjadi katakan padaku, Sayang. Katakan!!" Titah Arsya dengan tegas. Namun Suci bukannya menjawab pertanyaan Arsya dia malah langsung melu*mat bibir Arsya begitu ganas. Arsya melihat reaksi istrinya hanya bisa terdiam dengan perasaan yang sangat bingung.


Beberapa detik kemudian Arsya kembali mengepalkan salah satu tangannya dengan tatapan mematikan, Arsya hanya bisa membiarkan Suci mencium bibirnya dengan sangat brutal karena Arsya paham jika saat ini Suci berada di bawah kendali obat pe*rangsang.


Sedangkan Dimas yang melihatnya hanya bisa meneteskan air mata ketika tubuhnya tidak kuat lagi untuk kembali bangkit, kali ini Arsya benar-benar sudah membuat Dimas terkapar lemas tak berdaya.


Arysa menggendong Suci tanpa melepaskan luma*tan bibir Suci yang terus mencium Arsya sangat agresif. Kemudian mereka pergi meninggalkan Dimas yang saat ini sudah tidak sadarkan diri.


Arsya pergi melewati pintu belakang karena dapat di pastikan saat ini banyak wartawan sedang menginput acara besar tersebut, Arsya tidak mau sampai ada pemberitaan jelek mengenai istrinya dan untungnya saja Arsya berhasil keluar dari gedung tanpa di ketahui oleh siapa pun.


Kemudian Arsya membuka pintu mobilnya sambil menaruh Suci di kursi depan dengan perlahan sambil memasangkan sabuk pengaman. Arsya menatap wajah Suci sekilas dan kembali berlari memasuki mobilnya.


"Sabar Sayang, kita akan segera pulang ke rumah. Aku janji aku akan menghilangkan hawa panas di dalam tubuhmu itu. Aku mohon bertahanlah.." Ujar Arsya dengan sangat cemas menoleh ke arah Suci sambil melajukan mobilnya.


Suci sudah tidak kuat lagi menahan gejolak hasrat yang kini mulai naik, sehingga membuat Suci merasa tidak nyaman bahkan ia duduk dalam keadaan gusar dan tidak bisa diam menangis menahan sesuatu di dalam tubuhnya.


"Hiks.. Ma-mas pa-panas Su-suci sudah tidak kuat lagi hiks.. to-tolong Suci Mas to-tolong hiks.." Suara Suci semakin lama semakin melemah apa lagi Arsya melihat nafas Suci sudah mulai tidak stabil.


"Perjalanan menuju rumah kurang lebih 1 jam, sedangkan Suci sudah tidak bisa menahan tubuhnya sendiri, kalau pun aku bawa ke penginapan itu tidak akan mungkin dengan kondisi Suci seperti ini yang ada malah akan menjadi bumerang bagi reportasenya"


"Ya Allah.. aku harus bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan demi menolong istriku. Aku tidak kuat melihatnya seperti ini hiks.."


Arsya berbicara sendiri ketika fokusnya teralihkan, dimana dia harus fokus pada laju mobilnya dan juga keadaan Suci yang semakin melemah. Sampai akhirnya Arsya terlintas ide yang sangat gila, tetapi itu tidak penting asalkan hasrat yang ada di dalam Suci telah tertuntaskan.


Arsya mencari tempat yang sangat sunyi, lalu melajukan mobilnya melewati ilalang yang sangat tinggi sampai mobilnya berada di tengah-tengah lahan kosong yang di kelilingi oleh ilalang.


Arsya memberhentikan mobilnya dan segera membuka sabuk pengaman yang melilit di tubuh mereka, kemudian Arsya menbenarkan kursi Suci agar posisinya tertidur tak lupa juga Arsya mengunci semua pintu. Untungnya saja kaca mobil Arsya tembus pandang jadi tidak ada yang akan melihat mereka melakukan hubungan suami-istri.


Tanpa menunggu lama Arsya langsung membuka semua pakaian yang menempel di tubuh Suci dengan sangat cepat karena keadaan Suci sudah mulai tidak karuan, lalu Arsya membuka pakaiannya sendiri dan segera naik di atas tubuh Suci.


Ketika kulit mereka saling menempel membuat Suci membuka matanya secara perlahan merasakan tubunya begitu nyaman, Suci melihat wajah Arsya begitu samar di hadapannya.


Arsya segera mencium bibir Suci dengan begitu ganas, Arsya tahu kali ini Suci berada di dalam pengaruh obat jadi ia harus bisa bekerja lebih keras lagi untuk membuat Suci merasa kepuasan berkali-kali lipat sampai pengaruh obat tersebut mulai hilang.

__ADS_1


Arsya menjelajahi tubuh Suci dari atas sampai bawah dengan beberapa tanda cinta tercetak di sana, namun Arsya sangat terkejut ketika Suci langsung membuat Arsya berada di bawahnya.


Kemudian Suci bermain dengan Jaguar dengan sangat gemas, sedangkan Arsya hanya bisa terdiam dengan apa yang Suci lakukan saat ini. Suci yang sudah tidak tahan langsung memulai aksinya untuk memimpin permainan dengan sangat cepat.


Arsya hanya bisa tersebut melihat wajah cantik Suci yang saat ini sedang berada di atasnya dengan rambut terurai menambah kesan kecantikan alami yang keluar dari auranya. Bahkan mobil pun bergoyang bersamaan dengan goyang Suci yang begitu dahsyat.


Tapi sayangnya Arsya tidak menikmati rasa dari penyatuan tubuh mereka karena ini bukan atas dasar cinta serta keinginan, melainkan atas dasar pengaruh obat yang Dimas berikan pada Suci.


Lagi dan lagi Arsya mengepalkan tangannya ketika melihat wajah Suci begitu menikmati permainannya sendiri, mungkin jika Arsya terlambat sedikit saja sudah bisa di pastikan bahwa yang saat ini berada di bawah Suci bukanlah dirinya melainkan Dimas. Pria breng*sek yang akan mengambil Suci darinya menggunakan cara licik.


1 jam berlalu Suci sudah merasa sangat puas dan juga tubuhnya mulai melemah, lalu Suci tertidur dalam keadaan sangat lelah. Arsya melihat Suci hanya bisa meneteskan air matanya ketika Suci hampir saja dilece*hkan oleh mantan suaminya.


Segera mungkin Arsya memakaikan pakaian Suci dengan susah payah, lalu ia juga memakai pakaiannya. Setelah semua sudah terpakai rapi Arsya kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat yang sangat sepi.


Arsya melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dalam waktu 30 menit mereka sampai di rumah. Arsya menggendong Suci memasuki rumah dalam keadaan Suci tidak mengenakan hijab, lalu seseorang yang melihat keadaan Suci membuatnya khawatir karena saat berangkat Suci terlihat begitu rapi tetapi ketika pulang keadaan Suci sangatlah berantakan.


Baru saja Arsya mau melangkahkan kakinya menaiki anakan tangga tiba-tiba seseorang itu langsung menghentikannya. "Tunggu Arsya, ada apa dengan menantuku? Kenapa kondisinya sangat menyedihkan seperti ini. Kau apakah menantuku, hah!"


"Bu-bunda? Astaga, sudahlah jangan menanyakan hal itu dulu. Aku harus segera membersihkan tubuh istriku sebelum ada yang melihatnya, apa lagi keadaan aurat Suci sedikit terbuka. Lebih baik Bunda kembali ke kamar saja, besok pagi akan aku ceritakan semua yang terjadi"


"Aku tidak bisa lama-lama sebelum Kay melihatnya, aku tidak mau membuat Kay sampai mencemaskan keadaan Mommy-nya. Bunda tahu kan bagaimana Kay, dia sangat menyayangi Mommy-nya jadi aku tidak mau dia mencecarku dengan semua pertanyaan yang akan membuatku bingung apa yang sudah terjadi pada Mommy-nya"


Bunda Reni mengangguk kecil dan membiarkan Arsya segera membawa Suci naik menuju kamarnya. Perasaan bingung, khawatir, cemas semua bercampur aduk menjadi satu di dalam diri Bunda Reni. Sehingga ia pergi ke dapur untuk mengambil minum lalu kembali ke kamarnya.


Sedangkan Arsya langsung mengambil air serta kain untuk membersihkan tubuh Suci yang sangat berkeringat akibat pertempuran yang sangat dahsyat. Perlahan demi perlahan Arsya mengelap semua tubuh Suci hingga bersih, tak lupa ia juga menghapus make up yang ada di wajahnya.


Setelah semua bersih Arsya langsung memakaikan baju piyama pada Suci. Kemudian ia menyelimuti serta mencium kening Suci, lalu meninggalkannya untuk membersihkan tubuhnya serta membawa semua baju kotor ke dalam kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama Arsya keluar dari kamar mandi dengan keadaan tubuh sedikit segar, ia berjalan menaiki ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya.


"Selamat tidur istriku, aku harap hal seperti ini tidak akan kembali terulang dan aku akan lebih ekstra lagi dalam menjagamu dari semua yang akan membahayakanmu"


"Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah menyelamatkan kesucian istriku dari pria be*jad seperti DIA. Semoga ketika Suci terbangun nanti, aku tidak lagi melihat rasa ketakutan yang besar di dalam dirinya, aamiin.."


Arsya mencium kening Suci dengan begitu lama sampai tak terasa air matanya menetes, kemudian Arsya merebahkan tubuhnya kembali sambil memeluk Suci dan memejamkan kedua matanya memasuki alam bawah sadarnya.

__ADS_1


__ADS_2