
“Hiks... Dok, istrinya Tuan Dimas sangat kuat sekali ya menerima cobaan sebesar ini. Apa lagi dia seorang wanita, yang mana pasti saat berumah tangga seorang istrilah yang di tuntut untuk memberikan anak kepada pihak laki-laki. Namun istrinya Tuan Dimas begitu tegar menghadapi semua cobaan yang sangat berat untuknya. Jika saya yang berada di posisi dia, mungkin saja saat ini saya sudah pingsan dan enggak akan mau kembali terbangun untuk melanjutkan hidup dengan keadaan seperti itu” ucap sang suster sambil berbisik.
“Ya Sus, kau memang benar aku pun juga tidak akan kuat untuk menjalani kehidupan ini tanpa adanya seorang anak yang akan menjadi penguat bagi rumah tangga itu sendiri. Apa lagi saat mendengar penjelasanku, Nyonya Dimas malah tersenyum sambil menangis. Itu pasti rasanya sangat menyakitkan ketimbang kita menangis sekencang-kencangnya. Nyonya Dimas bisa tersenyum di saat musibah besar menghantamnya itu adalah hal yang sangat luar biasa. Bahkan tidak semua orang bisa menerima kenyataan sepahit ini dengan keadaan tersenyum. Saya yang sebagai dokter pun jika mendapat cobaan sebesar itu tidak akan bisa sekuat dirinya. Apa lagi kesempurnaan seorang istri terdapat pada rahimnya, lalu bagaimana jika rahimnya tidak sehat seperti Nyonya Dimas? Apakah itu bisa dikatakan dia belum bisa menjadi seorang istri yang sempurna?” bisik sang dokter sambil meneteskan air mata.
“Ya benar sekali, Dok. Kesempurnaan istri terletak pada rahimnya, jika ia bisa memberikan keluarga suaminya keturunan maka itu bisa dikatakan bahwa dia sudah menjadi seorang istri sepenuhnya. Tetapi jika tidak, maka kemungkinan besar dia akan selalu di kucilkan oleh pihak laki-laki karena banyak yang sudah kejadian seperti itu. Bahkan sampai bercerai hanya karena sang istri tidak bisa memberikan keturunan. Semoga saja pernikahan mereka tidak sampai seperti itu, ya Dok” bisik sang suster sambil menghapus air matanya.
“Amin ya Allah, semoga saja hubungan pernikahan mereka akan langgeng selamanya dan Allah bisa memberikan mukjizatnya pada mereka” saut sang dokter sambil menghapus air matanya.
Seketika keadaan hening hingga 10 menit lamanya lalu saat Dimas dan Suci selesai dengan isak tangis mereka, kini membuat mereka melepaskan pelukannya satu sama lain. Suci kembali tersenyum sambil mengusap air mata Dimas, yang mana posisi mereka sangatlah terbalik. Dimas yang awalnya ingin menjadi sumber kekuatan Suci, namun kini malah Sucilah yang menjadi sumber kekuatan Dimas.
Bahkan Suci selalu mengatakan kalau semua ini akan baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkan dirinya karena jika Allah sudah memberikan cobaan pada hambanya, maka itu tidak akan melebihi kemampuannya dan jika Allah senang memberikan cobaan pada hambanya, maka itu tandanya Allah sangat menyayanginya.
Bahkan Allah pun tidak akan memberi cobaan kepada hambanya dengan cuma-cuma. Tetapi Allah akan memberikan imbalan hadiah yang begitu besar jika hambanya mampu melewati semuanya dengan penuh keikhlasan serta selalu sabar dalam menghadapinya dan juga tanpa adanya rasa mengeluh sedikit pun.
Sang dokter yang sudah bisa melihat keadaan keduanya kembali baik-baik saja, lalu ia segera memberikan resep khusus untuk Suci yang nantinya akan mereka tebus di apotek yang berada di rumah sakit. Lalu setelah selesai dengan semuanya, mereka langsung berpamitan untuk pulang, dan tak lupa sang dokter beserta sang suster memeluk Suci untuk memberikannya semangat menjalani cobaan yang besar ini.
Suci hanya bisa berterima kasih dan juga tersenyum kepada mereka, karena mereka telah membuat Suci merasa lebih tegar lagi dalam menghadapi cobaan ini. Kemudian mereka keluar dari ruangan sang dokter dan menuju apotek yang berada di lantai satu rumah sakit untuk segera menebus obat yang akan Suci konsumsi.
Saat semua obat untuk Suci sudah berhasil mereka tebus, kemudian mereka pergi meninggalkan rumah sakit dengan keadaan Dimas yang selalu merangkul Suci dan tersenyum satu sama lain untuk saling menguatkan.
...*...
...*...
Sampai akhirnya mereka telah sampai di rumah kediaman keluar Dimas. Dengan langkah perlahan Suci mencoba untuk menarik nafasnya agar bisa menghadapi kekecewaan dari mertuanya kepadanya.
__ADS_1
Sedangkan Dimas senantiasa selalu berada di samping Suci, sambil menggenggam tangannya untuk menguatkannya serta menunjukkan bahwa Dimas bisa menerima Suci apa pun keadaannya.
Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga untuk mendengar serta melihat hasil tes Dimas dan juga Suci. Mereka masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam, sambil berjalan mendekati orang tua Dimas dan juga Vina untuk bersalaman.
Kemudian Mamah Mita menyuruh Bi Tin membuatkan minuman segar untuk Dimas dan Suci yang terlihat sangat lelah. Bi Tin dengan sigap langsung membuatkan minuman untuk mereka semua sesuai dengan perintah Mamah Mita.
“Bagaimana hasilnya? Apa semuanya baik-baik saja? Pasti Dimas baik-baik saja dong, karena Dimas kan keturunan kami yang mana kami dalam keadaan sehat bahkan bisa memiliki anak 2 sepasang pula” ucap Mamah Mita yang kesannya menyombongkan diri.
Papah Angga yang benar-benar geram dengan perkataan istrinya langsung berbicara dengan nada yang sedikit meninggi, “Mamah, stop berbicara seperti itu! Kita belum mendengarkan penjelasan apa pun dari mereka, jadi tolong jangan asal menebak seperti itu. Mungkin saja mereka berdua baik-baik saja kan”
“Kalau Abang sih Vina yakin baik-baik saya, tapi kalau dia? Vina kurang yakin. Soalnya Vina bisa melihat dari sudut matanya kalau dia habis menangis, bahkan Abang juga sedikit sembab matanya. Pasti ada yang tidak beres dari hasil tes itu kan?” ucap Vina dengan sangat percaya diri.
Dimas dan Suci hanya bisa berdiam diri mendengar ucapan mereka yang memang sangat benar. Tetapi Dimas mencoba menggenggam tangan Suci lebih kuat lagi supaya Suci tahu bahwa dirinya selalu ada di dekatnya.
“Sebelumnya Dimas minta maaf sama semuanya kalau Dimas sudah membuat kalian kecewa karena di sini yang bermasalah adalah Dimas. Dimas tidak bisa memberikan anak untuk Suci, yang mana Dimas juga tidak bisa memberikan cucu untuk kalian bahkan keponakan untuk kamu, Dek. Sekali kali Dimas minta maaf, jadi Dimas mohon jangan selalu menyalahkan Suci akan hal ini, tapi semua ini salah Dimas” ucap Dimas yang membuat Suci terkejut hingga membolakan matanya menatap wajah Dimas tidak percaya.
“Tidak, ini tidak mungkin. Kamu pasti bercanda kan Dimas, ya kan haha... Sudahlah ini bukan waktunya bercanda sayang, mamah serius ingin tahu hasil tes kalian Mamah sudah sangat ingin menimang cucu dari kalian. Jadi stop buat Mamah penasaran yaa...” ucap Mamah Mita dengan wajah yang sudah tidak bisa di ekspresikan.
“Jika memang benar begitu adanya, Papah tidak masalah. Mungkin ini cobaan dari Allah untuk kalian berdua, jadi jangan mudah putus asa. Kalian kan masih bisa mengadopsi anak yang benar-benar membutuhkan kasih sayang orang tua yang sangat tulus, benar kan...” ucap Papah Angga sambil tersenyum menerima semuanya.
Suci yang merasa dirinya tidak berguna, membuat ia seketika menangis yang membuat Dimas langsung memeluknya. Sedangkan Mamah Mita pun sudah meneteskan air matanya tak percaya jika anaknya tidak bisa memberikannya cucu.
“Suci! Jawab pertanya Mamah, apa benar yang dikatakan Dimas barusan kalau Dimaslah yang bermasalah bukan dirimu!” bentak Mamah Mita sambil menangis.
Suci yang terkejut dengan suara kekecewaan yang keluar dari mulut Mamah Mita, membuat dirinya semakin bersalah di dalam pelukan Dimas.
__ADS_1
“Mamah, stop bentak Suci seperti itu. Ini semua salah Dimas. Dimas yang salah, Dimas yang tidak bisa menjadi Ayah jadi tolong jangan pojokkan Suci seperti ini” ucap Dimas sambil meneteskan air matanya dan memeluk Suci.
“Benar apa yang dikatakan Dimas, Mah. Jika Dimas yang bermasalah ya sudah jangan pojokkan Suci seperti itu. Kalau pun Suci yang bermasalah, Mamah juga tidak berhak menghakiminya karena ini sudah kehendak Allah bukan kemauan mereka. Mana ada sih di dunia ini sepasang suami istri yang mau hidup tanpa seorang anak di tengah-tengah mereka, tidak akan ada yang mau Mah. Anak adalah titip Allah, jika Allah belum mau menitipkannya maka sampai kapan pun kita usaha sekeras mungkin tidak akan membuahkan hasil apa pun” tegas Papah Angga.
“Enggak mungkin, pasti ini salah. Hei... Cewek mandul, bilang sama kita semua kalau sumber masalah ini semua ada pada diri lu sendiri. Jangan bikin Mamah sedih deh, dan jangan merasa senang sudah di bela mati-matian sama Papah dan juga Abang” saut Vina dengan kesal.
“Viiinnnaaa...” teriak Papah Angga dan Dimas bersamaan sambil menatap tajam ke arah Vina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊
Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
__ADS_1
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻