Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Calon Suami Saya


__ADS_3

Bunda Reni mantap Suci seolah meminta jawab darinya, dan Suci mengangguk-anggukan kecil kepalanya.


Lalu Bunda Reni menggenggam tangan Suci sebagai penguat untuknya serta berjalan mendahului Arsya, sehingga Arsya menatap keduanya dengan tatapan sebal.


“Ckk... Sebenarnya yang bakal jadi calon suaminya itu siapa sih, kenapa malah Bunda yang di gandeng. Sedangkan aku malah di anggurin kayak gini emang dasar nasib-nasib...” gumam Arsya di dalam hatinya sambil berjalan mengikuti mereka dari arah belakang.


Kini mereka semua pergi menggunakan mobil khusus keluarga dengan Arsya yang menjadi seorang sopir. Sedangkan Bunda Reni sama Suci duduk di kursi belakang dan Ayah Al duduk di depan bersama Arsya. Tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai di depan gedung yang akan menjadi saksi dimana hubungan Suci dan Dimas akan benar-benar berakhir.


Mereka semua turun dari mobilnya, bersamaan dengan mobil Dimas yang baru saja datang. Sehingga membuat perhatian mata Suci teralihkan untuk menatap mobil Dimas.


“Sayang... ingat pesan Bunda tadi ya...” ucap Bunda yang mampu mengalihkan mata Suci dan segera menatap Bunda Reni dalam keadaan tersenyum.


Ayah Al mengusap punggung Arsya dengan perlahan karena ia tahu jika Arsya telah mencintai Suci, sehingga saat melihat Suci masih seperti mengharapkan Dimas itu akan membuat Arsya sedikit sakit. Tapi Arsya memaklumkannya karena semua butuh proses yang tidak mudah baginya.


Bahkan saat awal-awal menikah nanti pun, Arsya tidak bisa membuat Suci akan langsung mencintainya. Arsya tersenyum kecil menatap Ayah Al untuk menunjukkan bahwa dirinya masih kuat dan akan selalu kuat supaya bisa membuat Suci bisa mencintainya.


Walaupun ke depannya Arsya tidak tahu pernikahannya dengan Suci nanti akan berakhir bahagia ataukah perpisahan seperti ini. Suci yang melihat Papah Angga ada di tengah-tengah mereka langsung tersenyum menatapnya dan di balas juga senyuman oleh Papah Angga.


“Mbak Suci...” ucap Elsa sambil berlari kecil ingin memeluk Suci, namun saat Elsa hampir sampai Suci malah menghindar.


“Maaf, Anda ini siapa ya?” tanya Suci yang membuat Elsa terdiam di tempat dengan wajah bingungnya.


Perkataan Suci mampu membuat semua orang menoleh ke arahnya dengan tatapan yang begitu panik.


“Setahuku Suci hanya mengalami depresi bukan amnesia, namun kenapa Suci jadi lupa tentangnya ya...” tanya Arsya di dalam hatinya.


Sedangkan Bunda Reni dan juga Ayah Al cuma bisa menyunggingkan senyum tipisnya melihat sikap Suci.


“Mbak lupa sama aku? Aku ini Elsa loh... sahabat kecil Mbak Suci, masa Mbak Suci tidak mengenaliku?” ujar Elsa dengan tatapan heran.


“Ternyata semenjak Suci tinggal bersama mereka, dia terlihat lebih tegas dari sebelumnya. Semoga saja Suci memang tepat berada di tangan orang-orang baik seperti keluarga Tuan Arsya” gumam Papah Angga dengan perasaan kagum.


“Elsa? Sepertinya anda salah orang, Mbak! Saya sama sekali tidak mempunyai sahabat seperti anda yang rela merebut apa yang menjadi milik saya, tapi tak apa kok..."


"Saya sudah mengikhlaskan semuanya dan mungkin saja benar apa kata orang, jika pengkhianat lebih cocok bersanding dengan pengkhianat” ujar Suci yang refleks membuat Arsya tersenyum.

__ADS_1


“Aku minta maaf, Mbak... mungkin memang ini sudah jalannya. Tetapi Mbak tenang saja, aku akan tetap menjadi sahabat Mbak Suci kok...” ucap Elsa dengan wajah yang tidak tahu malu.


“Tapi sayangnya aku tidak butuh sahabat sepertimu! Lebih baik aku memiliki sahabat yang terlihat sangat breng*sek di luar, tapi ia memiliki hati seperti malaikat. Daripada aku memiliki sahabat yang di luar terlihat bagaikan malaikat, namun di dalam dirinya bersemayam sifat Iblis yang begitu kejam” sahut Suci dengan tatapan penuh kebencian.


“Cihhh... mentang-mentang namanya Suci, jadi sifatnya seperti orang yang paling Suci sedunia. Lihat saja nanti, kau akan hancur saat melihat kebahagiaanku dengan Mas Dimas haha...” gumam Elsa di dalam hatinya, dengan menunjukkan air mata buayanya.


“Hikss... Mb-Mbak kok ngomongnya begitu, apa aku terlihat sekejam itu? Bukankah kita sudah sepakat akan hidup bersama dan saling membagi hak, lalu kenapa Mbak Suci menyerah hiks...” ucap Elsa sambil menangis menatap Suci.


“Hei... mantan menantu tidak tahu diri, ternyata kau diam-diam merebut sahabatku. Jadi ini penyebabnya kenapa saat mengumpul dengan Karina, dia tidak pernah hadir dengan berbagai alasan” pekik Mamah Mita dengan wajah marahnya.


Suci yang mendengar suara tersebut menoleh ke arah Mamah Mita yang sedang menggendong Baby Diva. Suci tersenyum kecil menatap wajahnya.


“Hai mantan Mamah mertua, bagaimana kabarmu hem... Apa sekarang profesimu berganti dari seorang Nyonya besar menjadi Baby sitter? Ya ampun, kenapa jauh sekali perubahannya ya..."


"Padahal aku belum ada 1 tahun meninggalkan rumah itu, dan sekarang sudah banyak perubahan yang terjadi secara mendadak” sindir Suci yang membuat Mamah Mita semakin emosi.


“Kaaaaauuu...” geram Mamah Mita sambil berjalan mendekati Suci dan ingin menamparnya.


Namun sedetik kemudian, Arsya maju tepat di samping Suci serta segera menahan tangan Mamah Mita yang hampir mengenai pipi mulus Suci.


Lalu Arsya menghempaskan tangan Mamah Mita yang hampir membuat tubuhnya oleng. Dimas yang melihat itu, langsung memegangi tubuh Mamah Mita agar tidak terjatuh bersama dengan anaknya yang masih kecil.


“Mahh... Mamah tidak apa-apa, kan?” ucap Dimas dengan wajah khawatirnya.


“Siapa sih orang ini? Kenapa dia berani banget berbicara seperti itu pada Mamah? Dan juga mengapa ia sangat membela Suci? Apa ja-jangan jangan mereka memiliki hubungan di belakang Dimas? Wahh... jika benar, ini akan semakin seru ceritanya hihi...” gumam Elsa dengan sedikit tersenyum.


“Rupanya masih bisa tersenyum juga dia, pantas saja Suci selalu kalah dengannya karena dia selalu menggunakan taktik kepolosan wajahnya untuk menarik perhatian semuanya agar bisa berpihak padanya. Unik sih, tapi sayangnya sebentar lagi kehancuranmu di mulai haha...” ucap Ayah Al di dalam hatinya.


“Oh jadi ini anak kesayanganmu, yang tidak laku itu Ren?” tanya Mamah Mita yang membuat Bunda Reni mengepalkan kedua tangannya menatapnya dengan sorotan tajam.


“Sabar sayang, jangan ke pancing. Lihatlah Suci, ia sedang berusaha menahan dirinya agar tetap terlihat sangat kuat di depan mereka semua. Tapi jika kamu terpancing, maka usaha Suci akan menjadi sia-sia karena di dalam ingatannya, ia telah menjadikan dirimu sebagai panutan untuknya"


"Jadi sekarang kamu harus bisa menenangkan dirimu dan menghadapi mereka dengan kepala dingin” ucap Ayah Al sambil menatap lurus ke arah depan dengan suara lirihnya tepat di telinga Bunda Reni.


Bunda Reni mencoba menetralkan deru nafasnya yang sangat memuncak. Sampai seketika saat ia mau membuka mulutnya dan ingin menjawab pertanyaan dari Mamah Mita, tiba-tiba Suci langsung kembali bersuara.

__ADS_1


“Maaf, Nyonya Mita yang terhormat. Sepertinya anda salah jika berpikir seperti itu tentang CALON SUAMI SAYA!” ujar Suci penuh penekanan yang membuat Dimas, Elsa dan juga Mamah Mita terkejut bukan main.


Arsya yang mendengar ucapan Suci mampu membuat hatinya terasa sangat senang, karena dengan lantangnya Suci telah mengakuinya yang seharusnya ini akan menjadi sebuah hadiah untuk Dimas nanti. Tapi Suci malah mengatakannya di saat hakim belum mengetuk palunya sebanyak 3 kali.


“Ja-jadi Tu-Tuan Arsya ini a-adalah calon su-suamimu?” tanya Dimas yang dari tadi diam, kini telah membuka suaranya.


“Ya, kenapa? Ada yang salah? Dia baik, dia tulus, dia penyayang dan juga dia lebih segala-galanya dari dirimu, DIMAS HARTAWAN!” sindir Suci dengan penuh penekanan, sehingga membuat Dimas benar-benar sangat syok.


“Astagfirullah Mbak, sadar Mbak... Mas Dimas itu ke sini berniat untuk kembali rujuk dengan Mbak Suci, tapi kenapa Mbak malah menyakitinya seperti ini. Apa Mbak tidak kasihan padanya?” ucap Elsa yang langsung mencoba menenangkan Dimas yang saat ini matanya sudah berkaca-kaca.


“Ternyata kamu masih bisa juga ya mengucapkan kata istigfar selancar itu, aku kira sudah lupa haha... Oh iya, tadi apa katamu? Aku menyakitinya? Sejak kapan aku pernah menyakitinya hem... bukankah selama ini kalian yang selalu menyakitiku, bukan?"


"Bahkan aku saja rela menjadi seorang pembantu di dalam rumahku sendiri loh, dan lebihnya lagi aku dengan sangat senang hati menerima maduku untuk tinggal satu atap denganku. Lalu dimana letak aku menyakitinya?” tanya Suci dengan tatapan remeh.


“Kau tidak sadar Mbak, kau itu belum sepenuhnya resmi bercerai dengan Mas Dimas. Tapi sekarang kau sudah ingin menikah lagi? Dimana hatimu itu Mbak dimanaaaa...” pekik Elsa dengan sejuta dramanya untuk membela Dimas yang saat ini masih terdiam membeku mendengar semua itu langsung dari mulut Suci.


Sedangkan Papah Angga saat ini tak henti-hentinya menatap Suci penuh kekagumannya saat Suci yang dulu ia kenal lemah, kini telah bangkit menjadi Suci yang penuh ketegasan dan wibawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳


Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah Kang Salto Barbar kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2