Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Astaga, Hidungku Berdarah Lagi?


__ADS_3

Jadi, jika Diva adalah anak kandung Dimas tentu saja Elsa akan sangat bahagia karena dia tidak akan kehilangan semuanya. Elsa pun turun dari mobilnya sambil membawa semua belanjaan yang ia dapatkan secara geratis di acara peresmian Brand terbaru yang di keluarkan oleh Perusahan Suci.


...*...


...*...


Keesokan harinya, kondisi Diva sudah mulai membaik lantaran obat yang Dimas belikan di Apotek. Namun entah kenapa Diva merasa semakin ke sini badannya semakin tidak karuan, ya walau pun panasnya sudah mendingan tetapi Diva merasakan tubuhnya masih sangat lemas.


Tepat di hari ini, Diva masuk sekolah dengan wajah yang sedikit pucat. Diva selalu menyembunyikan rasa sakitnya sendiri lantaran dia tidak mau membuat sang Nenek merasa khawatir, apa lagi selama ini yang mengurusin Diva adalah Mamah Mita bukanlah Elsa selaku Ibu kandungnya.


Sedangkan Dimas lagi dan lagi dia selalu di sibukkan dengan perusahaan yang semakin hari semakin menurun, banyak langkah dan cara yang Dimas lakukan agar membuat perusahaan tetap stabil.


Tapi naas perusahaan semakin lama semakin menurun hingga mengharuskan Dimas membontang-banting mencari pinjeman di Bank untuk membuat perusahaan terus bertahan sampai Dimas melupakan jika Diva sedari kecil kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya.


Visual Kinandiva Nafiza Hartawan berusia 7 tahun.



Di Sekolah Dasar 05 Melati Putih.


Diva sedang duduk di dalam kelas sambil membaca bukunya, tapu tiba-tiba saja ada salah satu temannya yang duduk di depan kursinya menoleh ke belakang dan menatap ke arah Diva.


"Diva kok wajahmu pucat? Kamu sakit ya? Kalau sakit kenapa kamu sekolah? Seharusnya kamu pergi ke rumah sakit saja, dan berikan izin pada Bu Guru. Aku juga kalau sakit orang tuaku langsung bawa aku ke rumah sakit, padahal kata dokter aku cuman demam biasa karena kecapean"


"Tapi orang tuaku malah selalu membawaku ke rumah sakit meskipun penyakitku tidak parah, katanya sih buat jaga-jaga begitu cuman aku kan capek tahu dikit-dikit ke rumah sakit dikit-dikit minum obat udah kaya orang sakit-sakitan saja humpt.."

__ADS_1


Celoteh teman Diva yang bernama Evi, dia adalah anak orang kaya yang berusia 7 tahun. Ya meskipun Evi adalah orang baik, tetapi terkadang ucapannya membuat hati Diva tanpa di sengaja terluka. Evi dan Diva memang sama-sama anak tunggal, tetapi kehidupan mereka sangatlah terbalik.


Dimana Evi sangat dimanja dan di sayang oleh kedua orang tuanya, sedangkan Diva dia hanya di manja oleh sang Nenek bukanlah kedua orang tuanya. Bahkan kedua orang tuanya malah sibuk sendiri dengan pekerjaannya masing-masing.


Entah sudah beberapa kali Diva suka meminta untuk bermain bersama atau pergi liburan, cuman mereka selalu banyak alesan sehingga Diva hanya bisa tersenyum memendam kesepian di dalam hatinya seorang diri. Setidaknya masih ada orang yang menyayanginya seperti Mamah Mita.


"Hehe.. aku baik-baik saja Evi, aku tidak sakit kok. Cuman mungkin kemarin aku habis sakit jadi masih pucat, tapi tidak apa-apa aku sudah mendingan"


"Husss.. kamu tidak boleh berbicara seperti itu, harusnya kamu bersyukur punya orang tua yang sangat menyayangimu karena banyak di luar sana anak sepertimu yang kurang kasih sayang (contohnya aku)"


"Jadi mungkin saja mereka begitu karena mereka sangat-sangat mengkhawatirkanmu, apa lagi kan kamu anak satu-satunya jadi wajar saja orang tuamu seperti itu. Jadi sudahlah jangan marah-marah nanti wajahmu jelek loh, mau tahu tidak jeleknya kaya gimana? Nih lihat wajahmu di wajahku humpt.."


Diva mencoba menghibur Evi yang terlihat sedikit kesal kepada orang tuanya yang selalu memanjakannya, sehingga Evi tertawa terpingkal-pinggal ketika melihat betapa lucunya wajah Diva ketika ia memperagakan wajah Evi di wajahnya.


Namun, di balik senyum Diva yang senang melihat Evi tertawa dia menyimpan rasa sedih yang amat terdalam bahkan Diva menatap air matanya yang hampir saja mau terjatuh.


"Apa lagi setia sekolah mereka selalu diantar oleh kedua orang tuanya dan juga dimanjakan, sedangkan diriku? Hanya diantar dan dijemput oleh Nenek serta sopir hihihi.. semiris inikah nasib anak yang tidak pernah di inginkan? Bahkan Mamah saja sama sekali tidak pernah mau dekat-dekat denganku katanya aku ini anak pembawa sial dan juga penyakitan jadi Mamah tidak mau ketularanku"


"Huhhh.. sudahlah lebih baik aku fokus belajar biar jadi orang sukses, dengan begitu mungkin Ayah dan Mamah akan bangga padaku jadi mereka bisa menyayangiku seperti anak-anak pada umumnya. Semangat Diva, semangat kamu pasti bisa hehe.."


Diva berbicara di dalam hatinya sambil tersenyum menatap Evi yang kini masih tertawa, tetapi ketika mata Evi kembali menatap wajah Diva tawanya seketika hilang dan malah menjadi terkejut.


"Di-diva, hi-hidungmu.. i-ituu..." Ucap Evi dengan menunjukk ke arah hidung Diva, yang mana membuat Diva tersadar dan langsung memegangi hidungnya.


"Astaga, hidungku berdarah lagi? Ya ampun bagaimana ini, jangan sampai Evi memberitahu ke semuanya. Aku enggak mau sampai Bu Guru ngadu ke Nenek, bisa-bisa nanti Nenek akan semakin sakit memikirkan kesehatanku. Pokonya aku harus bisa mengalihkan Evi agar dia tidak akan mengadu ke siap pun"

__ADS_1


Diva terkejut sambil berbicara di dalam hatinya dengan memegangi hidungnya menggunakan tangan satunya dan satunya lagi membuka tasnya untuk mencari tissu. Karena Diva selalu membawa tissu tanpa melupakannya, apa lagi dia sering banget seperti ini ketika suhu badannya meningkat.


Diva segera mungkin mengelap dan menyumpel hidungnya, lalu ia menatap Evi serta menoleh ke sekitar kelas yang mana hanya ada mereka berdua karena ini adalah jam istirahat. Dimana semua murid langsung pergi ke kantin untuk jajan sedangkan Diva dan Evia dia selalu membawa bekal dari rumah tetapi terkadang dia suka akan membeli jajan sesuai keinginannya.


"Evi kamu jangan khawatir aku enggak apa-apa kok, kamu jangan kasih tahu ke siapa-siapa ya. Aku enggak mau buat Bu Guru khawatir, ini cuman mimisan biasa kok aku sering seperti ini kalau suhu badanku panas, jadi kamu tenang ya jangan berisik oke.."


Diva mencoba menenangkan Evi yang kini wajahnya terlihat sangat takut, karena Diva dan Evi memang merupakan teman terbaik hanya saja terkadang ucapan Evi yang tidak di sengaja membuat Diva merasa iri dengan nasibnya yang sangat jauh lebih baik dari Diva.


Evi hanya bisa menganggukan kepalanya perlahan sambil menatap Diva sedang berusaha membuat cairan merah yang tadi keluar dari hidung agar segera berhenti. Dan benar saja hampir 5 menit akhirnya cairan tersebut berhenti dengan Diva yang sudah menghabiskan banyak tissu berwarna putih kini menjadi berwarna merah.


Dengan sigap Diva memasukan tissu tersebut ke kantong plastik berwarna hitam. Lalu ia ikat seerat mungkin dan membuangnya ke tempat sampah, kemudian Diva tersenyum menatap Evi yang masih terdiam.


"Sudah tidak apa-apa buktinya aku sudah baik-baik saja kan, yukk.. kita makan takut keburu bel masuk nanti kita bisa-bisa belajar sambil mendengar perut bunyi lagi heheh.." Ujar Diva dengan tawanya yang terlihat seperti berusaha menghibur dirinya sendiri.


"Tapi kamu beneran gapapa kan, atau nanti pas pulang ke sekolah kamu harus pergi ke rumah sakit ya biar dokter bisa mengatakan kamu itu sakit apa. Okee.." Ucap Evi dengan tersenyum.


Diva hanya menganggukan kepalanya saja, agar Evi tidak mengkhawatirkannya. Karena Diva tidak pernah menceritakan tentang ini pada siapa pun, walau terkadang Mamah Mita mengetahuinya langsung mencemaskan keadaan Diva, tetapi Diva berusaha mengeles jika dirinya cuman kecapean. Sehingga mereka semua tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi Diva.


Apa lagi Diva memang sedari kecil suka sakit-sakitan tetapi dokter hanya membuktikan bahwa Diva tipe anak yang tidak bisa kelelahan. Jadi semuanya hanya menganggap jika Diva bukanlah sakit yang berlebihan.


Kemudian Diva dan Evi pun tersenyum sambil memakan makanan yang mereka bawa dari rumah, dimana Evi dibekali nasi dengan naget serta sedikit sayuran. Sedangkan Diva dia membawa bekal nasi goreng dengan campuran baso serta ayam dan tak lupa di atasnya terdapat telor mata sapi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai guys.. jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Semoga dari beberapa banner yang aku publish ini ada yang sesuai dengan genre kalian sebagi pembaca 🥰 Terima kasih.....

__ADS_1


...Lets go di serbu... 🤸🤸...



__ADS_2