
Setelah beberapa puluh menit Suci berjalan dalam keadaan sempoyongan, akhirnya Suci sudah sangat dekat dengan rumah Bunda Reni yang kini hanya berjarak 3 rumah jauhnya.
“Bu-Bundaaa...” ucap Suci sambil tersenyum dengan wajah pucat pasinya.
Arsya yang baru saja sampai di depan pintu gerbang rumah pun tak sengaja ia menengok ke arah kiri dari dalam mobilnya sambil menunggu pintu gerbang di buka oleh para penjaga.
“Su-Suciii? Bu-bukannya itu Suci kan...” ucap Arsya dari dalam mobilnya sambil segera melepas kaca matanya dan juga menurunkan kaca mobilnya.
Arya menyipitkan matanya untuk bisa memastikan jika itu benar-benar Suci, namun saat Arsya yakin jika itu Suci ia malah di buat sangat bingung karena Suci datang dalam keadaan basah kuyup karena hujan-hujanan seperti itu.
“Astaga, dasar wanita ceroboh! Ngapain coba dia hujan-hujanan seperti itu, apa dia sudah gila? Atau dia sedang menikmati masa kecilnya yang kurang bahagia?” gumam Arsya dengan mengerutkan dahinya menatap Suci yang tidak jauh darinya.
Sampai seketika Suci hampir dekat dengan pagar rumah dan Arsya yang ingin melajukan mobilnya, tiba-tiba saja Arsya di kagetkan dengan suara benda jatuh di kubangan air. Arsya menoleh dan terkejut saat melihat Suci sudah tergeletak di bawah derasnya hujan dalam keadaan tak sadarkan diri.
Para bodyguard di sana sudah berlari mendekati Suci yang pingsan di dekat kubangan, hingga Arsya pun akhirnya segera keluar dari mobilnya tanpa memperdulikan tubuhnya yang mulai basah terkena air hujan.
“Non Suci... Bangun Non...” ucap salah satu bodyguard sambil berjongkok di depan wajah Suci sambil memegang payung.
“Mingggiiirrrrr...” teriak Arsya yang langsung membuat semua bodyguard menyingkir menjauhi Suci dengan keadaan berdiri tegak.
“Suciii heii... Bangun Suci... Kenapa kamu menjadi seperti ini sih, makanya kalau enggak bisa kena air hujan jangan bermain hujan. Bikin repot saja!” ucap Arsya yang langsung menggendong Suci dengan wajah yang sangat kesal, namun di dalam hatinya ia sangat khawatir melihat Suci selemah ini.
Arsya lalu berjalan memasuki gerbang dalam keadaan basah kuyup, sedangkan para bodyguard membawa masuk mobil Arsya dan ada pula bodyguard yang memayungi Arsya saat ia menggendong Suci dan berjalan mendekati pintu utama rumah nya.
Arsya masuk sambil di bukakan pintu oleh salah satu bodyguardnya. Kemudian ia berjalan masuk dan itu membuat Bunda Reni serta Ayah Al sedikit terkejut. Awalnya mereka sedang bercanda ria melepas beberapa tahun yang tidak mereka lewati bersama, namun sekarang mereka dikagetkan dengan suara teriakan Arsya.
“Bunda... Ayah...” teriak Arya sambil menggendong Suci dan Bunda Reni serta Ayah Al pun langsung menoleh ke arah Dimas
“Kalau masuk rumah ucapkan sal-... Su-suciii...” ucap Bunda Reni sambil berdiri dari tempat duduknya bersama Ayah Al.
“Ada apa dengan Suci, Arsya! Kenapa kalian basah kuyup seperti ini. Jangan bilang kalau kamu mengganggu Suci lagi, iyaa...” tegas Bunda Reni dengan tatapan tajam menatap ke arah Arsya.
“Sudahlah Bun, jangan banyak bertanya dulu... Arsya mau bawa Suci ke kamar tamu sekarang” ucap Arsya sambil berjalan menuju kamar tamu.
“Bunda ikut, Arsyaa...” pekik Bunda Reni yang langsung mengikuti Arsya, begitu juga dengan Ayah Al yang tidak bisa sedikit pun lepas dari sang istri.
Arsya menggendong Suci dan masuk ke dalam kamar tamu dengan dibukain pintu oleh Bunda Reni. Saat Arsya mau membaringkan Suci di atas kasur, tiba-tiba saja Bunda Reni langsung melarangnya.
__ADS_1
“Jangan letakan Suci di kasur Arsya. Lebih baik bawa dia ke sofa terlebih dahulu, nanti kalau sudah Bunda gantikan bajunya baru kamu bisa baringkan dia di kasur. Kasihan kalau kasurnya basah, bisa-bisa nanti Suci masuk angin” ucap Bunda Reni sambil menarik kecil tubuh Arsya ke arah sofa.
“Bun, Ayah ke kamar ya. Mau mengecek pekerjaan dulu” ucap Ayah Al yang diangguki oleh Bunda Reni sambil membenarkan posisi kepala Suci, lalu ayah Al keluar kamar dan berjalan menuju kamarnya.
“Apa aku harus menelepon dokter, Bun?” tanya Arsya.
“Nanti kita, kita lihat dulu kondisi Suci selama 1 jam nanti kalau dia baik-baik saja tidak sampai demam tinggi kita berikan obat saja. Namun jika panasnya tidak bisa di kontrol, baru kamu segera panggilkan dokter paham” ucap Bunda Reni yang membuat Arsya menganggukkan kepalanya.
Bunda Reni langsung berlari kecil mengambil baju yang waktu itu pernah ia belikan untuk Suci saat ia sedang menginap di sini hampir 1 minggu lamanya. Jadi semua baju Suci masih tersimpan rapat di dalam lemari.
“Ada apa dengan Suci? Mengapa perasaanku tidak enak seperti ini? Coba saja masih ada bodyguardku, pasti aku sudah mengetahui penyebab Suci seperti ini ciih...” gumam Arsya di dalam hatinya sambil menatap wajah Suci.
Semenjak pernikahan Dimas dan Elsa telah resmi, Suci sama sekali tidak pernah bertemu bahkan mengunjungi rumah Bunda Reni. Ia menutup rapat rahasia ini, dan juga mengirimkan sebuah pesan agar Arsya tidak sampai memberitahu keadaannya saat ini.
Namun hanya selang beberapa hari, Suci memergoki jika ada yang tidak beres dengan tukang kebun, ia benar-benar membuat Suci sangat curiga. Pada akhirnya saat Suci sedang di marahi oleh Mamah Mita, ia melihat jika tukang kebun itu diam-diam menguping dan juga memvideokannya.
Dari situ Suci tahu jika tukang kebun itu ialah salah satu bodyguard Arsya untuk memata-matainya, makanya pada saat pernikahan Dimas dan Elsa itu Arsya bisa sampai ke sana untuk memantau keadaannya. Setelah identitas bodyguard itu terbongkar, Suci memutuskan untuk menghubungi Arsya dan mencoba memberikan penjelasan jika ini adalah masalah keluarganya jadi biarlah dia sendiri yang menjalaninya.
Jadi mau tidak mau Arsya menarik bodyguardnya untuk tidak lagi mencari tahu keadaan Suci. Arsya juga mencoba untuk menjauhi Suci, agar tidak berlarut masuk ke dalam rumah tangga Suci. Tapi takdir malah terbaik, seolah-olah takdir berpihak untuk mempertemukan mereka kembali. Senang sih cuma Arsya tidak mau bertemu dalam keadaan seperti ini. Hatinya begitu sakit saat menatap tubuh Suci tak berdaya seperti ini, hingga akhirnya suara Bunda membuyarkan lamunan Arsya.
“Ngapain kamu masih di sini?” tanya Bunda Reni sambil membawa handuk dan juga baju ganti.
“Oh jadi kamu mau menyaksikan bagaimana cara Bunda menggantikan baju Suci, begitu? Baiklah, anggap saja lagi belajar ya...” ucap Bunda Reni sambil ingin membuka baju Suci.
Namun Arsya yang melihat apa yang Bunda Reni lakukan, ia langsung kabur begitu saja yang membuat Bunda Reni terkekeh. Kemudian Bunda Reni berjalan mengunci pintu, dan segera menggantikan baju Suci.
“Dasar Bunda menyebalkan! Bisa-bisanya dia meledekku seperti itu. Mentang-mentang aku belum memiliki istri, terus dia kira aku tidak bisa membukakan pakaiannya gitu?” Huhh... Lihat saja nanti, akan aku buktikan jika sekali celup saja sudah bisa menghasilkan 3 sekaligus”
Arsya menggerutu di depan kamar Suci sambil menunggu sang Bunda yang selesai menggantikan bajunya Suci. Tak butuh waktu lama, Bunda Reni segera keluar dari kamar Suci dan menyuruh Arsya untuk memindahkan dan membaringkan Suci di atas kasur agar ia lebih nyaman.
Setelah Suci terbaring di atas kasur, Bunda Reni menyelimutinya dengan penuh kasih sayang. Tidak lupa ia mengusap wajah Suci hingga mencium keningnya, lalu bunda Reni dan juga Arya pergi dari sana untuk memberikan ruang agar Suci bisa beristirahat.
...*...
...*...
Tepat pukul 2 pagi, Arsya baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda di kantornya.
__ADS_1
“Huhh... akhirnya selesai juga, sekarang waktunya beristirahat” gumam Arsya sambil menutup laptopnya.
Arsya berjalan ke arah kasur yang dari tadi sudah memanggilnya untuk segera merebahkan tubuhnya yang begitu pegal. Tetapi saat Arsya ingin duduk di tepi ranjang, tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis di sertai dengan teriakan yang begitu menggema di telinganya.
“Su-Suciii...” ucap Arsya dengan wajah paniknya, ia langsung berlari menuju kamar Suci dengan langkah panjangnya.
“Hikss... kamu jahat Mas, kamu jahattt... Aku benci kamu, aku benciiii... hikss...” teriak Suci sambil memukuli tubuhnya sendiri, hingga Arsya yang baru sampai dan membuka pintu itu melihat keadaan Suci sudah tidak baik-baik saja ia langsung mendekatinya.
“Su-Suci... ka-kamu tidak apa-apa?” ucap Arsya dengan wajah penuh kekhawatiran dan Suci yang mendengar suara itu langsung menoleh ke arah Arsya dengan wajah sembabnya.
“Ma-Mas Arsyaaa... hiks...” Suci menangis dengan tatapan yang sangat menyayat hati Arsya.
Lalu Arsya duduk di samping Suci dengan perasaan bingung, sedih, sakit dan juga marah semua bercampur menjadi satu di dalam diri Arsya. Entah mengapa perasaan itu muncul begitu saja, padahal Suci belum menceritakan apa pun tetapi Arsya bisa melihat betapa hancurnya Suci melalui matanya.
“Ma-Mas Di-Dimas, Mas... Mas Dimas hiks...” ucap Suci.
“Kenapa dengan Dimas, apa dia menyakitimu lagi?” tanya Arsya dengan penuh emosi.
“Iyaaa hiks... dia menceraikanku dan memilih wanita licik itu. Sakit Mas, sakit hatiku, sakitttt... hikss... Selama ini aku berjuang demi mempertahankan pernikahan kami, namun dia hiks... Dia menghancurkanku hanya sekali ucap. Apa dia tidak berpikir jika aku telah berkorban banyak untuknya hiks...”
“Tapi kenapa hanya karena wanita itu hamil, dia malah berpihak padanya hiks... padahal jelas-jelas aku yakin itu bukan anak dari Mas Dimas, tapi itu adalah anak dari Fajar kekasih Elsa hiks...”
“Aku benci keadaan ini Mas, aku benciii... hiks... Aku begitu bod*doh mempercayai wanita selicik itu dan aku begitu polos mempertahankan pernikahan kami yang mana pada akhirnya aku juga yang hancur hiks... benciii, bencii, benciiii...”
Suci mengoceh dengan penuh air mata, hingga ia memukuli dadanya sendiri. Arsya yang melihat itu pun langsung memeluk Suci dan menahan tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Jangan bosan-bosan ya buat dukung Author Cubby ini... 🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk selalu tersenyum dan bahagia ya semuanya... 😁😁😁
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
__ADS_1
Sayang kalian banyak banyak semua pembaca setiaku 🤗🥰❤️🤍
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻