
Elsa yang melihat wajah Dion seperti kesal membuat ia penasaran. Padahal tadi ia dengar suara cekikikan, lalu kenapa Dion keluar malah dengan wajah murung dan kesalnya.
“Itu muka Pak Dion kenapa? Kok merah, apa Pak Dion lagi alergi?” ucap Elsa dengan memberanikan diri bertanya pada Dion.
“Enggak usah sok baik deh, mending kerjain tuh kerjaan dan enggak perlu cari muka depan saya” ucap Dion dengan datar sambil melirik Elsa dengan tatapan tajam.
Elsa hanya terdiam menatap Dion sambil berkata di dalam hatinya, “Berani sekali dia berbicara seperti itu padaku, lihat saja nanti. Jika aku sudah bisa merebut Mas Dimas, maka aku akan memberi pelajaran padanya huh...”
“Apa lihat-lihat wajah saya. Ya saya tahu saya ganteng, jadi stop menatap saya seperti itu. Jika kamu nge-fans pada saya lebih baik berikan kertas dan pulpen agar aku bisa menandatanganinya. Jika nanti aku terkenal, maka kau akan susah meminta tanda tangan dariku” ucap Dion dengan nada sombong.
“Cihh... Dasar sok kegantengan, duit enggak punya aja sok-sokan ngikutin gaya Mas Dimas yang cool dan maco iihh...” ucap Elsa di dalam hatinya dengan tatapan malas dan kembali fokus pada pekerjaannya.
“Saat aku melihat Elsa, kenapa perasaanku tidak enak ya. Apa lagi, tadi mereka membicarakan kejadian yang mana Suci tidak boleh tahu. Sebenarnya ini ada apaan sih? Astaga Lisa, cepatlah kembali. Aku butuh bantuanmu untuk menyelidiki ini semua aghh...” ucap Dion di dalam hatinya sambil menatap Elsa yang fokus pada pekerjaannya.
“Ekhem... Apa di sinikah ruanganmu, Pak Dion yang terhormat” ucap Dimas dari balik pintu dengan keadaan menyender.
Elsa yang mengenali suara itu dengan jelas langsung menoleh ke arah Dimas yang mana Dimas terlihat sangat mempesona. Hati Elsa serasa bergetar sangat dahsyat.
“Astaga Tuan Dimas, kenapa semakin hari semakin tampan sih. Kalau begini rasanya aku pengen cepat-cepat bisa memilikinya. Pokoknya aku harus cari cara supaya bisa segera menaklukkan Tuan Dimas di dalam pelukanku, tanpa membuat Suci curiga padaku ” ucap Elsa di dalam batinnya.
Dion menoleh ke arah Dimas sambil menyengir ala kuda, lalu secepat mungkin Dion pergi ke ruangan sebelah. Setelah kepergian Dion, Dimas ingin kembali masuk ke ruangannya, namun matanya melirik ke arah Elsa yang menatapnya tanpa berkedip.
“Kenapa dia menatapku seperti itu, ya ampun. I-ini jantungku kenapa berdetak sangat cepat saat menatap Elsa. A-apa aku mempunyai rasa padanya? Tidak, tidak mungkin. Masa ia kejadian semalam bisa langsung membuatku mempunyai rasa padanya. Astaga Dimas, apa-apaan sih kamu! Ingat kamu udah punya Suci yang lebih segalanya, jadi buang jauh-jauh pikiran seperti itu ” ucap Dimas di dalam hatinya sambil kembali masuk ke ruangannya.
Sampai akhirnya mereka kembali pada pekerjaannya masing-masing.
...*...
...*...
Di sebuah Cafe, Vina sedang duduk manis di meja paling pojok sambil meminum jus jeruk.
“Ck!! Mana si tuh orang, kok lama banget. Pasti lagi senang-senang sama cewek lain” gumam Vina dengan kesal.
Dan tak lama seorang pria pun datang menghampiri Vina dengan wajah yang sangat tampan bersih dan begitu wangi.
“Hai... Sayang. Maaf ya menunggu lama” sapa pria tersebut sambil mencium kening Vina dan sedikit memeluknya dengan keadaan Vina yang masih setia pada tempat duduknya, kemudian pria tersebut pun langsung duduk di depan Vina.
__ADS_1
“Kamu kemana aja sih, hah! Udah jam berapa ini. Kamu enggak tahu apa aku udah hampir 30 menit nungguin kamu di sini. Atau jangan-jangan kamu lama karena habis kencan sama cewek lain, iya!!” bentak Vina dengan wajah kesalnya.
Pria tersebut merasa sangat malu, saat semua pengunjung menatapnya dengan tatapan penuh arti.
“Sayang... Tenang dulu ya, aku enggak kemana-mana kok. Aku di rumah, cuma tadi jalanan macet jadi aku sedikit terlambat. Ayo dong, jangan ngambek gitu kan kita mau bersenang-senang. Katanya kamu mau ikut sama aku dan teman-temanku ke puncak, jadi jangan ngambek dong nanti cantiknya hilang loh...” goda pria tersebut sambil tersenyum manis menatap Vina.
“Habisnya kamu nyebelin... Pokoknya kalau kamu masih berhubungan dengan cewek-cewek gatel itu, jangan harap hubungan kita akan berlanjut. Lagian juga yang mau sama aku masih banyak bukan cuma kamu doang kali” tegas Vina dengan rasa sombongnya.
Pria tersebut yang mendengar ucapan Vina begitu menyayat hatinya, membuat ia seketika sangat kesal.
“Kamu bisa enggak sih, enggak usah selalu bahas masalah itu. Aku ini cowok kamu jadi harusnya kamu ngehargain aku, bukan malah membandingkan aku dengan cowok lainnya. Aku tahu kamu wanita kaya raya, cantik, dan juga sek*si tapi aku juga punya hati yang harus bisa kamu jaga” ucap pria tersebut dengan kesal.
“Jaga? Haha... Apa kabar dengan kamu? Apa kamu sudah bisa menjaga hatiku, BRAYEN!! Bukannya kamu semalam habis kencan sama cewek lain, hah!! Jangan mentang-mentang aku di rumah, aku tidak tahu kamu pergi sama siapa aja. Aku orang kaya, jadi aku bisa menyewa intel untuk mengikuti kemana pun kamu pergi, paham!!! Jadi terserah kalau kamu mau berulah lagi silakan dan hubungan kita cukup sampai di sini” ucap Vina sambil pergi meninggalkan Brayen.
Brayen yang memang masih mempunyai rasa dengan Vina, membuat ia langsung mengejar Vina.
“Oke... Aku salah, aku sudah jalan sama cewek lain tapi please... Tolong kamu hargai perasaan aku. 1 tahun lebih kita jalani hubungan, tapi kamu selalu saja membandingkan aku dengan yang lainnya. Aku capek Vin, capek!! Aku cuma pengen kamu ngertiin aku. Di saat aku butuh kamu, kamu selalu ada. Di saat aku lagi sakit, kamu selalu menemani aku. Tapi, ini mana? Kamu malah asyik dengan duniamu sendiri bersama teman-temanmu itu”
“Jangan kira aku enggak tahu ya, waktu di BAR 1 minggu yang lalu kamu melakukan adegan cium*an dengan pria lain bahkan di depan umum! Di mana otak kamu, Vin!”
Brayen sedikit membentak Vina di luar Cafe hingga membuat orang yang lewat pun menoleh ke arahnya.
“Aku tahu karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Saat itu aku tidak sengaja pengen nongkrong di BAR tersebut. Namun saat aku sedang asyik minum dari jauh, sepertinya aku melihat wajahmu tapi aku menyangkal semua itu. Sampai seketika aku penasaran, aku coba dekati dan ternyata itu benar kamu”
“Mau tahu gimana perasaanku? Hancur Vin, hancur!! Saat melihat pasangan kita sendiri melakukannya dengan pria lain di depan mata kita sendiri”
Bray mengungkap semua perasaannya yang sudah ia pendam selama 1 minggu ini untuk berusaha baik-baik saja di depan Vina. Tetapi kali ini tidak. Bray harus mengungkapkannya agar Vina bisa tahu bagaimana perasaannya saat ini.
“Oh, sakit ya. Aduh... kasihan haha...” ucap Vina dengan tertawa yang membuat Bray semakin kesal.
Bray menatap Vina dengan tatapan yang sangat tajam, hingga tangannya mengepal dengan kuat.
“Apa, hah!! Kamu mau nonjok aku? Tonjok nih, mau yang kanan apa yang kiri? Silakan... tapi ingat, Bray. Aku melakukan itu karena aku kecewa sama kamu!” teriak Vina.
“Memangnya aku ngapain, hah!! Sampai buat kamu kecewa” ucap Brayen.
“Haha... Masih bisa kamu nanya! Oke... Aku akan ingatkan. Tepat di hari Anniversary kita yang ke 1 tahun, 3 bulan yang lalu aku melihat kamu membawa wanita lain masuk ke dalam apartemen kamu sambil saling merangkul satu sama lain. Apa yang kalian lakukan berdua di dalam, hah!! Tidur, kan? Lalu kenapa aku hanya melakukan adegan cium*an kamu marah. Sedangkan kamu melakukannya bahkan lebih, kan! Jadi jangan sok suci deh jadi orang”
__ADS_1
“Kalau kamu mengungkit apa yang membuat kamu sakit, maka aku juga bisa mengungkit apa yang membuat aku kecewa sama kamu!! Ingat! Aku begini karena kamu yang memulainya jika tidak, maka aku tidak akan melakukan hal seperti ini paham!”
Vina mengoceh tanpa jeda hingga membuat Bray terdiam tanpa mengucapkan satu kata pun. Bray sadar jika hubungan mereka bukanlah hubungan yang sehat, apa lagi keduanya sama-sama saling menunjukkan kesalahannya untuk membuat keduanya sama-sama merasakan sakit hati. Tapi di dalam lubuk hati Bray, dia memang mencintai Vina namun dengan sikap Vina yang seperti ini membuat Bray merasa jenuh.
Brayen Pamungkas adalah kekasih Vina yang berusia 22 tahun. Bray merupakan anak tunggal dari keluarga yang cukup mapan, bahkan wajahnya yang sangat mulus dan juga tampan membuat semua wanita ingin berdekatan padanya. Vina dan Bray sudah menjalani hubungan selama hampir 1 setengah tahun.
Bray yang memang selaku pria playboy di kampus, dan juga Vina selaku wanita sombong di kampus membuat keduanya sangat cocok untuk di persatukan. Mereka menjalani hubungan karena sebuah pertaruhan, yang mana Bray mendapat hukuman dari sebuah permainan karena ia tidak mau menjawab sebuah pertanyaan, maka dia harus menerima hukumannya.
Jadi mau tidak mau Bray menerima semua itu, lalu teman-temannya menyuruh Bray untuk menaklukkan Vina. Hingga akhirnya Bray berhasil menaklukkan Vina, tapi waktu yang di tentukan hanya sebatas 1 minggu saja. Sehingga Bray yang mulai menaruh hati pada Vina pun langsung menjelaskan maksud ia menembak Vina pada waktu itu. Bray kira Vina akan marah besar padanya, cuma dugaannya salah.
Vina yang juga menaruh hati pada Bray membuat ia langsung memaafkan Bray dan kembali menjalani hubungan dengan dasar perasaan bukanlah pertaruhan. Seiring berjalannya waktu, Bray yang memiliki sifat playboy itu seketika kambuh. Hingga membuat Vina mengetahuinya tanpa di sadari oleh Bray.
Ya, jadi beginilah. Ibarat kata mereka menjalani hubungan hanya untuk menunjukkan keunggulannya satu sama lain. Bray bisa melakukan seperti itu, maka Vina juga harus bisa. Itulah yang dinamakan hukum karma itu berlaku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 🤗🤗