
Hingga kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Suci yang dari tadi berjalan entah kemana membuat ia tidak sadar bahwa dirinya sudah berjalan sangat jauh. Hingga Suci sendiri tidak tahu jika dirinya kini berada di jalan besar dan ingin menyeberang jalan, tapi Suci tidak melihat bahwa ada sebuah mobil yang mendekat ke arahnya.
Tiiinnnn...
Tiiinnnn...
“Woi... Minggir, mau mati lo hah! Kalau mau mati jangan di mobil gua!” teriak seorang pemuda di kaca mobilnya saat melihat Suci melintas di depan mobilnya dengan keadaan melamun.
Seakan-akan Suci hanya mengikuti kemana arah kakinya melangkah, sedangkan pikirannya selalu membayangkan kisah cinta suaminya dan sahabatnya. Lalu saat Suci sudah berhasil melewatinya, mobil itu pun langsung saja mobil pergi dengan kecepatan tinggi. Namun dari kejauhan ada seorang pria yang ingin melintas menggunakan mobil kesayangannya.
“Sepertinya aku pernah melihat wajah wanita itu? Tapi dimana dan siapa dia ya?” gumam pria tersebut membuka kaca mata hitamnya dan sedikit menyipitkan matanya untuk melihat Suci sambil berpikir.
“Oh ya... Aku ingat sekarang! Dia bukannya wanita waktu itu yang main ke rumah dan bertemu Bunda?” ucap pria itu sambil mengingat dimana Suci dan Bundanya sedang berpelukan.
“Sedang apa dia di tengah jalan seperti itu? Lalu kenapa wajahnya terlihat sangat kosong? Wajahnya juga terlihat seperti orang yang habis menangis seharian, bahkan air matanya pun masih menetes” gumam pria tersebut yang melihat Suci berjalan dengan tanpa kesadaran.
Hingga banyak pengendara mobil serta motor yang saling mengklaksonkan kendaraan mereka beberapa kali. Bahkan terdengar suara-suara teriakan para pengemudi yang kesal dengan tingkah Suci karena ia terlihat layaknya orang yang sedang depresi.
Ya bagaimana tidak depresi, toh suami yang selama ini ia selalu bangga-banggakan hingga ia berpikir bahwa suaminya adalah orang yang begitu mencintainya hanya karena hal kecil membuat suaminya tergoda dengan sahabatnya sendiri.
Telolett... Telolett...
Bruumm... Bruumm...
Tiinn... Tiinn...
Semua pengendara berusaha untuk menghindari kendaraan mereka dari menabrak Suci. Meskipun sudah berhasil menghindarinya, namun beberapa pengendara tersebut selalu melontarkan kata-kata kasar untuk Suci.
“Dasar orang gila, stres... Bisa-bisanya mencari mati di tengah jalan besar ini. Mending gantung diri sono lu, biar enggak menyusahkan orang lain!” ujar salah satu pengemudi dan langsung meninggalkan Suci.
__ADS_1
“Haha... Kasihan banget nasibnya, paling juga habis putus cinta dalam posisi hamil karena pacarnya tidak mau menikahinya. Makanya Mbak, punya tubuh dijaga jangan di umbar wkwk...” ucap pengemudi lain yang menertawakan Suci dengan begitu senang.
Sedangkan Suci hanya mendengar 1 kalimat yang mengatakan bahwa ia mendingan gantung diri saja dari pada menyusahkan orang lain. Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di kuping hingga pikiran Suci. Lalu ia kembali berjalan menuju jembatan yang sangat besar hingga panjang.Lalu seorang pria yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik Suci pun terus mengikutinya secara diam-diam.
“Mau kemana wanita itu pergi? Kenapa dia berjalan ke arah jembatan yang ada di depan sana? Atau jangan-jangan dia mau mengakhiri hidupnya? Astaga, tidak! Ini tidak boleh terjadi...”
“Jika Bunda tahu wanita itu ingin mengakhiri hidupnya dan aku yang melihat kejadian itu tidak segera menolongnya, pasti Bunda akan marah besar padaku” ucap Pria tersebut di dalam mobilnya.
Ya pria tersebut adalah Arsya anak dari Bunda Reni. Meskipun Arsya terlihat sangat dingin terhadap siapa pun, namun ia mempunyai hati yang sangat lembut terhadap seorang wanita. Bahkan ia tidak bisa melihat seorang wanita dalam keadaan yang begitu lemah seperti Suci saat ini.
Suci berjalan dan terhenti di tengah-tengah jembatan besar yang banyak sekali kendaraan berlalu lalang dengan kecepatan tinggi. Suci berdiri sambil menatap air sungai yang sangat deras dibawah jembatan itu, lalu ia kembali meneteskan air matanya hingga terdengar suara isak tangis.
“Hiks... Kenapa kamu tega sama aku Mas? Apa karena aku tidak bisa memberikan kamu anak, makanya kamu dengan mudahnya mengkhianati cinta kita hiks..."
“Aku tahu aku bukan wanita yang sempurna, bahkan aku bukanlah seorang istri yang bisa membuat suami serta keluarganya bahagia. Tapi aku seorang wanita yang memiliki hati, Mas hiks...”
“Jika memang kamu sudah lelah, apa salahnya bilang padaku. Aku akan ikhlas menerima semua itu, dan aku juga bisa menerima wanita itu menjadi madumu. Tetapi tidak dengan cara seperti ini, itu sama saja kalian menusukku dari belakang hiks...”
“Apa harus aku mengakhiri hidupku ini agar aku bisa membuatmu bahagia bersamanya, Mas?”
Suci berbicara dalam keadaan yang sangat menyedihkan, lalu Arsya yang melihat Suci begitu sedih pun segera keluar dari mobilnya dan langsung berlari kecil menyeberangi jalan karena posisi Suci berdiri berlain arah dengan mobil Arya, sehingga is harus menyeberang untuk bisa mendekati Suci.
Suci yang susah kalut pun hanya bisa menatap aliran sungai itu hingga membuatnya melangkah maju. Dengan kecepatan kilat, Arsya menarik Suci sehingga keadaannya saling menatap wajah satu sama lain. Suci menatap Arsya dengan mata sembabnya, sedangkan Arsya menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
“Banyak orang yang sudah meninggal dunia berharap masih ada kesempatan hidup kembali untuk menebus segala kesalahannya agar jika ia meninggal maka hukumannya tidak berat, tapi bagaimana denganmu NONA!!"
"Kenapa hidupmu yang masih Allah berikan waktu panjang malah kamu persingkat seperti ini? Apa kamu merasa hebat, jadi jika kamu terjun ke bawah kamu akan selamat seakan-akan nyawamu ada banyak” Arsya mengoceh tanpa henti dengan raut wajah yang sangat tegas, mata yang tajam dan juga suara yang begitu lantang.
Entah kenapa Arsya bisa berbicara sebijak ini dengan seorang wanita, bahkan ini pertama kalinya Arsya berbicara sepanjang ini. Bahkan jika Arsya berbicara pada kedua orang tuanya, sama seperti Arsya berbicara pada orang lain yang begitu irit, dan singkat.
__ADS_1
Arsya pun lupa jika ia masih memiliki dendam kepada orang yang telah merenggut nyawa calon istrinya yang mana itu pun perbuatan yang tidak Allah sukai. Namun jika Arsya belum membalaskan dendamnya itu, maka dirinya belum bisa hidup dengan tenang.
Seolah-olah calon istri Arsya selalu berteriak di telinga Arsya dengan meminta tolong agar segera menemukan orang tersebut hingga memberikan pelajaran kepada orang itu.
Sementara itu, saat ini Suci hanya bisa memandangi wajah Arsya sepanjang Arsya berbicara. Dalam beberapa saat kemudian Suci tersadar dari semuanya hingga ia terjatuh lemas dengan keadaan duduk serta menangis sambil menundukkan kepalanya di pinggir jembatan.
“Astaghfirullah hiks... Ma-maafkan Suci ya Allah, Suci khilaf. Suci sudah sadar jika perbuatan Suci tadi telah melampaui batasan-Mu. Suci janji, seburuk apa pun cobaan yang Suci hadapi saat ini atau pun nanti, Suci tidak akan lagi terlintas untuk berpikir seburuk ini hiks..."
Suci menangis sejadi-jadinya yang membuat Arsya hanya bisa berdiri sambil menatapnya. Hati Arsya sedikit tersentuh saat melihat seorang wanita bisa merasakan serapuh ini. Menurutnya, Suci hampir sama dengan dirinya saat ia kehilangan calon istrinya, bahkan ia juga sempat ingin mengakhiri hidupnya.
“Suci? Jadi namanya Suci. Lalu kenapa dia bisa seperti ini? Apakah dia juga sama denganku yang ditinggal oleh kekasihnya ?” tanya Arsya di dalam hati kecilnya.
Arsya memang tidak tahu siapa itu Suci dan seperti apa kehidupan yang selama ini Suci miliki. Semua kisah hidupnya Suci hanya diketahui oleh Bunda Reni, karena Suci merasa nyaman dan tenang setelah ia menceritakan kepada Bunda Reninya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊
Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇
Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺
Sayang kalian banyak banyak para pembaca setiaku ❤️❤️❤️
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1