
Sampai seketika Arsya kembali menatap semuanya satu persatu sambil mencoba untuk menarik nafasnya, kemudian di awali deheman kecil dan segera menjawab semua pertanyaan yang tak henti-hentinya selalu mereka lontarkan.
"Ekhem.. sebelumnya Arsya mau minta maaf ke semuanya, mungkin ini terlalu cepat. Tetapi, Arsya mau dalam waktu dekat ini kami bisa segera terbang ke Paris dan Suci melanjutkan sekolah di sana dengan memperdalami semua ilmu pashion atau pun desainer hingga dia lulus dengan nilai terbaik. Yang mana saat Suci kembali dia bisa langsung memegang serta mengelola perusahaannya sendiri"
Arsya berbicara dengan nada yang lantang dan juga tegas sambil menatal semuanya. Ya, mungkin mereka memang tidak terlalu terkejut dengan perpindahan mereka ke Paris meskipun cuman sementara. Tapi, yang membuat mereka terkejut adalah ucapa Arsya yang mengatakan untuk secepatnya pergi sedangkan jadwalnya seharusnya 3 bulan lagi.
"Secepatnya? Kenapa bisa begitu, Arsya. Bukannya jadwal kalian pergi 3 bulan lagi? Lalu, kenapa kamu malah meminta di percepat? Apa kalian benar-benar niat untuk menjauhkan kami dengan cucu kami itu?"
Bunda Reni terlihat sangat kesal, bahwasanya Bunda Reni masih memiliki waktu yang cukup untuk bermain dengan Baby Kay. Tapi, setelah mendengar ucapan Arsya membuat harapannya seketika hancur bagaikan di kejar rentenir penagih hutang.
"Bagaimana bisa di percepat Tuan, semua jadwal 3 bulan ini sedang padat. Bahkan banyak meeting yang harus dihadiri olehmu jadi tidak mungkin aku membatalkan semuanya begitu saja dengan alasan yang tidak masuk akal. Apa lagi mereka adalah kolega penting yang selalu memakai jasa perusahan hingga perusahaan sangat di percaya" Tegas Dion dengan wajah penuh keseriusan.
"Ya, apa yang dikatakan suamiku itu benar Tuan. Jadwalmu sudah di kosongkan selama 3 bulan kedapan jadi bulan ini kita harus berhadapan dengan kolega penting, dan itu akan berpengaruh oleh omset perusahaan yang akan melonjak naik. Jika kita mengecewakan aku tidak bisa bayangkan bagaimana nasib perusahaan kedepannya" Jelas Lisa.
"Ayah tidak masalah jika kamu dan Suci ingin pindah ke sana selama masa sekolah Suci kelar. Tapi, kamu juga tidak boleh lepas tanggung jawab atas perusahaan begitu saja. Kamu membangun perusahaan itu dari nol tanpa bantuan siapa pun, apa kamu tidak sayang jika perusahaanmu akan collapse hanya demi keegoisan semata?" Sahut Ayah Al yang mencoba menjelaskan perjuangan Arsya membangun perusahaan.
"Nak Arsya, coba sabar dulu. Papah yakin Suci juga tidak keberatan kok untuk pindahnya di tunda 3 bulan kedepan. Lagian memang jadwal aslinya segitu kan, lalu ada apa? Kenapa kalian mau pindah secepat itu? Apa sudah di perkirakan matang-matang? Terus bagaimana dengan nasib Baby Kay, jika Suci meneruskan sekolahnya kemudian Nak Arsya bekerja. Apakah sudah terpikirkan?" Ujar Papah Angga.
Arsya dan Suci terdiam membisu, mereka bukan takut melainkan mereka hanya berusaha mendengarkan keluhan dari semuanya yang memang masih sangat terkejut.
Untungnya Suci dan Arsya sesekali ada waktu luang mereka saling berkomunikasi satu sama lain untuk membahas semuanya. Hingga mereka sudah ada jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan di lontarkan.
__ADS_1
Arsya dan Suci tersenyum sambil saling menatap satu sama lain, yang membuat semuanya menjadi heran dan aneh. Pasangan "SUAR" ketika di kasih ceramahan bukannya merasa takut kini malah mereka tersenyum dan menatap semuanya satu persatu secara bergantian.
"Bunda, Ayah, Papah, Lisa dan juga Mas Dion. Kalian tenang saja, kami sudah memikirkan semuanya kok, dimana nanti Suci hanya akan mengambil kelas di siang hari atau sore hari saja. Apa lagi jam kerja di Paris itu hanya sekitar 6 jam 10 menit. Jadi, kami akan berbagi tugas untuk mengurus Baby Kay bersama" Jelas Suci sambil tersenyum.
"Ya benar, masalah kerjaan bisa di atur bahkan Dion pun sudah mencarikan rumah yang hanya berjarak 10 menit dari cabang perusahaanku yang di Paris. Jadi semuanya akan aman, dan untuk masalah meeting tidak usah di batalkan namun di majuin saja dalam wakti 1 minggu ini. Setelah selesai aku, Suci dan juga Baby Kay akan segera berangkat ke Paris untuk menghabiskan waktu bersama sebelum Suci meneruskan pendidikannya" Ucap Arsya.
Kini semua orang menatap satu sama lain dengan tatapan berbeda-beda hingga akhirnya mau tidak mau mereka terpaksa untuk menyesetujuinya. Lagi pula mungkin Arsya dan Suci memang membutuhkan waktu agar mereka bisa lebih menumpahkan kasih sayangnya satu sama lain agar perasaan mereka terus tumbuh dengan mekar.
Apa lagi Suci dan Arsya memang memiliki trauma yang sudah habis menghancurkan hidupnya, sehingga saat ini adalah saatnya mereka bahagia tanpa gangguan siapa pun. Mereka hanya perlu menata masa depan sambil melakukan proses membuatkan Adik untuk Baby Kay.
Syukur-Syukur mereka beruntung bisa kembali memiliki anak dalam waktu dekat, tetapi jika tidak ya sudah tidak apa-apa setidaknya mereka sudah mempunyai Baby Kay yang selalu menjadi pelengkap dan juga sebagai obat penghilang rasa lelah. Jadi, mau ada atau pun tidak. Semua itu tidak akan membuat cinta mereka goyang.
"Aku tidak apa-apa Sayang, lakukan apa pun yang terbaik untuk kebahagiaan mereka. Lagi pula kita sudah menikah bukan? Jadi, mau honeymoon atau tidak rasakan akan tetap sama. Kita masih bisa melakukannya di rumah kok" Ucap Lisa yang mana berhasil membuat wajah Dion memerah bagaikan jambu rujak.
Bahkan semuanya pun tertawa kecil saat mendengar penuturan kata Lisa yang sangat polos, Dion hanya bisa tersenyum malu melirik semuanya dan mengusap kepala Lisa.
"Kalian tidak usah khawatir, kita semua akan pergi ikut bersama kami ke Paris. Hitung-hitung ini hadiah honeymoon pertama kalian di Paris dari aku dan juga istriku ini, setelah itu kau bisa melakukan honeymoon kedua ketiga dan seterusnya sendiri terserah mau kemana pun kami tidak akan melarangnya asalkan segera berikan Baby Kay adik sepupu yang menggemaskan"
Arsya memeluk Suci sambil menggoda Lisa dan juga Dion yang kini membuat mereka menjadi salah tingkah, apa lagi wajah Dion yang terkesan dingin datar dan juga cuek bisa begitu lucu jika wajahnya hampir menyerupai ketiping rebus.
"Ya sudah Bunda izinkan kalian pergi, tapi jangan lupa jika nanti kalian pulang harus sudah bawa bonus ya. Kan kalian berangkat bertiga, jadi bisa dong pulang berempat, hem.." Goda Bunda Reni sambil menaik-naikan alisnya
__ADS_1
"Pasti bisa Sayang, bahkan Arsya juga bisa memiliki adik lagi jika dia mau. Bukan begitu Kakak Arsya?" Sontak ucapan Ayah Al mampu membuat semuanya menoleh menatapnya dengan tatapan terkejut, tetapi Arsya yang paham dengan Ayahnya itu pun kembali bereaksi yang mana kini giliran sang Bunda.
"Hem.. bagaimana ya? Bagaimana Sayang, apa kau merestui jika aku akan memiki Adik lagi?" Tanya Arsya dengan menggode Suci.
"Aduh.. sepertinya boleh juga Mas, biar Bunda tidak kesepian di rumah apa lagi kan Baby Kay akan jauh darinya jadi kemungkinan Ayah harus memberikan mainan baru untuk Bunda" Jawab Suci sambil melirik Bunda Reni yang kini terdiam mematung dengan wajah yang sangat merah.
"Wahhh.. berarti nanti akan ada julukan Om kecil dong dari anak-anak kita, Mbak? Huaaa.. serunya, ayo Ayah Bunda semangat ya buatkan Om kecilnya. Semoga lancar hahah.." Ledek Lisa yang mana membuat semuanya tertawa geli saat mendengar sebutan Om kecil.
"Hahah.. astaga, Sayang. Kamu ini bisa-bisanya ada panggilan Om kecil, janganlah begitu kasihan Bunda wajahnya sudah merah. Nanti bisa-bisa sekalinya nyoblos auto dapetnya double dong, jadinya Om kecil kembar Hahah.."
Kini ucapan Dion berhasil membuat semua tertawa hingga terpingkal-pingkal saat melihat Bunda Reni memukul dada bidang Ayah Al dengan kuat tenaga yang mana Ayah Al hanya bisa meringis sambil tetap tertawa.
Lalu, dengan cepat Ayah Al memeluk Bunda Reni sangat erat serta Bunda Reni yang terlihat begitu lucu membuat Ayah Al gemas dan mencium bibirnya sekilas.
Kemudian semua yang melihatnya malah kembali meledek dan terus meledeka mereka berdua, ya walaupun usia mereka terbilang sudah kematangan tetapi keromantisan di dalam hubungan mereka patut di acungi jembol.
Untung saja Baby Kay tidak sampai terbangun saat mendengar semuanya tertawa. Tapi, tidak berhenti di situ saja. Ternyata di saat semuanya asyik tertawa Papah Angga hanya bisa tersenyum melihat keromantisan yang tidak pernah ia dapatkan.
"Andaikan hubunganku dengan Mita bisa seromantis mereka, mungkin saat ini hubunganku dengannya akan baik-baik saja. Tapi, nyatanya keegoisan telah menghancurkan segalanya. Arghh.. sudahlah, cukup aki lihatin saja mau sampai kapan dia akan seperti ini. Namun, jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku mulai lelah dengan semuanya, maka aku akan menyerah!"
Ya memang dulu hubungan Papah Angga dengan Mamah Mita terbilang cukup romantis, tetapi tidak seromantis Ayah Al dengan Bunda Reni yang benar-benar seperti pasangan remaja baru merasakan manisnya dunia percintaan.
__ADS_1