
Bi Tin yang melihat Suci dari jauh sebahagia itu membuat hatinya sangat senang karena ini kali pertamanya Bi Tin bisa melihat senyum indah yang terukir jelas di wajah cantik Suci.
“Semoga senyuman Non Suci itu tidak padam kembali, karena aku tahu betul Non Suci tidak pernah senyum sebahagia ini. Pokoknya apa pun yang buat Non Suci bahagia, aku akan selalu mendukungnya. Kasihan dia sudah lama merasakan penderitaan ini cuma karena dirinya belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini. Namun aku tetap harus terus mendoakan Non Suci agar dia bisa selalu bahagia...”
Bi Tin berucap di dalam hatinya, sambil ia langsung pergi kembali ke arah belakang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dengan langkah perlahan, Suci masuk ke dalam kamar dengan senyuman indahnya dan kembali menutup pintu kamarnya.
“Assalammuaikum, suamiku...” ucap Suci dengan penuh senyuman sambil berjalan mendekati Dimas dan mencium tangannya, kemudian Suci duduk di samping Dimas yang sedang memainkan ponselnya.
“Waalaikumsalam” jawab Dimas dengan nada cuek yang membuat Suci menarik senyumnya dan kembali dengan wajah biasanya.
“Mas...? Mas kenapa kok cuek gitu jawab salam dari Suci? Apa Mas lagi banyak masalah di kantor yang membuat Mas Dimas bersikap sedingin ini sama Suci?"
“Suci dapat kabar dari Pak satpam, kalau Mas Dimas pulang dengan wajah murung. Mereka merasa jika Mas Dimas lagi banyak masalah, apa benar begitu? Jika benar, coba cerita sama Suci yuk... Siapa tahu Suci bisa membantu Mas Dimas”
Suci berusaha mengendalikan dirinya agar terlihat baik-baik saja di depan Dimas. Padahal hati dan pikirannya selalu teringat dengan bekas lipstik yang ada di kemeja Dimas. Dimas pun langsung bangun dari tempat tidurnya menuju lemari, lalu ia membukanya dengan sangat kasar. Suci merasa sedikit bingung sambil melihat Dimas, ia tidak paham dengan apa yang Dimas lakukan.
“Ini apa? Kenapa kamu belanja sebanyak ini?” tanya Dimas dengan dingin sambil menunjuk ke arah setumpuk tas belanja Suci.
Suci yang sudah paham pun langsung berdiri berjalan mendekati Dimas, “Oh ini, maaf ya Mas. Habisnya waktu kemarin-kemarin Mamah kan sendirian di rumah, jadi Suci coba untuk merayu Mamah agar kita bisa pergi bersama”
“Lalu akhirnya Mamah mau, jadi ya sudah Suci coba untuk membayarkan belanjaan Mamah. Cuma kata Mamah, Suci juga harus belanja untuk keperluan Suci sendiri. Apa lagi kan Suci jarang sekali belanja” Suci berusaha menutupi sifat mertuanya yang memaksakannya agar ikut berbelanja dari satu toko ke toko lainnya.
“Memang jika kamu berbelanja haruskah belanja sebanyak ini? Apa kamu tahu jumlah pengeluaran kamu seharian belanja sama Mamah itu hampir 500 juta lebih. Itu setara dengan uang belanja bulanan yang aku berikan untukmu”
“Tapi apa? Kamu malah menghabiskannya dalam sekejap. Ini tuh seperti bukan Suci yang aku kenal, jika Suci yang aku kenal itu tidak pernah boros dalam hal apa pun. Apa lagi masalah uang, bahkan saat pergi belanja sama aku saja kamu hanya memilih satu setel pakaian dan lainnya. Namun aku memaksa agar memilih beberapa setel lagi”
“Tapi sekang? Lihatlah... Seakan-akan kamu mulai menggunakan uang seenaknya yang mana pakaian itu pun tidak akan kamu gunakan setiap harinya. Bahkan masih banyak baju baru yang aku belikan belum kamu gunakan”
“Cuma ini? Astaga Suci... Cobalah berpikir, suamimu ini kerja cape-cape cari uang untuk kebutuhan lainnya, namun saat kamu sudah merasan pertama kali berbelanja kamu malah seboros ini. Aku tidak habis pikir dengan kamu ini lihat tagihan kamu, bisa kamu baca? Apa ini jumlah yang sangat kecil sehingga kamu habiskan dalam sehari?”
Dimas mencecar Suci dengan berbagai pertanyaan yang tanpa di sengaja perkataan Dimas membuat hati Suci sangat sakit. Dimas pun duduk di pinggir kasur dengan keadaan sangat kesal. Namun Suci berusaha mencoba agar tetap tenang dan tidak sampai menangis.
__ADS_1
“Mas, dengarkan Suci. Mas salah paham dengan apa yang Mas lihat saat ini... Waktu itu Suci sama Mamah sedikit ada perdebatan saat mau memasuki Mall. Cuma karena Suci tidak mau membuat Mamah kembali marah, jadi Suci mencoba mentraktir Mamah dengan membayar semua belanjaannya”
“Di saat Mamah belanja, Mamah memaksa Suci juga untuk ikut belanja di setiap toko yang kita datangi. Awalnya Suci menolak karena Mas tahu Suci tidak suka berbelanja, cuma karena Mamah terus memaksa jadi mau tidak mau Suci mengikutinya.Suci terpaksa melakukan itu semua demi kebahagiaan Mamah.
"Saat Suci membayar tagihan itu pun Suci sangat terkejut dengan nominal yang sangat besar itu. Suci takut Mas Dimas akan semarah ini sama Suci, tapi Mamah selalu bilang jika Mas Dimas tidak akan marah pada Suci dan Mamah juga akan membela Suci, jadi ini kemauan Mamah bukan kemauan Suci” Suci mencoba menjelaskan semuanya kepada Dimas dengan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.
“Hiks... Ma-maafkan Suci, Mas. Suci janji tidak akan seboros ini lagi. Ini kali pertama dan terakhir. Suci enggak mau melihat Mas semarah ini sama Suci” ucap Suci kembali dengan suara penuh isak tangis.
“Tidak perlu berbohong mencari alasan. Mamah sudah cerita semuanya padaku, jadi tidak perlu repot-repot kamu menceritakannya. Jika Mamah tidak cerita juga, aku tidak akan tahu pengeluaranmu kemarin”
“Aku kira kamu hanya menemani Mamah dan sedikit membelanjakan apa yang Mamah butuhkan, tapi nyatanya malah ke balik. Sudahlah aku pusing!” Dimas sedikit membentak Suci yang membuat ia memejamkan kedua matanya sekilas, lalu Suci yang mulai terbawa suasana pun berdiri.
“Apa yang sudah Mamah ceritakan padamu, Mas sampai-sampai kamu lebih mempercayainya. Padahal jelas-jelas kamu tahu bagaimana sikap Mamah padaku, bukan? Lalu kenapa kamu tidak mencari tahu lebih dulu padaku dan malah langsung menuduhku seperti ini” ucap Suci dengan suara bergetar.
Dimas yang mendengar itu pun langsung ikut berdiri, “Apa maksudmu berbicara seperti itu? Ya aku tahu Mamah tidak suka padamu karena kamu belum bisa memberikannya cucu. Tapi, ingat! Mamahku tidak pernah berbohong soal apa pun. Dia selalu berkata sesuai dengan faktanya. Jika aku tidak ada bukti, tidak akan aku bisa berbicara seperti ini padamu” Dimas kembali bersuara dengan dingin dan sedikit menaikkan suaranya.
“Oke. Jika menurutmu Mamah tidak berbohong dan akulah yang pembohong, maka coba jawab pertanyaanku ini. Kemarin saat kamu pulang telat, kamu kemana? Di kantor atau ke rumah wanita lain?” tegas Suci yang membuat Dimas membelalak matanya karena terkejut dengan apa yang Suci katakan.
“Da-dari mana ia tahu ji-jika pada malam itu aku menolong Elsa dan mengantarkannya pulang sehingga ada satu kejadian yang membuat kita ha-hampir saja melakukan hubungan intim”
“Kenapa sekarang diam? Bukannya dari tadi Mas sangat lancar berbicara untuk menuduhku? Lalu kenapa saat ini terlihat seperti patung? Apa Mas bingung dari mana Suci tahu semua itu?” cecar Suci dengan semua pertanyaan yang membuat Dimas benar-benar tidak berkutik.
“Sudahlah Mas, mengaku saja. Kalau pun Mas mengelak bersama wanita lain malam itu, Suci ada buktinya kok...” ucap Suci lagi yang membuat Dimas langsung menjawabnya, “Apa buktinya?”
Suci tersenyum licik ke arah Dimas dengan air mata yang sudah mengalir deras, “Apa buktinya? Haha... Jadi benar jika kemarin Mas pulang terlambat karena sedang memuaskan wanita lain. Sungguh menjijikkan, cih...”
Suci yang benar-benar tidak bisa menahan kekecewaannya kepada Dimas, seketika ia entah dari mana mendapatkan kekuatan yang sungguh besar untuk melawan Dimas. Dimas yang mendapat tatapan menjijikkan dari Suci, langsung membuat ia seketika emosi dan hampir ingin menampar Suci namun ia kembali menurunkan tangannya.
Suci yang memang sudah siap menerima itu pun hanya bisa tersenyum, “Kenapa tidak jadi? Bukannya tadi mau menampar Suci?”
Dimas membuang kasar nafasnya serta menonjok ke arah dinding dengan begitu keras, “Aarrrgghhhhh...”
__ADS_1
Suci yang melihat itu langsung menutup wajahnya sambil menangis sehingga teriakan Dimas membuat Papah Angga yang tertidur kini menjadi bangun dan langsung berlari ke arah kamar Dimas. Betapa terkejutnya Papah Anggah saat melihat tembok berwarna putih kini sudah menjadi merah akibat luka yang ada ditangan Dimas.
“Dimassss... Apa yang kamu lakukan, hah!” teriak Papah Angga sambil mendekati Dimas dan langsung menahannya.
Kini Dimas pun menguarkan air matanya. Ia benar-benar tidak tahu, kenapa dirinya bisa seperti ini. Bahkan apa yang ia sembunyikan rapat-rapat telah di ketahui oleh Suci. Hanya ada satu harapan di dalam benak Dimas, ia belum siap kalau Suci mengetahui jika Dimas dan Elsa sudah melakukan hal yang lebih.
Papah Angga yang berhasil menenangkan Dimas, langsung mendudukkannya di pinggir kasur lalu ia menjadi sangat bingung dengan semua ini. Lalu ia menoleh ke arah Dimas dan Suci secara bergantian.
“Sebenarnya kalian ada masalah apa, sih? Kenapa bisa sampai seperti ini? Apa kalian tahu, ini adalah hal pertama yang Papah lihat dari kalian ketika ada masalah karena biasanya selama kalian menikah, jika ada masalah tidak akan menimbulkan perdebatan sehebat ini”
Suci yang sudah tidak kuat lagi, langsung berlari ke arah kamar mandi dan menguncinya. Di sana Suci terjatuh dalam keadaan duduk di belakang pintu.
Ia menangis sejadi-jadinya saat melihat sisi lain dari seorang Dimas. Suci tidak menyangka jika Dimas hampir saja ingin memukulnya karena ketahuan jika dirinya telah berselingkuh.
Namun Papah Angga kembali menatap Dimas yang masih mengeluarkan air mata dengan keadaan tangan yang berlumuran darah segar. Papah Angga langsung mengambil kotak P3K untuk segera mengobati luka ditangan Dimas agar tidak terjadi infeksi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊
Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
__ADS_1
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻