
“Alhamdulillah, Dok. Tuh kan, Mas dengar sendiri kan kalau Mas baik-baik saja. Jadi jangan berpikir yang macam-macam dulu. Pasti kita akan bisa memiliki anak segera mungkin seperti apa yang selalu Mas katakan pada Suci” saut Suci yang langsung menatap wajah Dimas dengan senyuman, sedangkan Dimas hanya bisa menatap Suci dengan tatapan menyedihkan.
“Memang bukan aku sayang, tetapi kamu yang bermasalah. Karena aku bisa melihat dari sudut mata dokter itu bahwa masalah itu berasal dari dirimu, ini yang aku takutkan sayang. Bagaimana jika Mamah sampai tahu? Aku yakin dia akan kecewa banget sama kamu. Ya Allah... Kenapa bukan aku saja yang Engkau berikan cobaan sebesar ini untuk menggantikan posisi Suci agar hanya aku yang dapat di salahkan oleh orang tuaku, dan bukan istriku ya Rab...” ucap Dimas di dalam hati kecilnya sambil mengeluarkan air mata yang membuat Suci terkejut.
“Loh, Mas. Mas kenapa kau nangis? Mas pasti bahagia ya karena kita baik-baik saja? Suci juga sangat bahagia kok Mas, apa lagi pasti sebentar lagi Mamah dan Papah akan kesampaian menimang cucu dari kita, karena itulah impian mereka di masa tua untuk bisa bahagia bersama cucu-cucu mereka hehe...” ucap Suci sambil tertawa kecil dan mengusap air mata yang menetes di pipi Dimas, lalu Dimas langsung memeluk Suci dengan sangat erat.
“Mas kenapa? Apa Mas sebahagia ini mendengar kalau kita baik-baik saja? berarti sama dong hehe... Suci juga sangat bahagia saat pikiran negatif Suci yang berpikir kalau Sucilah yang bermasalah tetapi semuanya sudah terjawab bukan. Jadi ayo dong Mas enggak boleh cengeng. Suci saja yang wanita tidak cengeng, ya kan Dok?” ucap Suci sambil melepaskan pelukan Dimas.
Sang dokter terdiam bersamaan dengan sang suster yang menatap haru dengan hasil yang mereka terima.
“Kasihan sekali, istrinya. Sepertinya dia telah salah paham dengan apa yang di ucapkan dokter tadi. Padahal aku dengar dengan jelas bahwa hanya nama suaminyalah yang baru di sebut dengan dokter. Aku sedikit melihat saat dokter membacanya, kalau di sini yang bermasalah adalah istrinya"
“Bagaimana ya perasaannya jika nanti dokter kembali berbicara mengenai dirinya. Pasti sangat hancur, aku bisa merasakan hal itu karena aku pun seorang wanita. Bahkan suaminya saja bisa paham dengan apa yang dokter bicarakan tadi, makanya dia langsung memeluk istrinya dengan keadaan menangis. Yang mana itu adalah tangisan kekecewaan serta kesedihan bukanlah tangisan bahagia yang istrinya ucapkan”
Sang suster berbicara di dalam hati kecilnya dengan perasaan bersedih saat melihat keadaan Suci yang nantinya pasti akan sangat hancur saat sang dokter kembali meneruskan ucapannya.
“Sepertinya Tuan Dimas mengerti apa yang aku sudah bicarakan tadi karena dia sudah langsung paham. Namun istrinya malah salah paham karena langsung memotong pembicaraanku. Tuan Dimas yang begitu yakin bahwa mereka berdua akan baik-baik saja mungkin saat ini merasa sangat terpukul, semua rasa percaya dirinya seketika runtuh dan hancur dalam waktu sekejap”
“Aku bisa merasakan betapa kecewanya dia karena harapan terbesar suami istri saat menikah adalah bisa memiliki buah hati yang sangat lucu untuk menemani mereka di masa tuanya kelak. Namun kini harapan itu tidak bisa mereka wujudkan"
“Lalu bagaimana jika aku kembali menjelaskan pada Nyonya Dimas? Apakah dia akan sanggup menerima semua ini? Bisakah dia menjalani hari-harinya tanpa rasa bersalah pada suaminya? Ya Allah, kenapa nasib mereka bisa seperti ini. Padahal kemarin saat aku mengecek semuanya terlihat bahwa mereka baik-baik saja kok, tapi kenapa hasil lab ini menunjukkan kebalikannya?”
__ADS_1
Sang dokter berbicara di dalam hatinya dengan wajah bingungnya saat mengingat kejadian dimana ia sedang melakukan beberapa tes untuk Dimas dan juga Suci.
Di saat semuanya sudah tenang, Dimas pun sudah tak lagi menangis. Tetapi masih terlihat sangat jelas di wajah Dimas kalau dia sebisa mungkin untuk menyimpan kesedihan itu agar nantinya saat Suci kembali mendengar penjelasan sang dokter Dimas bisa menguatkannya.
“Terus bagaimana kelanjutannya, Dok. Apakah kami bisa melakukan program hamil seperti apa yang sudah kita bicarakan kemarin?” tanya Suci dengan wajah penuh semangat.
Sang dokter yang tidak tega melihat Suci seperti ini, lalu ia mencoba untuk memberanikan diri untuk menyelesaikan pembicaraannya yang sempat tertunda tadi gar tidak semakin membuat Suci berharap dengan kenyataan yang pahit.
“Maaf, Nyonya Dimas. Sepertinya Anda salah paham karena tadi saya belum selesai menjelaskan hasilnya, tapi Anda langsung memotongnya” ucap sang dokter dengan lembut sambil tersenyum.
“Ya ampun, maaf ya Dok hehe... Aku terlalu bersemangat ingin memberikan kabar baik ini supaya mertuaku bisa senang karena impian mereka akan segera tercapai” ucap Suci dengan penuh keceriaan.
“Tapi apa, Dok?” tanya Suci.
“Tapi, maaf. Sepertinya di sini yang mengalami masalah yaitu Nyonya Dimas sendiri. Karena hasil dari lab tersebut menjelaskan bahwa rahim yang Nyonya Dimas miliki sangatlah lemah dan harapan memiliki anak hanya sebesar 5%. Dan itu akan sangat sulit untuk para dokter membantu Nyonya melakukan program hamil, apa lagi dengan harapan yang hanya sebesar 5%. Tetapi jika harapan itu 40% ke atas kemungkinan para dokter akan bisa mengusahakannya dengan berbagai cara sebisa kami dengan metode-metode yang sudah ada saat ini”
“Namun untuk kasus Nyonya Dimas, kami minta maaf karena kami belum bisa membantu kalian. Bagaimana jika kalian berobat ke luar negeri saja, kemungkinan para medis di sana jauh lebih baik dari yang ada di Indonesia. Semoga saja rezeki kalian berada di sana... Tapi jangan khawatir saya kan memberikan resep obat yang harus Nyonya Suci minum setiap harinya tanpa jeda sedikit pun karena mungkin dengan ini bisa membuat rahim Nyonya bisa semakin baik dalam memproduksi”
Sang dokter menjelaskan semua secara rinci yang membuat Suci terdiam, dengan keadaan air mata terus mengalir di pipinya sambil tersenyum.
Di luar dugaan semuanya, kini mereka menatap Suci dengan keadaan terkejut. Bahkan Suci masih bisa tersenyum di saat mengetahui bagaimana kondisi dirinya saat ini.
__ADS_1
“Baiklah, terima kasih Dok atas informasinya. Saya juga sudah tahu kok, mungkin permasalahan ada di saya karena kami hampir setiap hari melakukannya dengan berbagai cara sesuai dengan petunjuk google. Namun ini semua sudah kehendak-Nya, jadi kita hanya bisa ikhlas menerima semua cobaan ini. Saya yakin kok, suatu saat nanti Allah akan gantikan semua ini dengan hadiah yang begitu indah” ucap Suci dengan senyuman yang sangat manis hingga air matanya menetes tanpa henti.
Dimas yang merasa sangat sakit dan tidak kuat melihat istrinya pun, langsung memeluknya dengan erat. Dan kini tumpahlag tangisan mereka berdua, yang membuat sang suster beserta sang dokter pun ikut meneteskan air matanya.
“Hiks... Dok, istrinya Tuan Dimas sangat kuat sekali ya menerima cobaan sebesar ini. Apa lagi dia seorang wanita, yang mana pasti saat berumah tangga seorang istrilah yang di tuntut untuk memberikan anak kepada pihak laki-laki. Namun istrinya Tuan Dimas begitu tegar menghadapi semua cobaan yang sangat berat untuknya. Jika saya yang berada di posisi dia, mungkin saja saat ini saya sudah pingsan dan enggak akan mau kembali terbangun untuk melanjutkan hidup dengan keadaan seperti itu” ucap sang suster sambil berbisik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Jangan bosan-bosan ya buat dukung Author Cubby ini... 🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk selalu tersenyum dan bahagia ya semuanya... 😁😁😁
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
Sayang kalian banyak banyak semua pembaca setiaku 🤗🥰❤️🤍
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1