Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Aku Mencintaimu Mas Arsya


__ADS_3

Arsya tak pernah menyangka Suci akan menjadi sangat terbuka dan juga manja seperti ini. Entah kenapa tapi semakin ke sini sifat Suci semakin manja, dan ya mungkin saja ini di pengaruhi kehamilan yang dia alami. Tapi ini juga membuat Arsya senang karena dengan seperti ini bisa membantu hubungan mereka.


Saat ini Suci dan yang lainnya sudah berkumpul di rumah tamu, di mana saat ini Suci sedang duduk sambil meminum jus jeruk yang dia inginkan.


Lalu Arsya yang duduk di samping Suci sambil mengelus-elus perut Suci yang sudah semakin membesar. Sedangkan yang lainnya sedang mempersiapkan barang-barang akan di berikan pada anak-anak yang ada di pantai asuhan.


Lisa, Dion dan Xan yang di bantu oleh para Bodyguard untuk membawa barang-barang ke dalam mobil mereka.


Kemudian, Bunda Reni dan Ayah Al yang menghitung dan memperkirakan apakah semua kebutuhan tersebut sudah cukup atau belum. Sesekali mereka melirik melihat kemesraan antara Suci dan Arsya.


Mereka pun tertawa dan tersenyum saat melihat Arsya yang begitu telaten merawat Suci dan akan menuruti semua perkataan Suci.


Suci yang selalu manja-manja pada Arsya dan terkadang juga kesal karena Arsya yang tidak mau menjauh darinya sehingga membuat Suci merasa sesak dan tidak nyaman.


“Mas Arsya... sudah hentikan! Kenapa sih Mas Arsya senang sekali mengelus-elus perut Suci. Rasanya itu geli dan sesak tahu setiap kali Mas Arsya melakukan itu. Lebih baik Mas Arsya bantuin yang lain sana biar kita bisa lebih cepat perginya” geram Suci sambil sedikit mendorong Arsya.


“Tidak mau... aku tidak mau jauh-jauh dari kalian berdua. Lagi pula juga anakku ini sangat senang jika aku mengelus-elus perutmu. Lihatlah... dia terkadang menendangmu di saat aku mengelus perutmu hihi... dia sangat lucu sama seperti dirimu” jawab Arsya sambil mencium perut Suci yang tertutup oleh gamisnya.


“Sudahlah biarkan saja dia Suci, mungkin karena ini anak pertama kalian jadi Arsya tidak bisa jauh-jauh dari kalian berdua. Mungkin memang inilah yang namanya ikatan antara Ayah dan Anak. Lagi pula dulu Ayah Al juga sama seperti Arsya saat Bunda hamil Arsya, ya kan sayang...” ucap Bunda Reni sambil melirik Ayah Al.


Ayah Al yang merasa malu pun hanya menatap ke arah lain sambil berpura-pura membereskan barang-barang yang akan mereka bawa ke panti asuhan.

__ADS_1


Semua orang yang melihat Ayah Al malu-malu pun hanya bisa terkekeh kecil karena mereka merasa kalau Ayah Al sangatlah lucu.


“Terima kasih ya Rab... karena Engkau telah memberikan keluarga yang sangat baik ini kepada Hamba. Bahkan suami Hamba bisa menerima anak yang mana bukanlah darah dagingnya sendiri. Aku tidak tahu kenapa, yang jelas sepertinya Mas Arsya adalah jodoh yang Engkau kirimkan untukku dan juga Ayah terbaik bagi anak-anak kami kelak”


“Mas Arsya... kau adalah laki-laki terbaik kedua setelah Bapakku. Aku sangat bersyukur mendapatkan suami sepertimu. Ibu dan Bapak di surga juga pasti bahagia melihat kita sekarang Mas. Hatiku juga semakin nyaman dengan keberadaanmu di sampingku”


“Aku rasa aku sudah sepenuhnya membuka hatiku untukmu. Aku pikir jika aku sampai kehilanganmu, mungkin aku akan benar-benar tidak akan bisa menahannya lagi. Kamu adalah jiwa dan ragaku Mas, aku mencintaimu Mas Arsya. Aku akan mengatakan hal ini di saat yang tepat nanti”


Suci berbicara di dalam hatinya sambil tersenyum saat dia melihat betapa sayangnya Arsya pada dirinya dan anak yang ada di dalam kandungannya.


Suci merasa bersyukur bisa mendapatkan Arsya di dalam hidupnya, dan dia juga bersyukur karena dia bisa mengandung. Ini artinya Suci bisa memberikan keturunan untuk Arsya dan keluarganya.


“Semuanya sudah siap semua, jadi kita bisa berangkat sekarang. Kita akan pergi ke 3 panti asuhan yang ada di daerah ini dan aku juga sudah memberitahu hal ini pada pengurus di masing-masing panti tersebut” ucap Dion yang baru saja masuk ke ruang tamu.


“Ayo kita berangkat sekarang. Berdirilah pelan-pelan dan berpegang padaku agar kalian berdua tidak terluka” ucap Arsya sambil membantu Suci berjalan dengan menggandeng tangannya dan satu tangannya memegang pinggulnya Suci.


“Aku ini sudah baik-baik saja Mas, kenapa kamu jadi berlebihan seperti ini sih... aku juga bisa berjalan sendiri, aku ini hamil Mas bukan lumpuh ya ampun! Lagi pula aku cuma kesulitan jika bangun setelah duduk terlalu lama. Sekarang biarkan aku berjalan sendirian, please...” Suci memohon sambil membuat wajah semelas mungkin.


“Tidak artinya tidak! Pokoknya kamu tidak boleh berjalan sendiri dan kamu juga tidak boleh jauh-jauh dariku. Apa pun yang terjadi, kamu harus selalu ada di sampingku. Apa kau mengerti apa yang aku maksudkan?” tanya Arsya sambil menatap Suci dengan datar.


“Haahh... baiklah, aku tidak akan jauh-jauh darimu. Aku juga akan mendengarkan semua ucapanmu” ucap Suci dengan nada malasnya.

__ADS_1


Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil mereka masing-masing di mana mereka menggunakan 3 mobil.


Lisa bersama Dion berada di mobilnya Dion, Bunda Reni dan Ayah Al juga berada di mobilnya Ayah Al. Lalu Suci dan Arsya tentu saja pergi dengan Arsya yang mengemudikan mobilnya.


Serta ada satu mobil lagi yang mengikuti mereka dari jauh, yaitu mobil bodyguard dan Xan yang akan menjaga mereka dari jauh.


Satu jam kemudian mereka sampai di panti asuhan pertama dan mereka melakukan doa bersama dan juga membagi-bagikan barang dan makanan untuk anak-anak di sana.


Lalu mereka melakukan hal yang sama si panti asuhan kedua dan ke tiga yang mana berada di jarak yang saling berjauhan. Hingga akhirnya kini waktunya bagi mereka untuk pulang karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ini adalah waktu bagi Suci untuk beristirahat karena dia sudah terlalu lama duduk di mobil.


Namun saat mereka ada di lampu merah, mobil mereka berhenti sambil menunggu lampu kembali berwarna hijau.


Saat lampu merah, ternyata ada seorang badut yang lewat dan berjoget-joget tidak jauh dari mobilnya Arsya. Suci yang melihat itu pun merasa gemas dan dia melihat badut itu dengan mata yang berbinar.


“Mas Arsya... Suci mau itu. Lihat deh... itu lucu dan menggemaskan bukan?” ucap Suci sambil menunjuk badut yang sedang berjoget itu.


“Kamu mau badut itu ke sini? Atau kamu mau aku mengundang badut itu ke rumah kita untuk main denganmu?” tanya Arsya dengan wajah bingungnya.


“Bukan itu Mas... Suci mau Mas Arsya pakai baju badut itu terus joget-joget di depan Suci. Pasti Mas Arsya terlihat sangat lucu dan juga menggemaskan deh. Suci jadi enggak sabar mau lihat Mas Arsya pakai baju badut hihi...” Suci tertawa sambil terus menatap badut itu.


“APA!? Ka-kamu mau a-aku joget-joget pakai ba-baju badut? Apa kamu sudah gila, hahh? Mana mungkin aku mau pakai baju badut kayak gitu. Lebih baik aku memanggil badut itu dan mengajaknya ke rumah” ucap Arsya yang langsung mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Saat ini lampu sudah berubah menjadi hijau sehingga ini waktunya bagi mobil mereka kembali melaju di jalanan.


Suci merasa sedih dan dia pun menatap ke arah belakang di mana badut itu berada. Lalu Suci menatap Arsya dengan wajah kesalnya dan langsung saja Suci memalingkan pandangannya dari Arsya.


__ADS_2