Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Buah Dari benda Pusaka


__ADS_3

Teriakannya Suci pun semakin kencang dan cengkeraman tangannya juga ikut menguat yang mana membuat Arsya terlonjak kaget dan langsung berteriak bersama Suci.


Ini pertama kalinya Arsya merasa cengkeraman sekuat ini yang mana membuat tangan kanannya Arsya pun memerah dan Arsya yang berteriak bersama Suci dengan semua rasa sakit mereka.


“Apakah Anda sudah siap Nyonya Suci? Kita akan mulai mengeluarkan bayi Anda sekarang. Anda bisa mengatur napas Anda sesuai dengan aba-aba dari saya nanti. Saat ini kondisinya sudah memungkinkan jadi kita akan melakukannya sekarang” ucap dokter tersebut sambil memegang kedua lututnya Suci.


“Aaarghh... sa-sakit Dokter, ra-rasanya seperti a-ada yang merobek-robek pe-perut saya aarrrgghhh... sa-sakit Mas, rasanya sa-sangat sakit hiks...” teriak Suci sambil meremas tangan kanannya Arsya dengan sangat kuat.


“Uughhh... a-aku tahu sayang, ta-tapi ini semua de-demi jagoan kita. A-aku tahu kamu itu ku-kuat ugghh... a-aku akan ada di sini dan menemanimu sa-sayang...” ucap Arsya sambil meringis kesakitan yang mana tangan kanannya kini semakin memerah.


“Sekarang tarik napas Anda... lalu buang buang secara perlahan, lakukan hal tersebut beberapa kali. Saat saya bilang untuk dorong, maka Anda harus mendorong sekuat tenaga agar bayinya bisa keluar. Anda paham maksud saya kan, Nyonya Suci?” tanya dokter yang di anggukkan oleh Suci.


Lalu Suci menarik napas dan membuangnya sesuai dengan aba-aba dari dokter. Saat di rasa waktunya tepat, lalu Suci pun ngeden sekuat tenaga saat dokter memintanya.


Suci ngeden sambil berteriak-teriak dan tak lupa juga mencengkeram tangannya Arsya dengan sangat kuat yang membuatnya ikut meringis kesakitan.


Hal ini terus berlanjut beberapa kali yang mana Arsya berteriak dengan singkron bersama Suci. Dokter pun tidak mempermasalahkannya selama Suci bisa melakukan proses persalinannya dengan lancar.


Lalu Suci melepaskan cengkeramannya dan pindah ke suatu tempat yang mana membuat teriakannya Arsya semakin kencang.


“AAARRGHH... SA-SAKIT SAYAAAANGGG... A-aku mohon ja-jangan pegang a-adik bungsuku di ba-bawah sana aaarghh... ka-kamu cengkeram saja ta-tanganku atau jenggut saja ra-rambutku sampai botak. Ta-tapi jangan ce-cengkeram yang sa-satu itu aaaarrgghhh...” teriak Arsya saat benda pusakanya di cengkeram oleh Suci.


“Aaarrrghhh... hahh... huuuft... diamlah Mas! A-aku sedang berusaha u-untuk melahirkan buah dari benda pusaka seperti mi-milikmu itu. Aaarrghhh... hahh... huufft... sa-sakit dokter, a-aku tidak bisa la-lagi aaaarrghh...” teriak Suci sambil ngeden sesuai dengan isyarat dari dokter.


“Aaarghh... a-aku juga merasa sa-sakit seperti a-apa yang kamu ra-rasakan sayang uuughhh... to-tolong lepaskan milikku, a-atau nanti penerus ki-kita tidak akan bi-bisa bertambah lagi aaarrghh...“ teriak Arsya saat Suci lagi dan lagi mencengkeram benda pusakanya.

__ADS_1


“Diamlah Mas! Aaarrgghhh... a-aku seperti ini ju-juga karena benda ja-jahat seperti milikmu ini hahh... huuft... aaaarrrrgh... ja-jadi diamlah dan ba-bantu aku membagi ra-rasa sakit ini aaarrrgghhh...” lagi dan lagi Suci ngeden sambil berteriak dan mencengkeram miliknya Arsya.


“Eerm... Tu-Tuan, tolong tenanglah dan biarkan Nyonya Suci fokus untuk saat ini. Seperti bayinya akan segera keluar jadi tidak baik jika Nyonya Suci sampai tidak kuat untuk ngeden karena itu akan membahayakan nyawa bayi dan sang ibu” ucap Dokter tersebut dengan wajah bingungnya.


“Kau bisa bicara seperti itu, tapi di sini akulah yang kesakitan aaarrgghh... sayang, kenapa kamu tiba-tiba mencengkeram milikku lagi” ucap Arsya sambil menatap Suci dengan matanya yang sudah mulai berair.


“Diamlah Mas! Sekali lagi kamu berteriak dan menggangguku, maka aku akan remukkan milikmu ini supaya dia tidak lagi bisa memasuki rumahnya. Jika kamu mengerti ucapanku, maka diamlah!” tegas Suci sambil menatap tajam Arsya.


“Kenapa harus aku yang di marahi di sini hiks... mohon bertahanlah kawan kecilku, aku tidak bisa menyelamatkanmu untuk saat ini. Jika kamu bisa bertahan, maka nanti kamu akan bisa segera masuk ke rumah yang selalu kamu inginkan itu” ucap Arsya di dalam hatinya.


“Baiklah Nyonya, sekarang kembalilah fokus dan coba untuk ngeden dengan kuat agar bayinya segera keluar. Tarik napas Anda lalu keluarkan dan dorong, tolong ikuti isyarat dari saya Nyonya” ucap dokter tersebut sambil melihat ke arah Suci.


“Baiklah dokter hahh... huuff... aaarrghh... sa-sakit sekali ta-tapi aku akan be-berusaha untuk bisa me-melahirkanmu de-dengan selamat ke du-dunia ini sayangku huuuft... aaarrghh... hahh... hahh...” eden Suci sambil kembali mencengkeram benda pusakanya Arsya dengan kuat.


“Aaarrrgghhh... be-bertahanlah ka-kawanku hiks... se-sebentar lagi se-semua ini akan segera berakhir uugghh... a-aku harap kamu ma-masih bisa berdiri tegak na-nanti kawanku...” gumam Arsya di dalam hatinya sambil menahan rintihan rasa sakitnya.


“Hahh... huufft... ce-cepatlah keluar a-anakku Aaaarrrgghhh... hahh... huuf... se-semua ini a-adalah karena be-benda ini hahh... huuff... AAAARRRGGHHH...” teriak Suci yang mana di barengi dengan Arsya yang meringkuk menahan rasa sakit yang luar biasa.


Ooowweeekkk... Oowweekkk...


Akhirnya anak mereka lahir dan Suci pun berbaring dan tertidur dengan rasa lelahnya dan melepaskan genggaman tangannya.


Arsya pun merasa lelah dan dia pun seketika pingsan di lantai. Dokter yang merasa bingung tersebut pun langsung memberikan bayi yang baru saja lahir tersebut pada salah satu suster untuk segera di mandikan.


Dokter tersebut di bantu oleh suster lainnya dan membaringkannya di bangkar kosong yang ada tidak jauh dari bangkarnya Suci.

__ADS_1


Lalu dokter dan suster tersebut kembali ke pada Suci dan mencoba untuk membersihkan Suci dari semua noda darah yang di hasilkan setelah proses melahirkan tersebut.


Sementara itu beberapa menit sebelum Suci melahirkan, di luar ruang bersalin ada Bunda Reni dan Ayah Al duduk di kursi tunggu sambil menunggu kabar baik.


Tidak lama kemudian Papah Angga berjalan mendekati Bunda Reni dan Ayah Al yang mana itu membuat mereka sangat terkejut saat melihat kedatangan Papah Angga.


“Tuan dan Nyonya Al, sebenarnya apa yang terjadi di sini? Apakah saat ini Suci sedang melahirkan? Tapi bagaimana bisa begini? Maksudku mereka itu baru menikah kurang lebih setengah tahun, jadi bagaimana semua ini...” tanya Papah Angga dengan segala kebingungannya sambil menatap Bunda Reni dan Ayah Al.


“Tu-Tuan Angga, ba-bagaimana A-Anda tahu ji-jika Suci me-melahirkan di sini ahh... ma-maksudku apa yang Anda la-lakukan di sini? Apakah Anda sakit atau salah satu keluarga Anda di rawat di sini?” ucap Bunda Reni sambil berdiri bersama dengan Ayah Al.


Bunda Reni dan Ayah Al merasa sangat terkejut sehingga mereka tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Papah Angga.


Bagaimana pun kehamilan Suci sangat di rahasiakan dari pihak luar, jadi tidak ada yang tahu selain keluarga Valleanno, Lisa, Dimas dan juga Xan.


Saat ini Bunda Reni dan Ayah Al bingung apakah mereka harus jujur atau tidak karena mereka tidak pernah berpikir Papah Angga akan mengetahuinya dengan cara seperti ini.


Papah Angga merasa semakin curiga dan bingung setelah melihat ekspresi kaget dan bingungnya Bunda Reni serta Ayah Al.


Akibat tidak mendapatkan jawaban yang di tanyakan, lalu Papah Angga pun kembali bertanya yang mana membuat Bunda Reni dan Ayah Al semakin tidak bisa mengatakan apa pun pada Papah Angga saat ini.


Hingga akhirnya mereka semua mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Bunda Reni dan Ayah Al yang mendengar suara tangisan tersebut, membuat mereka langsung merasa sangat bahagia.


Sedangkan Papah Angga hanya berdiri diam seperti patung karena dia yang tidak tahu apa-apa.


Bunda Reni dan Ayah Al pun berpelukan sambil saling mengucapkan selamat pada satu sama lain.

__ADS_1


Lalu tanpa sadar Ayah Al melepaskan pelukannya dan langsung memeluk Papah Angga serta mengucapkan selamat yang mana membuat Papah Angga menjadi bingung dengan segalanya dan hanya bisa membalas ucapan selamat dari Ayah Al tersebut.


__ADS_2